
Ting!
Beth langsung mengangkat wajahnya, saat mendengar suara bel di atas pintu toko. Yvone masuk ke dalam toko kue Mama Tere dan langsung menyapa Beth yang masih berkutat dengan buttercream dan kue pesanan pelanggan yang baru setengah jadi.
"Hai!" Sapa Yvone yang sudah menghampiri Beth yang langsung sejenak menghentikan aktivitasnya.
"Kau sudah membaca pesanku?" Tanya Bethany to the point. Tadi malam serelah Mama Tere menyuruh Beth untuk tidur, Beth memang sempat mengirim pesan pada Yvone dulu. Namun pesan Beth tak langsung dibalas oleh gadus di hadapannya tersebut dan pikir Beth mungkin Yvone memang sudah tidur semalam.
"Ya! Makanya aku langsung kesini," jawab Yvone yang sudah ganti melihat-lihat kue di dalam showcase.
"Jadi, Reandra menghubungimu dan menanyakan tentangku kemarin?" Tanya Beth lagi penuh harap.
Beth masih saja berpikir kalau kemarin sore Reandra akan mengkhawatirkan dirinya yang tak jadi datang.
Huh! Semua gara-gara Iel menyebalkan!
"Tidak!" Jawab Yvone tegas yang langsung membuat Beth mendadak merasa kecewa.
"Kau yakin, Yv?" Tanya Beth masih saja berharap.
"Aku yakin, Beth--"
"Mungkin ponselmu mati juga kemarin sore," sergah Beth menerka-nerka.
"Ponselku sama sekali tidak mati dan Reandra memang tak menghubungiku apalagi menanyakan tentang keberadaanmu," ujar Yvone bersungguh-sungguh.
"Kalian ada janji apa memangnya?" Tanya Yvone selanjutnya merasa penasaran.
"Reandra memintaku untuk datang ke apartemennya. Jadi aku--"
"Dan kau tak memberitahuku?" Yvone menatap tak percaya pada Beth.
"Kenapa aku harus memberitahumu? Nanti kau malah merecoki kami berdua," sergah Beth menuturkan alasannya.
"Oh, begitu!"
"Aku pikir kau masih polos!" Yvone langsung tertawa sumbang dan Beth benar-benar tak mengerti dengan maksud perkataan Yvone. Gadis itu akhirnya hanya garuk-garuk kepala karena bingung.
"Jadi, Reandra tidak menghubungimu dan menanyakanku?" Tanya Beth sekali lagi seolah belum puas dengan jawaban Yvone tadi.
"Tidak!" Jawab Yvone tegas.
"Memangnya, hubungan kalian sudah sejauh apa sebenarnya? Kalian sudah jadian?" Cecar Yvone lagi yang langsung membuat Beth meringis.
"Belum!"
"Tapi aku pikir mungkin saja Reandra akan menembakku semalam dan minta aku menjadi kekasihnya," tukas Beth yang langsung membuat Yvone menatap tak percaya pada gadis di depannya tersebut.
"Hubungan kami sudah sangat dekat beberapa minggu kemarin. Dan Reandra juga memintaku datang ke apartemennya. Jadi, bukankah itu artinya...." Beth tak jadi melanjutkan kalimatnya karena tatapan Yvone sudah beibah horor ke arahnya.
"Aku tahu kau begitu naksir pada Reandra, Beth! Tapi apa harus kau sepercaya diri itu?" Tanya Yvone dengan nada sinis.
"Kan ucapan adalah doa. Jadi apa salahnya aku berharap?" Tukas Beth seraya memainkan kedua telunjuknya.
"Tapi entahlah," gumam Beth kemudian.
"Kau sudah coba menghubungi Reandra?" Tanya Yvone kemudian.
"Sudah! Tapi nomornya tidak bisa dihubungi," cerita Beth dengan nada sedih.
"Kau tahu kira-kira Reandra di USA berapa lama?" Tanya Beth kemudian seraya menatap melas pada Yvone yang langsung mengendikkan kedua bahunya.
"Aku tidak tahu," jawab Yvone.
"Tapi kau kan sepupunya Reandra, Yv! Kalian juga sepertinya dekat karena waktu itu Reandra meneleponmu dan beberapa kali juga menemuimu," sergah Beth lagi bersikeras.
"Reandra menemuiku karena ada urusan pekerjaan. Bukan karena kami dekat," tukas Yvone dengan nada tegas.
"Aku saja baru tahu Reandra pindah ke USA setelah kau memberitahuku barusan. Tadinya aku pikir Reandra mau ke Aussie."
"Entahlah!" Yvone mengendikkan bahu sekali lagi sementara Beth hanya mampu mendes*h kecewa.
"Lagipula, apa untungnya kau mengejar-ngejar Reandra jika dia saja tak sedikitpun melirikmu," tukas Yvone lagi yang kini sudah ganti bersedekap.
"Kata siapa dia tidak melirikku? Kami sering bertukar pesan beberapa minggu kemarin. Bukankah itu artinya Reandra memang ada something padaku," sergah Beth yang kembali merasa percaya diri.
"Hhhh! Itu juga tak menjamin--" Kalimat Yvone langsung terjeda saat lonceng di atas pintu toko berbunyi, menandakan ada seseorang yang masuk. Yvone dan Beth langsung kompak menoleh ke arah pintu toko dimana ada Timmy yang sudah berjalan untuk menghampiri Beth.
"Abang!" Sapa Beth sembari merentangkan kedua tangannya pada Timmy tanpa beranjak.
"Kau kenapa, hah? Kata Mama kakimu patah," cecar Timmy yang langsung berjongkok untuk memerangi kaki Beth.
__ADS_1
"Ck! Hanya terkilir dan sudah agak mendingan!" Kilah Beth cepat.
"Pecicilan!" Timmy langsung mengacak rambut adik perempuannya tersebut dan Beth hanya mencibir.
Sementara Yvone masih diam dan hanya memperhatikan keakraban Beth dan Timmy.
"Abang tumben pulang?" Tanya Beth yang tangannya sudah kembali bergerak untuk menghias cake yang akan diambil sore ini oleh pelanggan.
"Pulang jengukin kamu!"
"Kenapa memang? Tidak mau dijenguk?" Cecar Timmy seraya mencomot satu kue dari showcase. Timmy lalu asal menggigitnya hingga tak sadar ada krim dari kue yang mengotori sudut bibirnya. Yvone langsung menahan tawa melihat bibir Timmy yang belepotan krim kue.
"Kenapa?" Tanya Timmy seraya menatap pada Yvone yang masih tertawa sembari menutupi mulutnya sendiri dengan tangan.
Yvone kemudian memberikan kode pada Timmy dengan menunjuk sudut bibirnya sendiri.
"Itu krim kuenya belepotan, Bang!" Sergah Beth yang akhirnya memberitahu sang abang. Timmy lalu segera menyeka krim kue di sudut bibirnya, bersamaan dengan Yvone yang sudah menyodorkan tisu.
"Pakai ini!" Ucap Yvone sembari menatap pada Timmy.
Timmy tak langsung bergerak untuk mengambil tisu yang disodorkan Yvone, melainkan malah balik menatap pada gadis di depannya tersebut.
"Kau Yvone?" Tanya Timmy kemudian sembari mengambil tisu yang sudah ditarik lagi oleh Yvone karena tadi Timmy tak kunjung mengambilnya.
"Iya!" Jawab Yvone sembari menundukkan wajahnya.
"Kenalan dulu boleh, kok, Bang!"
"Yvone juga masih jomblo katanya," celetuk Beth yang langsung membuat Yvone berdecak dan hendak menjitak kepala Beth. Namun meleset!
Beth langsung memeletkan lidahnya pada Yvone.
"Timmy!" Ucap Timmy yang akhirnya menyodorkan tangannya dan mengajak Yvone berkenalan.
"Abangnya Beth bebal!" Ucap Timmy lagi yang langsung membuat Yvone tertawa kecil.
"Yvone," balas Yvone kemudian seraya menyambut tangan Timmy. Dua orang itupun berjabat tangan dan Beth langsung berdehem usil.
"Apa?" Timmy kembali mengacak rambut Beth setelah melepaskan jabat tangannya pada Yvone.
"Abang!" Protes Beth yang langsung merengut.
"Aku colek dikit--"
"Sakit sekali pukulanmu, Beth?" Gumam Timmy seraya mengusap-usap tangannya yang tampak kemerahan.
"Makanya jangan usil!" Sergah Beth bersungut-sungut.
"Abang pinjam charger-mu kalau begitu!" Tukas Timmy kemudian seraya keluar lagi dari toko lalu ganti masuk ke rumah sebelah.
"Kebiasaan tak pernah bawa apa-apa kalau pulang," gerutu Beth yang tangannya tetap cekatan menyemprotkan krim ke atas kue, membentuk lekukan-lekukan yang aesthetic.
"Udah yang lihatin Bang Timmy, Yv! Udah nggak kelihatan juga!" Seloroh Beth kemudian pada Yvone yang sejak tadi memang memperhatikan Timmy yang sudah berlalu keluar dari toko.
"Apa, sih? Siapa juga yang lihatin abang kamu!" Decak Yvone yang langsung membuat penyangkalan.
"Naksir, ya? Aku comblangin mau?" Tawar Beth kemudian seraya menaikturunkan alisnya ke arah Yvone.
"Nggak usah!" Tolak Yvone cepat dengan wajah yang sedikit memerah.
"Dih, wajahmu merah itu!" Ledek Beth kemudian yang langsung membuat Yvone buru-buru mengusap wajahnya sendiri.
"Karena kepanasan saja! Toko kuemu ini panas!"
"Kenapa tidak tambah AC?" Cerocos Yvone beralasan dan malah mengalihkan pembicaraan kemana-mana.
"Itu AC!" Tukas Beth cepat seraya mengendikkan dagu ke arah satu-satunya AC di dalam toko tersebut.
"Kurang dingin!" Sahut Yvone kembali berdecak.
"Masuk showcase kalau mau dingin!" Seloroh Beth lagi yang ganti membuat Yvone mendengus.
"Oh, ya! Ngomong-ngomong soal perasaan halumu pada Reandra tadi--"
"Halu bagaimana?" Sergah Beth memotong dan merasa tak terima.
"Iya bagaimana tidak halu kalau Reandra saja belum menyatakan apa-apa padamu tapi kau sudah percaya diri dan menganggap dirimu adalah kekasihnya Reandra!" Tukas Yvone panjang lebar yang langsung membuat Beth merengut.
"Kan tidak ada salahnya berharap, Yv!"
"Bisa saja Reandra akan menghubungiku juga sore ini atau lusa dan bertanya kenapa kemarin aku tak datang!"
__ADS_1
"Aku yakin kalau Reandra pasti mengkhawatirkanku!" Ujar Beth panjang lebar yang tetap merasa optimis dan percaya diri.
Yvone sontak geleng-geleng kepala dengan sikap Beth tersebut.
"Terserah saja, Beth!" Decak Yvone tetap geleng-geleng kepala.
"Tapi kalau saranku, sih! Mending kamu lupakan saja tentang perasaan tak jelasmu itu pada Reandra dan fokus saja menjalani kehidupanmu yang sekarang sebagai...."
"Tukang kue," ujar Yvone yang langsung membuat Beth tergelak.
"Kenapa? Aku salah sebut, ya?" Tanya Yvone yang kini garuk-garuk kepala.
"Sama sekali tidak!" Jawab Beth cepat.
"Tapi soal perasaanku pada Reandra, aku masih yakin kalau Reandra akan menghubungiku lagi satu hari nanti," ungkap Beth tetap dengan rasa optimis dan keras kepalanya.
"Terserah saja!"
"Kau juga tidak tahu Reandra akan di USA berapa lama. Memangnya kau mau jadi perawan tua menunggu Reandra menghubungimu dan mengungkapkan perasaannya?" Gumam Yvone kemudian dengan nada sinis.
"Aku akan menabung agar aku bisa menyusul Reandra ke USA!" Tukas Beth yang sepertinya selalu punya solusi.
"Tahu memang Reandra di USA sebelah mana? Sudah pernah kesana?" Cecar Yvone merasa ragu.
"Belum," jawab Beth yang langsung meringis. Yvone seketika langsung mencibir pada sahabatnya tersebut.
"Nanti kamu bantu aku mencari tahu tempat tinggal Reandra di USA, Yv! Kamu kan sepupunya," pinta Beth memohon.
"Ck!" Yvone hanya menjawab dengan decakan.
"Ya, Yv, ya! Please!" Mohon Beth dengan raut wajah lebay.
"Aku tidak janji!" Jawab Yvone akhirnya seraya bersedekap. Beth kemudian kembali merengut.
"Mending kamu fokus sama usaha kue kamu dan stop memikirkan Reandra, Beth--"
"Tapi kenapa?" Sergah Beth tak terima.
"Iya karena belum tentu juga Reandra mikirin kamu selama di USA. Bisa juga Reandra sudah punya pacar disana--"
"Yvone!! Kenapa begitu, sih!" Beth seketika langsung merasa badmood dan gadis itu juga membanting buttercream di tangannya.
"Aku kan hanya mengungkapkan kemungkinan terburuk, Beth!" Tukas Yvone kemudian bersamaan dengan suara dering ponsel dari dalam tasnya.
Yvone lalu pamit sebentar pada Beth untuk mengangkat telepon. Tak berselang lama, Yvone sudah menghampiri Beth lagi yang masih cemberut.
"Beth--"
"Aku akan tetap menunggu Reandra menghubungiku dan aku yakin kalau itu akan secepatnya terjadi!" Sergah Beth memotong kalimat Yvone yang belum sempat terlontar.
"Iya, terserah!" Yvone akhirnya angkat tangan dan tak lagi menasehati Beth si keras kepala.
"Aku mau pulang. Ada pekerjaan menunggu!" Tukas Yvone kemudian seraya menyampirkan tasnya di pundak. Gadis itu lalu berjalan ke arah pintu toko.
"Yv!" Panggil Beth yang langsung membuat Yvone menghentikan langkahnya dan balik menoleh pada Beth.
"Apa?"
"Kau sebenarnya bekerja apa? Satu kerjaan dengan Reandra sebelum dia ke USA?" Cecar Beth penasaran.
"I--iya pekerjaanku dan Reandra sebelumnya memang sama tapi di kantor yang berbeda," jawab Yvone yang sikapnya sedikit aneh.
"Oh! Pekerjaan apa itu?" Tanya Beth lagi semakin penasaran.
"Pekerjaan di kantor," jawab Yvone semakin salah tingkah.
"Iya posisi apa?"
"Mmmm...."
"Marketing!" Jawab Yvone akhirnya yang langsung membuat Beth membulatkan bibirnya.
"Tapi sepertinya jam kerjamu fleksibel, ya! Jam segini kau masih bisa keluyuran," seloroh Beth lagi pada Yvone yang sudah hendak keluar.
"Kebetulan bosnya baik!" Jawab Yvone sebelum kemudian gadis itu melambaikan tangan pada Beth dan berlalu keluar dari toko.
Beth lalu segera melanjutkan kegiatannya menghias kue yang sudah hampir jadi tadi. Sedikit badmood sebenarnya. Tapi Beth tetap harus profesional.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.