Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
TIDAK PEDULI


__ADS_3

Buk!


Beth langsung tersentak kaget saat buket bunga pengantin Rossie mendadak mengenai kepalanya, lalu jatuh tepat ke tangannya.


Hah?


"Siapa yang dapat?" Seru Rossie dari atas panggung pelaminan. Semua orang sontak menunjuk ke arah Beth yang langsung buru-buru memberikan buket bunga tadi pada seorang gadis di depannya.


Entah siapa!


"Loh, Kak--"


"Udah, ambil saja!" Sergah Beth seraya mendelik.


"Beth!" Panggil Rossie darj atas panggung pelaminan.


"Bukan aku!" Sergah Beth cepat sedikit salah tingkah.


"Tapi aku akan minta satu tangkai untuk Abangku," ujar Beth lagi seraya mencabut satu tangkai mawar dari buket yang tadi ia berikan pada gadis asing.


"Beth!" Panggil Rossie lagi namun Beth hanya menggeleng dan buru-buru pergi.


Apa, sih?


"Beth!" Kali ini gantian Mama Tere yang memanggil dan menghampiri Beth.


"Apa, Ma?" Jawab Beth cepat.


"Tadi bukannya bunga--"


"Iya, kena kepala Beth! Tapi jatihnya ke tangan gadis itu!" Jawab Beth cepat sebelum Mama Tere menyelesaikan jawabannya.


"Ini Beth munta satu tangkai mawar saja untuk Abang Timmy," ujar Beth lagi serata menunjukkan satu tangkai mawar putih di tangannya pada Mama Tere. Mama kandung Beth itupun hanya tertawa kecil seraya geleng-geleng kepala.


"Beth mau ambil makanan dulu, Ma!"


"Lapar," ujar Beth kemudian seraya mengusap perutnya sendiri. Beth lalu segera berlalu dari hadapan Mama Tere dan menuju ke meja prasmanan.


****


Menjelang tengah malam, Beth beserta kedua orang tuanya baru tiba di rumah. Mama Tere masih mencari kunci rumah di dalam tasnya, saat tiba-tiba pintu depan sudah dibuka oleh seseorang dari dalam.


"Timmy?"


"Abang?"


Mama Tere dan Beth berucap bersamaan saat melihat siapa yang barusan membuka pintu. Rupanya Abang Timmy yang entah sejak kapan sudah dirumah. Padahal tadi bilangnya kerja. Aneh!


"Abang! Kok ada disini? Tadi katanya kerja?" Cecar Beth akhirnyq yang langsung menginterogasi sang abang.


"Mendadak tak enak badan. Makanya langsung pulang saja tadi," jawab Abang Timmy.


"Demam?" Tanya Mama Tere yang langsung terlihat khawatir. Bahkan mama kandung Beth dan Timmy itu sudah langsung meletakkan punggung tangannya di kening Timmy.


"Hanya sedikit pusing, Ma!" Jawab Timmy kemudian. Mama Tere lalu membujuk sang putra kesayangan untuk minum obat, saat Papa Will masuk ke rumah.


Papa kandung Beth itu langsung berdehem karena melohat Mama Tere yang merangkul Abang Timmy dan mengajaknya ke dapur. Sepertinya Papa Will sedikit cemburu.


"Sabar, Pa! Mama sedang merawat putra kesayangannya yang sedang tak enak badan," tukas Beth yang sudah menghampiri sang papa,lalu menepuk-nepuk punggung Papa Will juga.

__ADS_1


"Timmy sakit?" Raut Papa Will sudah berubah khawatir.


"Katanya sakit kepala," tukas Beth seraya berlalu menuju ke kamarnya. Beth sudah merasa gerah dengan gaun yang ia kenakan dan ingin cepat menggantinya dengan piyama yang lebih longgar.


Selesai mengganti gaunnya dengan piyama, Beth lalu segera membersihkan sisa-sisa make up di wajahnya. Saat itulah pandangannya tak sengaja tertumbuk pada bunga mawar putih yang tergeletak di atas meja rias.


Beth akhirnya keluar lagi dari kamar dan berinisiatif memberikan bunga tadi pada sang abang yang sepertinya masih berbincang bersama Papa dan Mama di meja makan.


"Timmy tidak ada hubungan apa-apa dengan Yvone, Pa! Dan dia juga bukan calon Timmy!" Ujar Abang Timmy saat Beth baru tiba di ruang makan. Sepertinya tadi sedang ada pembahasan serius tentang Yvone atau mungkin tentang calon istri untuk Abang Timmy.


"Ada juga tidak masalah, Bang!"


"Atau kalau belum ada ya diada-adakan saja!" Sahut Beth yang akhirnya ikut nimbrung di obrolan keluarag Atmadja tersebut.


"Ini bunga dari Rossie! Katanya biar abang Timmy cepat menikah!" Ujar Beth lagi seraya memberikan bunga di tangannya tadi pada abang Timmy.


"Harus aku apakan bunganya? Aku jadikan istri dan menikahinya?" Kelakar Abang Timmy yang tentu saja langsung membuat semuanya tergelak.


"Berikan bunganya pada Yvone!" Bisik Beth kemudian di telinga sang abang yang langsung berdecak.


Dasar Abang Timmy!


"Ngomong-ngomong, Abang mau bicara hal penting padamu," bisik abang Timmy kemudian yang langsung membuat Beth mengernyit.


"Bicara apa?"


"Ayo ke kamar!" Ajak Timmy Timmy seraya bangkit dari duduknya. Abang Beth itu lalu mendorong pundak Beth hingga ke kamar dan meninggalkan Mama Tere dan Papa Will yang sepertinya masih akan berpacaran di dapur.


****


"Tadi Abang tak sengaja bertemu Reandra yang sedang bersama pacarnya--"


Hhhh! Itu kan tidak penting!


"Pacarnya Reandra hamil! Tapi Reandra menolak bertanggung jawab," cerita abang Timmy lagi.


"Oh!" Beth hanya ber-oh ria dan ia benar-benar tak tertarik dengan kasusnya Reandra sekarang.


"Kok hanya oh?" Tanya abang Timmy merasa heran.


"Iya, trus? Beth harus salto? Koprol? Beth kan sudah tak ada hubungan apa-apa dengan Reandra!" Tukas Beth masih dengan ekspresi malas dan tak peduli.


"Benar sudah tidak ada hubungan apa-apa?" Tanya abang Timmy yang seolah tak yakin.


"Benar, Bang! Beth tak ada urusan apa-apa lagi dengan pria brengsek itu!" Jawab Beth sekali lagi dengan nada yakin seyakin-yakinnya.


"Tapi kau belum diapa-apakan oleh pria brengsek itu, kan?" Tanya abang Timmy lagi yang tentu saja langsung membuat Beth ternganga. Maksudnya diapa-apakan apa?


"Maksud abang?" Tanya Beth pada abang Timmy yang malah tampak melamun. Bahkan kibasan tangan Beth di depan wajah abangnya tersebut juga seolah tak dipedulika oleh Abang Timmy.


"Bang!" Tegur Beth akhirnya sedikit keras yang langsung membuat Abang Timmy terlonjak.


Lah! Abang Beth itu tadi sudah berpikir sampai kemana memangnya?


"Ya, bagaimana?" Abang Timmy malah balik bertanya pada Beth yang kembali ternganga.


"Maksud pertanyaan Abang tadi apa?" Tanya Beth sekali lagi ikut-ikutan bingung.


"Malam itu, kau pergi bersama Reandra, kan? Yvone mengirim pesan dan meminta Abang untuk menasehatimu!" Abang Timmy lalu membuka ponselnya dan menunjukkan riwayat pesan dari Yvone.

__ADS_1


Beth langsung ingat pada obrolannya bersama Yvdi rumah sakit waktu itu, dimana Yvone mengira kalau yang menyelamatkan Beth di malam sial itu adalah Abang Timmy. Padahal kan Fairel.


Ah, Fairel!


Kalau malam itu Fairel tak ada, entah apa yang sudah terjadi pada Beth. Meskipun malam itu sikap Fairel begitu ketus dan galak, tapi tetap saja Fairel adalah pahlawan malam itu!


"Jadi? Kau pergi bersama Reandra malam itu?" Tanya abang Timmy sekali lagi.


"Iya, memang," jawab Beth dengan raut wajah yang sedikit sendu karena ia teringat pada Fairel.


"Lalu Reandra melakukan apa padamu?" Abang Timmy tiba-tiba sudah merengkuh pundak Beth dan membuat Beth sedikit kaget.


Biasanya yang hobi begini kan Fairel!


"Reandra melakukan apa, Beth?" Tanya abang Timmy sekali lagi.


"Reandra nyaris mengajak Beth check in ke kamar--"


"Brengsek!" Abang Timmy sudah mengumpat dan menggeram emosi padahal cerita Beth belum selesai.


"Tapi waktu itu ada Iel yang tiba-tiba datang dan menyelamatkan Beth, Bang!" Ujar Beth lagi menyambung ceritanya. Kedua mata Abang Timmy sontak melebar.


"Iel?" Beth langsung mengangguk.


"Iel yang sudah menyelamatkan Beth dari pria baj*ngan itu."


"Dan setelahnya, Beth tidak berurusan lagi dengan Reandra. Beth juga sydah memblokir semua kontaknya," tutur Beth lagi mengakhiri ceritanya. Abang Timmy tampak bernafas lega dan langsung memeluk Beth dengan erat.


"Iel pahlawanmu berarti, hah?" Goda abang Timmy kemudian yang langsung membuat Beth merengut.


"Mana ada!" Wajah Beth juga sudah berubah sendu sekarang karena ingat pada kemurkaan Fairel yang terakhir kepadanya.


"Ada apa?" Tanya abang Timmy kemudian yang sepertinya bisa menangkap kegundahan hati Beth.


Beth tak menjawab sepatah katapun dan gadis itu langsung menghambur ke pelukan sang abang seraya menangis terisak.


Beth tidak tahu dirinya kenapa, tapi Beth hanya ingin menangis sekarang.


"Beth, kau kenapa?" Tanya Abang Timmy lembut yang kembali membuat Beth menggeleng.


"Kau sedang ada masalah dengan Iel?" Tanya Abang Timmy lagi dan Beth terus saja menggeleng.


"Nanti Baang bantu bicara pada Iel kalau memang kalian ada masalah--"


"Tidak usah, Bang!" Sergah Beth cepat seraya mengangkat wajahnya dari pelukan sang abang. Beth lalu menghapus sisa-sisa airmatanya.


"Yakin tidak mau? Abang mendukung penuh padahal misalnya kau dan Iel--" abang Timmy tak melanjutkan selorohannya karena Beth yang sudah langsung merengut.


"Baiklah, tidak jadi!" Beth kemudian membantu menyeka sisa-sisa airmata Beth dan sedikit memaksa untuk menarik kedua sudut bibir Beth yang masih merengut.


Ck! Beth kan sedang tak ingin tersenyum!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2