
Beth baru menyusun stok beberapa kue di dalam showcase, saat tiba-tiba pintu toko dibuka oleh seorang customer....
Atau Fairel lebih tepatnya.
"Beth!" Panggil Fairel yang hanya diabaikan oleh Beth yang tetap menyusun kue ke dalam showcase.
"Beth, tanganku butuh perawatan!" Ucap Fairel lagi seraya menatap tajam ke arah Beth yang tetap abai.
"Beth!" Fairel mulai geregetan sekarang karena Beth yang hanya mengabaikannya sejak tadi.
"Beth, Bethany!" Fairel yang tak tahan akhirnya mencengkeram lengan Beth dan terang saja, hal itu membuat nampan yang tadi Beth pegang menjadi jatuh. Tak hanya itu Beth juga langsung mengaduh dan raut wajahnya terlihat kesakitan
"Aduuh!"
"Iel!" Bentak Beth seraya memungut nampan yang untungnya sudah kosong tadi. Kalau masih ada kue di atasnya, lalu jatuh Beth pasti rugi.
"Aku mau lihat lenganmu!" Pinta Fairel kemudian dengan nada bicara yang sedikit melunak.
"Kau sudah melihatnya," jawab Beth seraya melirik ke arah lengannya yang pagi ini tertutup kaus lengan panjang. Beth tak sedikitpun menatap ke arah Fairel dan gadis itu seolah mencari kesibukan apa saja agar bisa mengabaikan Fairel.
"Gulung lengan kausmu, Beth!"
"Atau perlu aku yang menggulungnya?" Perintah Fairel lagi dengan nada tegas.
"Tidak bisa digulung!" Sergah Beth beralasan seraya menunjukkan lengan kausnya yang memang pas di lengan, dan sepertinya mustahil untuk digulung.
"Ck!" Fairel berdecak, sebelum kemudian tatapannya tertuju pada gunting yang berada di dekat meja kasir.
"Baiklah! Akan aku gunting saja!" Cetus Fairel yang tiba-tiba sudah metaih gunting di meja kasir tadi. Terang saja hal itu langsung membuat Beth membelalakkan kedua matanya.
"Iel--"
"Makanya! Kau buka kausmu atau kau gulung lengannya! Aku mau melihat lenganmu yang kemarin...." Fairel tak langsung melanjutkan kalimatnya dan pria itu menatap ke arah Beth.
"Yang kemarin aku sakiti," lanjut Fairel akhirnya.
"Lenganku tidak apa-apa!" Ucap Beth bersungguh-sungguh yang akhirnya membalas tatapan Fairel. Namun hanya beberapa saat, karena gadis itu sudah langsung mengalihkan tatapannya.
"Kau tidak akan mengaduh dan meringis tadi, kalau memang tidak apa-apa!" Fairel masih tetap tak percaya.
"Itu tadi hanya...."
"Hanya apa?" Fairel kembali menatap tajam pada Beth.
"Hanya ekspresi spontan," cicit Beth yang langsung membuat Fairel berdecak.
"Aku pegang lagi sini kalau begitu!" Fairel sudah mengulurkan tangannya dan memberikan kode agar Beth memberikan akses untuk Fairel memeriksa lengannya.
Beth sontak menggeleng sembari merengut.
"Baiklah! Kau mau aku menggunting--"
"Jangan!" Cegah Beth cepat saat Fairel sudah bersiap untuk menggunting lengan bajunya.
Dasar gila!
"Perlihatkan kalau begitu!" Perintah Fairel lebih tegas sekaligus memaksa.
__ADS_1
"Lengannya benar-benar tak bisa digulung! Aku harus--" Beth belum menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba Fairel sudah melepaskan kancing kemeja, lalu menanggalkan kemeja berlengan pendek tersebut. Namun tentu saja Fairel tak langsung bertelanjang dada, karena pria itu masih memakai kaus polos berwarna putih di dalam kemeja
Fairel lalu memberikan kemejanya pada Beth yang langsung menghentakkan satu kakinya ke lantai.
"Apa lagi? Perlu aku pakaikan ju--"
"Tidak!" Jawab Beth cepat seraya membawa kemeja Fairel ke dalam dapur.
Tak berselang lama, Beth sudah keluar lagi seraya mengenakan kemeja lengan pendek Fairel tadi. Namun tangan kanan Beth malah menutupi lengannya yang sebelah kiri.
"Buka tangannya!" Titah Fairel kemudian yang langsung membuat Beth perlahan menyingkirkan tangannya dari lengan kiri. Bekas lebam langsung nampak jelas dan sukses membuat Fairel berdecak.
"Tadi bilang tidak apa-apa!" Gerutu Fairel seraya memeriksa lengan Beth.
"Memang tidak apa-apa," cicit Beth tetap keras kepala.
"Ini bukan tidak apa-apa! Ini parah!"
"Ayo ke UGD--"
"Tidak usah, Iel!" Tolak Beth cepat.
"Sudah aku olesi salep yang kau berikan waktu itu. Jadi pasti akan secepatnya membaik," ucap Beth lagi bersungguh-sungguh.
Fairel langsung menatap Beth dan pria itu mendadak diam.
"Aku---"
"Aku akan mengembalikan kemejamu!" Ujar Beth kemudian sedikit tergagap. Beth bergegas masuk lagi ke dapur dan Fairel malah mengekori gadis itu.
Beth sudah selesai berganti baju, namun gadis itu tak lanhsung keluar. Beth memilih untuk menarik nafas panjang sejenak sembari menatap pada kemeja Fairel yang kini berada di tangannya. Beth kemudian mengendus sejenak aroma kemeja tersebut hanya untuk memastikan kalau tak ada aroma aneh dari tubuhnya yang tertinggal di kemeja Fairel.
"Wangi," gumam Beth yang langsung bisa mengendus aroma parfum khas Fairel dari kemeja tersebut.
"Aku pakai juga tak sampai lima menit. Jadi pasti tak ada bekas aromaku," gumam Beth lagi.
Setelah menarik nafas panjang sekali lagi, Beth lanjut membuka pintu kamar mandi dan gadis itu langsung terlonjak kaget karena ternyata Fairel sidah berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.
Hah? Apa Fairel hendak mengintip Beth?
"Kenapa kaget begitu?" Tanya Fairel heran seraya mengambil kemejanya yang masih dipegang oleh Beth. Fairel kemudian sesikit mengibaskan kemeja tersebut, sebelum kembali menyodorkannya pada Beth.
"Pakaikan!" Perintah Fairel yang tentu saja langsung membuat Beth berdecak.
"Pakai sendiri memangnya tidak bisa?" Tukas Beth dengan nada ketus.
"Kau tidak lihat tanganku?" Fairel langsung menunjukkan tangannya yang masih diperban pada Beth.
"Lalu tadi saat di rumah siapa yang memakaikan? Mommy kamu?" Tanya Beth menerka-nerka seraya gadis itu memakaikan kemeja Fairel. Tak lupa Beth juga mengancingkan satu persatu kancingnya dari atas ke bawah.
"Iya begitulah! Kau tidak datang ke rumahku pagi ini untuk bertanggung jawab," ujar Fairel dengan nada sedikit sinis.
"Nanti adikmu tersayang yang tidak menyukaiku itu bakal mencak-mencak kalau aku datang!" Sergah Beth tiba-tiba sebelum kemudian gadis itu menutup kedua mulutnya dengan telapak tangan.
Beth langsung merutuki bibirnya yang selalu saja keceplosan.
"Sudah selesai!" Lapor Beth kemudian mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Kau belum mengganti perban dan membersihkan luka di tanganku," Fairel ganti menunjukkan tangannya yang masih terbungkus perban pada Beth.
"Kenapa tadi tidak ke klinik saja dan malah datang ke sini? Aku kan tidak bisa melakukannya!" Tukas Beth beralasan.
"Tentu saja tak bisa! Kau tidak bertanya pada perawat kemarin dannmalah langsung pulang!" Fairel balik menyalahkan Beth.
"Aku tak akan langsung pulang kalau adikmu tidak berkata pedas dan merendahkanku!" Sergah Beth dengan suara yang sudah meninggi.
"Kenapa harus menggubris perkataan Reina--"
"Tentu saja aku menggubrisnya karena bukan sekali dua kali Reina mengatakannya! Tapi berkali-kali!"
"Berarti kau memang ada something padaku?" Celetuk Fairel tiba-tiba yang langsung membuat Beth terdiam dan salah tingkah.
"Mana ada! Geer sekali!" Kilah Beth seraya bersedekap dan membuang wajah.
"Kau juga belum move on dari Rossie," sambung Beth lagi sedikit bergumam. Semoga Fairel tak mendengar.
"Yakin tak ada something?" Tanya Fairel sekali lagi yang tiba-tiba sudah menatap tajam pada Beth yang masih salah tingkah.
"Tidak ada!" Jawab Beth menatap tegas pada Fairel.
"Baiklah! Aku juga tak ada something padamu!"
"Reina saja yang kemarin sok tahu!" Tukas Fairel kemudian seraya berbalik dan meninggalkan Beth. Sesaat hati Beth langsung merasa.....
Sakit!
Ya ampun! Beth kenapa?
"Cepat ke depan dan rawat lukaku!" Perintah Fairel kemudian sebelum peia itu keluar dan meninggalkan dapur.
Beth langsung menggerutu dalam hati, meskipun akhirnya gadis itu tetap keluar dari dapur dan menyusul Fairel.
"Ambilkan rollcake dulu, Beth!" Perintah Fairel saat Beth baru keluar dan hendak menghampirinya.
"Mau rasa apa?" Tanya Beth meskipun hatinya dongkol.
"Yang paling enak rasa apa?" Fairel balik bertanya pada Beth yang langsung merasa geregetan detik itu juga. Beth rasanya ingin melemparkan capitan kue di tangannya ke wajah Fairel sekarang!
"Beth! Kenapa lama?" Tagih Fairel karena Beth yang tak kunjung mengambilkan rollcake pesanannya.
"Kau mengambilkan aku rollcake atau sedang semedi sebenarnya?" Tanya Fairel lagi yang akhirnya bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Beth yang kini malah duduk bersila di belakang showcase kue dengan wajah masam.
"Kau sedang apa? Kenapa malah duduk disitu?" Tanya Fairel heran.
"Tidak sedang apa-apa!" Jawab Beth yang cepat-cepat bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan Fairel, namun tangan Fairel sudah bergerak cepat untuk menahan Beth. Fairel lalu merengkuh kedua pundak Beth dan menguncinya ke dinding, lalu menatap gadis itu dengan tajam.
"Masih mau mengatakan kalau kau tak ada something padaku?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1