
"Hari ini nanti mulai mengerjakan wedding cake, ya, Kak?" Tanya Shanty saat Beth sedang menatap pada deretan rollcake di dalam showcase. Belakangan ini stok rollcake lumayan awet karena orang yang biasa memborongnya, sudah berhenti makan rollcake.
Sepertinya!
"Kak Beth!" Tegur Shanty yang plangsung membuat Beth terlonjak.
"Iya! Bagaimana?" Tanya Beth sedikit tergagap.
"Hari ini sudah mulai bikin wedding cake-nya Kak Rossie?" Tanya Shanty sekali lagi.
"Iya!" Jawab Beth cepat.
"Dan besok kau tak usah ke toko, Shan! Rencananya aku mau menutup toko saja besok agar bisa fokus ke wedding cake Rossie," tukas Beth lagi yang langsung membuat Shanty bersorak.
"Waah! Libur!"
"Senang, ya!" Cibir Beth bersamaan dengan pintu toko yang dibuka dari luar. Ada customer yang datang, atau lebih tepatnya Abang Angga.
"Abang Angga!" Sapa Beth seraya tersenyum ramah.
"Sendiri saja?" Tanya Beth lagi.
"Bersama Reina sebenarnya," tukas Angga seraya menoleh ke arah mobilnya yang terparkir di depan toko.
"Oh iya! Kak Reina alergi masuk kesini, ya," gumam Beth kemudian yang langsung membuat Angga terkekeh.
"Ngomong-ngomong, stok rollcake masih ada?" Tanya Angga kemudian.
"Masih lengkap, Bang!"
"Mau rasa apa?" Tanya Beth kemudian.
"Sebentar!" Tukas Angga yang langsung membuka ponselnya, lalu meletakkan benda tersebut di telinga.
"Mau rasa apa?" Tanya Angga pada seseorang di ujung telepon entah siapa.
"Semua rasa? Baiklah!" Angga sudah kembali menutup telepon
"Mau rasa apa jadinya, Bang? Sepertinya titipan, ya?" Tukas Beth menerka-nerka
"Iya! Titipan saudara di luar kota."
"Kebetulan kan ini aku dan Reina mau pergi ke luar kota," ujar Angga sedikit bercerita.
"Oh!"
"Tapi kan lusa pernikahan Rossie--"
"Besok kami sudah pulang," tukas Angga cepat. Beth langsung mengangguk mengerti.
"Jadi, rollcake-nya mau yang rasa apa?" Tanya Beth sekali lagi.
"Semua rasa!" Jawab Angga yang langsung membuat Beth bergegas menyiapkan pesanan Angga.
****
Fairel masih berdiri seraya bersedekap di depan pintu kedatangan bandara, saat ada dua orang yang memanggil namanya..
"Abang Iel!"
Fairel langsung mengangkat wajahnya dan menatap pada dua sejoli yang baru saja memanggilnya tadi. Tapi tatapan Fairel tentu saja langsung fokus pada paperbag yang dibawa Angga.
__ADS_1
"Akhirnya!!!" Gumam Fairel yang langsung melangkah untuk menghampiri Angga.
"Bang--"
Fairel tiba-tiba sudah menyambar paperbag di tangan Angga tanpa basi, lalu pria itu membuka box di dalamnya dengan sedikit kasar.
"Wow! Rollcake!" Fairel mengendus aroma khas yang menguat dari deretan rollcake Beth di dalam box. Meskipun aromanya tak setajam saat rollcake dalam kondisi hangat, namun ini sudah lebih dari cukup untuk Fairel melampiaskan semua rasa rindunya pada rollcake favoritnya ini.
"Pelan-pelan makannya, Bang!" Ujar Reina memperingatkan saat Fairel sudah melahap rollcake Beth dengan begitu rakus, seolah pria itu belum makan selama setahun.
"Enak!" Puji Fairel dengan mulut penuh rollcake.
"Kau bawa berapa kotak?" Tanya Fairel lagi pada Angga.
"Hanya satu kotak, Bang! Tadi Abang Iel bilang--"
"Kenapa hanya satu kotak?" Fairel yang sudah berhasil menelan semua rollcake di mulutnya langsung mengomel pada Angga.
"Abang tadi tidak bilang kalau mau lebih dari satu kotak." Angga menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ck! Kalau cuma satu kotak, nanti tak sampai malam juga habis!" Gerutu Fairel kesal.
"Makanya dihemat dan makannya sedikit-sedikit, Bang!" Tukas Reina memberikan masukan.
"Mana bisa! Kue seenak ini makan sedikit-sedikit!" Sergah Fairel yang kembali berdecak.
"Memang enak, sih!" Gumam Reina membenarkan ucapan Fairel. Padahal beberapa minggu lalu, Reina masih mencela kue buatan Beth ini karena ia sedikit kesal pada gadis tukang kue itu.
Namun sekarang, setelah Angga mengajak Reina naik kapal pesiar, Reina tak lagi benci pada Beth. Meskipun Reina masih enggan bertatap muka langsung apalagi bicara pada Beth.
Entahlah! Bawaannya masih canggung.
"Makanya pulang saja, Bang!" Tukas Reina akhirnya memberikan saran.
"Pekerjaanku disini masih banyak!" Sergah Fairel memotong kalimat Reina yang belum selesai.
"Sudahlah! Aku mau kembali ke hotel, dan kalian terserah mau kemana!" Ujar Fairel kemudian seraya berlalu meninggalkan Angga dan Reina yang sama-sama mengendikkan bahu.
****
Hari berganti.
Beth sudah menyelesaikan semua bagian dari wedding cake Rossie yang nanti akan Beth susun langsung di lokasi acara. Untuk beberapa hiasannya juga akan Beth pasang di rumah Rossie saja agar ia mudah saat membawanya kesana.
Ya, wedding cake Rossie memang terdiri dari tiga susun dummy cake yang lumayan tinggi. Tapi Beth juga sudah membuatkan cake yang berukuran lebih kecil untuk nanti dibagikan pada tamu undanga . Dummy cake ini hanyalah untuk pajangan sepanjang acara serta untuk acara potong kue pengantin.
Pasti romantis sekali!
Beep! Beep!
Beth yang tadi sempat larut dalam lamunan, langsung terlonjak saat mendengar suara klakson dari mobil Papa Will yang sudah berhenti di depan toko.
Ya, rencananya memang Papa Will yang akan mengantar Beth dan wedding cake Rossie ini ke lokasi acara.
"Beth!" Panggil sebuah suara yang Beth sangat yakin kalau itu bukanlah suara Papa Will.
"Abang Timmy!" Beth tentu saja langsung terkejut karena abangnya ini yang malah datang ke toko seraya membawa mobil Papa Will.
"Sudah siap semua?" Tanya Abang Timmy yang kemudian memeriksa bagian-bagian cake yang tadi memang sengaja Beth pisah-pisah agar mudah dibawa.
"Kok abang yang bawa mobil?" Protes Beth tanpa menjawab pertanyaan sang abang.
__ADS_1
"Dad sedang mengantuk katanya. Kan tidak baik kalau orang ngantuk mengemudi. Bahaya!" Jawab Timmy seraya mengangkat bagian dummy cake yang paling bawah yang memang paling besar dan berat.
Untunglah Abang Beth ini begitu peka dan bisa diandalkan
"Sudah semua, Beth?" Tanya Timmy sekali lagi memastikan.
"Sudah! Tak ada yang ketinggalan!" Jawab Beth yakin setelah gadis itu memeriksa sekali lagi semua perlengkapan untuk wedding cake Rossie.
"Baiklah!" Timmy langsung menutup bagasi belakang mobil, sedangkan Beth sudah masuk ke dalam mobil mendahului Timmy.
"Wajahmu kenapa murung, Beth? Kau sedang ada masalah?" Tanya Timmy kemudian setelah pria itu masuk ke dalam mobil.
"Tidak ada! Siapa yang murung?" Kilah Beth cepat sembari mengubah raut wajahnya dan berusaha mengulas senyum.
Entahlah, Beth mendadak sulit tersenyum karena pikirannya yang terus saja tertuju pada Fairel.
Biasanya, semarah apapun pria itu pada Beth, ia pasti tetap akan datang ke toko untuk memarahi Beth. Tapi sejak terakhir kali Fairel menendang-nendang rolling door toko, pria itu tak pernah terlihat lagi dan seolah hilang ditelan bumi.
"Kau bisa cerita apa saja pada Abang, kalau memang ada masalah, Beth!" Nasehat Timmy kemudian yang langsung membuyarkan lamunan Beth.
"Tak ada masalah apa-apa, Bang!" Tukas Beth cepat.
"Abang sok tahu! Padahal pulang ke rumah mama juga jarang!" Sambung Beth lagi sedikit mencibir sang abang yang malah terkekeh.
Dasar!
"Ngomong-ngomong, Yvone masih suka ke kost-an Abang tidak?" Tanya Beth kemudian saat mobil hampir sampai di rumah Rossie.
Pernikahan Rossie dan Keano rencananya memang akan digelar di kediaman Hadinata saja. Sama seperti Reina kemarin yang juga menikah di rumah. Apa nanti saat Fairel menikah juga akan dirumahnya yang besar?
Kira-kira, siapa yang nantinya akan menjadi mempelai perempuan di pernikahan Fairel?
Yang pasti bukan Beth!
"Memangnya kapan Yvone rutin datang ke kost-an? Tidak pernah!" Jawaban ketus Timmy langsung menyentak lamunan Beth.
Lagi!
Entah sudah berapa kali Beth melamun sepanjang perjalanan tadi.
Beth akhirnya tak lagi membahas tentang Yvone karena jawaban Abang Timmy yang ketus barusan. Mobil sudah masuk ke kediaman Hadinata, dimana dekor ala venue pernikahan bernuansa klasik modern sudah terpasang sebagian.
"Kenapa orang-orang suka menikah di rumah?" Gumam Beth yang langsung membuat Anang Tinggi terkekeh.
"Karena rumah mereka besar dan luas!" Ujar Abang Timmy berpendapat.
"Berarti Beth tidak akan bisa menikah di rumah, Bang? Rumah kita kan kecil," gumam Beth kemudian seraya tak berhenti mengagumi dekor pernukahan Rossie yang begitu memukau.
"Masih ada gedung atau ballroom hotel yang bisa disewa, Beth! Nanti abang yang akan mendanai semuanya!" Ujar Abang Timmy kemudian yang langsung membuat Beth menatap bingung ke arah sang abang.
"Memangnya, kapan kau akan menikah?" Tanya Timmy kemudian yang langsung membuat Beth mengerjap-ngerjap bingung.
"Hah? Menikah? Calon saja belum ada, Bang!" Tukas Beth seraya melepaskan sabuk pengaman, lalu turun dari mobil dan meninggalkan sang abang yang tak kunjung turun. Entah sedang memikirkan apa abang Beth itu!
"Bang! Bantuin!" Seru Beth akhirnya karena abang Timmy yang tak kunjung turun.
"Oke!" Sahut Abang Timmy yang akhirnya turun juga dan segera membantu Beth menurunkan semua perlengkapan untuk wedding cake Rossie.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.