Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
URING-URINGAN


__ADS_3

"Salah!"


"Salah!"


"Salah!"


"Semua salah! Kalian bisa kerja dengan becus atau tidak sebenarnya?" Bentak Fairel pada tiga karyawan magang yang kini sedang berdiri seraya menundukkan wajah di depan meja kerja Fairel.


"Iel, kenapa kau marah-marah?" Tanya Ryan yang sudah ikut masuk ke dalam ruang kerja Fairel.


"Mereka kerja tak becus!" Tukas Fairel seraya menunjuk pada karyawan magang yang masih tertunduk di hadapannya.


"Mereka baru magang satu pekan, jadi wajar jika masih melakukan kesalahan!"


"Jadi tegur seperlunya--"


"Aku lebih tahu apa yang aku lakukan, jadi kau tak perlu ikut campur!" Fairel ganti mendelik Ryan yang langsung diam.


"Keluar kalian semua!"


"Tidak usah kerja di Halley Development kalau memang tidak niat dan tidak becus!" Usir Fairel selanjutnya pada tiga karyawan tadi yang langsung pamit dan undur diri.


Kini hanya tinggal Fairel dan Ryan di dalam ruangan.


Ryan belum buka suara dan pria itu hanya memeriksa kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerja Fairel. Itu adalah hasil pekerjaan tiga karyawan magang tadi dan sepengamatan Ryan, sudah lumayan. Hanya ada beberapa kesalahan yang tak seharusnya membuat Fairel sampai harus mencak-mencak seperti tadi.


"Dasar payah!" Dengkus Fairel kemudian seraya mendaratkan bokongnya di kursi kerja. Fairel lalu memutar kursi tersebut dan mengarahkan pandangannya ke jendela besar di ruang kerjanya yang langsung mengarah ke hamparan gedung di sekitar Halley Development.


Sejak semalam hati Fairel rasanya memang dongkol tak berujung. Semuanya gara-gara Beth keras kepala yang tak mau mendengarkan Fairel!


Sudah disuruh jauh dari Reandra brengsek, tapi masih saja memberikan ruang dan menjalin hubungan!


Apa perlu Fairel membopong Beth ke tempat dimana Reandra sedang menggandeng gadis lain, agar Beth percaya?


"Iel, apa kau lapar? Mau aku belikan rollcake kesukaanmu--"


"Tak perlu!" Fairel langsung menyalak keras pada Ryan yang baru saja menyebut rollcake.


Ya, Ryan memang kerap memergoki Fairel yang ke kantor membawa bungkusan berisi rollcake dari toko kue Beth.


"Aku sedang tak ingin makan rollcake atau kue apapun!" Ujar Fairel lagi tetap dengan nada bersungut-sungut.


"Baiklah, tak perlu emosi begitu!"


"Aku kan hanya bertanya," tukas Ryan yang akhirnya keluar dari ruangan Fairel. Namun baru beberapa detik keluar, sepupu Fairel itu sudah kembali lagi.


"Ngomong-ngomong, apa benar Reina dan Angga akan foto prewedding di sini nanti?" Tanya Ryan dengan wajah serius.


"Ya!" Jawab Fairel masih ketus.


"Jam berapa? Fotografernya sudah datang!" Lapor Ryan lagi yang langsung membuat Fairel mendengus berulang-ulang. Fairel langsung meraih ponselnya dan menghubungi Reina.


****


Sore menjelang.


Beth masih menghitung uang di laci meja kasir, saat pintu toko dibuka oleh seseorang.


Fairel!


Beth hanya melirik sekilas pada pria yang wajahnya terlihat marah itu sebelum lanjut menghitung uang di laci meja kasir.


"Aku sudah memperingatkanmu, Beth!"


"Kenapa kau keras kepala sekali?" Fairel sudah menggebrak meja kasir dengan emosi.


"Aku tidak paham apa maksudmu dan tolong kalau mau marah jangan di tokoku!" Ucap Beth yang langsung mendelik pada Fairel.


"Kau bertemu buaya brengsek itu lagi semalam, kan?" Cecar Fairel to the point.


"Itu pertemuan tak sengaja!" Sanggah Beth cepat.


"Lagipula, kenapa kau selalu saja membuntuti dan memata-mataiku? Apa kau kurang kerjaan?" Ujar Beth lagi yang kembali mendelik pada Fairel.


Fairel langsung diam dan tak langsung menjawab. Pria itu membalas delikan Beth cukup lama sebelum kembali buka suara.

__ADS_1


"Shanty! Aku mau rollcake!" Teriak Fairel kemudian seraya memanggil Shanty yang langsung tergopph keluar dari dapur.


"Pak Iel! Sore, Pak!" Sapa Shanty ramah dan sedikit bingung sepertinya.


Karena jelas-jelas ada Beth di depan, lalu kenapa Fairel malah memanggil Shanty?


"Aku mau rollcake semua rasa--"


"Stok sedang kosong dan yang tersisa hanya yang red velvet!" Sahut Beth seraya bersedekap pada Fairel.


"Lalu kenapa tidak kau isi stoknya kalau memang habis?" Omel Fairel pada Beth yang masih bersedekap.


"Sebagian masih proses, Pak!" Sela Shanty turut menjelaskan.


"Ck! Harusnya kau isi ulang semuanya sebelum habis!"


"Kau itu niat jualan atau tidak sebenarnya?" Bentak Fairel pada Beth yang tetap tak mengubah posisinya.


"Shanty, ambilkan yang red velvet semuanya!" Perintah Fairel kemudian pada Shanty, namun tatapan Fairel tetap tertuju pada Beth keras kepala.


"Hanya tinggal dua slices, Pak!" Ucap Shanty seraya menyodorkan box kue berisi rollcake pada Fairel.


"Ck!"


"Pacaran saja terus dan tak usah jualan kue sekalian!" Marah Fairel kemudian pada Beth.


"Tidak usah mengurusi urusanku dan urus saja urusanmu sendiri!" Sergah Beth yang balik memarahi Fairel.


"Kita lihat saja ke depannya hubunganmu dan Reandra akan berakhir bagaimana!"


"Aku tak akan peduli lagi!" Tukas Fairel seraya menyambar box kue tadi lalu meletakkan uang seratus ribuan di atas etalase.


"Aku juga tak butuh kepedulianmu!" Seru Beth pada Fairel yang sudah melangkah ke pintu keluar.


"Dasar keras kepala!" Geram Fairel sebelum pria itu membanting pintu toko Beth.


"Aku akan menuntut ganti rugi kalau kau memecahkan pintunya!" Seru Beth yang langsung membuat Fairel menghentikan langkahnya dan kembali lagi. Pria itu lalu membuka pintu dan membantingnya lebih keras hingga membuat Beth dan Shanty terlonjak kaget.


Fairel bahkan melakukannya berulang kali, namun syukurlah pintu lumayan kuat hingga tak pecah maupun retak sedikitpun meskipun Fairel membantingnya berulang kali.


"Akan aku transfer nanti uang ganti ruginya!" Tukas Fairel sambil membanting pintu sekali lagi. Puas melakukannya, Fairel langsung masuk ke mobilnya dan meluncur meninggalkan Sweety Cake.


"Dasar sinting!" Maki Beth sembari memeriksa pintu kaca tokonya. Tetap tak ada indikasi retak maupun pecah, tapi mungkin Beth akan memanggil tulang besok untuk memastikannya. Beth tidak mau terjadi hal buruk saat nanti ada customer yang datang dan membuka pintu tersebut.


****


"Abang membawakan kopi pesanan Reina?" Tanya Reina saat Fairel kembali lagi ke Halley Development.


Reina dan Angga masih melakukan sesi pemotretan padahal sudah hampir enam jam berlalu.


Entah gaya macam apa yang sebenarnya mau dipakai Reina dan Angga hingga sesi pemotretannya tak selesai-selesai.


"Kenapa tidak pesan online saja! Memangnya aku babumu?" Jawab Fairel ketus seraya mendaratkan bokongnya di sofa.


"Kan tadi katanya abang keluar beli kopi. Makanya Reina nitip. Lalu sekarang mana kopinya? Kok malah membawa cake?" Cecar Reina denagn raut bingung.


"Kedai kopinya tutup!" Jawab Fairel ketus seraya menggigit rollcake yang kini hanya tersisa satu potong.


Satu potong lagi sudah Fairel habiskan sepanjang perjalanan tadi.


"Rei!" Panggil Angga kemudian yang membuat Reina tak jadi mencecar Fairel lagi. Dua sejoli itu lalu melanjutkan pose untuk foto prewedding mereka.


"Tersenyumlah, Rei!"


"Kau seperti sedang menanggung beban hutang negara selama empat puluh tahun saja!" Komentar Fairel yang langsung membuat fotografer terkekeh.


Sementara Reina langsung merengut dan tak jadi berpose. Gadis itu menghentakkan satu kakinya lalu pergi mengambil segelas air mineral.


"Pantas saja tak selesai-selesai! Baperan ternyata!" Cibir Fairel kemudian yang langsung berhadiah delikan dari Reina.


"Iya, halo!" Angga tiba-tiba sudah sibuk dengan teleponnya, saat Reina sudah siap untuk kembali berpose.


Astaga!


Ada saja gangguan!

__ADS_1


"Masih berapa pose lagi?" Tanya Fairel pada fotografer seraya pria itu melihat hasil foto Reina dan Angga selama enam jam tadi.


"Tinggal satu pose lagi sebenarnya. Tapi sepertinya mereka sudah lelah," tukas sang fotografer.


"Senyummu terlihat tidak ikhlas, Rei!" Komentar Fairel lagi setelah pria itu memeriksa satu persatu foto prewedding Angga dan Reina.


Reina serta merta langsung merebut kamera di tangan Fairel untuk melihat satu persatu fotonya bersama Angga.


"Sudah diulang beberapa kali tapi senyum Reina selalu begitu. Aku pikir sudah bawaan," ujar fotografer yang juga ikut duduk bersama Reina dan Fairel. Sementara Angga masih sibuk dengan ponselnya di sudut ruangan. Dan sepertinya itu akan memakan waktu beberapa menit ke depan. Dasar workaholic!


Fairel masih melihat satubpersatu foto Reina dan Angga, saat pria itu mendapati Reina yang bibirnya sedang komat-kamit mirip orang baca mantra.


"Kau sedang apa? Baca mantra?" Tanya Fairel heran saat Reina mendadak menoleh ke arahnya. Reina langsung berdecak, lalu memberikan kamera di tangannya pada fotografer.


"Bagaimana jika memakai foto lamaku bersama Angga saja dan tak perlu memakai foto yang itu?" Usul Reina kemudian yang langsung membuat Fairel dan fotografer tercengang.


"Kau mau mengedit foto lamamu menjadi foto prewedding, begitu? Lalu apa gunanya kau tadi berpose di depan kamrea selama hampir enam jam?"


"Apa gunanya?" Cecar Fairel penuh emosi. Fairel rasanya ingin menghancurkan dunia sekarang!


"Kenapa kau marah-marah, Iel?" Tanya Angga yang rupanya sudah selesai menelepon. Pria itu juga sudah menghampiri Reina, Fairel, dan fotografer.


"Abang Iel!" Sergah Reina mengoreksi panggilan Angga pada Fairel. Sepertinya Angga masih lupa atau mungkin pria itu mrmang tak ada niat memanggil abang pada Fairel?


"Kenapa kau marah-marah, Abang Iel?" Angga mengulangi pertanyaannya.


"Tanya saja pada Reina!" Jawab Fairel malas menjelaskan.


"Ada apa?" Angga ganti bertanya pada Reina.


"Posemu kurang natural kata Abang Iel dan senyummu terlihat tidak ikhlas!" Ujar Reina menjelaskan pada Angga.


"Coba lihat!" Angga meraih kamera yang tergeletak di atas meja, lalu memeriksa satu persatu foto prewedding-nya bersama Reina.


"Pose dan senyum Angga sudah natural! Kau itu yang kaku, Rei!" Sergah Fairel mengoreksi jawaban Reina pada Angga tadi.


Reina sontak berdecak, dan Angga sudah meletakkan lagi kamera ke atas meja.


"Fotonya bisa sedikit diedit, kan?" Tanya Angga kemudian pada fotografer.


"Bisa! Tidak usah khawatir!" Jawab fotografer menenangkan Angga dan Reina yang masih saling berdebat.


"Foto bisa diedit! Sudah tidak usah diributkan lagi," ujar Angga yang sepertinya berusaha mengendalikan suasana.


Tapi suasana hati Fairel tetap saja kacau dan entahlah!


Fairel masih ingin menghancurkan dunia!


"Terserah saja! Aku mau pulang!" Tukas Fairel dengan nada sinis serata pria itu bangkit berdiri.


"Bukan aku yang meributkan foto itu tadi! Tapi Abang Iel-"


"Aku tidak meributkan! Aku hanya menyampaikan pendapatku!" Sergah Fairel memotong kalimat Reina.


"Lagipula, apa salahnya berpendapat! Toh aku juga yakin kalau pendapatku pastilah mewakili pendapat orang banyak!" Sergah Fairel lagi panjang kali lebar.


"Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa semua orang berubah menyebalkan belakangan ini!" Gerutu Fairel lagi menumpahkan semua kekesalan di hatinya yang sudah mengendap sejak semalam.


Fairel lalu keluar dari ruangan tanpa pamit. Samar-samar Fairel masih mendengar teriakan kesal dari Reina.


"Abang saja yang menyebalkan!"


Terserah! Fairel mau pulang sekarang lalu menguyur kepalanya dengan air dingin.


Fairel benar-benar kesal pada semua orang hari ini!


.


.


.


Sambungan "Segitiga Cinta Reina" bab 47


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2