Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
MARAH


__ADS_3

Wreeeng! Wreeeng!


Fairel menarik-narik gas motornya, saat ia sudah tuba du depan toko kue Beth yang ternyata memang sudah buka.


Jelas sudah kalau Beth tadi kabur dari tanggung jawabnya merawat Fairel, hanya agar dia bisa membuka toko. Benar-benar menyebalkan!


Wreeeng! Wreeng!


Fairel kembali membuat suara yang berisik, hingga akhirnya Beth keluar dan mendelik pada pria itu.


"Berisik, Iel!" Omel Beth yang langsung menghampiri motor Fairel, lalu mencabut kunci kontak motor agar mesin pembuat polusi suara itu mati detik itu juga.


"Kenapa kau kabur, hah?" Gertak Fairel kemudian yang balik mendelik pada Beth.


"Kabur darimana maksudmu? Tadi aku sudah pamit pada Mbak maid sebelum pulang," tukas Beth beralasan.


"Tapi kau tidak pamit padaku dan kau juga belum merawat lukaku!" Fairel menunjukkan tangannya yang terbalut perban, yang kini sudah sedikit terbuka.


Astaga!


Beth yang tadi salah memasang perban atau memang Fairel yang pecicilan?


"Aku sudah membersihkan lukamu dan mengganti perbannya tadi sebelum pulang. Tapi kenapa ini jadi tak karuan begini bentuknya?" Ujar Beth terheran-heran.


"Kau tak memasang perbannya dengan benar berarti! Rawat ulang!" Perintah Fairel galak.


"Iya!"


"Turun dari motor!" Perintah Beth seraya menarik tangan Fairel. Terang saja Fairel yang belum menurunkan standart motornya sempat hampir jatuh karena ditarik oleh Beth.


"Eh! Eh! Eh!"


"Kau mau membuatku jatuh?" Gerutu Fairel yang malah membuat Beth tertawa kecil.


"Maaf! Aku pikir kau sudah memarkirkan motormu," ujar Beth yang masoh menahan tawanya.


"Sengaja pasti! Niat sekali mencelakaiku!" Gerutu Fairel lagi.


"Nanti aku suruh kau jadi perawat pribadiku, kalau sampai aku jatuh dan tertimpa motor!", ujar Fairel lagi melayangkan ancaman pada Beth.


"Lebay! Paling lecet saja kalau tertimpa motor! Badan kamu kan besar!" Cibir Beth yang langsung membuat Fairel berdecak.


"Sok tahu!"


"Tahulah! Aku juga pernah tertimpa motor dan badanku hanya lecet saja serta lebam di beberapa--"


"Kapan kau tertimpa motor?" Tanya Fairel tiba-tiba yang sudah merengkuh kedua pundak Beth.


"Sudah lama--"


"Lama kapan? Lalu yang lebam dan lecet dimana? Sudah rontgen? CT scan? Periksa lengkap?" Cecar Fairel yang sudah mirip detektif saja.


"Iya, sudah! Dan aku baik-baik saja! Kenapa kau lebay begitu?" Tanya Beth heran.


"Bukan lebay! Tapi memastikan!" Fairel sudah melepaskan rengkuhannya pada pundak Beth.


"Bedakan itu!" Ujar Fairel lagi seraya menuding pada Beth.


"Iya! Jawab Beth malas. Beth akhirnya masuk kembali ke dalam toko dan Fairel turut mengekori gadis itu.


"Kau jadi merawat tanganku, kan, Beth?" Tanya Fairel lagi.


"Iya, jadi!" Jawab Beth yang langsung menghilang ke arah dapur.


"Lalu kenapa malah pergi ke dapur?" Seru Fairel melayangkan protes.

__ADS_1


Namun tak berselang lama, Beth sudah keluar lagi seraya membawa piring berisi rollcake di tangannya.


"Wow! Rollcake!" Ucap Fairel yang kedua matanya langsung berbinar.


"Agar kau tak bawel dan mengeluh lapar lagi saat aku merawat lukamu!" Tukas Beth seraya meletakkan piring rollcake tadi di atas meja. Fairel langsung duduk manis di kursi dan mengulurkan tangannya pada Beth.


"Rawat tanganku dengan baik, selagi aku makan rollcake!" Perintah Fairel kemudian yang hanya membiat Beth berdecak dan memutar bola matanya.


Memang paling enak jadi tukang perintah!


****


Hari sudah beranjak malam, dan Fairel masih belum meninggalkan toko kue Beth. Pria itu masih duduk di kursi seraya memainkan ponselnya sejak tadi.


"Beth! Baterei ponselku habis!" Lapor Fairel saat Beth sedang menghitung uang hasil penjualan hari ini.


"Dicharge!" Jawab Beth tanoa menoleh ke arah Fairel.


"Mana charger-nya? Aku pinjam punyamu!" Ujar Fairel lagi yang hanya menengadahkan tangan tanpa beranjak dari tempatnya.


Beth sontak berdecak, lalu mengeluarkan charger dari kardus ponsel yang tadi dibawakan oleh Abang Timmy. Entah kabelnya cocok dengan ponsel milik Fairel entah tidak! Beth adanya hanya chargeran yang ini!


"Ini!" Ucap Beth seraya mengangsurkan charger tadi ke tangan Fairel.


"Bukan yang ini! Tidak bisa masuk!" Protes Fairel yang langsung membuat Beth memutar bola matanya.


"Yasudah! Pulang sana dan ambil charger-anmu di rumah!" Perintah Beth kemudian yang kini sudah berkacak pinggang. Fairel sontak mendelik pada gadis di depannya tersebut.


"Kenapa lagi?" Geram Beth seraya menghentakkan satu kakinya dan bibirnya mengerucut.


"Ponsel.yang kemarin aku belikan dimana?" Tanya Fairel tetap sambil menatap Beth dengan tajam.


"Di rumah Mama! Aku belum pulang sejak tadi!"


"Jadi, kau masih belum memakai ponsel pemberianku?" Tanya Fairel lagi penuh selidik.


"Belum!"


"Aku memakai ponsel dari Abang Timmy!" Jawab Beth seraya menunjukkan ponselnya yang selalu saja ia simpan di saku depan celana kodoknya.


Kenapa juga Beth gemar memakai celana kodok? Seperti tak ada kostum lain saja!


"Ck!" Fairel berdecak dan langsung menyambar ponsel baru Beth. Lalu tanpa aba-aba, Fairel langsung membanting ponsel yang usianya belum ada sehari tersebut.


Apa?


Beth sampai terperangah dan kehilangan kata-kata menyaksikan ulah barbar Fairel barusan. Kenapa pria itu gemar sekali menghancurkan ponsel Beth?


Apa salah dan dosa ponsel-ponsel Beth?


"Kau bisa memakai ponsel pemberiannku mulai detik ini!" Ucap Fairel kemudian, seraya memungut ponsel Beth yang hancur tadi, lalu mengambil kartu SIM-nya, dan kembali membanting lagi ponsel yang sudah hancur tersebut.


"Ayo ke rumah Mama kamu dan mengambil ponsel pemberianku kemarin!" Ajak Fairel kemudian seraya meraih tangan Beth.


"Tudak usah!" Jawab Beth menahan arah di dadanya.


"Maksudnya tidak usah? Kau masih tidak mau memakai ponsel pemberianku, Beth Bethany?" Cecar Fairel dengan nada suara yang sudah meninggi.


"Tidak!" Beth akhirnya mengangkat wajah lalu menatap Fairel dengan penuh amarah.


"Aku tak akan pernah memakai ponsel pemberianmu! Aku akan mengembalikannya!" Ucap Beth dengan nada tegas seraya gadis itu keluar dari toko. Beth langsung menghampiri motornya, dan tak berselang lama, Beth sudah memacu motornya dan meninggalkan toko serta Fairel yang masih berada di dalam toko yang kini terlihat bingung.


"Dia mau kemana?" Gumam Fairel penuh tanya, seraya menatap ke arah Beth tadi pergi. Sepertinya ke arah rumah.


Apa Fairel susul saja, ya?

__ADS_1


Tapi toko Beth bagaimana?


Fairel akhirnya beeinisiatif untuk menutup toko Beth terlebih dahulu sebelum pria itu lanjut menyusul Beth. Namun baru juga Fairel naik ke atas motornya dan hendak menyalakan mesin, Beth malah sudah kembali lagi bersama motor bututnya.


Beth hanya memarkir motornya serampangan, sebelum kemudian gadis itu buru-buru menghampiri Fairel dan melemparkan sebuah paperbag pada Fairel.


"Ini ponselmu aku kembalikan!" Ucap Beth dengan wajah merah padam menahan amarah.


"Apa kau marah perihal aku membanting ponsel pemberian abangmu tadi? Akan aku ganti dan aku belikan yang baru dan sama seperti tadi," tukas Fairel enteng yang semakin membuat Beth menatap penuh arah pada Fairel.


"Tidak usah, Tuan kaya!"


"Aku tak butuh kau belikan ponsel lagi! Aku masih bisa membeli ponsel untuk diriku sendiri!" Jawab Beth dengan emosi yang benar-benar sudah tak terkendali.


"Beth, jangan lebay!" Fairel tiba-tiba sudah meraih tangan Beth dan seolah menganggap kalau apa yang barusan terjadi hanyalah sebuah gurauan. Bahkan mungkin Fairel juga menganggap kalau kemarahan Beth ini hanya sebuah candaan.


"Aku minta maaf, oke!"


"Ayo ke toko ponsel dan aku belikan ponsel yang sama dengan yang dibelikan abangmu tadi!" Bujuk Fairel sekali lagi yang malah membuat Beth menyentak pegangan tangannya.


"Tidak usah!" Jawab Beth tegas.


"Pulanglah dan berhenti menggangguku! Kita tak ada hubungan apa-apa!" Ucap Beth selanjutnya tetap dengan tatapan tegasnya.


"Kata siapa tak ada hubungan apa-apa! Kita baru jadian siang tadi!"


"Dan kau adalah pacarku, Beth!" Tegas Fairel yang kembali membuat klaim.


"Tidak! Kita tidak pernah pacaran!" Sergah Beth tak kalah tegas.


"Iya, kita pacaran!"


"Kita sudah jadian dan kau adalah pacarku!" Fairel tiba-tiba sudah merengkuh lagi pundak Beth dan menatap gadus di depannya itu dengan tatapan aneh.


"Kau adalah pacarku, Beth Bethany! Jadi jangan menyangkal lagi dan tak perlu merajuk dengan lebay begini!"


"Ayo beli ponsel baru!" Ajak Fairel sekali lagi yang tiba-tiba sudah mengangkat tubuh Beth, lalu mendudukkannya ke atas motor bak anak kecil.


"Aku tidak mau jadi pacarmu dan aku tak mau naik motormu yang berisik ini," ucap Beth dengan bibir yang tetap merengut.


"Baiklah! Kita akan naik motor bututmu, agar nanti jika motornya mogok di tengah jalan, kau bisa mendorongnya!" Tukas Fairel yang kembali mengangkat tubuh Beth lalu memindahkannya ke motor matic Beth yang tadi terparkir serampangan.


"Pegangan!" Perintah Fairel setelah pria itu naik ke atas motor Beth.


"Tidak mau!" Tolak Beth seraya bersedekap dan memalingkan wajah.


"Ck! Apa susahnya pegangan, Beth!" Fairel akhirnya meraih tangan Beth dan memaksa dua tangan mungil itu untuk melingkar di pinggangnya.


"Atau kau mau naik di depan saja?" Tawar Fairel yang langsung membuat Beth menyalak.


"Tidak mau!"


"Kau pikir aku anak kecil!" Gerutu Beth lagi.


"Memang kau masih kecil!" Kekeh Fairel sebelum kemudoan pria itu melajukan motornya meninggalkan Sweety Cake dan juga meninggalkan motornya yang masih terparkir di depan Sweety Cake.


Sepertinya Fairel tak khawatir kalau motornya hilamg atau diambil orang setelah ini!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2