
Fairel sudah tiba di depan toko kue Beth yang kini tertutup rapat.
Yang benar saja!
Kemana gadis itu sampai menutup rapat tokonya padahal ini masih sore!
Seharusnya Beth membuka toko kuenya karena pasti banyak pelanggan kelaparan yang ingin makan kue buatan Beth!
Termasuk Fairel!
Dasar tukang kue yang tdak peka!
Apa dia tak butuh uang? Tak butuh pemasukan? Apa dia sudah kaya raya dan menjadi sultan sekarang hingga dia tak membuka toko kuenya dan seenak jidatnya menutup toko di jam-jam strategis begini.
"Gadis bodoh!" Maki Fairel kesal sembari pria itu mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Fairel langsung mencari kontak Beth yang sejak Angga memberikan kontak tersebut Fairel sudah menamainya dengan nama kontak "Tukang Kue"
Ya, Beth kan memang si tukang kue!
Telepon langsung tersambung, saat Fairel mencoba untuk menghubungi gadis bercelana kodok tersebut. Namun cukup lama Fairel menunggu, sampai akhirnya Beth mengangkat telepon dari Fairel.
Apa gadis itu sedang sok sibuk hingga pura-pura tak mendengar bunyi ponselnya saat Fairel menelepon? Dasar!
"Halo, ini siapa?"
Fairel benar-benar harus mengumpat saat Beth masih bertanya dirinya siapa.
Apa itu artinya Beth tidak menyimpan nomor kontak Fairel selama ini?
Dasar tukang kue tak tahu diri!
Padahal Fairel adalah pelanggan tetap Sweety Cake yang kerap memborong rollcake buatan Beth!
Benar-benar keterlaluan si Beth menyebalkan itu!
"Halo! Maaf, ini siapa, ya?" Tanya Beth sekali lagi dari ujung telepon.
"Aku Fairel!" Jawab Fairel galak yang langsung menciptakan keheningan dadakan di ujung telepon.
"Oh!" Beth akhirnya hanya ber-oh-ria.
Apa tak ada ekspresi lain yang bisa ditunjukkan gadis aneh itu?
"Kenapa hanya oh? Kau tidak menyimpan nomorku selama ini, hah?" Cecar Fairel yangvsudah benar-benar geregetan.
Kalau gadis tukang kue itu ada di depan Fairel sekarang, mungkin sudah Fairel tarik tali di celana kodoknya, lalu Fairel juga akan melepas cepolan rambut Beth, serta mengacak-acaknya dengan puas!
"Aku menyimpannya. Tapi kemarin ponselku eror dan sebagian kontak mendadak hilang."
"Alasan!" Sergah Fairel tak percaya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau tak percaya! Tak semua hal harus kau percaya."
"Bye--"
"Hei! Hei! Hei!" Seru Fairel galak saat Beth hampir menutup telepon.
Enak saja!
Fairel belum selesai menyampaikan uneg-unegnya dan gadis itu sudah main kabur saja!
"Ada apa lagi?" Suara Beth terdengar ketus.
"Kau sedang dimana sekarang?" Tanya Fairel to the point.
"Di luar kota! Aku sedang ada urusan!"
"Urusan macam apa, hah? Kau pasti sedang berduaan dengan Reandra, kan?" Cecar Fairel lagi yang langsung dijawab decakan dari Beth.
"Aku sudah tak ada urusan dengan pria brengsek itu! Paham?"
"Lalu kenapa kau masih sok sibuk? Kau bahkan tak membuka toko sore ini padahal antrean di depan tokomu sudah mengular!"
Kriik kriik!
Apanya juga yang mengular?
Sejak tadi Fairel berada di dalam mobil, tak ada seorangpun yang mengantre di depan toko Beth. Memang ada beberapa orang yang datang tadi dan sepertinya hendak membeli kue. Namun setelah melihat toko tutup, mereka semua langsung putar balik. Hanya Fairel yang tak langsung putar balik dan masih menunggu Beth membuka toko kuenya.
"Brengsek! Itu mobilku!" umpat Fairel seraya keluar dari mobil, lalu mengedarkan pandangannya untui mencari keberadaan CCTV toko Beth.
Di sudut depan toko rupanya!
"Hei! Cepat kemari dan buka toko kuemu!" Ucap Fairel seraya mendelik ke arah CCTV.
"Sudah kubilang, kalau aku masih di luar kota!"
"Aku tidak percaya!" Sergah Fairel semakin galak.
"Terserah saja!"
Tuut! Tuutt!
Telepon terpurus begitu saja sebelum Fairel buka suara lagi.
Dasar Beth yang benar-benar menyebalkan! Kenapa gadis itu menutup telepon secara sepihak dan tak membiarkan Fairel buka suara?
Fairel kembali menghubungi nomor Beth, namun kali ini hanya ada operator yang menjawab dan mengatakan kalau ponsel Beth sddang tak aktif.
"Aaarrgh!" Fairel meninju atap mobilnya dengan frustasi, demi meluapkan emosinya yang sudah naik ke ubun-ubun.
__ADS_1
"Aku akan mendatangimu ke rumah!" Ucap Fairel kemudian seraya masuk ke dalam mobil. Tak berselang lama, mobil Fairel sudah melaju pergi meninggalkan toko kue Beth dan ganti menuju ke rumah kedua orang tua Beth.
****
"Mama menelepon?" Tanya Timmy saat Beth mematikan ponselnya agar Fairel tak meneleponnya lagi. Toh Beth dan Abang Timmy saat ini juga sudah menyusuri garbarata dan hendak masuk ke dalam pesawat yang akan membawa mereka pulang.
"Bukan!" Jawab Beth seraya menyimpan ponselnya yang sudah mati ke dalam tas.
"Hanya customer gila yang menyuruh Beth membuka toko. Padahal Beth kan masih disini," ujar Beth lagi sedikit cerita dan sedikit curhat juga pada sang abang yang hanya berekspresi datar.
"Ngomong-ngomong, Yvone kok belum datang, Bang!" Tanya Beth kemudian seraya menoleh ke arah belakang sambil sedikit celingukan karena mencari Yvone.
Ya, tadi Yvone memang menyuruh Beth dan Abang Timmy ke bandara duluan karena gadis itu katanya mau pergi mencari oleh-oleh dulu.
Dasar Yvone!
"Pinjam ponsel Abang!" Pinta Beth kemudian seraya menengadahkan tangannya ke arah Timmy. Kakak beradik itu sudah sampai di dalam pesawat dan sudah duduk di seat mereka yang kebetulan bersebelahan. Masih ada seat kosok di sampingnya Timmy yang sepertinya itu adalah tempat duduk Yvone. Beth juga tak tahu!
"Bang!" Rengek Beth kemudian pada Abang Timmy yang hanya berdecak. Abang Timmy lalu mengeluarkan ponselnya dan memberikan benda tersebut pada Beth.
"Hafal nomornya memang?" Cibir Timmy yang langsung membuat Beth mengetikkan nomor Yvone secara sat set! Beth nyatanya memang hafal, karena nomor ponsel Yvone memang sangat mudah diingat.
"Kau mau menelepon siapa?" Bisik Abang Timmy pada sang adik.
"Yvone, Bang!" Jawab Beth bersamaan dengan Timmy yang sudah mengendikkan dagunya ke lorong pesawat, dimana Yvone sedang berjalan ke arah Timmy dan Beth.
Beth akhirnya tak jadi menelepon Yvone dan segera mengembalikan ponsel sang abang.
"Aku tidak terlambat, kan?" Tanya Yvone seraya menyimpan oleh-oleh yang tadi ia bawa ke bagasi atas pesawat.
Sementara Timmy sudah berbisik-bisik lagi pada Beth.
"Bisa tukar kursi, Beth?" Pinta Timmy memohon.
"Tidak mau! Beth mau dekat jendela, Bang!" Tolak Beth yang langsung membuat Timmy berdecak. Entah kenapa sikap abang Beth itu sedikit membingungkan. Entahlah!
Sementara Yvone sudah selesai menyimpan oleh-olehnya, dan gadis itu langsung duduk di samping Timmy.
Ya, saat ini Beth, Timmy, dan Yvone memang duduk di seat tiga baris dengan Timmy yang berada di tengah-tengah diapit oleh Beth dan Yvone.
Tak ada obrolan di antara Beth, Timmy, dan juga Yvone, hingga pesawat lepas landas dan meninggalkan kota D.
Ya, Abang Timmy memang sebaiknya tidak pergi ke kota ini lagi dan mulai melupakan Kath!
Beth mungkin akan mencarikan pacar atau calon istri sekalian untuk Abang Timmy nanti!
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.