Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
KENAPA TIDAK DATANG?


__ADS_3

"Ini! Kau bantu pria itu mengompres lebamnya." Timmy mengangsurkan satu plastik es batu pada Beth.


"Namanya Iel, Bang!" Ucap Beth mengingatkan Timur yang hanya berdecak.


"Iya!"


"Kau lapar tidak?" Tanya Timmy saat Beth hendak kembali ke mobil.


"Sedikit," jawab Beth sembari meringis.


"Baiklah, nanti aku belikan nasi--"


"Sekalian untuk Iel, Bang!" Pesan Beth menyela kalimat Timmy yang belum selesai.


"Iya!" Jawab Timmy yang sudah berbalik dan masuk ke tenda angkringan berwarna biru itu. Sementara Beth langsung kembali ke mobil untuk menemui Fairel yang enggan turun dari mobilnya.


"Bantu mengompres sekalian!" Perintah Fairel saat Beth baru membuka pintu mobil.


"Iya! Aku cari sapu tangan dulu," Beth merogoh ras selempangnya untuk mencari saputangan yang biasa ia selipkan di dalam. Beth jarang memakai sebenarnya, tapi selalu membawa saja untuk berjaga-jaga.


"Maaf, permisi!" Ucap Beth seraya meletakkan es batu yang sudah ia bungkus memakai sapu tangan ke mata Fairel yang lebam.


"Sapu tanganmu steril, kan? Jangan sampai bekas mengelap ingus!" Cecar Fairel yang langsung membuat Beth berdecak.


"Aku tidak sedang flu!" Tukas Beth sedikit galak. Di saat bersamaan terdengar suara tak ramah dari perut Fairel.


Kruuk! Kruuk!


Sial! Fairel tadi memang kelaparan dan belum jadi membeli makanan. Sekarang cacing-cacing di perut Fairel sudah mulai berdemo!


"Beth!" Abang Timmy sudah datang seraya membawa satu kantong plastik nasi beserta gorengan.


"Itu apa?" Tanya Fairel sok kepo.


"Nasi dan gorengan barangkali kau lapar," jawab Timmy cepat mendahului Beth yang juga hendak menjawab.


"Terima kasih, Bang!" Ucap Beth pada Abang Timmy.


"Abang makan di dalam tenda, ya!" Pamit Abang Timmy kemudian seraya meninggalkan Beth dan Fairel.


"Kau sudah lapar, kan? Mau langsung makan nasi atau gorengan du--" Beth belum selesai menawarkan saat tangan Fairel sudah dengan cepat mencomot satu tahu isi dari dalam plastik.


"Lanjutkan mengompresnya dan jangan bengong!" Perintah Fairel yang langsung membuay Beth mendengus. Beth lalu lanjut mengompres mata Fairel sembari memperhatikan Fairel yang begitu lahap memakan gorengan. Satu habis ambil satu lagi. Begitu seterusnya.


"Aku mau makan nasinya," ucap Fairel kemudian yang tentu saja langsung membuat Beth terheran-heran. Sudah habis sekitar enam buah gorengan dan ternyata pria ini masih lapar?


Luar biasa!


"Beth! Kenapa bengong?" Gertak Fairel yang langsung membuat Beth buru-buru membuka satu bungkusan nasi.


"Suapi!" Perintah Fairel lagi yang langsung membuat Beth menganga.


"Tanganku memegang kompres!" Ujar Fairel beralasan.


"Aku bisa membantu memeganginya," sergah Beth cepat.


"Tanganmu sudah terlanjur kotor!" Fairel mengendikkan dagunya ke arah tangan Beth.


"Akan aku lap pakai tisu!" Jawab Beth seraya meraih tisu di dashboard mobil. Fairel langsung berdecak.

__ADS_1


"Memang apa susahnya menyuapiku, Beth? Kan ada sendok!"


"Apa kau takut kalau pacarmu yang buaya dan biawak itu akan cemburu?" Cerocos Fairel yang langsung membuat Beth diam sejenak.


"Video tadi hanya editan, kan?" Tanya Beth kemudian seraya menyendok nasi, lalu menyodorkannya ke depan mulut Fairel.


Ya, Beth akhirnya menyuapi Fairel juga!


"Hhh! Masih belum percaya ternyata!"


"Video tadi asli!"


"Foto-fotonya juga!" Jawab Fairel dengan tatapan tegas. Pria itu kembali membuka mulut, seolah memberikan kode agar Beth menyuapinya lagi.


"Reandra itu pria playboy dan suka gonta-ganti cewek! Jangan mau dibodohi, Beth!"


"Toh ibunya Reandra juga stdah datang melabrakmu tempo hari. Kenapa kauasoh saja keras kepala?" Cecar Fairel tak mengerti.


"Itu bukan ibunya Reandra!" sergah Beth menyangkal. Meskipun kenyataannya benar!


"Ck! Terserah saja!"


"Terus saja berkubang dengan kebodohan dan kebucinanmu itu!" Ketus Fairel yang sudah menyambar nasi bungkus dari pangkuan Beth. Fairel lalu melahap sendiri sisa nasi bungkus yang tadi disuapkan Beth.


"Kenapa porsinya kecil sekali? Nasi apa ini?" Gerutu Fairel yang sudah menghabiskan satu bungkus nasi.


"Bisa tambah kalau masih lapar." Beth membukakan satu bungkus nasi lagi untuk Fairel.


"Kau tidak makan?" Tanya Fairel yang sudah mulai makan lagi.


"Nanti saja," jawab Beth sembari menatap kosong ke arah alun-alun kota yang sudah sepi.


Mungkin karena ini memang hampir tengah malam.


"Memangnya, kau sudah berapa kali bertemu Reandra sampai bisa mengecapnya sebagai pria brengsek?" Tanya Beth yang akhirnya angkat bicara.


"Berkali-kali!"


"Di acara perusahaan dan wanita yang digandeng Reandra itu selalu berganti-ganti," jawab Fairel blak-blakan.


"Mungkin kau salah lihat!" Beth masih saja mencari celah pembenaran.


"Mataku belum rabun!"


"Baru malam ini saja sedikit rabun karena ditinju oleh abangmu!" Jawab Fairel yang membuat Beth menahan tawa.


"Malah tertawa! Bantu kompres, cepat!" Perintah Fairel galak sebelum lanjut melahap nasi bungkusnya. Beth mengambil sapu tangan berisi es batu dan lanjut mengompres mata Fairel lagi.


"Masih mau menyangkal tentang kebrengsekan Reandra?" Tanya Fairel sekali lagi yang hanya membuat Beth mengendikkan kedua bahunya.


"Kenapa kau seperti peduli sekali? Kita bahkan tak pernah akur selama ini," tanya Beth seraya menatap heran pada Fairel.


"Tidak akur gara-gara kau menggagalkan lamaranku pada--" Fairel tak jadi melanjutkan kalimatnya dan pria itu langsung mendengus.


"Lupakan saja!"


"Kau masih belum mengembalikan cincinku!" Tukas Fairel yang langsung mengalihkan pembicaraan.


"Sudah kubilang aku tidak tahu!" Sergah Beth sedikit emosi.

__ADS_1


Ternyata setelah sepekan berlalu, Fairel masih saja menuduh Beth!


"Tapi kau yang menemukan kotaknya!"


"Hanya kotak saja dan tak ada apapun di dalamnya!" Sergah Beth cepat.


"Kotaknya juga sudah terbuka saat kutemukan di saku celanamu. Aku juga sudah memeriksa semua saku celanamu dan cincinnya sama sekali tak ada!" Cerocos Beth kemudian menjelaskan lebih detail kronologi malam itu.


"Jadi menurutmu, cincinnya jatuh di kamar mandi rumah Angga sebelum kau membawa pulang bajuku, begitu?" Tanya Fairel menerka-nerka.


"Mungkin saja!"


"Kau tergesa saat melepaskan celana waktu itu, kan? Jadi bisa saja cincinnya menggelinding keluar lalu masuk ke lubang pembuangan!" Beth membeberkan kemungkinan-kemungkinan.


"Bisa begitu, ya?" Fairel bergumam dan masih bertanya-tanya.


"Lagipula, kenapa kau masih saja ngebet mengejar-ngejar Rossie yang jelas-jelas sudah jadi pacarnya Keano? Tadi siang saja saja mereka berdua ke toko untuk mengambil kue," cecar Beth kemudian yang langsung membuat Fairel berdecak.


"Kau sendiri juga masih tergila-gila pada Reandra playboy! Jadi tak perlu sok-sokan menghakimi!" Sergah Fairel tak mau kalah.


Rossie tak menanggapi lagi karena Abang Timmy sydah kembali dan masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana? Sudah mendingan?" Tanya Abang Timmy sembari memperhatikan lebam di mata Fairel.


"Masih tetap sakit!" Keluh Fairel manja.


"Masih belum bisa menyetir jadinya?" Tanya Beth memastikan.


"Tentu saja belum!" Fairel langsung menyalak.


"Kita antar dia pulang kalau begitu, Beth. Nanti pulang baru naik taksi," cetus Timmy memberikan ide.


"Tengah malam ada taksi, Bang?" Tanya Beth ragu.


"Ada!" Jawab Timmy yakin.


"Pindah sini!" Titah Timmy kemudian meminta Beth untuk pindah ke jok depan. Sekarang tinggal Fairel seorang diri di jok belakang.


"Kalian tahu alamat rumahku memang?" Tanya Fairel dari jok belakang.


"Tahu!" Jawab Beth seraya menunjukkan maps di ponselnya yang siang tadi dikirim Rossie.


"Dapat darimana alamat rumahku? Kau menyadap ponselku?" Tuduh Fairel lagi yang langsung membuat Timmy tergelak. Sementara Beth langsung memutar bola matanya.


"Rossie yang mengirimkan alamat rumahmu saat dia mengantar undangan pertunangan Abang Angga dan Reina siang tadi," jelas Beth akhirnya.


"Jadi, kau dapat undangan juga? Lalu kenapa tadi tak datang?" Cecar Fairel selanjutnya.


"Aku harus merawat Abang Timmy yang habis kecelakaan!" Jawab Beth beralasan.


Padahal alasan sebenarnya karena Beth tidak mau bertemu Fairel.


Eh, tapi sekarang malah Beth satu mobil dengan pria menyebalkan itu dan akan mengantarnya pulang!


Menyebalkan!


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2