
Triiing!
Beth refleks mengangkat wajah, saat teedengar suara lonceng di atas pintu masuk, menandkan ada customer datang. Tapu itu bukan customer melainkan adalah....
Reandra!
"Siang!" Sapa Reandra yang langsung menghampiri Beth yang sedang berdiri di belakang showcase untuk menata rollcake yang pagi ini stoknya penuh.
Agar nanti saat pria menyebalkan itu datang, dia tak perlu lagi mencak-mencak menanyakan stok rollcake yang kosong.
"Beth! Kau melamun?" Teguran Reandra langsing menyentak lamunan Beth yang mendadak malah memukork Fairel.
Ya ampun!
Beth kenapa?
"Tidak!"
"Tumben kau kesini?" Beth mengulas senyum pada Reandra, lalu mengajak pria itu untuk duduk di salah satu bangku yang ada di dalam toko kue.
"Tadi kebetulan lewat, jadi aku mampir," tukas Reandra seraya meraih tangan Beth dibatas meja, lalu menggenggamnya.
Beth sedikit tersentak dengan tindakan Reandra tersebut. Lalu kalimat ancaman dari ibunya Reandra tiba-tiba berkelebat di benak Beth....
"Tinggalkan Reandra, dan ambil uang ini sebagai gantinya! Kau mendekati putraku hanya demi uang, kan?"
"Aku sudah memperingatkanmu kemarin, untuk menjauhi Reandra. Tapi sepertinya kau tidak mendengarkan peringatanku."
"Kau itu tak selevel dengan Reandra!"
Beth langsung menarik kembali tangannya dari genggaman Reandra.
"Aku peringatankan sekali lagi agar kau berhenti menanggapi telepon ataupun chat dari Reandra!"
"Reandra itu pria brengsek! Playboy! Buaya!"
Sekarang gantian kata-kata Fairel yang berkelebat di benak Beth.
"Beth, ada apa?" Tanya Reandra bingung, karena Beth yang mendadak menarik tangannya.
"Aku rasa kita tak bisa melanjutkan hubungan ini, Re!" Ucap Beth dengan nada lirih dan sendu
"Kenapa memang? Apa ada pria lain?" Cecar Reandra yang langsung menuduh.
"Bukan itu!" Sanggah Beth cepat.
"Lalu kenapa? Aku sudah sangat mencintaimu, Beth!" Ucap Reandra yang terlihat bersungguh-sungguh.
"Tapi--" Beth sedikit.
"Tapi mama kamu." Beth akhirnya berani buka suara.
"Mama? Mama menemui kamu?" Tebak Reandra yang ternyata langsung peka. Apa sudah ada pengalaman sebelumnya?
"Mama bicara apa?" Tabya Reandra kemudian menatap serius pada Beth.
"Mama kamu meminta aku menjauh dan tak menjalin hubungan apapun denganmu," jelas Beth seraya meringis.
__ADS_1
"Kata mama kamu, kita tak selevel," sambung Beth lagi.
"Bullsh*t!" Reandra langsung mengumpat.
"Dengar!" Reandra memaksa untuk meraih tangan Beth lagi dan menggenggamnya.
"Kau tidak harus menuruti kata-kata Mama! Kita tetap bisa menjalin hubungan--"
"Tapi aku tidak mau kau menentang orang tuamu, Re!" Beth kembali menarik tangannya, namun langsung ditahan oleh Reandra.
"Aku tidak menentang! Tapi memperjuangkan!" Tukas Reandra yang langsung membuay Beth menatap tak percaya pada pria di depannya tersebut.
"Nanti kita buktikan ke Mama, kalau hubungan kita ini serius, Beth!"
"Cinta kita ini sungguh-sungguh!" Ujar Reandra lagi.
"Membuktikan bagaimana? Mamamu saja seperti benci padaku!"
"Kita sudahi saja--"
"Tidak!" Tolak Reandra tegas.
"Aku tak akan mengakhiri apapun di antara kita!" Ucap Reandra yang tetap keras kepala.
"Lalu kita mau membuktikan bagaimana?"
"Nanti kau akan tahu," jawab Reandra yakin.
"Besok malam aku jemput, ya! Lalu kita akan menemui mama," ujar Reandra menatap penuh kesungguhan pada Beth.
"Nanti malam?" Beth masih ragu.
"Aku jemput agak sore, bagaimana? Kau punya jam malam, kan?" Tukas Reandra lagi yang kini sudah ganti mengecup tangan Beth.
"Ter--terserah kau saja," jawab Beth akhirnya. Beth sedikit bingung.
"Aku jemput nanti sore, ya!"
"Jam lima!" Ucap Reandra kemudian seraya mengecup tangan Beth sekali lagi.
"Tapi yakin nanti mama kamu tidak akan mengusirku?" Tanya Beth ragu.
"Tidak akan!" Jawab Reandra sungguh-sungguh. Beth hanya mengangguk samar, meskipun dalam hati ia tetap merasa ragu.
Sikap mamanya Reandra kemarin saja kejam begitu! Bahkan wanita paruh baya itu juga melempar uang pada Beth di dalam toko dan di depan toko.
Uang di amplop yang dilemparkan Mamanya Reandra kemarin akhirnya juga Beth belikan baju dan keperluan anak panti saja. Ketimbang Beth buang uangnya, malah mubazir. Tapi kalau harus memakai uangnya untuk keperluan pribadi Beth juga tak sudi!
Sedangkan uang yang dihamburkan mamanya Reandra di depan toko, Beth tidak tahu pergi kemana. Karena sore itu saat Beth akan pulang, uangnya sudah lenyap semua tanpa sisa. Mungkin dipungut orang yang lewat atau terbang tertiup angin? Entahlah, Beth tak mau terlalu memikirkannya.
"Beth! Kok melamun?" Tanya Reandra yang langsung menyentak lamunan Beth.
"Tidak!" Beth sedikit salah tinglah dan gadis itu menyelipkan rambutnya ke belalang telinga.
"Hanya bingung saja, nanti sore aku harus pakai baju apa saat bertemu mama kamu," tukas Beth lagi yang langsung membuat Reandra tertawa kecil.
"Apa saja!" Jawab Reandra santai.
__ADS_1
"Pakai gaun, ya?" Tanya Beth lagi.
"Terserah kau, Beth! Senyamanmu saja," jawab Reandra tetap santai.
"Iya." Beth mengangguk-angguk seolah paham, padahal Beth juga bingung sekarang.
Ajakan Reandra lumayan mendadak!
****
"Nanti pulangnya jangan lewat dari jam sembilan!" Pesan Mama Tere mengingatkan Beth yang memang sudah izin untuk pergi bersama Reandra sore ini. Meskipun awalnya Mama Tere sempat keberatan, tapi kemudian bujukan serta janji dari Beth untuk pulang tepat waktu dari Beth membuat Mama Tere akhirnya memberikan izin.
"Iya, Ma!" Jawab Beth patuh.
"Mama akan video call nanti kalau jam sembilan mama belum di rumah untuk memastikan kalau kamu sudah sampai," ujar Mama Tere lagi.
"Iya!" Ucap Beth sekali lagi.
"Timmy sudah kamu beritahu tentang pernikahan Angga, kan?" Gantian Papa Will yang bertanya.
"Bukannya Mama sudah memberitahu--"
"Mama lupa memberitahu, dan nomor Timmy tidak bisa dihubungi." tukas Mama Tere cepat.
"Oh, iya! Abang Timmy ganti nomor, Ma!" Sergah Beth cepat yang juga baru ingat.
"Ponsel Abang Timmy kan hilang pas kecelakaan waktu itu. Jadi Abang Timmy pakai nomor baru untuk sementara," jelas Beth lagi.
Ya, Abang Timmy akhirnya memang sudah jujur pada Mama Tere dan Papa Will perihal kecelakaan yang menimpanya.
"Tapi kamu ada nomornya?" Tanya Mama Tere memastikan.
"Ada, Ma! Nanti Beth akan memberitahunya," jawab Beth berjanji pada sang mama.
"Baiklah!"
"Hati-hati nanti perginya, dan jangan pulang lewat jam sembilan!" Mama Tere memperingatkan sekali lagi.
Mama Tere dan Papa Will memang akan mengunjungi panti sore ini untuk membagikan baju yang kemarin Beth beli. Seharusnya Beth juga ikut, tapi berhubung Beth sudah ada kencan dengan Reandra...
"Beth!" Tegur Mama Tere yang langsung membuat Beth terlonjak.
"Eh, iya, Ma!"
"Beth akan pulang sebelum jam sembilan," Janji Beth sekali lagi.
"Kami pergi dulu!" Pamit Mama Tere selanjutnya.
"Bye!" Beth melambaikan tangan pada Mama Tere, dan gadis itu menunggu sampai mobil Papa Will berlalu pergi.
Beth lanjut menutup pagar depan dan segera masuk ke rumah debgan riang.
Beth akan bersiap pergi bersama Reandra!
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.