
"Maaf, sedikit terlambat, Aunty dan Uncle!"
"Tadi Iel tak melihat jam dan terlalu asyik mengerjakan pekerjaan di toko. Jadi Beth terlambat menutup toko dan sebagai permintaan maaf, Iel antar Beth pulang ke rumah."
"Bukankah anak gadis tak baik kalau mengendarai motor malam-malam," Cerocos Fairel panjang lebar saat pria itu mengantar Beth pulang.
Padahal Beth sudah bilang agar Fairel tak usah turun dan Beth sendiri yang akan menjelaskan pada Mama dan Papa. Tapi Fairel keras kepala sekali dan malah ikut-ikutan turun lalu mengarang indah begini di depan Mama Tere dan Papa Will.
Dasar!
Lagipula, siapa juga yang terlambat menutup toko? Beth pulang terlambat kan karena dipaksa Fairel menemaninya membeli ponsel baru.
"Padahal jaraknya tak terlalu jauh, dan Beth bisa menghubungi Uncle kapan saja, misalnya dia takut pulang sendiri."
"Tak perlulah sampai merepotkan Nak Iel begini," tukas Papa Will merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa, Uncle! Iel tak merasa direpotkan, kok!" Ujar Fairel cepat.
"Terima kasih sekali lagi, Nak Iel!" Gantian Mama Tere yang mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama, Aunty! Iel langsung pamit, ya!"
"Selamat malam!" Pamit Fairel akhirnya seraya mencium punggung tangan Mama Tere dan Papa Will secara bergantian.
Tak berselang lama, mobil Fairel sudah melaju meninggalkan rumah kedua orang tua Beth tersebut.
"Mama kira kau tadi ke toko hanya untuk mengerjakan pesanan dan tidak membukanya, Beth!"
"Kau berubah pikiran?" Cecar Mama Tere saat Beth hendak masuk kamar.
"Sebenarnya bukan Beth yang berubah pikiran, Ma!" Kilah Beth cepat.
"Tapi Iel yang memaksa Beth agar membuka toko karena katanya dia mau makan rollcake di dalam toko, sambung Beth lagi melengkapi penjelasannya.
"Berarti tokonya hanya buka untuk Iel seorang?" Seloroh Papa Will kemudian yang langsung membuat Beth merengut.
"Beth dan Iel tak ada hubungan apa-apa, Pa!" Ujar Beth cepat, sebelum gadis itu menghilang ke dalam kamarnya.
"Memangnya yang bilang ada apa-apa siapa, Beth?" Seru Papa Will seraya terkekeh.
Mama Tere sontak langsung memukul lengan sang suami.
"Apa? Wajah putrimu memerah barusan," ujar Papa Will seolah sedang memberitahu sang istri.
"Iya, trus?"
"Iel sepertinya pria yang baik dan cocok untuk Beth," pendapat Papa Will kemudian.
"Tapi tetap pilihan sepenuhnya ada di tangan Beth, Pa!"
"Kita tak akan memaksa Beth, sekalipun ya..... Iel memang pria yang baik," tukas Mama Tere panjang lebar.
"Iya, Mama! Papa kan hanya berpendapat." Papa Will sudah mendekap sang istri sekarang.
****
__ADS_1
"Pagi, Mom!" Sapa Fairel seraya memeluk dan mencium pipi Mom Yumi. Langsung terdengar geraman Dad Liam dari seberang meja makan.
Dasar bucin!
"Pagi!"
"Bagaimana kencannya semalam dengan Beth?" Tanya Mom Yumi yang langsung membuat Dad Liam, Reina dan Angga menghentikan sejenak aktivitas sarapan mereka.
"Abang kencan bersama siapa, Mom?" Tanya Reina penuh selidik.
"Bukan siapa-siapa! Mom hanya sedang bercanda!" Sahut Fairel cepat sebelum Mom Yumi buka suara.
Fairel lalu mengedarkan pandangannya ke atas meja makan untuk melihat menu sarapan apa yang sedang dinikmati oleh keluarga Halley pagi ini. Kebetulan Reina dan Angga memang menginap di rumah semalam. Pasangan pengantin baru itu baru pulang dari Aussie untuk kunjungan bisnis sekaligus honeymoon.
"Tapi semalam kau bersama Beth, kan?"
"Pas Mom telepon, ada suaranya Beth," cerita Mom Yumi kemudian seolah sedang membuka rahasia Fairel semalam.
"Iel ada sedikit perlu dengan Beth semalam untuk...." Fairel menjeda sebentar kalimatnya dan pria itu sudah menghampirinya kursi Reina.
"Untuk menagih pesanan rollcake!" Lanjut Fairel kemudian seraya mengambil rollcake yang berada di piring Reina, lalu memasukkan semuanya ke dalam mulut.
"Abang! Kenapa--"
"Itu rollcake-ku! Kenapa kau sembarangan mengambil tanpa izin?" Omel Fairel sebelum Reina selesai melayangkan protes.
"Hanya ambil dua potong!" Sergah Reina kemudian.
"Lagipula, masih ada beberapa box juga di dalam kulkas!" Ujar Reina lagi.
"Dasar pelit!" Cibir Reina kesal.
"Itu rollcake dari toko kue Beth, Bang?" Gantian Angga yang bertanya.
"Iya! Yang semalam aku ambil," jawab Fairel.
"Pantas saja rasanya tidak enak!" Sahut Reina ikut berkomentar, dan semua mata sontak langsung tertuju pada adik Fairel tersebut.
"Kenapa? Rasa rollcake-nya memang tidak enak!" Komentar Reina sekali lagi.
"Apa lidahmu sedang sariawan, sampai bilang kalau rollcake -nya Beth tidak enak?" Tanya Fairel seraya melemparkan tatapan aneh pada sang adik.
"Kenyataannya--"
"Sudah cukup!" Mom Yumi akhirnya angkat bicara dan menengahi perdebatan anak-anaknya.
"Tidak baik mencela makanan, saat kita sedang makan, Rei!" Nasehat Mom Yumi kemudian pada Reina yang kini merengut.
"Nanti biar aku pesankan ke Beth kalau kau masih mau rollcake-nya, Rei!" Tukas Angga seraya mengusap tangan Reina yang kini malah ganti mendelik pada suaminya tersebut.
"Kenapa?" Tanya Angga bingung. Namun alih-alih menjawab, Reina malah justru berdecak pada sang suami.
"Ayo berangkat!" Ajak Reina kemudian seraya bangkit dari duduknya.
"Sarapanku belum habis," ujar Angga seraya menunjuk ke roti di piringnya yang masih ada setengah.
__ADS_1
"Kau kenapa, Rei? Sedang PMS?" Celetuk Fairel yang kini sudah ikut duduk di dekat Dad Liam yang sejak tadi hanya diam menyimak perdebatan putra-putrinya.
"Tidak kenapa-kenapa! Hanya mendadak hilang selera makan karena rollcake tadi," dengkus Reina seraya bersedekap dan wajah adik Fairel itu terlihat kesal.
"Tapi tadi sebelum Abang Iel mengambil rollcake dari piringmu, kau berulang kali memuji rollcake Beth," tukas Angga yang tentu saja langsung membuat Fairel terkekeh.
"Sudahlah! Aku akan ke kantor naik taksi!" Rengut Reina kemudian seraya meninggalkan Angga dan yang lainnya di ruang makan.
"Rei!" Angga akhirnya buru-buru menghabiskan sarapannya, lalu berpamitan pada Mom Yumi dan Dad Liam sebelum lanjut menyusul Reina yang sepertinya sedang ngambek.
"Jadi, tadi malam kau dimana?" Tanya Dad Liam yang akhirnya buka suara setelah Angga xan Reina pergi.
"Di toko Beth, Dad!" Jawab Fairel santai.
"Sedang apel? Sudah sejauh mana hubunganmu dengan Beth?" Cecar Dad Liam lagi.
"Sejauh mana apanya? Kami tidak ada hubungan apa-apa!" Sanggah Fairel cepat.
"Iel itu hanya menunggu Beth menyelesaikan kue yang Iel pesan."
"Beth saja yang lamban mengerjakannya, hingga membuat Iel harus menunggu sampai hampir tengah malam," tutur Fairel yang sedikit mengarang indah.
"Lamban mengerjakan karena kamu ganggu mungkin," seloroh Mom Yumi yang sudah bangkit berdiri, lalu membereskan piring bekas sarapan Reina, Angga, dan juga Dad Liam.
Padahal ada maid di rumah, tapi Mom Yumi malah memilih melakukannya sendiri.
"Siapa yang mengganggu? Iel saja sibuk memeriksa berkas!" Tukas Fairel beralasan.
Fairel yang juga sudah menyelesaikan sarapannya, lanjut menghampiri kulkas, lalu mencomot satu potong rollcake dari dalam kotak dan melahapnya langsung di depan kulkas.
"Hmmmm! Enak!" Puji Fairel di sela-sela mulutnya mengunyah rollcake. Pria itu lalu menutup lagi pintu kulkas, saat teelihat Mom Yumi yang menyodorkan kotak bekal pada Fairel.
"Untuk apa, Mom?" Tanya Fairel bingung.
"Barangkali kamu mau bawa rollcake Beth ke kantor," ujar Mom Yumi.
"Tidak usah!" Tolak Fairel cepat.
"Nanti saat jam istirahat, Iel tinggal ke toko mengambil rollcake lagi untuk di kantor."
"Yang ini kan untuk stok di rumah," ujar Fairel panjang lebar sambil sedikit membenarkan dasinya.
"Ayo berangkat, Dad!" Ajak Fairel kemudian penuh semangat.
"Ada meeting pagi, ya?" Dad Liam meneguk habis minumannya sebelum bangkit berdiri.
"Ya!" Jawab Fairel sembari berlalu duluan keluar dari rumah. Dad Liam menyusul tak berselang lama, setelah pria paruh baya itu berpamitan pada sang istri.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1