
"Terima kasih, Abang--"
"Jangan peluk-peluk!" Gertak Fairel saat Reina yang pagi ini menumpang di mobilnya untuk pergi ke kantor hendak memeluk Fairel.
"Ck! Dipeluk adik sendiri alergi juga?" Cibir Reina yang sudah mengambil lipstik dari tasnya, lalu memoleskan benda itu ke bibirnya sembari bercermin di spion mobil Fairel.
"Sudah jangan menor-menor!" Fairel menyambar tisu dan hendak menyeka lipstik di bibir Reina. Namun adik Fairel itu sudah berhasil menghindar dengan cepat.
"Ck! Angga kan sedang di luar kota! Kau mau menggoda siapa dengan dandanan menor begitu?" Cecar Fairel selanjutnya yang langsung membuat raut wajah Reina seketika berubah. Sepertinya ada satu hal yang mengganggu Reina.
"Manyun!" Cibir Fairel selanjutnya.
"Abang juga manyun sedari pagi! Pasti kejutan untuk Rossie semalam gagal dan abang tak mau mengaku--"
"Diam!" Gertak Fairel galak yang langsung membuat Reina balik mencibir.
"Turun sana!" Usir Fairel selanjutnya.
"Reina boleh tanya satu hal sebelum turun, Bang?" Tanya Reina yang sudah menyampirkan tas di lengan namun belum kunjung turun.
"Mau tanya apa lagi?" Tanya Fairel galak.
"Beth Beth yang tadi malam itu siapa, Bang?" Tanya Reina yang terlihat kepo.
"Beth si tukang kue. Kenapa tanya-tanya?" Jawab Fairel ketus.
"Oh! Lalu tokonya dimana?" Tanya Reina lagi.
"Di Jalan Seroja! Tanya saja pada Mom untuk alamat detailnya! Aku ada meeting pagi dan kau cepatlah turun agar aku tak terlambat ke Halley Development!" Cerocos Fairel panjang lebar bersamaan dengan Reina yang akhirnya turun dari mobil Fairel.
"Kenapa juga kau harus bekerja di kantor Hadinata dan bukan di Halley Development saja! Aku kan jadi berputar-putar hanya karena mengantarmu kesini!" Fairel masih terus mengomel dan bercerocos, sekalipun Reina sudah turun dan masuk ke dalam gedung.
"Ck!" Fairel baru verdecak, saat suara klakson di belakang mobilnya membuat pria itu terlonjak dan nyaris melompat keluar dari mobil.
Sialan!
"Iya, aku jalan!" Gerutu Fairel seraya menginjak pedal gas. Fairel lanjut memacu mobilnya menuju ke Halley Development. Nanti Fairel akan pulang cepat agar bisa mencari hadiah spesial untuk Rossie!
****
Ting!
Beth yang masih sibuk menata stok kue-kue baru di dalam showcase, langsung menganfkat wajah saat mendengar suara pintu toko yang dibuka oleh seseorang...
Tidak, dua orang!
"Selanat siang, Beth!" sapa Tante Sita seraya tersenyum ramah. Pun dengan Rossie yang wajahnya tampak sumringah hari ini.
"Selamat siang, Tante!"
"Selamat siang juga, Rossie! Happy birthday!" Ucap Beth sembari mengulurkan tangannya pada Rossie.
"Terima kasih, Beth!"
"Ini undangan untukmu! Nanti malam datang, ya!" Ujar Rossie kemudian seraya menyodorkan satu undangan pada Beth yang langsung membukanya.
"Kau akan datang bersama Timmy malam ini kan, Beth?" Tanya Tante Sita memastikan, saat Beth masih sibuk membaca undangan ulang tahun Rossie yang begitu elegan.
"Beth belum tahu, Tante! Nanti Beth akan menelepon Bang Timmy dulu untuk memastikan," ujar Beth yang sudah kembali melipat undangan dari Rossie. Gadis itu lalu ganti menghampiri showcase untuk menyiapkan kue ulang tahun Rossie.
Ya, Tante Sita dan Rossie datang kemari memang untuk mengambil kue ulang tahun yang mereka pesan beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Itu kueku?" Tanya Rossie yang begitu antusias.
"Ya!"
"Kau suka?" Tanya Beth harap-harap cemas.
"Suka sekali! Ku memang selalu tahu seleraku, Beth!" Ucap Rossie sembari memeluk Beth yang langsung tertawa kecil. Tante Sita dan Rossie ikut tertawa juga bersama Beth, saat tiba-tiba ada customer yang masuk ke dalam toko.
"Selamat datang!" Ucap Beth seraya tersenyum ramah pada customer yang penampilannya mirip karyawan kantoran tersebut.
"Reina! Mau beli kue?" Pertanyaan yang dilontarkan Rossie pada gadis yang baru datang tadi langsung membuat Beth mengernyit.
Loh!
Rossie kenal dengan gadis itu? Apa mungkin itu adalah temannya Rossie?
Entahlah, bukan urusan Beth!
"Mmmmmm, iya!" Jawab gadis yang dipanggil Reina tadi oleh Rossie. Kenapa namanya senada dengan nama Reandra, ya?
Reina dan Reandra!
Jangan-jangan mereka saudara!
Hahaha! Konyol!
Reina sudah menghampiri Rossie dan tante Sita yangvtadi juga menyapa Reina.
"Aunty sedang memesan kue untuk pertunanganmu dan Angga nanti. Sekalian mau mengambil kue untuk acara Rossie malam ini," ujar tante Sita kemudian sembari mengusap rambut Reina.
Pertunangan? Jadi gadis bernama Reina ini....
"Oh, jadi ini calon tunangan abang Angga, Aunty?" Tanya Beth to the point sekaligus memastikan.
"Iya, Beth! Ini Reina calon tunangan abang Angga." Bukan tante Sita, melainkan Rossie yang menjawab pertanyaan Beth sekaligus memperkenalkan Reina pada Beth.
"Beth," ucap Beth ramah saat ia berjabat tangan dengan Reina sebagai tanda perkenalan.
"Reina," jawab Reina yang entah mengapa wajahnya malah terlihat ketus atau cenderung tidak suka pada Beth.
Apa salah Beth? Mereka berdua bahkan baru sekali ini berjumpa.
"Aunty sering beli kue disini, ya?" Tanya Reina pada tante Sita yang sedikit membuyarkan lamunan Beth.
"Iya, Rei! Sudah langganan karena Beth ini kan anak dari sahabat Aunty," ujar tante Sita menjawab pertanyaan Reina yang entah mengapa raut wajahnya malah berubah marah sekarang.
"Trus nggak ada rencana menjodohkan Beth dengan Angga, begitu?" Celetuk Reina tiba-tiba yang tentu saja langsung membuat tante Sita, Rossie, dan Beth menganga.
Apa calon tunangan abang Angga ini sedang mabuk?
"Hah? Kamu ngomong apa, Rei? Abang Angga kan calon tunangan kamu!" Rossie langsung buka suara dan raut wajah gadis itu tampak terheran-heran. Pun dengan Beth yang sebenarnya juga heran dan bingung dengan maksud kalimat Reina tadi.
Menjodohkan Angga dengan Beth? Ya ampun, Beth bahkan tak pernah berpikir sampai sejauh itu!
Selama dua puluh lima tahun hidup, hubungan Beth dan Abang Angga malah lebih mirip kakak beradik dan mereka juga sebenarnya tak terlalu akrab. Mereka jarang bertemu juga karena Abang Angga kan sibuk di kantor sang papa yang gedungnya menjulang itu!
Ya, Beth pernah beberapa kali mengantar pesanan kue ke gedung itu untuk meeting atau acara lain. Meskipun hanya sampai di resepsionis depan.
"Maaf, Aunty! Tapi mungkin sebaiknya pertunangan Reina dan Angga diundur saja." Ucapan Reina begitu mengagetkan Beth, Rossie dan Tante Sita tentu saja yang masoh terlihat bingung serta bertanya-tanya dengan sikap aneh Reina.
"Reina permisi!" Ucap Reina kemudian sembari berbalik dan berjalan cepat ke arah pintu toko.
__ADS_1
"Reina!" Panggil tante Sita yang nyatanya sama sekali tak digubris oleh Reina. Calon tunangan Angga itu bahkan sudah meninggalkan toko dengan cepat.
"Reina kenapa, Ma?" Tanya Rossie bingung.
Beth pun ikut bingung dengan sikap aneh calon tunangan Angga yang benar-benar di luar prediksi tadi.
Apa sebenarnya Reina tadi cemburu pada Beth?
Tapi masalahnya apa?
Masa iya, hanya gara-gara tante Sita berlangganan kue di toko Beth? Konyol sekali!
"Mama juga tidak tahu," ujar Tante Sita menjawab pertanyaan Rossie varusan. Wanita paruh baya itupun terlihat bingung sekarang.
"Apa mungkin Reina sedang cemburu, Tante ?" Celetuk Beth kemudian yang sepertinya sok tahu.
Ya ampun! Kenapa Beth asal nyeplos, sih?
"Maksudnya, Kak Reina cemburu pada siapa?" Tanya Rossie yang sepertinya masih tak paham.
"Iya mungkin Reina salah paham dan mengira kalau aku dan abang Angga ada sesuatu." Beth mengendikkan kedua bahunya. Beth sebenarnya juga hanya menerka-nerka.
"Rasanya berlebihan," gumam Rossie yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Beth. Sementara Tante Sita masih diam dan tak menanggapi terkaan Beth barusan.
"Ma, apa benar yang dikatakan Beth?" Rossie akhirnya bertanya pada sang mama yang sejak tadi hanya diam.
"Mama juga tidak tahu, Rossie."
"Sebaiknya kita pulang sekarang karena masih banyak yang harus kita siapkan," pungkas tante Sita akhirnya seraya mengeluarkan dompet. Sepertinya masalah Reina tadi sudah membuat Tante Sita lupa kalau sebenarnya kue ulang tahun Rossie sudah dibayar lunas.
"Tante, kuenya sudah dilunasi kemarin," ucap Beth cepat saat Tante Sita baru saja akan membuka dompet.
"Benarkah, Beth?"
"Iya, Tante!" Jawab Beth yakin.
"Tante benar-benar lupa," gumam Tante Sita yang akhirnya kembali menyimpan dompetnya.
"Lalu kue untuk acara pertunangan abang Angga bagaimana, Ma?" Tanya Rossie saat Tante Sita sudah menerima box kue yang disodorkan oleh Beth.
"Nanti saja pesannya. Atau beli dadakan juga tidak apa-apa," jawab Tante Sita yang sepertinya sedang kalut.
"Kami pulang dulu, Beth!" Pamit Tante Sita selanjutnya.
"Iya, Tante. Hati-hati!" Jawab Beth yang masih bisa tersenyum ramah.
"Jangan lupa datang malam ini, ya!"
"Bareng abang Timmy!" Pesan Rossie sedikit berseru sebelum gadis itu mengekori Tante Sita dan keluar dari toko. Beth hanya mengacungkan jempol dan menatap pada ibu dan anak yang lanjut masuk ke dalam mobil, lalu meluncur meninggalkan Sweety Cake.
"Hhhh! Ada-ada saja!" Gumam Beth seraya geleng-geleng kepala.
Beth baru saja akan melanjutkan aktivitasnya, saat loncwng di atas pintu kembali berbunyi, bersamaan dengan seorang wanita paruh baya berpenampilan glamor yang masuk ke dalam toko, diiringi oleh beberapa pria berpakaian serba hitam.
Siapa itu?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.