
"Iel! Kau sedang apa?" Seruan serta teguran dari Ryan seolah mengembalikan kesadaran Fairel yang kedua tangannya masih mencengkeram pundak Beth yang kini tampak ketakutan.
Fairel langsung buru-buru melepaskan cengkeramannya, bersamaan dengan Beth yang langsung berlalu pergi dari hadapan Fairel. Namun sekilas Fairel masih bisa melihat kilatan butir bening yang menetes dari mata Beth.
Apa itu artinya....
Beth menangis?
"Kau kenapa barusan? Gadis itu terlihat ketakutan," cecar Ryan yang kini sudah menghampiri Fairel.
Fairel tak menjawab cecaran pertanyaan dari sepupunya tersebut, dan pria itu segera memungut paperbag yang tadi diberikan oleh Beth. Tadi Fairel memang langsung membantingnya ke lantai saat ia tak menemukan cincin yang seharusnya berada di dalam kotak warna biru yang diberikan oleh Beth juga.
"Aku benar-benar tak tahu cincinnya dimana karena kotak itu sudah kosong saat aku temukan." Kalimat Beth kembali berputar-putar di kepala Fairel.
"Fairel!" Tegur Ryan sekali lagi pada Fairel yang kini merasa pening.
Entahlah....
Jika menilik dari ekspresi wajah Beth tadi, sepertinya gadis itu memang berkata jujur. Mungkin Beth memang tidak mencuri cincin Fairel. Mungkin cincin itu memang sudah jatuh di satu tempat....
Di kamar mandi rumah Rossie saat Fairel melepaskan celananya!
Apa mungkin....
"Iel!" Teguran Ryan sekali lagi namun Fairel tetap bungkam dan tak bicara sepatah katapun. Fairel malah langsung memberikan paperbag berisi bajunya tadi dengan kasar pada Ryan, lalu pria itu meninggalkan lobi kantor begitu saja serta Ryan yang kini tampak terheran-heran.
Ryan mengintip isi di dalam paperbag yang tadi diberikan oleh Fairel, sebelum kemudian pria itu mengendikkan kedua bahunya.
"Dasar Iel aneh!" Gumam Ryan kemudian seraya berlalu juga dari lobi.
****
Beth menyeka airmatanya yang terus saja menganak sungai di sepanjang perjalanannya kembali ke toko Sweety Cake.
"Ish! Mama pasti mencecarku habis-habisan kalau aku menangis begini!" Gerutu Beth pada dirumah sendiri. Motor Beth masih berhenti di lampu merah, saat tiba-tiba sebuah mobil sport warna biru metalic terlihat dari kaca spion Beth, dan sedang menunggu lampu merah juga, beberapa meter di belakang Beth.
"Bukankah itu..." Beth langsung menoleh ke belakang untuk memastikan.
Itu memanglah persis dengan mobil sport milik Reandra!
Tapi apa mungkin yang di dalam mobil itu Reandra juga? Secara Reandra kemarin mengatakan kalau dia masih ada urusan di luar kota hingga dua minggu kedepan!
Beep! Beep!
Suara klakson langsung membuyarkan semua lamunan Beth. Gadis itu lali memperhatikan lampu lalu lintas yang sudah berubah warna menjadi hijau. Beth langsung memacu motornya, namun tak terlalu cepat karena ia menunggu mobil sport biru metalic tadi melewatinya. Beth berniat membuntuti mobil itu dan memastikan siapa yang berada di dalam mobil tersebut.
Cukup lama Beth membuntuti mobil sport tadi, hingga kemudian mobil berbelok ke sebuah coffeeshop. Segera Beth mencari tahu siapa pemiliknya.
Dan saat pintu mobil dibuka, lalu sang empunya keluar, Beth refleks berseru.
"Reandra!" Beth buru-buru turun dari motor, dan berlari menghampiri Reandra, hingga gadis itu tak sempat melepaskan helm di kepalanya.
"Reandra!" Beth langsung menghambur ke pelukan Reandra yang tadinya sempat bingung mencari arah suara Beth yang memanggil-manggil namanya.
"Kenapa sudah pulang, hah? Mau memberiku kejutan?" Cecar Beth dengan mata berbinar senang.
"I--iya!"
"Sebenarnya memang begitu!" Jawab Reandra sedikit salah tingkah.
Tak berselang lama, pintu mobil Reandra dibuka oleh seseorang dari dalam. Beth refleks memcari tahu, dan saat Beth tahu siapa yang keluar dari dalam mobil Reandra, emosi gadis itu mendadak naik ke ubun-ubun.
Yvone!
__ADS_1
Bisa-bisanya!
"Yvone?" Sapa Beth sinis, seraya memindai penampilan Yvone yang mengenakan dress dilapisi blazer di bagian luar.
"Hai, Beth! Lama tak berjumpa." Yvone hendak memeluk Beth, namun Beth sudah menghindar dengan cepat dan menatap mantan temannya itu dengan tatapan kemarahan.
"Kita bukan teman lagi!" Ucap Beth ketus yang hanya membuat Yvone menghela nafas.
"Aku hanya beli kopi sebentar, Yv!" Ucap Reandra kemudian pada Yvone.
"Aku rasa tak akan sebentar." Yvone mengendikkan dagunya ke arah Beth dan Reandra malah tergelak sekarang.
"Aku akan ke hotel naik taksi," ucap Yvone kemudian seraya berlalu meninggalkan Beth dan Reandra.
"Kau pergi berdua dengan Yvone?" Cecar Beth penuh tasa cemburu sesaat setelah Yvone pergi.
"Tadi Yvone menjemputku di airport."
"Aku beli kopi dulu!" Tukas Reandra kemudian seraya masuk ke dalam Coffeeshop dan meninggalkan Beth yang kini menganga tak percaya.
Jadi sebenarnya, ada hubungan istimewa apa antara Reandra dan Yvone?
****
"Kau yang mencurinya!"
"Sama sekali tidak!"
"Kembalikan cincinnya sekarang!"
"Aku benar-benar tak tahu cincinnya dimana karena kotak itu sudah kosong saat aku temukan."
"Rossie dan Bang Kean sudah berpacaran sejak Rossie masih di London, Bang!"
"Tolong kau jelaskan tentang proyek baru kita, Iel!" Ucap Dad Liam yang raut wajahnya terlihat geregetan pada Fairel. Mungkin karena Fairel yang tadi malah melamun di sepanjang rapat dan tak memperhatikan apa yang disampaikan oleh Dad Liam.
"Menjelaskan apa?" Fairel sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Ryan, lalu berbisik-bisik pada sepupunya tersebut.
"Proyek baru! Kau tadi mendengar semua yang disampaikan Uncle, kan?" Jawab Ryan ikut berbisik namun terdengar geregetan juga.
"Tidak!" Jawab Fairel jujur.
"Lalu kau sedang memikirkan apa? Gadis bercelana kodok yang kau buat ketakutan tadi?" Cecar Ryan semakin geregetan.
"Kenapa malah membahas dia?" Jawab Fairel masih berbisik-bisik dan deheman dari Dad Liam seketika langsung membuag Fairel dan Ryan sama-sama diam.
"Fairel kita sedang rapat dan Dad minta kau untuk menjelaskan--"
"Ryan yang akan menjelaskan semuanya, Dad!" Jawab Fairel memotong kalimat Dad Liam dengan berani. Terang saja Dad kandung Fairel itu langsung terlihat menggeram.
"Silahkan, Ryan!" Fairel sudah menggeser laptopnya ke depan Ryan sekarang.
"Kenapa jadi aku?" Protes Ryan tak terima.
"Kau yang lebih paham!" Jawab Fairel tanpa dosa.
"Ngomong-ngomong, Iel sedikit tidak enak badan, Dad!"
"Iel pamit duluan," tukas Fairel kemudian seraya menatap pada Dad Liam yang kini sudah memelototinya dengan horor. Namun Fairel malah abai dan pria itu sudah langsung keluar dari ruang meeting.
Benar-benar!
Fairel langsung naik lift dan turun ke lantai dasar setelah keluar dari lift. Bayangan wajah Beth yang tadi berurai airmata seolah tak mau pergi dari benak Fairel, dan membuat Fairel mendadak merasa bersalah.
__ADS_1
"Apa cengkeramanku tadi terlalu kuat dan menyakitkan?" Tanya Fairel pada dirinya sendiri.
Fairel yang sudah sampai di lobi lantai dasar, langsung menuju ke salah satu sofa yang kosong, lalu mempraktekkan bagaimana ia tadi mencengkeram pundak Beth. Fairel mempraktekkannya memakai pahamya sendiri. Dan setelah beberapa saat, Fairel langsung meringis karena pahanya terasa nyut-nyutan.
"Sakit juga, ya! Pantas saja si tukang kue itu tadi menangis," gumam Fairel kemudian menarik kesimpulan.
"Lalu, apa aku harus menemui Beth menyebalkan itu untuk minta maaf sekarang?" Tanya Fairel lagi pada dirinya sendiri.
"Ck! Konyol!"
"Aku tak akan minta maaf!" Ucap Fairel kemudian bersamaan dengan ponselnya yang mendadak bergetar di dalam saku.
Fairel langsung memeriksa pesan yang masuk yang rupanya dari Ryan.
[Aku tebak kau sedang dihantui rasa bersalah karena sudah membuat anak gadis orang ketakutan.] -Ryan-
"Cih, sok tahu!" Decak Fairel serelah membaca pesan Ryan yang panjang. Namun sepertinya sepupu Fairel itu belum selesai berkomentar karena di layar ponsel Fairel, status Ryan masih saja mengetik.
[Kalau aku jadi kau, aku akan menemui gadis bercelana kodok tadi, lalu minta maaf. Tapi aku bukan kau] -Ryan-
"Ryan sialan! Bisa-bisanya dia sok mengguruiku!" Gerutu Fairel kesal.
Lalu bayangan Beth beserta kilatan butir bening di wajahnya tadi kembali berkelebat di benak Fairel.
"Ck! Baiklah!" Fairel sudah bangkit dari sofa, dan pria itu langsung keluar dari lobi utama Halley Development. Tak berselang lama, mobil sudah melaju meninggalkan Halley Development.
****
Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit, Fairel akhirnya tiba di depan Sweety Cake.
"Beth, aku minta maaf karena tadi sudah membentakmu." Fairel yangvtak langsung turun, sedikit berlatih mengucapka kata-kata permintaan maaf pada Beth.
"Aku hanya sedang emosi tadi dan aku tak bermaksud menyakitimu..."
"Ish! Kok kesannya aku lemah sekali!" Gerutu Fairel kemudian yang merasa ada yang salah dengan kata-kata permohonan maafnya.
"Beth aku minta maaf karena telah menuduhmu!" Fairel kembali berlatih.
"Ucapkan dengan lantang dan tegas, lalu setelah itu langsung keluar dari toko!" Ucap Fairel lagi seolah sedang memberitahu dirinya sendiri tentang rules saat nanti minta maaf pada Beth.
"Baiklah, aku bisa melakukannya!"
"Kenapa juga aku harus melakukannya? Bisa saja Beth memang mencuri cincinku tapi dia tak mau mengaku dan malah playing victim!" Fairel terus bercerocos sembari melepas sabuk pengaman.
Namun saat pria itu hendak turun dari mobil, pintu toko Beth tiba-tiba terbuka dan si tukang kue menyebalkan itu terlihat keluar bersama seorang pria playboy yang namanya serupa dengan nama tengah Fairel.
Reandra!
Beth sudah terlihat sumringah dan baik-baik saja! Gadis itu bahkan sudah tertawa lepas bersama Reandra.
Ya ampun! Sepertinya kekhawatiran Fairel tadi benar-benar berlebihan!
Baiklah, Fairel tak akan minta maaf pada Beth menyebalkan dan lebih baik Fairel pergi saja! Fairel lanjut memacu mobilnya kembali ke Halley Development.
"Keras kepala juga si tukang kue itu! Sudah dilabrak ibunya Reandra, tapi tetap nekat pacaran!" Gumam Fairel pada dirinya sendiri sambil terus melajukan mobilnya ke Halley Development.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1