
"Huh! Menyebalkan!" Gerutu Fairel seraya menutup kasar pintu mobilnya. Fairel lalu melempar jasnya yang teekena tumpahan minuman tadi ke jok belakang mobil.
"Kenapa gadis menyebalkan itu seperti ada dimana-mana? Memangnya dia siapa?" Cerocos Fairel lagi sembari memasang sabuk pengaman. Serelah menyalakan mesin mobil, Fairel lalu lanjut mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran hotel. Namun sekali lagi Fairel harus dibuat kaget saat tiba-tiba ada yang menyeberang mendadak di depan mobil Fairel, tepat sebelum Fairel keluar menuju ke jalan raya.
Beeepp!!!
Fairel langsung menekan panjang klakson mobilnya, lalu gadis yang mengenakan celana kodok serta tas selempang itu refleks meringis.
"Dia lagi!!!"
"Hhhhh!!" Geram Fairel sembari memukul-mukul stir mobilnya saat tahu kalau gadis yang menyeberang sembarangan tadi adalah Beth.
Beth hanya menundukkan kepalanya tetap sambil meringis, sebelum kemudian gadis itu setengah berlari menyusuri trotoar dan keluar dari area hotel juga.
"Dasar gadis pembawa sial!" Maki Fairel yang sudah lanjut mengemudikan mobilnya ke arah jalan raya. Lalu lintas sedikit tersendat, saat mobil Fairel akan masuk ke jalur. Jadi Fairel terpaksa menunggu beberapa saat sampai ****** lalu lintas sedikit lancar.
Sembari menunggu, Fairel mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tatapannya langsung tertumbuk pada Beth yang terlihat celingukan di pinggir jalan.
"Sedang apa dia disana?" Gumam Fairel yang kedua netranya tetap memperhatikan Beth.
"Haish! Kenapa juga aku harus peduli!" Tukas Fairel kemudian yang langsung ganti memfokuskan pandangannya ke deretan mobil di depannya yang sudah mulai merenggang.
Perlahan tapi pasti, Fairel akhirnya bisa masuk ke jalur dan berbaur bersama mobil-mobil lain yang memenuhi ruas jalanan ibu kota malam ini. Fairel lalu segera melajukan mobilnya ke rumah Mom dan Dad. Fairel masih sempat melihat Beth yang tetap celingukan di pinggir jalan tapi Fairel tak peduli.
Bodoamat!!
****
[Kau sedang dimana?] -Abang Timmy-
Kedua mata Beth langsung membelalak saat gadis itu membaca pesan dari Abang Timmy. Tak hanya pesan,ada beberapa panggilan tak terjawab juga dari abang Beth tersebut.
"Aduh! Jangan sampai Abang Timmy pulang ke rumah tadi," gumam Beth yang jarinya langsung bergerak untuk membalas pesan Abang Timmy.
[Beth sedang di hotel Ossa, Bang] -Bethany-
Pesan langsung terkirim dan hanya selang beberapa detik sudah dibaca oleh Abang Timmy.
Telepon dari Abang Timmy juga langsung masuk ke ponsel Beth.
"Halo!" Jawab Beth cepat sembari keluat dari lift yang mengantarnya turun ke lobby hotel. Beth memang langsung kabur dari tempat acara tadi setelah insiden sirup yang tumpah di jas mahal Pak Ibel...
Eh, Pak Fairel maksudnya!
Beth hanya berganti baju tadi dan langsung pergi tanpa pamit pada Yvone. Biar saja, nanti Beth akan menelepon sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Kau ke hotel bersama siapa? Kenapa bohong pada Mama dan mengatakan kalau sedang ke kost-an?"
"Hehe!" Beth langsung meringis mendengat cecaran pertanyaan dari sang Abang.
"Abang pulang ke rumah, ya? Tumben, Bang? Libur?" Beth balik melontarkan pertanyaan pada Abang Timmy tanpa menjawab pertanyaan sang abang.
"Jawab dulu pertanyaan Abang, Beth!"
"Beth pergi bersama Yvone, Bang!" Jawab Beth akhirnya.
"Lalu Yvone mana? Abang mau bicara!"
"Yvone sibuk!" Jawab Beth sedikit tergagap. Gadis itu menghentikan sejenak langkahnya untuk menarik nafas.
"Jangan bohong, Beth!"
"Beth tidak bohong, Bang! Beth memang pergi bersama Yvone tadi. Tapi sekarang Beth akan pulang sendiri." Jawab Beth lagi bersungguh-sungguh sembari gadis itu mengedarkan pandangannya ke jalanan padat di depan hotel. Ada banyak taksi tapi kenapa Beth ragu untuk naik salah satunya?
Beth tidak biasa naik taksi sendirian! Bagaimana nanti kalau Beth diculik supir taksi? Secara perawakan Beth kan kecil juga dan kadang suka dikira masih anak SMP.
"Pulang naik?"
"Beth masih mikir, Bang! Adanya taksi saja."
"Ck! Kau dimana tadi? Biar aku jemput!"
"Yeay!" Beth langsung bersorak senang.
"Dimana?"
"Hotel Ossa, Bang!" Jawab Beth cepat.
"Baiklah! Aku jemput dan jangan kemana-mana! Tunggu di loby saja!"
"Ck! Orang udah--"
Tuut tuut!!
Telepon terputus begitu saja sebelum kalimat Bang Timmy selesai. Beth hanya menghela nafas, lalu memutuskan untuk menunggu di pinggir jalan depan hotel saja. Beth lalu menyeberang ke trotoar yang berada di tepi jalan keluar hotel yang terhubung langsung ke trotoar di jalan raya. Namun sepertinya Beth terlalu ceroboh saat menyeberang karena tak melihat ke belakangnya dulu dan asal nyelonong.
Beeeeeppp!!
Suara klakson yang menggema dari mobil sedan warna hitam, benar-benar membuat pekak telinga dan jantung Beth juga nyaris jatuh ke perut tadi.
Beth lalu meringis ke arah pengemudi mobil yang wajahnya tak kelihatan karena kaca depan mobil yang terlihat gelap ditambah ini sudah malam juga. Beth akhirnya hanya menganggukkan kepala sebagai permintaan maaf, sebelum kemudian gadis itu ngacir pergi ke arah jalan. Beth tak menggubris lagi mobil yang tadi nyaris menabraknya, dan gadis itu memilih untuk lanjut menunggu Abang Timmy datang menjemput.
__ADS_1
"Semoga abang Timmy tidak lama," gumam Beth yang kini berdiri di sela-sela pohon akasia yang tumbuh di sepanjang tepi trotoar.
Setelah hampir sepuluh menit menunggu, Abang Timmy akhirnya datang.
"Sudah dibilang untuk menunggu di dalam!" Omel Abang Timmy seraya menyodorkan helm pada Beth.
"Abang dari rumah, ya?" Beth sedikit berbasa-basi pada sang abang yang ternyata malam ini benar-benar libur bekerja. Padahal tadi saat beralasan pada Mama Tere, Beth hanya mengarang!
"Ya!"
"Mama marah besar!" Jawab Abang Timmy sembari menyingkirkan tangan Beth yang kini memeluk pinggangnya. Namun Beth menolak dan malah menyandarkan kepalanya di punggung sang abang seperti orang pacaran.
"Sama adek sendiri sok jual mahal!" Cibir Beth yang hanya membuat Timmy berdecak. Timmy lalu segera melajukan motornya.
Tak ada obrolan sepanjang perjalanan dan Beth yang beberapa kali menguap karena mengantuk.
"Jangan tidur!" Ujar Abang Timmy memperingatkan Beth sembari mencubit tangan adiknya itu.
"Auuuww! Abang!!" Protes Beth yang langsung membuat Timmy berdecak.
"Makanya jangan tidur!" Ujar Timmy sekali lagi.
"Siapa yang tidur, iiihhh!!" Beth memukul-mukul punggung Timmy bersamaan dengan motir Timmy yang berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. Motor berhenti tepat di samping mobil sedan hitam. Seperti mobil yang tadi mau menabrak Beth!
Eh, tapi yang punya sedan hitam kan banyak di negeri ini!
"Nanti bantuin Beth beralasan ke Mama, ya, Bang!" Rayu Beth sembaru menunggu lampu berunah hijau.
"Malas" jawab Timmy yang tentu saja langsung membuat Beth merengut.
"Jahat!" Beth memukul punggung Timmy lagi dan lampu lalu lontas sudah berwarna hijau. Motor Timmy sudah kembali melaju, dan Beth kembali memeluk pinggang Timmy lagi seperti seorang kekasih.
"Beth!!"
"Dingin, Bang!" Jawab Beth beralasan. Kepala gadis itu juga sudah bersandar di punggung Timmy.
"Dasar norak!!" Gumam seorang pria pemilik sepasang netra yang sejak tadi menatap adegan mesra Beth dan Timmy dari dalam mobil sedan hitam, dengan penuh remeh.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1