Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
KAPAN BUKA?


__ADS_3

"Kau ke toko hari ini, Beth?" Tanya Mama Tere, setelah keluarga kecil itu menyelesaikan sarapan mereka.


"Iya. Tapi mungkin agak siang, Ma!" Jawab Beth sembari membereskan piring bekas sarapan di atas meja.


"Kemarin toko tutup karena Mama kamu tidak enak badan. Shanty juga izin karena katanya ada acara keluarga," tukas Papa Will memberitahu Beth.


"Iya, Pa!"


"Shanty juga menghubungi Beth dan katanya dia masih cuti sampai lusa karena saudaranya menikah," ujar Beth sebelum kemudian gadis itu berlalu ke arah dapur seraya membawa tumpukan piring kotor.


"Papa berangkat kerja dulu, Beth!" Ucap papa Will dari arah meja makan, pada Beth yang kini sibuk mencuci piring bekas sarapan.


"Iya, Pa!" Jawab Beth sekenanya. Beth lalu kembali berkutat dengan piring dan peralatan masak di depannya. Sementara Mama Tere sudah ikut ke depan untuk mengantar Papa Will sampai ke teras.


Ya, nanti kalau Beth sudah menikah dan punya suami pekerja keras seperti Papa Will, Beth juga akan mengantarnya ke teras setiap pagi, menyiapkan semua keperluannya sebelum berangkat kerja, lalu mencium punggung tangan pria tersebut. Namun pertanyaannya, siapa pria yang akan menjadi suami Beth? Sekarang dia dimana, sedang apa dan kapan dia akan dipertemukan dengan Beth?


Benar-benar masih menjadi misteri!


Beth sudah selesai mencuci piring. Gadis itu lanjut mengambil beberapa wadah dari almari penyimpanan dan membawanya ke meja makan.


Ya, Beth akan mengantarkan makanan untuk Abang Timmy, sekalian gadis itu akan memastikan kondisi sang abang.


"Beth, itu makanannya mau dibawa kemana?" Tanya Mama Tere yang sudah kembali dari teras.


"Ke kost-an Abang Timmy, Ma!"


"Semalam Abang Timmy menelepon Beth dan minta dibawakan sarapan dari rumah. Kangen masakan mama katanya," ujar Beth sembari tangannya cekatan memindahkan lauk dan sayur sisa sarapan tadi ke dalam wadah.


"Kalau kangen masakan Mama, seharusnya dia pulang!" Ujar Mama Tere yang sepertinya sedikit kesal.


"Abang Timmy sedang tidak enak badan, Ma! Makanya ini Beth mau kesana antar makanan dan antar obat," tukas Beth kemudian berharap pengertian dari Mama Tere.


Tapi yang sebenarnya terjadi, Abang Timmy kan memang sedang tidak baik-baik saja. Kemarin saja pria itu baru krluar dari rumah sakit.


"Abang kamu sakit?" Raut wajah Mama Tere sudah berubah khawatir sekarang.


"Katanya hanya kecapekan, Ma!" Ringis Beth kemudian yang sepertinya sudah salah bicara. Bagaiamana kalau nanti...


"Mama ikut denganmu ke kost-an Timmy kalau begitu," ujar Mama Tere kemudian sesuai dengan yang ditakutkan Beth.


Aduh!


Bagaimana kalau nanti Mama Tere melihat wajah Abang Timmy yang babak belur lagi?


"Kita pergi jam berapa, Beth?" Tanya Mama Tere yang langsung menyentak lamunan Beth.


"Hah? Mama yakin mau ikut?" Tanya Beth kemudian yang masih memikirkan cara agar Mama Tere batal ikut.


"Iya! Mama mau melihat kondisi Timmy!"


"Mama siap-siap dulu!" Ujar Mama Tere lagi yang sudah berlalu menuju ke kamarnya.


"Beth juga akan mandi dulu, Ma!"


"Mungkin agak lama!" Ucap Beth yang bergegas mencuci tangan, lau pergi ke kamar. Beth harus secepatnya menghubungi Abang Timmy agar abangnya itu mebcari cara untuk menyembunyikan lebamnya.


Tapi caranya apa?


Memakai kacamata hitam seperti Fairel waktu itu? Tapi kan lebamnya abang Timmy yang paling kentara di atas bibir dan di tulang pipi! Mana bisa ditutup pakai kacamata?


Aduh! Bagaimana ini?


Berpikir, Beth! Berpikir!


Beth terus bermonolog dalam hati sembari kedua netra gadis itu mencari keberadaan ponselnya yang semalam entah ia letakkan dimana.

__ADS_1


"Ish! Dimana, sih?" Beth mulai frustasi karena tak ingat pada ponselnya yang semalam ia silent juga.


Bodoh! Bodoh! Bodoh!


"Ponselku dimana?" Tanya Beth pada dirinya sendiri, sembari gadis itu menumpukan kedua tangannya di atas meja rias. Saat itulah terdengar getaran dari bawah meja yang langsung bisa Beth kenali.


Beth bergegas membuka laci meja rias, dan benar saja. Ponsel Beth ada di dalam laci dan saat ini sedang bergetar hebat karena ada telepon yang masuk dari...


Nomor asing!


"Ha--"


"Beth! Kenapa tokomu belum buka?" Langsung terdengar teriakan daei Fairel, begitu Beth mengangkat telepon.


Sial! Beth lupa menamai kontak Fairel, hingga ia mengangkat telepon dari pria menyebalkan itu!


"Beth!" Panggil Fairel lagi yang benar-benar membuat telinga Beth jadi berdenging.


Dasar speaker konslet!


"Iya, ada apa?" Beth balik berteriak pada Fairel demi meluapkan rasa kesalnya.


"Tokomu kenapa belum buka? Aku mau beli rollcake!"


"Toko buka setelah makan siang karena aku harus membuat rollcake-nya dulu," ujar Beth beralasan. Tapi Beth memang belum memeriksa stok rollcake di toko. Entah masih ada atau sudah habis, Beth tidak tahu.


"Kenapa tak dibuat sekarang? Aku tunggu!"


"Ck! Aku masih harus pergi--"


"Mau kemana lagi? Menemui Reandra?"


"Bukan!" Sergah Beth galak. Kenapa juga Fairel masih terus membawa-bawa nama pria kadal cap buaya itu!


"Buka dulu tokonya, lalu kau pergi ke kost-an Abangmu! Nanti aku antar!"


"Tidak bisa!" Sergah Beth cepat.


"Tentu saja bisa! Hanya membuka pintu toko apa susahnya, hah? Aku tadi tidak sarapan hanya demi bisa makan rollcake-mu!"


"Siapa juga yang menyuruhmu tak sarapan," sungut Beth mulai kesal.


"Ck! Ke toko sekarang dan buka pintunya!"


"Tidak mau!" Jawab Beth tegas.


"Aku akan mendobrak pintu tokomu kalau begitu!"


"Dobrak saja! Aku tak peduli!" Jawab Beth acuh.


"Beth, Bethany! Kau benar-benar akan membuatku gila!"


"Terserah saja!" Ujar Beth seraya menutup telepon dari Fairel.


Tak berselang lama, ponsel Beth kembali berdering dan lagi-lagi Fairel menelepon.


"Ck! Maunya apa, sih?" Gerutu Beth seraya me-reject telepon dari Fairel. Namun pria itu kembali menelepon Beth.


Ish!


Beth akhirnya memblokir nomor Fairel, lalu gadis itu bergegas menghubungi Abang Timmy.


"Angkat, Bang!" Gumam Beth mulai kesal karena sang abang yang mengabaikan teleponnya.


"Masih tidur apa, ya?" Gumam Beth menerka-nerka.

__ADS_1


"Beth! Sudah belum yang mandi?" Tanya Mama Tere dari luar kamar.


Hah? Beth bahkan belum jadi mandi tadi gara-gara Fairel menyebalkan.


"Bentar, Ma! Beth masih pilih baju!" Jawab Beth sembari berpikir ia harus menghubungi siapa sekarang untuk membangunkan Abang Timmy.


Siapa? Siapa? Ayo berpikir, Beth!


"Yvone!" Cetus Beth yang akhirnya ingat pada sahabatnya tersebut.


Bergegas Beth menekan nomor Yvone dan meminta bantuan pada sahabatnya tersebut.


"Halo, Beth!"


"Yv, kau sibuk?" Tanya Beth to the point.


"Tidak! Aku baru mau ke temoat kerja."


"Kau bisa mampir ke kost-an Abang Timmy dulu?" Pinta Beth memohon.


"Timmy kenapa memangnya? Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak! Bukan!" Beth menghela nafas panjang sejenak agar bicaranya tak terburu-buru dan Yvone tidak bingung.


"Mama mau ke kost-an Abang Timmy. Kau tahu sendiri kalau wajah Abang Timmy masih lebam," jelas Beth kemudian pada Yvone.


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Bantu Abang Timmy menyembunyikan lebamnya sekalian kau bangunkan abang Timmy--"


"Kenapa bukan kau saja yang membangunkan?"


"Aku sudah meneleponnya berulang kali tapi tak diangkat, Yv!" Ujar Beth seraya mengusap wajahnya sendiri.


"Lalu jika teleponmu saja tak bisa membuatnya bangun, bagaimana dia akan bangun dengan ketukan di pintu?"


"Kau langsung masuk saja nanti! Ada kunci cadangan di bawah pot," tukas Beth memberitahu satu rahasia Abang Timmy pada Yvone. Beth juga tidak tahu kenapa Abang Timmy menyembunyikan kunci di bawah pot. Katanya waktu itu untuk berjaga-jaga saja andai kunci yang dipegang Abang Timmy hilang.


Masuk akal, sih!


"Pot bunga yang mana?"


"Di depan kost! Pot yang isinya bunga mini sunflower. Kau cari saja nanti!" Jelas Beth panjang lebar sembari berharap Yvone tak akan bingung.


"Kau bisa, kan, Yv!" Pinta Beth memohon sekali lagi.


"Iya, aku akan ke kost-an Timmy dan membangunkannya, lalu memakaikan concealer untuk menyamarkan lebam di wajahnya..."


"Ide bagus!" Sahut Beth cepat.


"Terima kasih atas bantuanmu, Yv! Kita bertemu di kost-an Abang Timmy nanti!" Punglas Beth bersamaan dengan teleppn yang sudah terputus.


Beth akhirnya bisa bernafas lega!


"Beth--"


"Iya, Ma! Sepuluh menit lagi!" Sahut Beth seraya berlari masuk ke dalam kamar mandi. Beth sepertinya akan mandi kilat!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2