
"Siapa itu?" Pertanyaan Papa Will langsung membuat Beth mengarahkan pandangannya ke depan toko. Tampak jelas Fairel yang sedang berjongkok untuk memungut sesuatu dari depan toko.
Sepertinya sebuah batu!
"Dia mau apa?" Abang Timmy sudah bersiap turun, saat Beth dengan cepat mencegah.
"Biarkan saja, Bang!" Ujar Beth bersamaan dengan Fairel yang sudah ngacir dan masuk ke mobilnya.
"Hhhh! Pria sinting!" Gumam Abang Timmy kemudian yang akhirnya tak jadi turun.
"Sepertinya Fairel kerap melakukan hal-hal brutal di depan toko," pendapat Papa Will kemudian yang langsung membuat Beth terdiam.
"Apa kalian sedang ada masalah, Beth?" Tanya Mama Tere seraya menatap pada sang putri.
"Tidak ada masalah apa-apa, Ma!" Sanggah Beth cepat.
"Iel memang suka berbuat random begitu saat toko tutup dan dia tak bisa beli rollcake," ujar Beth lagi seraya membuka pintu mobil.
"Mama temani--"
"Tidak usah, Ma!" Tolak Beth yang langsung turun dari mobil dengan cepat.
Beth lalu berjalan ke arah pintu masuk toko yang tertutup rapat. Beth bahkan masih sempat menoleh sejenak ke arah mobil sedan hitam milik Fairel yang belum pergi.
Sedang apa pria itu sebenarnya?
Bukankah kemarin dia sendiri yang mengatakan kalau ia tak akan datang ke toko Beth lagi?
Lalu malam ini?
Dasar plin-plan!
Beth akhirnya tak menghiraukan lagi keberadaan Fairel dan gadis itu segera masuk ke dalam toko untuk mengambil kue yang malam ini akan ia bawa ke rumah Uncle-nya Yvone.
Ya, malam ini Abang Timmy memang akan melamar Yvone secara resmi, sesuai dengan permintaan Uncle-nya Yvone. Meskipun sebenarnya pernikahan ini sedikit terpaksa.
Tapi Beth tetap yakin kalau seiring berjalannya waktu, Abang Timmy dan Yvone pasti akan saling mencintai. Lalu Abang Timmy akan melupakan Kath dan hidup bahagia bersama Yvone.
Aamiin!
Beth sudah menutup kembali pintu serta rolling door toko, setelah mengambil kue. Mobil Fairel masih terparkir ditempat semula dan sepertinya pria itu niat sekali mengawasi Beth.
Dasar!
"Sudah, Beth?" Tanya Mama Tere seraya menyambut kue dari tangan Beth.
"Sudah, Ma!"
"Kita langsung ke rumah Yvone berarti, ya!" Ujar Papa Will kemudian seraya memberikan kode pada Timmy yang memang duduk di belakang kemudi, agar segera melaju ke rumah Yvone.
__ADS_1
Semoga nanti tak ada Reandra disana, meskipun kecil kemungkinannya.
Secara, itu adalah rumah kedua orang tua Reandra!
****
"Kemana tadi? Kenapa tiba-tiba hilang?" Gerutu Fairel yang tadi merasa sudah mengikuti mobil Papa Will yang model dan warnanya memang lumayan pasaran.
Mobil minibus sejuta umat berwarna silver!
Bukankah itu pasaran sekali warna dan modelnya? Kenapa Papanya Beth itu tak beli mobil warna kuning atau hijau saja agar Fairel mudah membuntuti dan tak perlu tersesat seperti sekarang?
"Sial! Aku tak hafal plat nomornya juga!" Fairel akhirnya menghentikan mobilnya di pinggir jalan setelah pria itu tak berhasil menemukan mobil papanya Beth yang sudah membaur bersama kendaraan lain di jalanan yang begitu padat malam ini.
"Stupid Fairel!" gerutu Fairel yang akhirnya memutuskan untuk pulang saja ke rumah
****
Mobil Papa Will sudah masuk ke sebuah kediaman megah, yang merupakan kediaman dari Paman dan bibinya Yvone yang tak lain juga adalah orang tua dari Reandra brengsek.
"Ma!" Ucap Beth ragu saat Mama Tere, Papa Will dan Abang Timmy bersiap untuk turun.
"Ada apa, Beth?"
"Sepertinya Beth tidak usah tu--" Beth belum menyelesaikan kalimatnya, saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti di samping mobil Papa Will.
"Re! Tunggu aku!"
"Cepatlah!" Sahut Reandra yang tampak ketus pada si wanita.
"Itu bukannya Reandra, Beth?" Tanya Mama Tere sedikit berbisik.
"Iya ini kan mrmang rumahnya Reandra, Ma! Yvone sepupunya Reandra dan tinggal disini," jelas Beth yang langsung membuat Mama Tere terlihat bingung.
"Lalu wanita tadi?"
"Istrinya Reandra," jawab Beth dengan nada malas.
"Ayo turun, Ma! Beth!" Ajak Papa Will kemudian yang sudah terlebih dahulu turun.
"Beth biar menunggu di mobil saja, Ma!" Tukas abang Timmy yang ikut angkat bicara.
"Beth kenapa?" Tanya Papa Will bingung.
"Mendadak sakit perut." Mama Tere yang akhirnya menjawab dan memberikan alasan
Mama kandung Beth itu sepertinya memang peka!
"Perlu ke rumah sakit?" Tanya Papa Will cemas.
__ADS_1
"Tidak usah, Pa! Hanya kram biasa jelang datang bulan," sahut Beth dengan raut yakin. Meskipun sebenarnya Beth berbohong.
Papa Will langsung mengangguk paham.
"Kau disini saja!" Ujar Mama Tere kemudian seraya mengusap punggung Beth, sebelum wanita paruh baya itu turun dari mobil menyusul Papa Will dan Abang Timmy.
Ping!
Beth sedikit tersentak dengan suara ponselnya. Ternyata ada pesan masuk dari Yvone.
[Sudah dimana?] -Yvone-
Beth segera mengetikkan pesan balasan untuk sang calon kakak ipar.
[Di depan rumah. Siap-siap, gih!] -Beth-
[Sudah siap] -Yvone-
[Kau dimana? Tidak ikut?] -Yvone-
[Aku di mobil] -Beth-
[Oh. Sebaiknya memang begitu karena ada si menyebalkan] -Yvone-
Beth langsung tertawa kecil, lalu pesan dari Yvone masuk lagi beserta sebuah foto.
[Pasti kau yang memilih] -Yvone-
Ada sebuah foto cincin yang sudah tersemat di jari manis Yvone.
[Bukan! Mama yang beli tadi siang dadakan. Aku yang membuat kuenya] -Beth-
[Iya! Iya!] -Yvone-
Beth langsung tertawa kecil setelah membaca pesan dari Yvone.
[Jangan lupa mengurus undangan setelah ini] -Yvone-
[Siap, Kakak ipar!] -Beth-
Tak ada pesan lagi dari Yvone, dan Beth akhirnya memilih untuk bermain game saja di ponselnya sembari menunggu acara lamaran selesai.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1