Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
INISIAL F


__ADS_3

"Terima kasih, Bang!" Ucap Beth yang langsung memeluk erat Abang Timmy.


Sementara Fairel yang sejak tadi menyimak obrolan kakak beradik itu dari kaca si pintu dapur, langsung menggeram kesal.


Kesal karena Beth yang ternyata masih tak mau memakai ponsel pemberian Fairel, dan sekarang malah minta ponsel baru pada sang abang!


Menyebalkan!


"Ngomong-ngomong, tadi yang ngobrol sama kamu saat abang datang, bukannya Iel, ya?" Tanya Abang Timmy kemudian yang sudah berhenti memeluk Beth.


"Iya!" Jawab Beth seraya menoleh ke arah pintu dapur. Fairel yang sejak tadi mengintip buru-buru berjongkok untuk bersembunyi.


"Tadi katanya mau ke toilet. Kok belum keluar lagi, ya!" Gumam Beth lagi yang terlihat khawatir.


"Kamu periksa dulu, gih! Barangkali pintu toiletnya macet," seloroh Abang Timmy seraya menghampiri showcase, lalu mengambil beberapa potongvkue seperti biasa.


Sementara Beth langsung masuk ke dapur dan mendorongnya dengan sedikit kasar.


"Iel!" Panggil Beth saat kemudian gadis itu dibuat terkejut karena Fairel yang kini sudah berdiri di luar toilet seraya bersedekap dan melempar tatapan aneh pada Beth.


"Kau sudah keluar? Apa pintu toiletnya macet?" Cecar Beth seraya menatap bingung pada Fairel.


Fairel tak menjawab sepatah katapun dan pria itu hanya berjalan mendekat ke arah Beth, masih dengan tatapan anehnya yang belum berubah.


Pria ini kenapa lagi?


"Kau belum merawat lukaku!" Fairel kembali menunjukkan tangannya yang diperban. Beth sontak menghela nafas.


"Kenapa? Tidak mau bertanggung jawab?" Cecar Fairel kemudian dengan nada bicara yang sudah berapi-api.


"Atau kau takut kalau pria yang mendapat ciuman pertamamu akan cemburu, kalau kau merawat lukaku, hah?" Ujar Fairel lagi tetap berapi-api.


"Ck!"


"Iya, iya! Aku rawat sekarang!" Tukas Beth akhirnya yang merasa malas untuk berdebat lagi dengan Fairel. Meskipun Beth sendiri tak yakin kalau ia bisa melakukannya.


Tapi bukankah hanya tinggal dibersihkan, lalu diganti perban saja? Jadi Beth pasti bisa melakukannya!


Ketimbang Beth harus mendengar ocehan Fairel sepanjang waktu!


"Ayo ke depan!" Ajak Beth kemudian yang malah membuat Fairel diam bak patung alih-alih langsung bergerak keluar dari dapur.


"Ayo! Kenapa malah diam disitu?" Tanya Beth bingung.


"Kau sepertinya tidak ikhlas merawat tanganku!" Ucap Fairel kekanakan.


"Astaga!"


"Aku ikhlas, Iel! Aku ikhlas!" Beth akhirnya kembali menghampiri Fairel yang kini merengut bak bocah.


Apa Beth perlu memberikan pria ini permen dan gula-gula kapas agar dia berhenti merajuk?


"Bersikaplah sedikit manis padaku yang sudah berstatus sebagai pacarmu, Beth!"


"Meskipun aku masih tak ikhlas kau memberikan ciuman pertamamu pada pria buaya brengsek berinisial--"


"F!" Sergah Beth cepat memotong dan menyambung kalimat Fairel.


"F?" Fairel sontak menatap penuh tanya pada Beth.


Bukankah itu adalah inisial nama Fairel?


Masa iya nama depan Reandra diawali huruf F juga!


Sudah nama tengah sama, masa iya nama depan juga sama!


Gila!


Fairel benar-benar akan merevisi namanya kalau nama depan Reandra ternyata berinisial F juga!


Tak peduli kalaupun Fairel harus mengganti semua ijazah, akta, kartu-kartu!


"Pria berinisial F yang sudah mencuri ciuman pertamaku!"


"Nama panggilannya Iel!" Tukas Beth lagi yang sudah mulai habis kesabaran.


"Aku?" Kedua mata Fairel sontak berbinar dan pria itu tiba-tiba sudah merengkuh kedua pundak Beth hingga Beth terhuyung dan nyaris hilang keseimbangan.


Ya ampun!


"Jadi, aku benar kan?"

__ADS_1


"Tadi itu ciuman pertamamu!" Ucap Fairel kemudian seolah merasa bangga.


"Kenapa juga kau tak langsung jujur dan malah memancing-mancing emosiku? Mau membuatku darah tinggi, hah?" Cerocos Fairel lagi.


"Kau saja yang emosian!" Cibir Beth seraya memberikan kode pada Fairel agar melepaskan dekapannya.


Ya, tadi saat Beth terhuyung dan nyaris jatuh, Fairel memang sigap menahan serta mendekap tubuh gadis itu hingga ia tak jadi jatuh.


"Mau aku cium lagi, Pacarku?" Ujar Fairel kemudian yang sudah memonyongkan bibirnya ke arah Beth.


"Diihhh!" Beth refleks mengangkat tangan untuk membungkam bibir mesum Fairel.


"Masih malu-malu!" Ucap Fairel yang akhirnya melepaskan dekapannya pada Beth. Pria itu kemudian mencium kening Beth.


"Iel!!" Geram Beth yang langsung membuat Fairel terkekeh.


"Kenapa? Mau dicium di bibir lagi?" Goda Fairel yang tentu saja langsung membuat Beth berdecak.


Disaat itulah, tiba-tiba pintu dapur dibuka dari luar dan Abang Timmy tampak melongokkan kepalanya ke dalam.


"Beth! Ada pelanggan mau ambil pesanan katanya."


"Iya, Bang! Beth datang!" Jawab Beth cepat seraya meninggalkan Fairel, lalu bergegas pergi ke depan untuk menemui pelanggan.


Fairel hanya berdecak, namun akhirnya pria itu mengikuti Beth dan ikut keluar dari dapur.


"Tangan kamu kenapa?" Tanya Abang Timmy saat Fairel baru keluar dari dapur untuk menyusul Beth. Suara abang Beth itu tak terlalu jelas karena mulutnya penuh dengan kue.


Jangan bilang kalau dia sedang makan rollcake jatahnya Fairel!


Fairel kan dari tadi belum jadi makan rollcake!


"Woy! Kok malah melamun?" Tegur Fairel yang langsung membuyarkan lamunan Fairel.


"Tidak! Siapa yang melamun, Bang!" Sanggah Fairel cepat.


"Jadi, tangan kamu kenapa?" Abang Timmy mengulang pertanyaannya dan kali ini suara pria itu sudah lebih jelas.


"Dibakar oleh oven di dapur," jawab Fairel jujur yang langsung membuat Abang Timmy mengernyit heran.


"Kok bisa?"


"Dia yang ceroboh!" Sahut Beth yang sudah selesau melayani pelanggan yang yadi mengambil pesanan cake ulang tahun.


Fairel yang merasa tersudut, akhirnya langsung berdecak.


"Kau tadi belum jadi merawat lukaku, Beth!" Ucap Fairel mengingatkan.


"Oh, ya!"


"Aku pikir kau mau ke klinik saja," jawab Beth sembari terkekeh. Gadis itu lalu masuk ke dapur lagi.


"Mau kemana lagi?" Tanya Fairel geram.


"Cuci tangan!" Jawab Beth yang nyaris tak terdengar. Namun tak berselang lama, Beth sudah keluar lagi seraya mengeringkan tangannya.


"Sudah alih profesi jadi perawat juga, Beth?" Seloroh Abang Timmy seraya membenarkan letak topinya.


"Terpaksa, Bang! Biar tidak ada yang mencak-mencak!" Jawab Beth sembari melirik ke arah Fairel yang kembali berdecak.


"Abang sudah mau pergi?" Tanya Beth kemudian pada sang Abang.


"Ya! Sedang ada urusan," jawab Abang Timmy.


"Bukan urusan bersama Yvone, kan?" Goda Beth yang langsung membuat Abang Timmy berdecak.


"Bukanlah!"


"Sudah tidak ada urusan juga dengan dia!" Ujar Abang Timmy kemudian sedikit ketus.


"Beth pikir malah sudah jadian, Bang!" Celetuk Beth lagi.


"Mana ada!" Sanggah Timmy cepat.


"Abang pergi dulu!" Pamit Timmy kemudian yang masih sempat mengacak rambut Beth sebelum keluar dari toko.


Setelah Abang Timmy pergi, Beth kembali fokus pada tangan Fairel.


"Hanya tinggal dibuka perbannya dan dibersihkan, kan?" Tanya Beth yang mendadak ragu, karena sebelumnya Beth memang tak pernah merawat luka terbuka begini.


"Iya!" Jawab Fairel ketus.

__ADS_1


"Tapi ambilkan rollcake dulu! Perutku keroncongan," perintah Fairel kemudian yang langsung membuat Beth berdecak.


"Apa tidak bisa menunggu sampai aku selesai--"


"Kau mau membuatku kelaparan lalu pingsan?" Sergah Fairel yang malah langsung menyalak pada Beth.


"Iya, iya! Aku ambilkan!" Dengkus Beth akhir seraya bangkit berdiri.


"Dasar bawel!" Gerutu Beth lagi seraya berjalan ke arah showcase untuk mengambil rollcake untuk Fairel.


Namun kemudian Beth langsung membelalak kaget, saat ia mendapati nampan rollcake yang sudah kosong.


Padahal sebelum Abang Timmy datang tadi masih ada beberapa potong. Atau jangan-jangan sudah dihabiskan oleh Abang Timmy?


"Cepat, Beth! Kenapa lama sekali!" Tagih Fairel tak sabar.


"Iya!" Jawab Beth yang akhirnya memilih untuk mengambil cake lain saja. Terswrah kalau nanti Fairel mencak-mencak.


Lagipula, memangnya Fairel tak bosan makan rollcake setiap hari?


"Ini!" Beth yang sudah kembali menghampiri Fairel, langsung menyodorkan piring berisi brownies dan cheese cake pada Fairel.


"Apa ini?" Protes Fairel cepat.


"Rollcake model terbaru," jawab Beth asal.


"Mana roll-nya? Jelas-jelas ini bentuknya persegi!" Ujar Fairel lagi seraya memutar-mutar piring kue tersebut.


"Stok rollcake habis," jawab Beth akhirnya berkata jujur.


"Dan kau tidak membuatnya lagi?" Fairel menatap tak percaya pada Beth.


"Besok aku akan membuatnya!"


"Lagipula, bukankah stok yang di rumah-mu masih banyak! Makan saja yang ada di rumahmu!" Tukas Beth seraya bersedekap kesal.


"Kita ambil ke rumah kalau begitu!" Ujar Fairel kemudian seraya bangkit dan meraih tangan Beth.


"Maksudnya kita? Kenapa bukan kau sendiri saja?" Tanya Beth bingung.


"Kau harus ikut karena kau belum selesai merawat lukaku!" Lagi-lagi Fairel menjadikan luka di tangannya sebagai alasan.


Hhhh! Beth benar-benar tak habis pikir!


"Tapi aku harus menjaga toko--"


"Tinggal ditutup apa susahnya!" Sahut Fairel enteng.


"Tapi--"


"Ayo ikut!" Paksa Fairel lagi.


"Kau pacarku sekarang, jadi ikut dan jangan banyak alasan lagi!" Tukas Fairel lagi tetap memaksa.


"Ck! Sejak kapan juga kita pacaran!"


"Kau saja tak pernah menembakku dan aku juga belum mengatakan setuju!" Gerutu Beth yang akhirnya terpaksa menutup tokonya karena Fairel yang sama sekali tak mau melepaskan tangannya.


Benar-benar pria yang keras kepala!


"Bisa tidak, Beth?" Tanya Fairel geram karena Beth yang tak kunjung bisa memasang gembok rolling door.


"Macet," cicit Beth beralasan.


Fairel akhirnya langsung turun tangan dan hanya dengan sekali sentakan, gembok langsung terpasang.


The power of tangan hulk!


"Ayo!" Ajak Fairel kemudian seraya kembali menggandeng tangan Beth, lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil.


"Kau sudah bisa memegang stir memangnya?" Tanya Beth ragu.


"Kalau belum bisa, tak mungkin aku bisa sampai ke sini pagi tadi!" Jawab Fairel sebelum kemudian pria itu menyalakan mesin mobil.


Tak berselang lama, mobil Fairel sudah melaju meninggalkan Sweety Cake.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2