
"Menikahlah denganku, Bethany Atmadja!" Ucap Fairel tiba-tiba yang langsung membuat Beth membulatkan kedua matanya.
Apa yang Fairel katakan tadi?
Dia meminta Beth untuk menikah dengannya?
Apa ini sebuah lamaran?
Tapi kenapa tak romantis begini?
"Jawab iya!" Fairel kembali mencium bibir Beth yang tadi masih melamun.
"Atau aku mau!" Mencium sekali lagi pada bibir Beth yang masih linglung.
Beth sontak mengerjap-ngerjapkan matanya, dan menatap ke wajah Fairel yang rupanya masih menunggu jawaban dari Beth.
"Jawab!" Perintah Fairel lagi menatap tegas pada Beth.
"Menjawab apa?" Beth balik bertanya.
"Ya atau aku mau."
"Pilih salah satu!" Ujar Fairel yang lebih mirip sebuah paksaan.
"Aku boleh menjawab yang lain?" Tanya Beth lagi yang baru menyadari posisinya saat ini yang masih setengah berbaring di pangkuan Fairel.
Ah, biar saja!
Lumayan enak juga berbaring di pangkuan Fairel galak!
"Tidak! Hanya boleh dua jawaban tadi! Pilih salah satu!" Ucap Fairel lagi lebih tegas.
"Pemaksaan sekali!" Cibir Beth yang hendak bangun, namun tak jadi karena bibir Fairel yang tiba-tiba sudah mendarat di bibirnya.
Lagi!
Astaga!
"Cepat jawab!" Paksa Fairel sekali lagi.
"Lamaranmu tak romantis. Aku tak akan menjawab!" Komentar Beth yang langsung membuat Fairel menggeram dan kembali menatap tajam pada gadis itu.
"Apa? Mau marah? Mengomel? Mencak-men--" bibir Beth dibungkam sekali lagi oleh bibir Fairel dan kali ini tak hanya sebentar. Melainkan begitu lama, hingga Beth hampir kehabisan nafas.
"Mmmpphhh!" Beth meronta seraya memukul-mukul punggung Fairel yang masih saja tak melepaskan ciumannya.
Gila!
"Mmmppphh!" Beth meronta sekali lagi saat akhirnya Fairel melepaskan juga bibirnya dari bibir Beth.
"Aarrgghhh!" Fairel langsung menarik nafas karena sepertinya pria itu juga kehabisan nafas juga seperti Beth.
Dasar!
"Bibirmu semakin manis saja, Beth!" Komentar Fairel kemudian yang langsung membuat Beth membelalakkan kedua matanya.
Dasar sinting!
"Kau pikir bibirku permen?" Sungut Beth yang kemudahan mencoba untuk bangun dari pangkuan Fairel.
"Awas! Aku mau--"
"Mau kemana? Kau belum menjawab lamaranku tadi!" Fairel sudah kembali menahan Beth agar tak merubah posisinya.
"Ck! Aku tak mau menjawab!" Beth merengut dan mencoba meloloskan diri dari kungkungan Fairel sekarang.
"Jawab atau aku cium lagi!" Ancam Fairel kemudian yang langsung membuat Beth berdecak.
"Aku akan teriak!" Beth balik mengancam.
"Coba saja! Mom dan Dad akan langsung menikahkan kita!" Fairel tersenyum licik pada Beth yang langsung mengerucutkan bibir.
__ADS_1
"Kita kan sudah tidak ada hubungan apa-apa!" Tukas Beth kemudian seraya memukul dada Fairel yang.....
Tak perlu Beth jabarkan juga bentuk dada Fairel. Pria ini hobi fitness dan olahraga, jadi ya....
Dadanya bidang bak atlet!
"Kata siapa tak ada hubungan apa-apa?" Sergah Fairel merasa tak terima.
"Kau yang mengatakannya kemarin!" Ujar Beth mengingatkan Fairel yang sepertinya sudah amnesia.
"Lupakan saja yang itu! Toh kau juga sudah membuat pernyataan dan pengakuan palsu!"
"Mengaku-ngaku sudah punya pacar pada Mom! Tapi ternyata pacar kamu adalah aku!" Sungut Fairel yang langsung membuat Beth terkekeh.
"Nanti kalau aku pacaran dengan pria lain kau mencak-mencak," gumam Beth kemudian dengan nada mencibir.
"Tak hanya mencak-mencak! Aku akan menghancurkan kota kalau perlu!" Sergah Fairel dengan nada berapi-api yang langsung membuat Beth terdiam untuk beberapa saat.
"Kenapa begitu?" Tanya Beth kemudian.
"Masih tanya kenapa? Karena aku mencintaimu!"
"Dan sekarang aku mau kau menikah denganku, Bethany Atmadja!" Jawab Fairel lantang sembari menatap tegas pada Beth.
"Menikahlah denganku!" Ulang Fairel sekali lagi.
"Oke!" Jawab Beth enteng seolah tanpa beban.
Kali ini gantian Fairel yang menganga tak percaya.
"Kau menjawab apa barusan?" Tanya Fairel masih bingung.
"Oke, aku mau!"
"Apa masih kurang jelas?" Beth ganti menatap tajam pada Fairel.
"Sudah jelas!" Fairel mengangguk-angguk dan Beth bergegas bangkit hendak berdiri.
"Tapi---"
"Ssshhhh! Tak ada tapi-tapi!"
"Kau rawat sekarang luka-lukaku, Calon istri!" Perintah Fairel kemudian seraya tangannya membungkam bibir Beth.
"Diihhh! Bilang calon istri tapi tak ada romantis-romantisnya!" Gerutu Beth kesal.
"Lagipula lukamu juga sudah kering," ujar Beth kemudian setelah gadis itu memeriksa luka di tangan Fairel.
"Kata siapa? Masih sakit sekali ini!" Sergah Fairel dengan nada lebay.
"Aduuhhh! Sakit sekali!" Fairel kemudian ganti berteriak lebay yang terang saja langsung membuat Beth tak habis pikir
"Tiup lukaku," cebik Fairel kemudian seraya menyodorkan tangannya pada Beth.
Beth akhirnya hanya menghela nafas, lalu meniup luka di tangan Fairel.
Kekanakan sekali!
"Kau tidak membawakan aku rollcake?" Tanya Fairel kemudian pada Beth yang masih meniup-niup lukanya.
"Bawa tadi."
"Ada di bawah," ujar Beth yang hebdak bangkit berdiri namun lagi-lagi dicegah oleh Fairel.
"Mau kemana lagi?" Tanya Fairel galak.
"Mengambil rollcake! Katanya tadi minta rollcake!" Jawab Beth ikut-ikutan galak.
"Ck! Kenapa harus repot-repot?" Fairel segera mengangkat telepon di nakas samping tempat tidur.
"Mbak! Bawakan rollcake Beth kesini!" Perintah Fairel pada seseorang di seberang telepon yang sepertinya adalah mbak maid.
__ADS_1
Baiklah, Beth percaya! Fairel kan tuan muda!
"Kau tetap disini dan rawat aku!" Ucap Fairel kemudian setelah ia mengembalikan gagang telepon ke tempatnya.
"Aku harus pulang sebelum gelap," tukas Beth beralasan.
Bukan beralasan! Tapi memang Beth harus cepat pulang karena ia masih harus mengerjakan wedding cake Abang Timmy.
"Ck! Menginap saja!" Paksa Fairel yang hendak mencium Beth lagi, tapi tangan Beth sudah terangkat dengan cepat untuk menahan bibir Fairel.
"Kenapa tidak mau aku cium?" Protes Fairel serata merengut.
"Ada mbak maid!" Beth mengendikkan dagu ke arah pintu kamar yang setengah terbuka. Maid sudah berdiri disana seraya membawa sepiring rollcake untuk Fairel.
"Terima kasih, Mbak!" Ucap Beth yang segera mengambil piring berisi rollcake tadi.
"Tutup pintunya, Beth!" Perintah Fairel kemudian.
Namun alih-alih menutup pintu kamar, Beth malah membukanya semakin lebar.
"Ck! Beth--"
"Tidak boleh mesum!" Sergah Beth cepat.
"Toh lamaranmu tadi juga tak serius dan cenderung memaksa," gumam Beth lagi yang langsung berhadiah delikan dari Fairel.
"Baiklah, lamaranmu serius! Tapi sama sekali tak romantis!" Beth mengoreksi kalimatnya.
"Tak ada cincin juga," imbuh Beth seraya menunjukkan jari manisnya yang masih kosong.
"Nanti aku buatkan lamaran romantis sampai kau terkejut dan nyaris pingsan!" Sergah Fairel sesumbar. Beth terang saja langsung mencibir perkataan pria di depannya tersebut.
"Ini rollcake-mu! Aku mau pulang!" Ucap Beth kemudian seraya membenarkan tas selempangnya.
"Sudah kubilang agar menginap saja! Kamar sebelah kosong!" Sergah Fairel dengan nada memaksa seperti biasa.
Bukan Fairel namanya kalau tidak suka memaksa!
"Aku banyak pekerjaan!" Tukas Beth tak kehabisan alasan.
"Pekerjaan apa? Satu-satunya pekerjaanmu sekarang adalah merawat luka-lukaku agar tak infeksi!" Ucap Fairel tegas.
"Lebay! Lukamu kan sudah sembuh!" Cibir Beth sekali lagi.
"Belum!"
"Ini masih sakit sekali!"
"Auuuww! Sakit sekali! Rasanya seperti..." Fairel tampak berpikir beberapa saat.
"Seperti apa?" Tanya Beth seraya bersedekap.
"Seperti digigit harimau!"
"Sakit sekali pokoknya!" Sergah Fairel dengan ekspresi lebay yang benar-benar menggelikan.
"Cepat tiup! Lalu usap pelan-pelan!" Perintah Fairel kemudian yang kembali menyodorkan tangannya ke arah Beth yang langsung memutar bola mata. Namun Beth tetap meraih tangan Fairel, lalu mengusapnya dengan lembut sambil sesekali meniup luka di tangan pria itu.
Ya ampun!
Pria ini galak dan kekanakan sekali!
Apa Beth benar-benar akan menikah dengannya?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1