
"Bang!" Sapa Keano pada Fairel yang sejak tadi sudah menunggunya. Kenapa juga sepupu Fairel ini sok sibuk sekali!
"Tumben kesini," ujar Keano lagi berbasa-basi.
"Memangnya aku tak boleh kesini? Ini kan resto milik Opa Dev dan aku cucunya Opa Dev juga!" Jawab Fairel dengan nada bersungut-sungut.
"Kapan Kean bilang tidak boleh, Bang? Abang bisa datang kapan saja, kok!" Tukas Keano kemudian yang langsung membuat Fairel berdecak. Fairlalh meneguk minuman di gelasnya dan mengabaikan keberadaan sedotan di gelas.
Siapa juga yang butuh minum pakai sedotan!
"Aku lapar! Kenapa makananku datangnya lama?" Protes Fairel kemudian bersamaan dengan waitres yang sudah mengantarkan makanannya.
Fairel tak menunggu lagi dan segera melahap makanannya.
"Kau tidak makan?" Tanya Fairel disela-sela ia mengunyah makanannya.
"Tadi sudah, Bang!" Jawab Keano sembari meggaruk kepalanya.
"Pasti bersama Rossie," gumam Fairel seraya berdecak.
Tak sampai sepuluh menit, makanan Fairel sudah tandas tak tersisa. Pria itu lalu meneguk minumannya lagi.
"Ngomong-ngomong, Bang Iel masih marah?" Tanya Keano kemudian sembari menatap pada Fairel yang kini sudah ganti memainkan sedotan di gelasnya.
"Aku tak se-kekanakan itu!" Ujar Fairel menyanggah pertanyaan Keano tadi.
"Kemarin aku tak datang ke pernikahanmu karena memang ada pekerjaan penting yang tak bisa ditangguhkan," ujar Fairel lagi yang langsung membuat Keano mengangguk.
"Syukurlah kalau begitu!"
"Semoga ke depannya, Abang Iel segera dipertemukan dengan gadus yang lebih baik-"
"Ya!" Sahut Fairel cepat memotong kalimat Keano.
"Dan jika aku sudah bertemu dengan gadis yang aku yakin dia akan seribu kali lebih cantik dari Rossie!" Fairel menuding pada Keano yang kini malah tertawa kecil.
Apa sepupu Fairel itu sesang meledek Fairel sekarang?
"Kenapa? Tidak percaya kalau aku akan bksa mendapatkan gadus yang berkali-kali lebih cantik dari Rossie?" Fairel langsung menyalak pada Keano karena kesal.
"Keano percaya, Bang!" Ujar Keano yang langsung menghentakkan tawanya.
"Aku akan membuat acara resepsi pernikahan yang megah nanti!"
"Tak seperti acara pernikahanmu kemarin yang...." Fairel berdecak dan mencibir pada Keano.
"Rossie memang menginginkan konsep pernikahan yang tak terlalu mewah kemarin, Bang Makanya-"
"Bilang saja kau tidak punya uang untuk menggelar pesta yang mewah untuk Rossie!" Sergah Fairel yang kembali memotong penjelasan Keano.
"Kerja bertahun-tahun sebagai manajer, tapi mengeluarkan uang untuk acara sekali seumur hidup pelit!" Cibir Fairel sekali lagi dan sepupu Fairel tersebut hanya tersenyum tipis.
"Sudah begitu, mengajak Rossie membeli baju di toko obral lagi!" Lanjut Fairel masih dengan nada sinis.
"Abang membuntuti kami?" Tanya Keano penuh selidik yang langsung membuat Fairel salah tingkah.
"Hanya kebetulan melihat kau dan Rossie keluar dari toko obral dekat alun-alun sembari menenteng kantong plastik warna hitam!" Jawab Fairel akhirnya yang kembali memasang wajah sinis.
"Oh!"
__ADS_1
"Kok Keano tidak melihat Abang, ya?" Keano tampak berpikir.
"Memang mau apa kalau melihatku? Mau mengajakku masuk ke toko itu juga? Maaf, aku tak tertarik!" Cerocos Fairel dengan nada sombong.
"Mau mentraktir Abang di angkringan dekat situ!"
"Angkringan di samping alun-alun maksudnya? Yang tenda warna biru--" Fairel dengan cepat membungkam mulutnya yang malah keceplosan.
Sial!
Sepertinya Fairel sudah tertular Beth yang juga kerap keceplosan.
"Loh! Abang malah sudah tahu? Langganan juga?" Tanya Keano kemudian penuh selidik.
"Tidak! Mana ada! Kemarin kesana itu hanya sebuah ketidasengajaan karena aku kelaparan dan nyaris pingsan!"
"Lagipula, aku kesana juga sendiri dan tak bersama siapa-siapa! Jadi tak usah sok menyelidiki begitu!" Cerocos Fairel lagi sedikit bersungut pada Keano.
"Memang Keano ada bertanya Abang pergi bersama siapa? Keano kan hanya bertanya apa abang langganan-"
"Aku bilang tidak ya tidak!" sergah Fairel cepat dengan nada bicara yang sudah naik tujuh oktaf.
"Iya, Bang! Kean percaya," tukas Keano cepat berusaha mendinginkan suasana.
"Aku mau ke kantor lagi!" Uajr Fairel kemudian seraya nenegyk minumannya hingga tandas, lalu pria itu bangkit dari duduknya.
"Tidak mampir ke angkringan dekat alun-alun dulu, Bang?" Seloroh Keano yang sepertinya sengaja menggoda Fairel.
"Tidak!" Fairel langsung menyalak dengan keras.
"Aku tidak akan mampir ke sana apalagi ke toko kue-" Fairel membungkam mulutnya dengan cepat.
"Bukan urusanmu!"
"Aku mau pulang!" Sergah Fairel lagi seraya berlalu.
"Tadi katanya ke kantor, Bang? Kok mau pulang?" Cecar Keano lagi.
"Hhhh! Terserah aku mau kemana!" Fairel sudah berbalik dan menuding pada Keano.
"Tidak usah sok-sokan mencari tahu aku kemana!"
"Tidak, Bang!"
"Tapi barangkali sudah ada kabar baik, Bang!" Celetuk Keano lagi.
"Yang baru saja menikah kan kau dan Rossie, kenapa tanya kabar baik kepadaku?" Sahut Fairel bersungut-sungut yang kembali membuat Keano terkekeh.
"Rossie dan Kean kan baru satu pekan menikah, Bang! Masa iya--"
"Barang kali sudah nyicil!" Cibir Fairel cepat.
"Secara sebelum sah saja kau sudah mengajak Rossie mesum di ruanganmu," tukas Fairel lagi menguliti aib sang sepupu.
"Belum sejauh itu, Bang!" Sanggah Keano cepat.
"Kau pikir aku peduli? Aku mau ke kantor lagi," tukas Fairel kemudian seraya merapikan kemejanya.
"Tadi katanya mau pulang dan tak jadi ke kantor, Bang?" Keano sudah langsung tergelak.
__ADS_1
"Hhhh! Suka-suka aku mau kemana! Kau diam saja disini!" Fairel memperingatkan sang sepupu sekali lagi.
"Iya, Bang! Keano akan disini saja sepanjang hari," jawab Keano kemudian seraya cengengesan.
Benar-benar Keano menyebalkan!
"Bagus!" Fairel kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya lalu keluar dari B&D Resto.
Fairel masuk ke dalam mobil, lalu segera meraih box kue yang sejak tadi ia tinggal di dalam mobil.
"Kenapa tinggal setengah?" Gerutu Fairel kemudian saat mendapati isi rollcake di dalam box yang memamg tinggal tersisa setengah.
Setengahnya lagi ya sudah berpindah ke perut Fairel!
"Aku tak akan pergi ke toko Beth yang jelek itu hanya untuk membeli rollcake!" Gerutu Fairel lagi.
"Aku akan pulang!" Fairel sudah menyalakan mesin mobilnya, lalu pria itu segera melajukan kuda besi miliknya tersebut k arah Sweety Cake!
Bukan! Ke arah Halley Development!
Tapi jalan ke Halley Development lewat depan Sweety Cake biasanya tak macet karena itu memanglah jalur alternatif dan bukan jalan utama.
Baiklah, Fairel akan lewat sana saja!
****
"Tutup!"
"Baru juga jam empat!" Gerutu Fairel saat mendapati rolling door toko Beth yang tertutup rapat.
"Huh! Menyebalkan!" Fairel memukul roda kemudi mobilnya, sebelum kemudian pria itu turun dari mobil. Tatapan Fairel langsung tertuju je arah CCTV di sudut luar toko.
"Apa? Kau mengawasiku dari sana, hah?"
"Lalu kau sedang bersorak sekarang karena aku yang terus saja datang ke tokomu, seolah aku peduli padamu!" Fairel masih menggerutu pada CCTV toko Beth.
"Aku tak peduli lagi padamu, Beth!"
"Aku akan--" Fairel baru saja akan memungut batu untuk ia lempar ke CCTV Beth, saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan toko.
Sial! Itu mobil Papanya Beth!
Fairel bergegas kembali ke mobilnya, sebelum Papa Will atau Mama Tere turun dan menyapa Fairel.
Namun rupanya dugaan Fairel salah, karena sekarang yang turun dari mobil Papa Will tersebut adalah Beth yang tampak mengenakan baju terusan formal seolah mau pergi ke acara penting.
"Mau kemana dia? Kenapa pakai baju formal?" Gumam Fairel bertanya-tanya.
Beth tampak masuk ke toko, lalu tak berselang lama gadis itu sudah keluar lagi seraya membawa box kue di tangannya. Beth terlihat menatap sejenak pada mobil Fairel, sebelum akhirnya gadis itu masuk ke mobil Papa Will.
Tak berselang lama, mobil Papa Will sudah melaju pergi dan meninggalkan Sweety Cake.
"Brengsek! Aku harus mengikutinya!" Gumam Fairel kemudian yang langsung memacu mobilnya dan mengikuti arah pergi mobil Papa Will tadi.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.