
"Ada lagi, Ma?" Tanya Beth pada Mama Tere yang malam ini pergi bersamanya ke salah satu toko baju di dekat alun-alun kota.
Ya, toko ini memang menjadi pilihan Beth dan Mama Tere untuk membeli baju untuk anak-anak di panti asuhan. Karena selain harganya yang tetjangkau, kualitas bajunya juga lumayan bagus.
"Dalaman untuk anak-anak belum. Mama cari dulu," ujar Mama Tere seraya berlalu meninggalkan Beth yang sudah sibuk merogoh tas selempangnya, karena gadis itu merasakan getaran dari ponselnya.
Barangkali ada telepon penting masuk, atau mungkin Papa Will sudah datang menjemput.
Eh, tapi Papa Will kan baru akan menjemput saat nanti Beth menelepon. Lalu yang sekarang menelepon Beth siapa?
"Nomor asing?" Gumam Beth seraya mengernyit. Beth yang berpikir kalau itu mungkin adalah salah satu pelanggan toko, langsung mengangkat telepon.
"Halo!"
"Beth! Kau masih di toko?"
Kedua mata Beth refleks melebar saat mendengar suara yang rak asing di telinganya.
Reandra.
"Beth!"
"I--ya!"
"Eh, tidak!" Jawab Beth tergagap dan sedikit bingung.
"Iya atau tidak? Aku mau mampir--"
"Toko sudah tutup karena aku sedang keluar!" Ujar Beth cepat memotong kalimat Reandra.
"Ooh! Keluar kemana? Biar aku susul."
"Tidak usah!" Tolak Beth cepat. Bayangan foto Reandra yang sedang menggandeng wanita yang tempo hari ditunjukkan oleh Fairel mendadak berkelebat di benak Beth.
"Kenapa?"
"Karena...."
"Aku padahal ingin memberikan hadiah untukmu."
"Ha-hadiah?" Beth sedikit goyah sekarang. Pesan dari Fairel siang tadi mendadak langsung menguap pergi.
Reandra mau memberikan Beth hadiah? Hadiah apa?
"Beth!"
"I-iya!" Jawab Beth tergagap.
"Kau di toko mana?"
"Dekat alun-alun. Toko serba tiga puluh lima ribu," jawab Beth yang akhirnya memberitahukan keberadaannya pada Reandra.
"Oh! Dekat alun-alun, ya?"
"Baiklah, aku meluncur ke sana. Jangan kemana-mana dulu!"
Tuut... tuut!
Telepon langsung terputus dan Beth memejamkan matanya sejenak.
"Aku peringatankan sekali lagi agar kau berhenti menanggapi telepon ataupun chat dari Reandra!"
"Belum lagi ibunya Reandra yang kemarin melabrakmu itu. Memangnya kau mau harga dirimu diinjak-injak seperti itu?"
Kata-kata peringatan dari Fairel siang tadi sudah kembali berputar di kepala Beth.
"Ck! Reandra pasti juga tidak tahu kalau ibunya datang melabrakku. Dan nanti misalnya aku menceritakan semuanya pada Reandra, semua akan ada solusinya!"
"Kenapa aku harus percaya dan mendengarkan omongan Fairel?" Beth bergumam pada dirinya sendiri.
"Beth! Kau bicara pada siapa?" Teguran dari Mama Tere langsung membuat Beth terlonjak.
Ya ampun!
Beth bahkan baru ingat kalau ia tadi kesini bersama Mama Tere!
"Tidak ada, Ma!"
"Mama yang cari dalaman sudah?" Beth balik bertanya pada sang mama.
"Sudah!"
__ADS_1
"Ayo ke kasir!" Ajak Mama Tere kemudian yang hanya membuat Beth mengangguk. Beth lalu mengekori sang mama untuk mengantre di kasir.
"Kau sudah tahu kalau Angga akan menikah hari Minggu nanti?" Tanya Mama Tere sembari mereka menunggu antrean.
"Belum, Ma!"
"Kenapa cepat sekali?" Tanya Beth bingung.
"Mama juga tidak tahu."
"Tapi saat acara pertunangan Angga kemarin memang sudah langsung diumumkan."
"Kamu, sih! Diajak datang malah tidak datang dan malah ngumpet di kost-an Timmy!" Omel Mama Tere yang hanya membuat Beth meringis.
Salah satu alasan Beth tak datang malam itu adalah agar ia tak bertemu Fairel. Namun nyatanya Beth tetap dipertemukan dengan Fairel yang mendapatkan bogem mentah dari Abang Timmy hingga matanya menghitam.
"Besok saat pernikahan Angga kau dan Timmy harus datang! Mama tak enak pada Tante Sita kalau kalian tak datang," ujar Mama Tere lagi yang langsung diiyakan oleh Beth.
"Iya, Ma! Beth akan datang!"
"Kalau Abang Timmy, mama yang bujuklah!" Tukas Beth bersamaan dengan antrian di depannya yang sydah habis. Mama Tere langsing meletakkan dua keranjang baju yang ia dan Beth bawa ke atas meja kasir untuk dihitung.
Beth masih memperhatikan kasir yang menghitung total belanjaan, saat ponsel gadis itu kembali bergetar.
"Halo!" Lagi-lagi Beth lupa melihat nama yang tertera di layar. Tapi tadi seperti nomor asing. Jadi Beth refleks mengangkat.
"Beth aku sudah di depan toko serba tiga puluh lima ribu di dekat alun-alun."
"Ini toko apa, Beth? Kok harganya murah sekali?"
"Toko baju!" Jawab Beth seraya meringis.
"Baju? Baju apa? Kau beli baju di toko ini?"
"Iya! Memangnya kenapa?" Beth balik bertanya pada Reandra yang tadi nada bicaranya begitu meremehkan.
Memang apa yang salah dengan membeli baju di toko seperti ini? Toh sama-sama baju yang fungsinya untuk dipakai!
"Tidak apa-apa, sih! Hanya heran saja!" Masih terdengat kekehan Reandra di ujung telepon.
"Ngomong-ngomong, kau bisa keluar dulu? Aku sudah di depan toko ini."
"Sebentar lagi! Aku masih menemani mamaku," jawab Beth dengan nada ketus.
"Kan aku mau memberikanmu hadiah--"
"Bawa pergi saja!" Sergah Beth cepat bersamaan dengan Mama Tere yang memanggilnya. Rupanya mama kandung Beth itu sudah selesai membayar.
"Beth!"
"Iya, Ma!" Jawab Beth sembari pamit ala kadarnya pada Reandra dan mematikan ponsel. Beth langsung menghampiri Mama Tere dan membantu membawa kardus berisi pakaian untuk anak-anak di panti.
"Anak-anak pasti akan sangat senang," tukas Mama Tere yang langsung membuat Beth mengangguk.
"Kau tadi sudah telepon Papa?" Tanya Mama Tere kemudian.
"Hah? Ya ampun!" Beth merutuki dirinya sendiri karena lupa.
"Tidak apa! Nanti kita mampir ke angkringan di depan dulu sembari menunggu Papa."
"Mama lapar," tukas Mama Tere kemudian yang hanya diiyakan oleh Beth. Setelah menaruh kardus berisi baju-baju untuk anak panti di depan toko, Beth lanjut menghubungi Papa Will.
"Beth!" Panggil Reandra seraya menghampiri Beth.
"Oh, hai! Kau masih disini?" Jawab Beth sedikit canggung.
"Ya!"
"Ini hadiah untukmu!" Reandra sudah menyodorkan satu buah paperbag kecil pada Beth.
Tadinya Beth pikir hadiah Reandra lebih besar.
Ya, minimal sebesar paperbag yang kemarin Beth pakai untuk mengembalikan baju Fairel.
Tapi ini....
Bahkan ukurannya tak lebih besar dari tas selempang Beth!
Ah, tapi mungkin isinya adalah logam mulia 10 gram, karena sedikit berat.
"Ehem!" Mama Tere sudah berdehem dan seketika Beth baru ingat kalau sang mama masih berada di dekatnya.
__ADS_1
"Eh, iya, Re!"
"Kenalin, ini Mama aku," ucap Beth seraya memperkenalkan Mama Tere pada Reandra.
"Mama kandung?" Tanya Reandra yang langsung membuat Beth dan Mama Tere saling bertukar pandang.
"I....ya!"
"Memang wajah kami terlihat tak mirip?" Timpal Mama Tere yang kini tatapannya terlihat tak senang pada Reandra.
"Bukan seperti itu, Tante! Saya hanya bercanda!" ucap Reandra yang langsung meminta maaf dengan sopan.
"Ngomong-ngomong, kau adalah--"
"Saya Reandra, pacarnya Beth, Tante!" Jawab Reandra cepat bahkan sebelum pertanyaan Mama Tere selesai.
Beth tentu saja langsung dibuat meringis atas pengakuan Reandra barusan.
"Pacar, ya? Pantas bawa hadiah segala!" Tukas Mama Tere kemudian sedikit menyindir. Beth langsung salah tingkah.
"Jadi, Reandra boleh mengajak Beth keluar, kan, Tante?" Tanya Reandra selanjutnya.
"Keluar kemana?" Tanya Mama Tere penuh selidik.
"Jalan-jalan, Tante! Menikmati udara malam." Jawab Reandra
"Sudah berapa lama jadi pacarnya Beth kamu, Re?" Tanya Mama Tere lagi.
"Sekitar...." Reandra terlihat mengingat-ingat.
"Sekitar berapa, Beth?" Reandra kemudian bertanya pada Beth yang langsung mengendikkan bahu.
"Ah, iya! Tiga bulan, Tante!", jawab Reandra akhirnya.
"Tiga bulan!" Mama Tere manggut-manggut, sebelum lanjjt bicara.
"Berarti kamu juga harusnya sudah tahu kalau Beth punya batasan jam malam, Reandra!"
"Beth harus sudah di rumah jam sembilan malam!" Ucap Mama Tere.
"Kami sebelumnya LDR-an, Ma!" Sergah Beth yang entah mengapa malah membela Reandra.
"Dan ini masih jam setengah sembilan, Tante!" Timpal Rrandra sembari menunjukkan arloji mewahnya pada Mama Tere.
"Tidak ya tidak!"
"Seharusnya kau memberitahu Reandra meskipun kalian LDR-an!" Omel Mama Tere kemudian pada Beth.
"Iya, Ma! Maaf!", jawab Beth cepat.
"Jadi, Reandra tidak boleh mengajak Beth pergi jalan-jalan, Tante?" Tanya Reandra bersikukuh.
"Tidak!" Jawab Mama Tere tegas.
"Baiklah, tidak apa!"
"Lain kali saja kita perginya, Beth! Sebelum jam sembilan," tukas Reandra kemudian seraya tersenyum pada Beth yang tampak salah tingkah.
"Aku pergi dulu, ya!"
"Bye!" Pamit Reandra kemudian seraya melambaikan tangan pada Beth.
"Bye!" Jawab Beth tanoa melambaikan tangan sama sekali.
Setelah mobil Reandra melaju pergi, Beth kemudian menoleh pada Mama Tere yang kini bersedekap.
"Tadi katanya lapar dan mau makan di angkringan, Ma!" Ucap Beth mengingatkan sekaligus mengalihkan perhatian Mama Tere.
"Ya!" Jawab Mama Tere akhirnya seraya mengayunkan langkah ke angkringan tenda berwarna biru dekat alun-alun. Beth kemudian menyusul sang mama setelah menitipkan belanjaannya tadi pada tukang parkir di depan toko.
"Teh hangat satu, Pak!" Ucap Mama Tere saat Beth baru masuk ke dalam tenda angkringan.
Namun alangkah terkejutnya Beth saat ia mendapati Fairel yang ternyata sudah duduk di kursi panjang yang tak jauh dari Mama Tere.
Ya ampun!
Sedang apa Fairel di sini?
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.