
"Nanti tidak usah pulang dan tidur saja di dalam toko!"
"Abang tidak bisa jemput," pesan Timmy seraya mebgacak rambut Beth.
"Ish! Abang!" Decak Beth yang langsung merengut.
"Ya!" Timmy mengingatkan Beth sekali lagi.
"Iya, Bang!" Jawab Beth yang masih merengut.
"Abang pergi dulu!" Pamit Timmy kemudian seraya menyalakan mesin motornya lagi.
"Hati-hati!" Pesan Beth sebelum motor Timmy melaju pergi.
Beth segera mengedarkan pandangannya ke halaman toko saat kemudian netra gadis itu langsung tertumbuk pada mobil sedan hitam yang sudah terparkir di depan toko.
"Ternyata sudah sampai!" Gumam Beth yang memilih untuk langsung saja membuka kunci rolling door tokonya.
Sementara Fairel langsung turun dari mobil begitu Timmy berlalai pergi. Pria itu juga langsung menghampiri Beth.
"Tadi itu pacarmu?" Tanya Fairel kepo.
"Abangku!" Jawab Beth sembari membuka rolling door tokonya namun hanya sedikit dan tak terlalu lebar.
"Kuenya mana?" Tanya Beth yang lanjut membuka pintu di dalam rolling door. Entah ada berapa lapis pintu di toko Beth ini.
"Kue? Tidak aku bawa!" Jawab Fairel santai.
Beth langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap horor pada Fairel.
"Kenapa? Kuenya juga hanya tinggal separo karena yang separo sudah pindah ke perut Reina!"
"Jadi aku pikir, lebih baik kau membuatkan kue yang baru saja," tukas Fairel yang ekspresinya seolah ia baru saja menemukan solusi luar biasa.
"Tidak akan cukup waktunya kalau harus membuat kue yang baru Ibel--"
__ADS_1
"Iel!!" Fairel menyalak kencang demi mengoreksi panggilan Beth yang salah padanya.
Ibel Ibel!
Memangnya Ibel itu siapa? Pacar Beth?
"Iya, Iel!"
"Waktunya tidak cukup jika harus membuat kue baru!" Beth mengulangi kalimatnya.
"Harus cukup! Kau kan sudah ahli dan profesional!" Tukas Fairel seolah tak mau tahu.
"Yasudah! Kau pilih saja kue yang ada di etalase!" Ucap Beth kemudian seraya bersedekap.
Beth lalu masuk ke dalam toko dan menyalakan lampu. Deretan kue yang terpajang di etalase serta di dalam showcase langsung menarik perhatian Fairel. Proa itu mengamati satu persatu kue yang ada, namun tak ada satupun yang sesuai kriterianya.
"Mau yang mana?" Tanya Beth tak sabar.
"Tak ada yang sesuai dengan tema kejutanku malam ini! Yang bernuansa mawar tak ada!" Jawab Fairel dengan ekspresi wajah yang lebay.
"Buatkan yang baru dan aku akan menunggu!" Ujar Fairel yang langsung menemukan solusi dan jawaban atas pertanyaan putus asa Beth tadi.
"Tidak segampang itu, Iel! Butuh waktu yang tak sebentar untuk membuat kue dari nol...." Beth menghentikan sebentar kalimatnya, saat tatapan matanya tertumbuk pada brownies mini yang masih polos dan belum dihias di dalam showcase.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku ingin memberikan kejutan luar biasa untuk pacarku." Curhat Fairel yang raut wajahnya sudah berubah melas.
"Aku punya ide!" Cetus Beth kemudian.
"Ide apa? Kau tetap bisa membuatkan kue mawar untuk Rossie, kan?" Sahut Fairel yang malah langsung mencecar Beth.
"Ya!" Jawab Beth yang langsung membuat Fairel bersorak lebay.
"Yes! Yes!"
"Tapi!" Ucapan Beth selanjutnya langsung membuat Fairel berhenti bersorak.
__ADS_1
"Tapi apalagi?" Tanya Fairel tak sabar.
"Aku bisanya membuat yang ukurannya lebih kecil," ujar Beth yang langsung mengambil minicake dari dalam showcase tadi.
"Pakai yang itu? Apa tidak terlalu kecil?" Tanya Fairel nerasa ragu. Kue yang barusan diambil Beth, diameternya memang hanya sekitar delapan belas centimeter.
"Yang ready hanya tinggal ini! Jadi terima saja atau tidak usah!" Sergah Beth yang mulai kesal.
"Iya, iya! Aku mau!" Putus Fairel akhirnya.
"Tapi hiasannya harus mirip dengan yang sebelumnya!" Fairel mengajukan syarat.
"Iya! Iya!"
"Dasar bawel!" Gerutu Beth yang langsung membuka ponselnya dan mencari foto kue milik Fairel yang tadi memang sempat ia abadikan sebagai kenang-kenangan sekaligus portofolio.
Masih bagus Beth tadi mengambil gambarnya! Jadi Beth tak perlu bingung.
"Cepat, Beth!" Komando Fairel sembari menunjukkan arlojinya berulang kali.
Yaelah! Beth juga tahu kalau tengah malam hanya tinggal satu setengah jam lagi.
Tapi apa bakal keburu?
"Beth, jangan melamun dan cepat hias kuenya!" Teguran Fairel langsung membuat lamunan Beth buyar seketika.
"Iya. Aku siapkan krimnya dulu!" Tukas Beth sembari masuk ke dalam dapur toko dan meninggalkan Fairel begitu saja.
"Semoga masih sempat!" Gumam Fairel penuh harap.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.