Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
TRAGEDI


__ADS_3

"Selamat ulang tahun, Rossie!"


"Maukah kau menjadi pacarku, tunanganku, istriku?" Ucap Fairel sembari menggenggam tangan Rossie dengan erat.


"Mau, mau, mau!" Ucap Fairel lagi dengan nada memaksa pada Rossie yang masih tampak berpikir.


"Mau, ya!"


"Mau!" Pinta Fairel lagi penuh semangat.


"I---"


^^^So, I say a little prayer^^^


^^^And hope my dreams will take me there^^^


^^^Where the skies are blue^^^


^^^To see you once again, my love.^^^


Fairel langsung terlonjak saat mendengar dering ponselnya yang menandakan ada panggilan masuk. Pria itu mengerjap beberapa kali untuk memastikan kalau yang baru saja terjadi tadi bukanlah mimpi....


"Sial! Cuma mimpi!" Gerutu Fairel kemudian setelah kesadarannya kembali. Rupanya Fairel masih berada di kamar dan tadi ia memang sempat tertidur, setelah pulang dari toko perhiasan.


"Padahal Rossie belum mengatakan iya!" Gumam Fairel lagi penuh sesal karena mimli indahnya yang harus terputus di tengah jalan dan bersambung.


Ponsel Fairel kembali berdering, setelah tadi Fairel tak mengangkatnya. Segera Fairel melihat siapa yang menelepon, dan setelah melihat nama salah satu rekan bisnis di layar ponsel, Fairel buru-buru mengangkatnya.


"Halo, selamat malam!" Sambut Fairel yang langsung lanjut membahas tentang beberapa hal. Pria itu juga melemparkan tatapannya ke jam dinding di kamar yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Cukup lama Fairel berbicara di telepon, sebelum akhirnya pembicaraan berakhir dan Fairel segera menarik nafas dalam-dalam. Rasa kantuk Fairel juga sudah menguap pergi dan Fairel memutuskan untuk pergi ke bawah saja sembari menunggu tengah malam.


Ya, Fairel harus pergi saat tengah malam ke rumah Rossie untuk memberikan kejutan.


Kan tidak lucu jika Fairel memberikan kejutannya sekarang! Ulang tahun Rossie saja masih besok!


Fairel menuruni tangga sembari bersiul santai. Lampu di dapur terlihat masih menyala, sedangkan lampu di ruang tengah dan ruang tamu malah sudah dimatikan oleh maid.


Apa Mom dan Dad sudah pulang?


Tadi kedua orang tua Fairel itu memang pamit menghadiri acara entah apa Fairel juga tidak tahu dan tidak mau tahu! Yang terpenting bukan Fairel yang disuruh Dad Liam untuk menggantikannya lagi.


Fairel sudah bosan dengan acara-acara pesta apalah. Kecuali pesta ulang tahun Rossie tentu saja!


"Reina!" Tegur Fairel saat mendapati Reina yang sepertinya baru saja mengambil sesuatu dari dalam kulkas. Gadis itu sudah hendak menutup kembali pintu kulkas.


"Kau sedang a-" Fairel tak jadi melanjutkan pertanyaannya saat netranya sekilas melihat kue yang ia siapkan untuk kejutan Rossie dan tadi ia simpan di dalam kulkas sekarang hanya tinggal....


Setengah saja!


"Reina!" Fairel buru-buru menghampiri Reina dan membuka kembali pintu kulkas, sebelum kemudian pria itu memekik dengan lebay.


"Apa yang sudah kamu lakukan, Rei!!" Fairel merem*s rambutnya sendiri dengan frustasi karena merasa geregetan pada Reian yang sudah lancang menghancurkan kue Fairel untuk Rossie.


Dasar adik kurang ajar!


"Ada apa?" Tanya Reina yang kini malah berekspresi tanpa dosa. Gadis itu sepertinya benar-benar tidak peka.


"Kenapa kau makan kue ulang tahunnya--" suara Fairel kembali tercekat saat tangan Reina malah mencomot lagi potongan kue untuk Rossie, lalu melahapnya tanpa dosa.


"Aaarrrgggh!! Reina! Reina!" Fairel langsung berteriak mirip orang kesurupan dan tangannya dengan cepat mengambil lagi kue di tangan Reina, lalu mengembalikannya ke tempat semula.


Tapi sia-sia!


Kue untuk Rossie sudah terlanjur acak adul berantakan dan tak karuan.


"Itu kue---" Fairel benar-benar geregetan pada Reina sekarang dan dia ingin mencubit adik semata wayangnya itu.


"Kue abang? Enak kuenya, Bang! Beli dimana?" Cerocos Reina yang kini malah ganti menjilati sisa buttercream di tangannya dan wajah gadis itu masih saja tanpa dosa.


Benar-benar!


"Itu kue untuk surprize ulang tahun Rossie malam ini!"


"Kenapa kamu makan?" Fairel langsung menyalak pada Reina yang kini membulatkan kedua bila matanya.


"Oh, iya! Rossie besok ulang tahun, ya?" Gumam Reina yang akhirnya terbangun dari pingsan dan amnesianya.


Lagipula, katanya sahabat baik Rossie! Tapi masa iya Reina tak ingat ulang tahu Rossie? Dasar payah!

__ADS_1


"Sekarang bagaimana aku akan memberikan surprize untuk Rossie jika kuenya kamu makan dan kamu krawuk-krawuk begini?" Marah Fairel yang kini sudah ganti mendelik-delik pada Reina.


"Iya Reina minta maaf, Bang! Namanya juga lupa dan tidak tahu!"


"Abang pesan lagi saja kuenya!" Ujar Reina memberikan saran.


"Pesan lagi?"


"Ada nomornya, kan?" Reina memastikan dan Fairel langsung mengambil box kue tadi. Memang ada nomor telepon disana dan sepertinya itu adalah nomor telepon toko kue Beth.


"Tidak diangkat!" Gumam Fairel sambil kembali mencoba menelepon lagi.


"Mungkin sudah tutup, Bang! Itu nomor toko atau nomor owner-nya?" Cerocos Reina sembari meraih box kue dari tangan Fairel.


"Besok toko tutup lebih cepat!" Kalimat Beth kemarin kembali berkelebat di benak Fairel.


Berarti itu memang nomor telepon toko dan sekarang toko kuenya sudah tutup.


Ck! Lalu bagaimana Fairel akan memberikan kejutan untuk Rossie?


"By Beth!" Gumaman Reina yang sedang membaca nama toko di box kue, membuyarkan lamunan Fairel.


Fairel bahkan baru menyadari kalau dibawah nama toko Sweety Cake ada tulisan By Beth yang dicetak kecil.


Sengaja atau bagaimana?


"Ownernya bernama Beth, Bang! Abang punya nomornya?" Tanya Reina seolah sedang memberitahu Fairel.


Padahal Fairel juga sudah tahu!


"Aku mana punya nomor ownernya!" Jawab Fairel masih dengan nada ketus.


"Mana udah hampir tengah malam!" Fairel lanjut menggerutu karena kesal.


"Awas nanti keduluan Keano! Nggak jadi jadian deh sama Rossie!" Ledek Reina yang tentu saja langsung membuat Fairel berdecak dan sedikit panik.


Keano pasti juga sudah menyiapkan kue untuk Rossie malam ini! Tidak bisa dibiarkan!


"Ck! Ini semua gara-gara kamu!" Fairel menuding kesal pada Reina dan langsung menyalahkan adik semata wayangnya tersebut.


Hhh! Tapi tak ada gunanya juga menyalahkan Reina karena kue yang sudah rusak tak mungkin bagus lagi kecuali Fairel....


"Berarti keluarganya Aunty Sita termasuk Rossie sering pesan kue disana juga?"


"Oh, iya! Beth dan Angga kan berteman baik. Jadi seharusnya Angga punya nomor pribadi Beth!" Gumam Fairel tiba-tiba setelah pria itu mengingat obrolannya dengan Mom Yumi kemarin di telepon.


Fairel tak membuang waktu lagi, dan pria itu segera membuka ponselnya lalu secepat kilat menghubungi Angga.


Awas saja kalau tak diangkat! Akan langsung Fairel pecat jadi calon adik ipar!


"Halo!"


Telepon langsung diangkat di dering pertama. Bagus sekali!


"Angga! Kau sedang dimana?" Tanya Fairel to the point.


"Masih di luar kota, Iel! Ada pekerjaan yang harus aku urus."


"Di luar kota? Lalu kenapa Reina tadi baru pulang? Dia darimana memangnya? Aku pikir kalian berdua baru selesai kencan," cecar Fairel seraya melempar tatapan penuh selidik ke arah Reina yang langsung bersedekap.


"Mungkin Reina hang out bersama teman-temannya, Iel!"


"Hmmmm. Kau tidak curiga pacarmu kelayapan sendiri sampai jam segini, Angga?" Tanya Fairel memancing. Sepertinya Fairel juga sedikit lupa dengan tujuan awal dia tadi menelepon Angga.


"Bukankah ada kau yang sigap menjaganya?"


"Kau pikir aku babysitter Reina? Aku juga punya banyak urusan dan kepentingan!" Sungut Fairel yang langsung membuat Reina mencibir.


"Urusan mendekati Rossie tapi tak ada kemajuan!" Gumam Reina yang sangat bisa didengar oleh Fairel.


"Diam kau!" Fairel langsung menggertak sang adik yang sepertinya tak merasa takut.


Dasar!


"Kau menyuruhku diam?"


"Bukan! Bukan kau!" Sergah Fairel cepat.


"Aku sedang menyuruh Reina menyebalkan ini yang diam! Dia sedang meledekku habis-habisan! Bukankah itu menyebalkan!" Ujar Fairel lagi sedikit bercerita. Reina langsung terlihat menahan tawa dan Fairel benar-benar ingin menoyor kepala adiknya tersebut.

__ADS_1


"Oh!"


"Jadi, kau tadi menelepon ada urusan apa?" Tanya Angga yang akhirnya membuat Fairel kembali ingat tujuan awalnya tadi.


"Aku ingin bertanya padamu informasi mengenai Beth!"


"Beth? Beth siapa?"


"Beth! Si tukang kue!" Jawab Fairel seraya menunjuk ke box kue tart di atas meja.


Padahal Fairel dan Angga tidak sedang video call. Tapi tangan Fairel memang refleks menunjuk.


"Beth?"


"Iya Beth! Yang perawakannya kecil dan wajahnya sedikit manis. Yang punya toko kue di Jalan Seroja!" Jelas Fairel akhirnya lebih mendetail.


Tapi kenapa Fairel bisa menyebut Beth itu manis? Ck! Berlebihan sekali!


"Oh! Bethany!"


"Bethany?" Fairel langsung mengernyit saat Angga menyebut nama panjang Beth.


Padahal Fairel pikir nama gadis itu Bethe atau Maribeth.


"Di box kue namanya Beth saja!" Gumam Fairel seraya garuk-garuk kepala dan kembali membolak-balik box kue di tangannya.


"Iya, nama panjangnya Bethany. Panggilannya Beth! Adiknya Timmy, kan?"


"Timmy siapa lagi?" Tanya Fairel bingung.


"Abangnya Beth!"


"Entahlah aku bingung!" Fairel kembali garuk-garuk kepala. Kenapa juga Angga malah membawa-bawa abangnya Beth! Memang apa urusannya dengan Fairel?


"Jadi, Beth kenapa?" Pertanyaan Angga langsung membuyarkan lamunan Fairel.


"Tidak kenapa-kenapa! Aku hanya butuh nomor pribadi Beth barangkali kau tahu. Seingatku, kau berteman baik dengan Beth!" Jawab Fairel langsung pada inti.


"Iya, aku memang berteman dengan Beth dan Timmy. Tapi kenapa kau minta nomor pribadi seorang gadis malam-malam begini, Iel? Mencurigakan sekali!"


"Hei! Hei! Hei! Singkirkan pikiran negatifmu itu, Bung!" Sergah Fairel cepat seolah sedang menyanggah semua tuduhan yang hendak Angga layangkan. Lagipula, kalau bukan karena hal urgent begini, Fairel juga tak akan meminta kontak pribadi Beth pada Angga! Kurang kerjaan sekali!


"Aku hanya ingin menghubungi Beth dan minta dia membuka tokonya malam ini agar aku bisa membeli kue lagi untuk surprize ulang tahun Rossie!"


"Sebenarnya aku tadi sudah membeli kue, tapi Reina menyebalkan malah memakan kue untuk surprize Rossie! Bukankah itu menyebalkan?" Cerita Fairel panjang lebar, seraya melirik pada Reina yang masih bersedekap.


Angga tak langsung menjawab dan pria itu malah terkekeh di ujung telepon sekarang mirip irang yang sedang meledek Fairel. Sebelas dua belas memang dengan Reina!


"Lalu kenapa tidak mencari kue di toko lain saja! Ini hampir tengah malam dan kau akan menyuruh seorang gadis membuka toko kuenya tengah malam hanya demi-"


"Aku akan membayar dua kali lipat!" Sergah Fairel memotong kalimat Angga. Fairel tak mau membeli di tempat lain karena bentuknya pasti pasaran. Kalau yang membuat Beth seperti kue yang dirusak Reina itu kan bentuknya limited edition dan memang dibuat khusus sesuai permintaan.


"Atau tiga kali lipat kalau perlu!" Lanjut Fairel lagi.


"Pesan saja di toko kue lain, Iel! Atau tidak usah memberikan Rossie surprize! Gadis itu pasti juga sudah tidur!"


"Tidak! Aku tetap ingin kue dari toko Beth! Cepat berikan nomor Beth padaku!" Perintah Fairel tegas.


"Aku tak akan memberikannya. Ini sudah tengah malam!"


"Angga! Kau mau aku pecat sebagai calon adik iparku, hah?" Ancam Fairel akhirnya seraya bersungut-sungut.


"Konyol sekali ancamanmu, Iel!"


"Cepat berikan! Kirimkan setelah aku menutup telepon!"


"Bye!" Fairel menutup teleponnya pada Angga. Dan tak berselang lama, ponsel Fairel sudah berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Fairel secepat kilat langsung membuka pesan dari Angga yang berisi kontak bernama Bethany.


"Yess!" Fairel langsung bersorak senang dan berlari keluar dari dapur. Fairel langsung mengambil mobilnya sembari menelepon Beth.


Telepon tersambung tapi tak kunjung diangkat oleh sang empunya.


Beth kemana? Apa gadis itu pingsan?


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2