
"Bang!" Beth mengetuk sekali lagi pintu kost-an Timmy. Gadis itu juga berulang kali melohat arloji di tangannya. Beth benar-benar akan terlambat datang ke acara pernikahan Reina dan Angga.
Mana Mama dan Papa juga mendadak tidak bisa datang karena Papa Will yang tiba-tiba demam saat Reina tadi pulang ke rumah.
"Bang Timmy!" Panggil Beth lagi karena pintu tak kunjung dibuka.
Padahal motor Abang Timmy jelas-jelas terparkir di depan kost-an.
Lalu kemana perginya abang Beth itu?
Masa iya Abang Timmy tidur?
Beth padahal sudah mengingatkan Abang Timmy tadi pagi. Dan lagi, kemarin Abang Beth itu terlihat begitu semangat dan antusias saat Beth memberitahu tentang pernikahan Angga dan Reina sore ini.
Ck!
Beth berdecak dan kembali melihat arlojinya.
"Abang!" Beth mencoba membuka knop pintu kost-an Abang Timmy dan rupanya tak terkunci.
Apa?
"Bang!" Beth langsung masuk dan mencari saklar lampu karena di dalam kost-an sang abang suasana gelap gulita.
"Kath!"
"Uhuk-uhuk!"
Beth menghentikan langkahnya sejenak, saat telinganya samar-samar mendengar racauan Abang Timmy yang seperti sedang memanggil....
Kath?
Beth menggosok-gosok telinganya untuk memastikan apa Abang Timmy sedang memanggil Kath atau Beth? Jangan-jangan Beth salah dengar.
"Kath! Aku mencintaimu!" Racauan Timmy kali ini lebih jelas dan Beth berani bersumpah kalau ia mendengar abangnya itu memanggil Kath.
Siapa Kath?
Namanya terdengar asing.
"Abang!" Beth yang akhirnya berhasil menemukan saklar lampu, langsung menuju ke satu-satunya kamar di kost-an tersebut.
Baru juga Beth membuka pintu kamar, bau alkohol sudah langsung menguar.
Ya ampun!
Apa abang Timmy baru saja minum dan mabuk?
"Kath, kaukah itu?" Tanya Abang Timmy seraya menatap nanar pada Beth yang kini berdiri di ambang pintu. Wajah Abang kandung Beth itu tampak kacau.
"Kath--
"Bang!"
"Abang kenapa mabuk--"
Suara ponsel yang berdering nyaring dari dalam tas, membuat Beth tak melanjutkan cecarannya pada Abang Timmy. Beth hanya menatap kecewa pada sang abang yang selalu berjanji untuk tak minum, sekalipun ia bekerja sebagai bartender di kelab malam.
Tapi sekarang....
Beth memeriksa layar ponselnya sebelum mengangkat telepon yang rupanya dari mama Tere.
"Uhuuk! Uhuuk!"
Abang Timmy kembali terbatuk-batuk dan Beth terpaksa keluar dari kamar sebelum mengangkat telepon Mama Tere. Beth tak mungkin juga memberitahu Mama Tere perihal kondisi Abang Timmy sekarang karena Mama kandung Beth itu pasti akan sedih.
"Halo, Ma!" Sambut Beth yang kini sudah keluar dari kamar Timmy.
"Sudah sampai di lokasi?"
"Mmmm, sudah, Ma!" Jawab Beth terpaksa berbohong.
"Kau pergi bersama Timmy, kan?"
"Iya!" Beth berbohong sekali lagi.
"Tapi Abang Timmy langsung kemana tadi nggak tahu, Ma!", tukas Beth lagi beralasan.
"Ya sudah! Yang penting kau dan Timmy sudah di lokasi acara."
"Kondisi Papa bagaimana, Ma?" Tanya Beth kemudian membahas hal lain.
"Sudah minum obat dan istirahat sekarang."
"Oh! Mama istirahat juga kalau begitu."
"Nanti Beth tidur di kost-an--"
__ADS_1
"Kenapa tidak pulang saja ke rumah?"
"Kata Abang Timmy pulangnya besok pagi saja," ucap Beth seraya meringis.
"Ck! Selalu saja kalian berdua itu!"
"Beth kan dijagain Abang Timmy, Ma! Jadi jangan khawatir," tukas Beth lagi berusaha meyakinkan Mama Tere.
"Iya, iya!"
"Mama kunci pintu dan tidak perlu menunggu kamu pulang berarti, ya!"
"Iya, Ma!" Jawab Beth cepat.
"Jangan lupa kirim foto kamu bersama pengantin malam ini! Mama penasaran."
"Iya, Ma! Nanti Beth kirim," Janji Beth sebelum kemudian telepon ditutup oleh Mama Tere.
Beth menghela nafas dan kembali menatap ke arah kamar Timmy yang mendadak sunyi. Segera Beth memeriksa abangnya tersebut.
"Tidur," gumam Beth saat mendapati Timmy yang kini tertidur dalam posisi duduk, dan kepala yang bersandar di tepi ranjang.
Beth akhirnya hanya menyelimuti abangnya tersebut karena mau mengangkatnya juga Beth tidak kuat.
"Aku akan mengunci pintu depan agar Abang tak kemana-mana. Lalu aku akan datang sebentar ke acara, berfoto bersama Abang Angga, dan pulang kesini lagi." Beth menuturkan rencananya pada dirinya sendiri sebelum kemudian gadis itu keluar dan menutup pintu kamar Timmy.
Beth lanjut menutup dan mengunci pintu depan, sebelum meninggalkan kost-an Abang Timmy.
"Semoga Abang tak bangun sampai aku kembali," gumam Beth penuh harap, seraya melajukan motornya menuju ke kediaman Halley.
****
Fairel masih berdiri di sudut tempat acara, sembari menyesap minuman di gelasnya. Pria itu terus menatap pada tamu yang berlalu lalang naik ke pelaminan untuk memberikan selamat pada Reina dan Angga. Sesekali Fairel juga akan berdecak saat ada tamu yang baru datang, dan membuatnya buru-buru mengalihkan pandangannya ke pintu masuk utama.
"Merana, Bung?" Ledek Ryan menyebalkan yang memang selalu menyebalkan.
"Siapa?" Tanya Fairel tanpa mengalihkan tatapannya sepupunya yang menyebalkan tersebut.
"Kau!"
"Kalau aku kan sudah punya Nona--"
"Ish! Mesum!" Decak Nona pada Ryan. Entah apa yang tadj barh saja dilakukan Ryan pada istrinya itu, Fairel juga tak mau tahu.
"Aku kesana dulu, Bye!" Pamit Nona kemudian sembari mencium pipi Ryan.
Kenapa adegan itu tepat saat Fairel menolehkan kepalanya? Dasar pasangan tak pengertian!
"Si gadis bercelana--" Ryan tak melanjutkan kalimatnya dan pria itu malah langsung menyenggol pundak Fairel seolah sedang memberikan kode.
"Apa?" Sentak Fairel galak.
"Itu! Lihat!" Telunjuk Ryan sudah menunjuk ke arah panggung pelaminan, dimana ada gadis bergaun navy yang terlihat sedang memberikan ucapan selamat pada Angga dan Reina.
Ya, itu adalah Beth!
"Ck! Tidak kenal!" Tukas Fairel ketus seraya berlalu dari hadapan Ryan.
****
"Papa mendadak demam, Tante! Jadi Mama minta maaf karena tidak bisa datang malam ini," jelas Beth pada Tante Sita yang langsung tampak mengerti.
"Tapi papa kamu sudah dibawa ke dokter, kan?" Tanya Tante Sita memastikan.
"Kata mama sudah minum obat dan istirahat. Mungkin kalau besok masih demam baru akan dibawa ke dokter, Tan," ujar Beth lagi.
"Semoga semuanya baik-baik saja, ya!" Ucap Tante Sita kemudian yang langsung diaminkan oleh Beth.
Beth masih menunggu antrean untuk memberikan selamat pada Abang Angga dan Reina. Kedua mempelai tersebut tampaknya sedang berfoto bersama rekan-rekan kantor mereka.
"Ini Beth, yang membuat wedding cake Reina dan Angga," ucap Tante Sita kemudian yang langsung membuat Beth menoleh. Sudah ada seorang wanita paruh baya yang berdiri bersama Tante Sita.
"Oh, ini? Ownernya Sweety Cake, ya?" Tanya wanita paruh baya yang sepertinya seusia dengan Mama Tere itu kemudian.
"Iya, benar!"
"Yumi sudah cerita, ya?" Tukas Tante Sita kemudian.
"Iya sudah."
"Beth, kenalkan! Ini Aunty Audrey, pemilik WO yang menangani acara malam ini," ujar Tante Sita memperkenalkan wanita paruh baya yang bersamanya tadi.
"Oh!"
"Beth pikir pemiliknya Alice," gumam Beth seraya meringis.
"Alice itu putri Aunty, Beth! Ke depannya dia yang akan mengurus WO kalau Aunty sudah pensiun," tukas Aunty Audrey.
__ADS_1
"Seperti kamu juga yang meneruskan usaha kue mama kamu, Beth," timpal Tante Sita yang langsung membuat Beth mengangguk dan mengulas senyum.
"Iya, Tante!"
Beth kembali mengarahkan pandangannya ke atas panggung pelaminan yang sudah sepi.
"Ngomong-ngomong, Beth akan memberikan ucapan selamat dulu untuk Abang Angga, Tante," ujar Beth kemudian yang langsung diiyakan oleh Tante Sita dan Aunty Audrey.
Beth segera naik ke panggung pelaminan, dan Abang angga terlihat sudah mengulas senyum melihat kedatangan Beth. Sangat berbeda dengan Reina yang ekspresi wajahnya kurang bersahabat.
Masa iya, Reina masih cemburu pada Beth perihal kejadian di toko waktu itu!
"Sendiri?" Tanya Abang Angga to the point.
"Abang Timmy masih sibuk di luar kota, Bang," tukas Beth seraya meringis.
"Tapi dia titip salam, kok!" Imbuh Beth lagi.
"Tante Tere dan Om Will?" Tanya Abang Angga lagi.
"Papa mendadak demam tadi, Bang! Jadi, Beth datang sendiri," cerita Beth yang malah langsung dipeluk oleh Abang Angga.
Oh, drama apalagi ini!
Tatapan Reina bahkan sudah seperti kucing besar yang sedang marah sekarang!
"Terima kasih sudah datang, Beth!"
"Dan terima kasih juga untuk kue indahnya," tukas Angga seraya mengendikkan dagu ke arah wedding cake hasil karya Beth dengan segala kegalauan di hatinya kemarin.
Ooh! Syukurlah kalau bentuk cake itu masih bagus dan layak tampil!
"Sama-sama, Bang! Selamat sekali lagi dan kita kakak beradik, kan?"
"Bukan selingkuhan," cicit Beth seolah sedang memberitahu Reina yang wajahnya masam.
"Selamat juga untukmu, Rei!" Beth langsung memeluk Reina meskipun istri Abang Angga itu terlihat canggung dan enggan.
Ah, masa bodoh!
"Terima kasih," ucap Reina datar dan sepertinya tak ikhlas.
Oh, ya ampun!
Apa semua klan Halley memang pendendam? Tidak Reina tidak Fairel kalau kesal pada orang ekspresi dan raut wajahnya sama ternyata!
"Ngomong-ngomong, Beth boleh minta foto bersama satu kali saja, Bang? Mama mau melihat Abang Angga dan istrinya Abang Angga," izin Beth kemudian seraya meringis.
"Oh, ya! Boleh!" Jawab Angga ramah.
Beth segera mengeluarkan ponselnya untuk mengambil fotonya bersama Angga dan juga Reina yang sama sekali tak tersenyum.
Terserah saja!
Penting Beth sudah punya foto untuk ia kirimkan ke Mama Tere nanti.
Setelah sedikit berbasa-basi, Beth langsung turun dari panggung pelaminan. Beth mendadak ingat pada Abang Timmy yang tadi ia kunci di kost-an. Apa Abang Timmy sudah bangun?
"Beth!" Panggil Rossie yang langsung membuyarkan lamunan Beth. Adik Abang Angga itu sudah langsung menghampiri Beth yang tadinya baru mau mencari seseorang.
Seseorang?
Siapa memang yang mau Beth cari?
"Sendirian? Abang Timmy mana?" Tanya Rossie kemudian sama persis dengan pertanyaan Abang Angga tadi.
Wajarlah! Mereka kakak adik!
"Abang Timmy tidak datang karena sedang di luar kota," jawab Beth sembari meringis. Lagi-lagi Beth terpaksa berbohong karena Abang Timmy yangvtadi mendadak mabuk di kost.
Beth masih bertanya-tanya kenapa Abang Timmy bisa minum dan mabuk dan siapa Kath?
Apa Kath pacar Abang Timmy?
Lalu kalau Abang Timmy mendadak mabuk, apa itu artinya Abang Timmy sedang ada masalah dengan Kath?
"Beth, kau baik-baik saja?" Tanya Rossie membuyarkan lamuna Beth. Wajah adik Abang Angga itu terlihat cemas.
"Ya, aku baik!" Jawab Beth cepat dannsedikit tergagap. Beth lalu mengedarkan pandangannya ke sembarang arah, saat ternyata ia malah tak sengaja melihat seseorang yang sejak tadi ia cari.
Fairel!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.