Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
MAU KEMANA?


__ADS_3

"Beth masih sakit kepala, Ma?" Tanya Fairel yang langsung masuk ke kamar dan memeriksa kondisi Beth. Seperti yang dilakukan Mama Tere tadi, Fairel juga langsung meletakkan punggung tangannya di kening Beth.


"Sudah tidak sepertinya. Dia sydah makan banyak barusan," ujar Mama Tere seraya tertawa kecil dan menunjukkan piring kosong di tangannya.


"Acara di bawah sudah selesai, Iel?" Tanya Mama Tere kemudian.


"Sudah, Ma! Makanya Fairel langsung kesini tadi," jawab Fairel sembari duduk di samping Beth.


"Mama juga akan pamit pulang kalau begitu--"


"Mama tidak menginap saja disini? Kata Mom Yumi sudah ada kamar untuk Mama dan Papa." Beth meraih tangan Mama Tere yang sudah bangkit dari duduknya.


"Mama akan bertanya pada papamu dulu!" Ujar Mama Tere sembari menatap sang putri dan memberikan kode agar Beth bicara empat mata dulu dengan Fairel.


"Mama jangan lupa makan juga!" Pesan Fairel saat Mama Tere hendak keluar dari kamar.


"Iya, Iel! Kau sendiri sudah makan?" Mama Tere balik bertanya pada Fairel.


"Belum lapar, Ma!"


"Nanti kalau lapar Iel akan langsung makan rollcake saja," tukas Fairel sembari mengendikkan dagunya ke mini refrigator di dalam kamar.


"Sudah stok, ya?" Kekeh Mama Tere seraya geleng-geleng kepala. Wanita paruh baya itu lalu berpamitan dan keluar dari kamar, meninggalkan Beth dan Fairel.


Sejenak suasana hening setelah Mama Tere pergi.


"Masih jam sebelas," gumam Fairel kemudian seraya melihat arlojinya.


"Bajumu masih di dalam tas, barangkali kau mau ganti baju," ucap Beth seraya bangkit dari duduknya, lalu mengambil minum di sudut kamar.


"Bantu aku melepaskan baju, Beth!" Pinta Fairel yang sudah ikut berdiri dan menyusul Beth. Fairel bahkan sudah melingkarkan kedua lengannya di pinggang Beth yang sedang minum, hingga membuat Beth nyaris tersedak.


"Kau marah, ya?" Tanya Fairel yang kini sudah menyusupkan kepalanya di ceruk leher Beth.


"Tidak!" Kilah Beth sembari mendongakkan kepalanya.


Jangan cengeng, Beth!


Jangan cengeng!


"Lalu kenapa sikapmu jadi dingin begini?" Tanya Fairel yang masih tak mengubah posisinya.


"Dingin bagaimana? Sikapku biasa saja, kok!" Kilah Beth lagi.


"Aku hanya mencintaimu dan aku sudah membuang semua perasaanku pada Rossie!" Fairel langsung membalik tubuh Beth dan menangkup wajah istrinya tersebut.


"Aku hanya mencintaimu, Bethany!" Ucap Fairel sekali lagi dengan raut bersungguh-sungguh.


"Maaf, jika sikapku tadi menyakitimu. Tapi aku bersumpah kalau aku sudah tak menyimpan perasaan apapun pada Rossie!" Ucap Fairel lagi dan Beth masih diam.


"Beth," Fairel ganti merengkuh lembut pundak Beth. Namun hanya sesaat sebelum kemudian Fairel sedikit membuka bagian atas dress Beth.


"Mau apa?" Beth langsung menghentikan gerakan tangan Fairel.


"Memeriksa pundakmu! Takutnya biru-biru lagi seperti dulu!" Fairel lanjut membuka bagian pundak atas dress Beth, lalu memeriksa pubdak istrinya tersebut. Tak ada indikasi membiru.


"Baiklah, aman!"


"Aku sudah minta karyawan hotel membeli salep tadi," kekeh Fairel kemudian seraya mengeluarkan salep dari saku celananya.


"Salep yang dulu masih ada," gumam Beth sedikit merengut.


"Masa masih ada? Tidak kau pakai?" Cecar Fairel yang kembali merengkuh pundak Beth.


"Kan waktu kau memberikannya memang sudah sembuh."


"Eh, tapi pernah aku pakai sekali saat kau membuat pundakku biru lagi waktu itu," ujar Beth lagi mengingat-ingat.


"Kapan?" Tanya Fairel tampak kaget.


"Saat kau menuduhku sebagai maling," jawab Beth yang kembali merengut dan Fairel langsung berdecak.


"Kau sendiri yang mengaku sebagai maling padahal kau tak pernah menciri cincin brengsek itu!" Sergah Fairel emosi.

__ADS_1


"Kau memang sengaja membuatku marah waktu itu, hah? Padahal aku sudah benar-benar jatuh cinta padamu waktu itu dan tak pernah menjadikanmu sebagai pelarian!" Ungkap Fairel blak-blakan.


"Kenapa kau bisa jatuh cinta padaku? Bukankah dulu katamu aku ini gadis aneh dan pembawa sial di hidupmu?" Cecar Beth kemudian merasa penasaran.


"Memang harus ada penjelasan kenapa aku jatuh cinta kepadamu?" Fairel balik bertanya pada Beth yang langsung mengangguk.


"Harus, dong! Katamu semua hal harus ada alasan dan penjelasannya!"


Fairel menghela nafas, lalu membimbing Beth untuk duduk di sofa yang ada di kamar. Fairel lalu merangkul Beth dan mencium sejenak bibir istrinya tersebut, sebelum menjawab pertanyaan Beth tadi.


"Mungkin karena rollcake buatanmu enak dan membuat aku ketagihan," ujar Fairel kemudian yang langsung membuat Beth tertawa kecil.


"Berarti kau jatuh cinta pada rollcake-ku? Kenapa tak menikahi rollcake-ku saja?" Seloroh Beth kemudian seraya tertawa kecil.


"Aku pernah hampir melakukannya, Beth!" Ujar Fairel membuat pengakuan.


"Sudah seperti orang gila saja," gumam Fairel kemudian sembari tertawa kecil.


"Memang kau gila!" Cibir Beth yang langsung membuat Fairel menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


"Apa katamu barusan?"


"Kau gila!" Ulang Beth sekali lagi.


"Gila karenamu!" Fairel sudah menyatukan keningnya dan kening Beth sekarang.


"Aku tergila-gila padamu, Bethany!" Ungkap Fairel lagi yang kini sudah ganti menangkup wajah Beth. Lalu tanpa aba-aba, Fairel langsung mel*mat bibir Beth dan mencecap setiap inchinya. Beth juga tak segan untuk membalas cecapan sang suami yang semakin memanas.


"Sial!" Fairel tiba-tiba mengumpat saat ciumannya dan Beth berakhir.


"Ada apa? Kau sedang datang bulan?" Kelakar Beth karena tumben-tumbenan Fairel tak lanjut menerjangnya setelah ciuman panas mereka berulang kali tadi.


"Bukan itu!" Fairel membuka kancing kemejanya bagian atas, dan Beth sedikit membantu.


"Bibirmu kenapa selalu terasa manis, Beth!" Fairel tiba-tiba sudah mencecap bibir Beth lagi, saat Beth masih berusaha membuka satu persatu kancing kemeja Fairel.


"Iel!" Tegur Beth yang akhirnya selesai juga membuka deretan kancing di kemeja Fairel. Beth lalu mengusap sejenak dada Fairel yang sudah membuatnya terpesona saat kali pertama melihatnya. Dada yang nyaman untuk bersandar apalagi di udara yang dingin.


"Beth!" Fairel tiba-tiba sudah menahan tangan Beth yang sejak tadi mengusap-usap dadanya.


"Kita masih ada acara sekitar..." Fairel melihat arlojinya lagi.


"Dua puluh menit lagi!" Lanjut Fairel sembari mengernyit.


"Mau kemana? Kan sudah tengah malam?" Cecar Beth yang sedikit keberatan jika Fairel mengajaknya pergi lagi. Beth sudah lelah dan ia ingin istirahat malam ini.


"Iya pokoknya ada acara!"


"Kausku mana?" Fairel sudah menanggalkan kemejanya, lalu melempar benda itu serampangan. Beth juga yang akhirnya bangkit berdiri untuk memungut keneja Fairel tadi. Sekalian Beth juga mengambilkan kaus untuk Fairel pakai.


"Pakaikan!" Titah Fairel manja.


Beth hanya menghela nafas, kemudian segera memakaikan kaus lengan panjang tadi ke tubuh Fairel.


"Duduk sini!" Fairel langsung menarik Beth ke atas pangkuannya, begitu Beth selesai memakain ia kaus.


"Mau kemana sebenarnya dua puluh menit lagi?" Tanya Beth yang sudah sangat-sangat tak bersemangat.


"Aku mau makan rollcake. Kau mau menyuapiku sembari kita menunggu tengah malam," ujar Fairel tanpa menjawab pertanyaan Beth. Dasar aneh!


"Rollcake-nya dimana?" Tanya Beth sembari bangkit dari pangkuan Fairel.


"Di kulkas, Sayang!" Jawab Fairel sembari menunjuk ke arah kulkas mini di sudut kamar. Beth akhirnya langsung membuka benda kotak tersebut, dan bebar saja, ada satu box rollcake di dalamnya.


Kapan juga Fairel menaruh rollcake di kamar ini?


Beth mengambil kotak rollcake tadi dan langsung membawanya ke hadapan Fairel.


"Suapi!" Pinta Fairel manja.


"Manja!" Cibir Beth seraya mengambil satu potong rollcake dan mulai menyuapi Fairel.


"Enak!" Puji Fairel berulang kali, di sela pria itu mengunyah rollcake.

__ADS_1


Tepat tengah malam, alarm di arloji Fairel tiba-tiba berbunyi.


"Suapan terakhir!" Fairel langsung melahap sisa rollcake di tangan Beth dan mengunyahnya sedikit tergesa.


"Pelan-pelan, Iel!" Tegur Beth saat wajah Fairel menerah karena kesulitan menelan rollcake tadi. Bergegas mengambil minum sembari menepuk-nepuk punggung Fairel. Setelah menghabiskan satu gelas air, Fairel akhirnya bisa bernafas dengan lega.


"Ayo!" Ajak Fairel kemudian seraya meraih tangan Beth.


"Mau kemana?" Tanya Beth lagi karena tadi Fairel belum menjawab pertanyaannya.


"Melihat sesuatu!" Jawab Fairel sembari menarik-narik tangan Beth.


Meskipun merengut, Beth akhirnya tetap mengikuti langkah Fairel, dan pasangan suami istri itupun keluar dari kamar, lalu naik lift menuju lantai paling atas.


Mau apa coba di atas malam-malam begini? Menghitung bintang?


Ting!


Suara lift yang menandakan kalau mereka sudah tiba di lantai atas, langsung membuat lamuna buyar. Beth hendak melangkah keluar, saat Fairel menahan langkahnya.


"Sebentar, Istriku yang cantik dan manis!" Ujat Fairel yang langsung berpindah ke belakang Beth, lalu menutupkan kedua tangannya di mata Beth.


"Apa, sih?" Protes Beth yang tak paham lagi dengan kelakuan Fairel malam ini.


"Ayo maju pelan-pelan!" Titah Fairel kemudian masih tetap dengan tangan yang menutup kedua mata Beth.


"Jangan ceburin aku ke kolam, ya!" Beth memberikan peringatan pada Fairel.


"Tidak akan!"


"Maju terus!" Fairel memberikan aba-aba pada Beth


"Terus, terus!"


"Terus kemana, sih?" Tanya Beth bingunh karena Fairel yang terus menyuruhnya untuk maju ke depan. Tangan Beth sudah meraba-raba ke depan dan memastikan kalau taka ada jebakan di depan yang mungkin saja sudah disiapkan oleh Fairel yang kerap usil


"Sedikit lagi, Sayang!" Bisik Fairel sebelum kemudian pria itu meminta Beth berhenti.


"Stop!"


"Eh!" Beth benar-benar kaget karena saat kakinya melangkah ke depan tadi seperti sudah tak ada pijakan.


Jangan sampai setelah ini Fairel mengajaknya lompat dari atas gedung!


"Hampir saja, ya!" Kekeh Fairel tanpa dosa yang langsung membuat Beth berdecak.


"Sudah boleh dibuka?" Tanya Beth sembari berusaha menyingkirkan tangan Fairel yang menutupi matanya.


"Hitung dulu sampai tiga!"


"Tiga!" Ucap Beth cepat.


"Dari satu!" Ucao Fairel geregeta. Gantian Beth yang terkekeh.


"Satu...."


"Dua...."


"Ti....."


"Iya, lanjutkan!" Titah Fairel.


"Tiga!" Ucao Beth bersamaan dengan tangan Fairel yang akhirnya menyingkir daru kedua mata Beth.


Beth mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak, dan wanita itu langsung ternganga melihat pemandangan yang kini ada di depan matanya.


"Selamat ulang tahun, Beth!!"


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2