
"Hanya terkilir dan tidak ada yang patah."
"Jika kesulitan berjalan,kau bisa memakai kruk untuk sementara waktu," jelas Dokter panjang lebar, setelah memeriksa kaki Beth yang tadi sempat tertimpa brankar.
Ya, semua gara-gara Fairel yang memaksa-maksa Beth untuk diperiksa padahal Beth tudak apa-apa.
"Dokter Sakya tidak praktek, ya?" Tanya Fairel tak nyambung.
Fairel mendadak ingat pada satu-satunya cucu di keluarga Halley yang berprofesi sebagai dokter tersebut.
Eh, tapi kan malam ini ada acara anniversary pernikahan Aunty Thalita dan Uncle Zayn. Ya wajar, Sakya tidak praktek!
Basi sekali basa-basi Fairel barusan!
"Kebetulan sedang cuti," jawab Dokter yang menangani Beth.
"Aku mau pulang," ucap Beth sambil berusaha turun dari atas bed perawatan.
"Aduh! Aduh!" Beth sedikit meringis saat kakinya menyentuh lantai.
"Pelan-pelan, Beth!" Dokter bergerak cepat untuk membantu, sementara Fairel malah hanya acuh seolah tak peduli.
Ck!
Siapa juga yang butuh perhatian dari pria menyebalkan itu!
"Tidak mau bermalam saja di rumah sakit? Nanti aku sewakan kamar VIP mumpung aku sedang baik hati--"
"Tidak!!" Jawab Beth galak.
"Yasudah kalau tidak mau! Tidak usah menyalak begitu!"
"Dari awal memang kau yang salah dan sekarang kau juga yang playing victim!" Cibir Fairel yang langsung membuat Beth berdecak.
"Aku akan mengganti kerusakan mobilmu nanti dan tak usah lagi membahas tentang siapa yang salah!"
"Kau sudah membuatku gagal bertemu seseorang!" Beth balik mengomel pada Fairel. Gadis itu lalu mengetuk-ngetuk ponselnya yang mendadak mati, entah karena tadi ikut jatuh ke lubang galian atau karena kehabisan baterei. Tapi layar ponsel Beth juga retak pas di tengah-tengah.
Ck!
Sial sekali Beth hari ini!
"Acaraku juga gagal!" Dengkus Fairel yang kini bersedekap. Namun Beth sepertinya tak mempedulikan Fairel dan gadis itu sudah berjalan keluar dari UGD, meskipun dengan langkah terpincang.
__ADS_1
"Kau tidak pakai kruk seperti saran dokter?" Tanya Fairel yang sudah menyusul Beth.
"Aku bisa berjalan tanpa kruk!" Jawab Beth sambil sesekali meringis. Dan sekarang gerbang utama rumah sakit terlihat begitu jauh, padahal Beth haris keliat untuk mencari taksi. Atau ojek.
"Kau pulang naik apa? Motormu masih di bengkel dan ini sudah gelap," tanya Fairel yang masih mengekori Beth.
"Naik taksi!"
"Kenapa kau mengekoriku?" Gertak Beth yang sudah menghentikan langkahnya.
"Cih! Geer!"
"Aku mau mengambil mobilku ke parkiran!" Kilah Fairel seraya membunyikan sensor mobilnya memakai kunci. Fairel sedikit lupa ia tadi memarkir mobil di sebelah mana.
Tuiit tuiiit!
Mobil Fairel langsung berbunyi dan lampunya juga berkedip-kedip.
Beth hanya mendengus, dan gadis itu melanjutkan langkah pincangnya ke gerbang utama rumah sakit yang terlihat semakin jauh saja.
"Ayo, Beth! Jangan manja!" Gumam Beth menyemangati dirinya sendiri.
Beep! Beep!
"Berisik!" Gerutu Beth kemudian seraya menggosok-gosok telinganya. Mobil Fairel langsung melaju meninggalkan rumah sakit, sementara Beth masih terpincang-pincang keluar dari rumah sakit.
Setelah nafasnya nyaris putus, Beth akhirnya tiba di gerbang utama rumah sakit. Beth langsung keluar dan berdiri di trotoar di depan rumah sakit. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari taksi. Namun tidak ada!
Tumben!
Padahal biasanya banyak taksi yang mangkal di depan rumah sakit besar ini.
"Ish! Mau pesan taksi online juga tidak bisa!" Gerutu Beth lagi sembari meratapi ponselnya yang sudah tewas. Gadis itu lalu menghela nafas, saat sebuah mobil sedan hitam, berhenti tepat di depannya.
Sebentar, bukankah ini adalah....
"Tidak ada taksi?" Tanya Fairel to the point setelah pria itu menurunkan kaca jendela mobil.
Ya, mobil sedan hitam tadi memanglah mobil Fairel!
"Ada!" Jawab Beth sembari memalingkan wajahnya.
"Lalu mana? Terlihat sepi," tukas Fairel merasa sanksi. Beth hanya diam dan tak menjawab lagi.
__ADS_1
"Ayo aku antar pulang!" Ajak Fairel kemudian yang langsung membuat Beth menggeleng.
"Aku bisa pulang sendiri!" Tukas Beth sembari melangkah meninggalkan mobil Fairel.
"Dasar keras kepala!" Gerutu Fairel yang akhirnya memajukan mobilnya mengikuti langkah Beth yang tak terlalu cepat.
Beep beep!
Fairel iseng membunyikan klakson sambil terus mengekori Beth.
"Beth! Ayo naik!" Ajak Fairel sok-sokan bermurah hati. Sementara Beth tudak menyhaut dan gadis itu terus berjalan menyusuri trotoar.
"Beth!" Panggil Fairel lagi dan Beth hanya acuh. Fairel yang sudah hilang kesabaran, langsung turun dari mobil dan menghampiri Beth, lalu mencegat gadis itu.
"Apa, sih? Awas!" Usir Beth galak pada Fairel yang malah nyengir tanpa dosa.
"Awas, Iel!" Gertak Beth lagi, bersama dengan tubuhnya yang tiba-tiba sudah diangkat oleh Fairel.
"Ieel!!" Pekik Beth meronta.
"Diam dan jangan keras kepala lagi! Sudah bagus aku merasa iba padamu dan bermurah hati untuk mengantarmu pulang!" Gerutu Fairel seraya memasukkan tubuh mungil Beth ke dalam mobil.
"Aku juga tak butuh kau antar--"
Bugh!
Fairel menutup pintu mobilnya dengan kasar, sebelum kalimat Beth selesai.
Dasar!
Tak berselang lama, Fairel sudah ikut masuk ke dalam mobil dan pria itu langsung duduk di belakang kemudi.
"Aku juga tak butuh kau antar pulang dan aku sangat bisa pulang sendiri!" Sergah Beth melanjutkan kalimat omelannya pada Fairel yang tadi terpotong.
"Dasar keras kepala!" Cibir Fairel sebelum kemudian pria itu melajukan mobilnya menuju ke rumah Beth.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1