
"Kau sekretarisnya Angga, kan?" Tanya Fairel pada seorang pria yang datang ke pernikahan Angga dan Reina malam ini sembari mengajak adiknya yang duduk di kursi roda.
Ya Fairel ingat pada pria yang pernah diceritakan Reina waktu itu! Pria yang merupakan teman Reina jaman SMA yang sekarang menjadi sekretaris Angga di kantor.
Dunia memang sempit!
"Iya, Pak!" Jawab pria itu kemudian seraya mengangguk.
"Siapa namamu?" Tanya Fairel lagi seraya membuka kacamata hitamnya. Saat itulah Fairel baru sadar kalau Beth berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini dan sepertinya gadis itu tengah menatap ke arah Fairel.
Ck! Kenapa lagi gadis itu!
Masih mau minta maaf? Lebay sekali!
"Nama saya Diftha, Pak!" Jawaban sekretaris Angga yang rupanya bernama Diftha itu, langsung mengembalikan fokus Fairel.
Fairel akan mengabaikan saja keberadaan Beth yang sepertinya masih mengawasi Fairel. Dasar gadis keras kepala dan kurang kerjaan! Kenapa juga sejak tadi terus mengejar-ngejar Fairel?
"Diftha!" Fairel memakai kembali kaca mata hitamnya.
"Apa Angga punya selingkuhan di kantor?" Tanya Fairel kemudian sedikit berbisik pada Diftha. Sekretaris Angga itu langsung terlihat garuk-garuk kepala, padahal Fairel sudah menunggu jawaban dari Diftha.
"Saya rasa tidak ada, Pak! Karena yang sering ke ruangan Pak Angga hanya Bu Reina saja," ujar Diftha yang akhirnya memberikan jawaban. Fairel langsung manggut-manggut dan pria itu kembali melirik ke arah Beth yang rupanya masih terus memantaunya seperti seorang mata-mata saja.
Apa tukang kue itu sudah alih profesi menjadi tukang mengawasi sekarang?
"Bagus! Karena aku yang akan me ggajar pria itu, jika dia berani selingkuh di belakang Reina," tukas Fairel kemudian menanggapi jawaban Diftha tadi.
Fairel lalu bersimpuh di depan adik Dan yang memang duduk di kursi roda. Kata Reina adik Diftha ini mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cedera serius di otak dan membuat kondisinya menjadi seperti saat ini.
Gadis cantik yang malang! Semoga ada keajaiban yang akan membuatnya sembuh!
"Bye, Bidadari cantik!"
"Kau benar-benar cantik, ya?" Puji Fairel seraya mengusap kepala adik Diftha tersebut.
"Siapa namanya?" Tanya Fairel kemudian pada Diftha.
"Namanya Gizta, Pak!" Jawab Diftha cepat.
"Gizta! Nama yang cantik, ya!" Puji Fairel sekali lagi dan Gizta langsung mengulas senyum manis.
Tapi masih lebih manis senyum Beth, sih! Meskipun gadis itu menyebalkan!
Eh!
Kenapa Fairel malah memikirkan tukang kue itu? Dasar!
Fairel kemudian mengusap kepala Gizta, sebelum kemudian pria itu berhenti dengan cepat.
__ADS_1
"Eh, apa tidak apa-apa kalau aku mengusap kepalanya begini, kan?" Tanya Fairel kemudian pada Diftha untuk memastikan. Fairel tidak mau melakukan kesalahan yang mungkin akan memperburuk kondisi Gizta.
Oh, jangan sampai!
"Tidak apa, Pak Fairel! Gizta suka diusap-usap kepalanya," jawab Diftha sembari tersenyum ramah.
Fairel akhirnya melanjutkan usapannya pada kepala Gizta, sembari melirik lagi pada Beth yang masoh mematung di tempatnya tadi layaknya patung medusa.
Sedang cosplay mungkin!
"Baiklah."
"Bye, Bidadari cantik!" Pamit Fairel sekali lagi pada Gizta dengan suara yang sedikit keras, seolah Fairel sedang membuat seseorang cemburu.
Seseorang?
Hmmm, siapa juga yang sedang Fairel buat cemburu! Tidak ada!
"Bye! Bidadari cantik!" Ucap Fairel sekali lagi seraya melirik sekilas pada Beth yang wajahnya tampak menahan sesuatu, entah apa itu.
Tapi Fairel tidak peduli dan pria itu langsung berlalu meninggalkan Diftha dan Gizta dan juga Beth si tukang mengawasi. Fairel memilih untuk pergi ke pos security saja di dekat gerbang utama kediaman Halley.
"Malam, Pak Fairel!" Sapa seorang security yang stand by di pos.
"Malam!"
"Ada kopi?" Tanya Fairel to the point seraya masuk ke dalam pos. Ada dispenser dan beberapa minuman untuk para security yang berjaga.
"Ya! Gulanya satu sendok saja," jawab Fairel yang kini sudah duduk di bangku plastik di dalam pos. Pria itu lalu mengarahkan pandangannya ke arah gerbang karena melihat seseorang yang sepertinya hendak keluar.
Bukankah itu....
Fairel membuka kacamata hitamnya untuk memastikan seseorang yang melangkah keluar dari gerbang tadi. Dan benar saja, itu adalah Beth yang keluar sendirian, lalu langsung menuju ke tempat parkir. Atau letih tepatnya ke parkiran sepeda motor yang hanya terdapat tiga motor saja yang terparkir disana.
"Jangan bilang dia tadi kesini naik motor!" Fairel bergumam sendiri saat security menyajikan kopi ke hadapannya.
"Ini kopinya, Pak Fairel."
"Ya, terima kasih!" Jawab Fairel yang masih memperhatikan Beth yang ternyata sedang mengambil motor maticnya dari parkiran. Gadis itu lalu memakai helm ke kepalanya, sebelum lanjut menyalakan mesin motor.
Fairel langsung melirik arloji di tangannya dan kembali bergumam pelan.
"Dia mau pulang sendiri? Jam segini?" Fairel mendadak merasa khawatir.
"Hhh! Kenapa juga aku harus khawatir!" Decak Fairel kemudian seraya mengambil gelas kopinya.
"Auw! Panas!" Keluh Fairel yang langsung mengibaskan tangannya yang kepanasan.
"Pelan-pelan, Pak!" Ucap security yang tadi membuatkan kopi untuk Fairel.
__ADS_1
"Aku akan menunggu kopinya agak dingin dulu," tukas Fairel kemudian seraya bangkit dari duduknya. Fairel kemudian menghampiri Beth yang sepertinya sedang menggerutu sendiri dan motir gadis itu yang tadi sudah sempat menyala, sekarang juga sepertinya mati.
"Ish! Kamu kenapa, sih? Ayo menyala!" Fairel samar-samar bisa mendengar Beth yang sedang menggerutu pada motornya yang mungkin sedang mogok.
Dasar gadis aneh!
Memangnya setelah motor itu dia omeli, akan langsung menyala, begitu?
Fairel masih mengawasi dari kegelapan, Beth yang belum berhasil menyalakan mesin motornya.
"Dasar payah!" Gumam Fairel yang akhirnya merasa tak tahan lagi untuk tak menampakkan diri.
"Kenapa tidak menyuruh Reandra menjemput, hah?" Celetuk Fairel yang langsung membuat Beth terlonjak kaget, seolah baru saja melihat hantu.
Memangnya gadis itu pikir Fairel adalah hantu?
"Awas!" Sentak Fairel kemudian seraya menyuruh Beth turun dari motornya. Gadis itu langsung merengut tapi Fairel tak peduli. Fairel langsung menurunkan standart tengah motir Beth, sebelum mulai menggenjot engkol di samping motor matic usang tersebut.
Seharusnya Beth sudah memasukkan motor ini ke museum!
Hanya dua kali genjotan, dan mesin motor Beth sudah langsung menyala.
"Mudah, kan!" Tukas Fairel yang lebih mirip cibiran pada Beth yang tetap merengut.
"Terima kasih!" Ucap Beth kemudian seraya naik lagi ke atas motornya.
"Sekali lagi aku minta maaf, Iel!" Ucap Beth lagi sebelum gadis itu menarik gas, dan melaju pergi meninggalkan Fairel yang masih pura-pura acuh.
Ck!
Fairel berdecak setelah motor Beth melaju pergi. Pria itu lalu melesat cepat ke arah pos security.
"Pak, kunci mobil!"
"Milik siapa saja, terserah! Cepat!" Perintah Fairel galak yang langsung membuat security buru-buru mengambil kunci mobil.
"I-ini punya Pak Keano--" Fairel langsung kembali ke parkiran mobil setelah menerima kunci mobil dan mendengar nama Keano. Tak sulit menemukan mobil milik sepupu Fairel tersebut.
Setelah masuk ke dalam mobil Keano, Fairel segera memacu mobil sepupunya tersebut ke arah Beth tadi pergi.
"Gadis bodoh! Bisa-bisanya dia pulang sendiri naik motor malam-malam begini!" Fairel tak berhenti menggerutu sepanjang jalan, hingga akhirnya pria itu berhasil menyusul laju motor Beth.
"Awas saja kalau nanti dia tak pulang ke rumah dan malah belok ke hotel Reandra!" Gumam Fairel lagi sebelum lanjut membuntuti motor Beth yang ternyata mengambil arah berbeda dengan arah ke rumahnya.
Benar-benar gadis keras kepala!
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.