
Beth mengerjapkan matanya, saat samar-samar ia mendengar suara seseorang yang masuk ke dalam kamar perawatan abang Timmy, lalu meletakkan sesuatu di atas nakas. Beth memilih untuk tak bergerak dan membuka mata perlahan untuk memastikan kalau yang datang itu adalah....
"Yvone!" Panggil Beth saat mantan teman baiknya itu hendak keluar lagi dari kamar perawatan Timmy secara mengendap-endap. Yvone langsung menghentikan langkahnya dan sedikit membenarkan syal yang melingkar di lehernya.
"Aku hanya mengantar sarapan untuk kau dan Abangmu," ujar Yvone tanpa menoleh ke arah Beth.
Beth segera bangkit dari sofa, dimana semalam ia tertidur, lalu menghampiri Yvone yang masih berdiri di dekat pintu. Abang Timmy sendiri masih terlelap di atas bed perawatan.
"Kau masih ada urusan di kota ini? Sampai kapan?" Tanya Beth sedikit berbasa-basi. Yvone yabg sedari tadi memunggungi Beth, akhirnya berbalik dan menatap pada gadis itu.
"Mungkin dua atau tiga hari lagi," jawab Yvone yang langsung membuat Beth mengangguk sekaligus sedikit bernafas lega.
Setidaknya Beth ada teman di kota ini untuk menjaga Abang Timmy.
"Kau sudah menghubungi kedua orangtuamu?" Tanya Yvone selanjutnya yang ganti membuat Beth menggeleng.
"Aku bilang ke Mama kalau aku sedang berlibur bersamamu. Jadi aku minta tolong dengan sangat, Yv!" Beth sudah meraih kedua tangan Yvone dan raut wajah gadis itu terlihat memohon.
Yvone tak langsung menjawab dan teman Beth itu masih tampak berpikir.
"Yv--"
"Kau masih berhubungan dengan Reandra?" Tanya Yvone penuh selidik yang langsung membuat Beth menggeleng.
Ya, sejak kejadian malam dimana Reandra menipu Beth dan hampir melakukan hal buruk itu, Beth memang langsung memblokir nomor Reandra. Dan syukurlah pria itu juga tak lagi mengganggu Beth.
Tapi satu hal yang saat ini mengganggu Beth justru datang dari hal lain yang Beth sendiri tak paham.
"Aku baru membaca pesan yang kau kirimkan malam itu, saat kau meminta aku untuk tak pergi bersama Reandra." Ucap Beth kemudian membuat pengakuan.
"Berarti kau pergi bersama Reandra malam itu?" Tebak Yvone yang langsung membuat Beth terdiam.
"Apa Reandra melakukan sesuatu padamu, Beth?" Tanya Yvone lagi yang kedua tangannya sudah merengkuh pundak Beth. Raut wajah gadis itu juga terlihat khawatir sekarang.
Sejuta rasa bersalah mendadak langsung membuncah di hati Beth yang tak pernah percaya pada peringatan Yvone. Beth justru berulang kali melemparkan tuduhan pada Yvone dan menganggap gadis ini cemburu pada hubungannya bersama Reandra.
Berarti benar apa yang dikatakan Fairel!
Beth itu bodoh dan buta! Beth bahkan memusuhi Yvone hanya demi seorang pria brengsek bernama Reandra!
Beth sekarang benar-benar menyesal!
"Beth, katakan pada--"
"Reandra hampir melakukannya, tapi--"
"Timmy datang tepat waktu, kan?" Potong Yvone menerka sekaligus menyambung kalimat Beth.
"Abang Timmy?" Beth langsung mengernyit bingung.
"Aku juga menghubungi Timmy malam itu dan meminta dia menasehatimu agar kau tak pergi bersama Reandra," jelas Yvone yang semakin membuat Beth bingung.
"Tapi malam itu bukan Abang Timmy yang datang menyelamatkanku," cerita Beth yang ganti membuat Yvone mengernyit.
"Lalu siapa?" Tanya Yvone penasaran.
"Iel," jawab Beth yang tiba-tiba malah membuat Yvone menahan tawa.
"Ada apa? Kenapa malah tertawa?" Rengut Beth yang semakin membuat Yvone terkekeh.
"Yvone!"
"Jadi Iel yang menyelamatkanmu dari Reandra malam itu?" Tanya Yvone yang akhirnya berhenti tertawa.
"Iya! Tapi Iel juga memarahiku habis-habisan," cerita Beth lagi yang kembali merengut.
"Memarahi bagaimana?" Tanya Yvone tak paham.
"Ayo duduk saja!" Beth akhirnya mengajak Yvone duduk di sofa karena ia juga sudah capek berdiri.
"Kau ada something dengan Iel?" Tanya Yvone kemudian merasa penasaran.
"Something apa maksudmu? Pria itu bahkan begitu menyebalkan dan juga galak!" Sergah Beth bersungut-sungut yang langsung membuat Yvone menahan tawa.
"Kan! Kamu tertawa lagi!" Beth kembali merengut.
"Jadi, Iel memarahimu karena apa?" Yvone mengulangi pertanyaannya yang pertama.
"Aku juga tidak tahu!" Jawab Beth sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Tapi memang Iel pernah menunjukkan beberapa foto Reandra yang sedang menggandeng wanita yang berbeda-beda padaku..."
"Tapi kau tidak percaya?" Tebak Yvone yang langsung membuat Beth merengut.
"Aku pikir Iel mengedit foto-foto itu," cicit Beth mencari alasan.
"Iel tak mungkin mengeditnya karena kenyataannya memang demikian, Beth! Reandra itu pria brengsek," ungkap Yvone yang langsung membuat Beth menatap tak percaya pada gadis di sebelahnya tersebut.
"Itulah makanya aku berulang kali menyuruhmu untuk menjauhi Reandra. Tapi kau keras kepala sekali," sambung Yvone lagi.
"Aku minta maaf karena tak mendengarkanmu, Yv!" Ucap Beth penuh sesal yang langsung membuat Yvone mengulas senyum, lalu memeluk sahabatnya tersebut.
"Yang penting sekarang kau sudah tahu kan?"
__ADS_1
Beth langsung mengangguk-angguk.
"Tapi aku masih penasaran apa kau benar-benar sepupunya Reandra?" Tanya Beth kemudian yang sudah melepaskan pelukan Yvone.
"Ya! Aku sepupunya!" Jawab Yvone cepat.
"Papinya Reandra adalah kakak dari papa aku," sambung Yvone lagi menjelaskan.
"Dan sejak kedua orang tuaku bercerai, lalu papa meninggal, aku memang diajak tinggal di rumah Paman Sahrul karena Mama tak pernah peduli kepadaku," cerita Yvone lagi dengan raut wajah yang sudah berubah sedih.
Beth refleks meraup Yvone ke dalam pelukan, untuk menguatkan sahabatnya tersebut.
"Aku sebenarnya juga kurang suka pada Reandra, Beth! Tapi aku menghormati Paman Sahrul yang secara tak langsung sudah menyelamatkan hidupku yang dulu tak tentu arah sejak kepergian Papa."
"Dan lagi, jabatan ku sebagai wakil Reandra di hotel..." Yvone menghela nafas frustasi.
"Kau tidak berniat mencari pekerjaan lain?" Tanya Beth yang langsung membuat Yvone menggeleng.
"Paman tak akan mengizinkan dan lagi aku juga tak seperti dirimu yang pandai membuat kue," ujar Yvone sedikit berseloroh yang terang saja langsung membuat Beth terkekeh.
"Aku tak keberatan mengajarimu jika kau mau," tukas Beth ketus yang langsung membuat Yvone menggeleng.
"Sebaiknya tak usah karena terakhir kali aku merebus air, aku nyaris membuat apartemenku terbakar," tutur Yvone yang langsung membuat Beth menepuk jidatnya sendiri.
"Astaga, Yv!"
Disaat bersamaan, ponsel Beth tiba-tiba berdering.
"Mama menelepon!" Bisik Beth seraya menunjukkam layar ponsepada Yvone.
"Angkat saja dan aku akan membantumu beralasan!" Yvone sudah mengeluarkan ponselnya untuk mengetik kalimat yang harus diucapkan Beth pada Mama Tere.
"Halo, Ma!" Sambut Beth sembari menarik nafas panjang agar suaranya tak terdengar gugup.
"Mau pulang jam berapa, Beth? Ucapanmu kemarin soal kau akan ke luar kota bersama Yvone hanya gurauan, kan?"
"Ti--tidak, Ma!" Jawab Beth sembari meringis.
Ya ampun! Lagi-lagi Beth harus berbohong pada Mama Tere.
"Maksudnya tidak?"
"Beth sudah di kota...."
"D sekarang!" Jawab Beth setelah gadis itu membaca tulisannyang diketikkan oleh Yvone.
"Di kota D?"
"Iya pekerjaan Yvone di kota ini, jadi Beth perginya kesini bersama Yvone, Ma!" Jawab Beth sambil tetap membaca skrip yang ditulis Yvone.
Beth langsung memberikan ponselnya pada Yvone.
"Halo, Aunty! Selamat pagi!" Sapa Yvone yang suaranya lebih terdengar santai dan tak segugup Beth tadi. Sepertinya Yvone lebih berpengalaman!
"Pagi, Yv!"
"Kenapa harus dadakan mengajak Beth pergi ke luar kota?"
"Iya, Aunty! Maaf kalau terkesan dadakan karena kemarin saat Yvone bertemu Beth, dia terlihat sedih dan murung. Jadi Yvone tawarkan untuk ikut Yvone saja ke luar kota agar pikirannya bisa fresh, karena Yvone pikir mungkin Beth juga butuh jalan-jalan dan refreshing."
"Dan Beth juga langsung setuju, jadi Yvone pesankan tiket langsung dan kami berangkat kemarin sore," terang Yvone panjang lebar yang benar-benar langsung membuat Beth terperangah. Yvone lancar sekali mengarang ceritanya!
Pasti dulu Yvone jago mengarang saat sekolah!
"Ck! Lalu rencananya kau dan Beth akan di kota D berapa hari?"
"Rencananya lusa kami sudah pulang, Aunty!" Jawab Yvone cepat.
"Sekali lagi Yvone minta maaf karena sudah lancang mengajak Beth pergi dadakan, Aunty!" Ucap Yvone lagi.
"Aunty maafkan kali ini, tapi lain kali kau harus minta izin dan jangan dadakan begini!"
"Iya, Aunty!" Jawab Yvone seraya mengangguk.
"Berikan ponselnya pada Beth lagi! Aunty mau bicara."
"Baik, Aunty!" Yvone langsung mengembalikan ponsel Beth pada sang empunya.
"Ma--"
"Ini terakhir kali kau berlibur dadakan tanpa pamit, Beth!"
"Iya, Ma! Beth minta maaf!" Ucap Beth seraya meringis
"Kalau memang kau suntuk dan butuh libur atau refreshing, seharusnya kau bilang jujur ke mama. Mama pasti akan memberikan izin!"
"Iya, Ma!" Beth kembali meringis.
"Tadi sudah sarapan?"
"Ini baru mau sarapan bareng Yvone, Ma!" Jawab Beth yang kini pandangannya sydah tertuju ke makanan yang tadi dibawa Yvone. Kebetulan juga cacing-cacing di perut Beth sudah berdemo hebat..
"Ya sudah kalau begitu! Kamu sarapan dulu, lalu nanti hati-hati kalau mau kemana-mana!"
__ADS_1
"Jaga diri disana dan segera telepon Mama kalau ada apa-apa!"
"Iya, Ma! Siap!"
"Mama tutup dulu teleponnya!"
"Iya, Ma! Bye!" Pungkas Beth kemudian bersamaan dengan telepon yang akhirnya terputus. Beth langsung bernafas lega dan tersenyum pada Yvone yang kini malah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terima kasih banyak bantuanmu, Yv!" Ucap Beth seraya memeluk Yvone dengan lebay.
"Iya! Iya! Lain kali aku tak akan membantu!" Decak Yvone yang malah membuat Beth tergelak. Perut Beth lalu kembali berbunyi.
"Ck! Sarapan sana!" Tukas Yvone kemudian seraya melepaskan pelukan Beth.
Beth sendiri langsung mengambil makanan yang tadi dibawa Yvone, lalu mulai menyantapnya dengan lahap.
****
"Hai, Sepupu sepupu! Kita bertemu lagi," sapa Gavin saat Fairel baru tiba di pantai untuk melihat matahari terbit.
Fairel benar-benar tidak tahu kenapa anak bungsu Tante Vale ini seolah membuntutinya kemana-mana. Salah Fairel juga yang kemarin memutuskan untuk berlibur ke kota ini! Seharusnya Fairel pergi ke kota lain saja untuk menenangkan pikiran.
Bodoh!
"Kau sedang apa disini? Kabur dari istrimu yang galak?" Cecar Fairel yang langsung membuat Gavin tergelak.
"Kau mengatai Zeline galak? Aku akan melaporkan--"
"Tidak usah ember!" Sergah Fairel yang langsung melakukan smack down pada Gavin. Dua pria yang masih punya hubungan kekerabatan jauh tersebut, lalu jatuh di pasir dan keduanya berguling-guling tak jelas layaknya anak kecil.
Puas berguling-guling di atas pasir, dua sepupu itu lalu duduk bersama sembari menunggu matahari terbit.
"Kapan kau pulang? Masih lama, kan?" Tanya Gavin kemudian membuka obrolan.
"Nanti siang aku sudah pulang," jawab Fairel yang langsung membuat Gavin meninju pundaknya.
Sialan memang sepupu jauh Fairel ini!
"Kenapa kau memukulku?" Sungut Fairel seraya mendelik-delik pada Gavin.
"Kenapa liburanmu cepat sekali? Kau bahkan baru tiba dua hari yang lalu dan sudah mau pulang hari ini? Kenapa tak minggu depan atau bulan depan sekalian?" Cecar Gavin berapi-api.
"Sinting!"
"Memangnya kau pikir aku pengangguran? Pekerjaanku di Halley Development banyak!" Jawab Fairel ikut berapi-api. Fairel juga sudah bangkit dari duduknya.
"Lagipula, aku tadinya kesini mau berlibur, tapi malah bertemu kau yang menyebalkan itu setiap hari! Kacau sudah liburanku!" Ucap Fairel kemudian bersungut-sungut yang malah membuat Gavin tergelak.
"Seharusnya kau mengajak pacarmu kesini agar aku tak mengganggumu!"
"Siapa kemarin nama pacarmu?"
"Beb?" Cerocos Gavin yang langsung membuat Fairel yang tadinya hendak meninggalkan Gavin jadi mengurungkan niatnya.
Perasaan Fairel tak pernah menyebut nama Beth selama disini! Lalu kenapa Gavin bisa menebak-nebak.
"Apa katamu tadi?" Fairel kembali menghampiri Gavin setaya mendelik pada sang sepupu.
"Nama pacarmu! Beb, kan?" Gavin menaik turunkan alisnya ke arah Fairel seolah ucapannya sudah benar.
Siapa Beb?
Bebek?
"Beb! Beb!"
"Salah!" Ujar Fairel seraya menyalak pada Gavin.
"Lalu siapa yang benar? Kau menyebutnya kemarin saat tertidur di hammock!" Ujar Gavin blak-blakan.
Ingatan Fairel langsung tertuju ke kejadian kemarin siang saat Gavin hampir menciumnya. Masih bagus ada Zeline yang menyelamatkan Fairel dari tindakan penistaan tersebut.
Tapi mustahil Fairel menyebut nama Beth, kan?
Meskipun dalam mimpinya memang Fairel melihat wajah gadis menyebalkan bercelana kodok itu!
Ck!
Fairel kesini karena ingin menyingkirkan gadis itu dari pikirannya padahal, tapi kenapa malah dia datang ke dalam mimpi Fairel?
Tidak masuk akal!
"Siapa, Iel?" Tanya Gavin sekali lagi menyentak lamunan Fairel.
"Kau pikir saja sendiri!" Tandas Fairel seraya berlalu meninggalkan Gavin.
Fairel akan bersiap-siap pulang. Liburan sudah usai!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.