Beth Ter-Sweet

Beth Ter-Sweet
TANGGUNG JAWAB


__ADS_3

"Aarrrggghhh!" Fairel kembali menjerit lebay saat luka bakar di tangan pria itu mulai diobati oleh perawat di UGD rumah sakit.


"Beth! Sakit sekali!" Fairel sudah mer*mas lengan Beth yang sejak tadi berada di sampingnya.


"Lenganku lebih sakit karena kau cengkeram dengan tangan hulk-mu!" Omel Beth yang ikut-ikutan meringis akibat cengkeraman Fairel di lengannya.


"Tapi lenganku lebih sakit! Kenapa ovenmu tadi panas sekali?" Fairel balik mengomel pada Beth.


"Kueku tak akan matang dan rollcake kesukaanmu itu tak akan tercipta kalau ovenku tidak panas!"


"Sudah tak usah lebay dan lepaskan tanganku!" Bentak Beth kemudian seraya berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Fairel. Namun tak berhasil.


"Kau mau kabur, hah?"


"Aku tadi masuk kesini gara-gara kau dan kau malah mau ka--"


"Aku tak akan kabur kemana-mana!" Sergah Beth cepat.


"Lepaskan cengkeramanmu! Kau menyakiti lenganku," cicit Beth kemudian yang seolah membuay Fairel tersadar. Fairel buru-buru melepaskan cengkeramannya, namun saat Beth hebdak mengangkat lengannya untuk memeriksa bekas cengkeraman Fairel tadi, tangan Beth malah langsung ditahan oleh Fairel dengan cepat.


"Kau mau kabur?" Tuduh Fairel sekali lagi.


"Mana ada? Aku hanya memeriksa...." Kedua mata Beth sontak membelalak saat mendapati lengannya yang sudah memerah akibat cengkeraman Fairel tadi.


Ini sebenarnya kulit Beth yang sensitif oleh cengkeraman tangan Fairel atau dasarnya tenaga Fairel saja yang memang seperti hulk?


"Sudah selesai?" Pertanyaan Fairel pada perawat yang tadi menangani lukanya langsung membuyarkan lamunan Beth.


Beth buru-buru menutupi lengannya dengan tangan satunya agar Fairel tak melihat.


Tapi sepertinya pria itu tadi sudah melihat, dan dia juga tak peduli.


Sudahlah!


"Tapi kenapa masih nyeri?" Tanya Fairel lagi pada perawat.


"Kami akan meresepkan obat anti nyeri sekaligus antibiotik untuk mencegah infeksi, Pak!" Ujar perawat kemudian.


"Perbannya harus rutin diganti dan lukanya...."


"Beth, kau dengar itu!" Ucap Fairel tiba-tiba yang langsung menyentak lamunan Beth.


"Dengar apa?" Tanya Beth bingung.


"Dengar ucapan perawat! Perbanku harus diganti dan lukaku harus dibersihkan! Jadi kau harus bertanggung jawab--"


"Pergi saja ke klinik dekat rumah atau panggil perawat ke rumah! Aku tak tahu dan tak bisa!" Sergah Beth beralasan.


"Bu perawat, bisa anda mengajari gadis ini cara mengganti perban dan membersihkan luka? Dia yang sudah membuatku jadi begini jadi dia juga harus bertanggung jawab." Fairel ganti berucap pada perawat dan Beth yang turut mendengarnya sontak berdecak.


"Nanti aku carikan perawat untuk merawat lukamu, Iel! Aku tak usah belajar!" Ujar Beth sembari merengut pada Fairel.


"Aku tidak mau! Pokoknya kau yang harus merawat lukaku dan mengganti perban--"


"Bang Iel?" Sapaan dari Angga sontak mengejutkan Fairel dan juga Beth.


"Beth! Kau disini juga? Ada apa ini?" Tanya Angga lagi yang kini menatap bergantian pada Beth dan Fairel.


"Tangan Fairel tak sengaja menyentuh oven panas, Bang!"


"Abang Angga kesini bersama--" Beth tak melanjutkan kalimatnya, saat mendengar suara Reina dari bed di samping Fairel yang dipisahkan oleh tirai.


"Angga! Kau sedang mengobrol bersama siapa?"


"Rei! Kaukah itu?" Fairel buru-buru bangun dari atas bed perawatan, lalu menyibak tirai yang menjadi pembatas ruangan.


Dan benar saja! Ada Reina yang terbaring di atas bed perawatan dengan wajah pucat. Angga juga sudah menghampiri istrinya tersebut dan mengusap kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


"Kau sudah bangun?" Ucap Angga kemudian.


"Reina kenapa?" Tanya Fairel yang sudah ikut menghampiri Reina yang sepertinya baru bangun dari pingsan.


Kenapa Reina pingsan?


Sedang hamil muda?


"Tadi mendadak pingsan, Bang! Katanya dia mual dan pusing--"


"Semua gara-gara kue buatan gadis itu! Pasti prosesnya tak higienus sampai aku keracunan!" Sergah Reina seraya mengendikkan dagubke arah Beth yang sejak tadi hanya diam mematung. Terang saja, tuduhan Reina tersebut langsung membuat Beth membelalakkan mata.


"Kueku?" Gumam Beth tak percaya.


"Iya, kuemu! Tadi kan aku dan Mama membeli kue di tokomu! Lalu aku baru makan sepotong dan sudah mual-mual!" Beber Reina seraya menatap sengit pada Beth.


"Tapi tadi aku dan Mama juga makan kue Beth dan kami baik-baik saja, Rei?" Angga berbisik-bisik pada Reina.


"Mungkin kau sedang hamil, Rei!"


"Jangan menuduh sembarangan sebelum ada bukti!" Sergah Beth yang sudah menatap berani pada Reina.


"Aku tak menuduh sembarangan--"


"Sudah, Rei!" Angga langsung menghentikan sang istri yang emosi sementara Fairel malah tertawa tak jelas.


"Kenapa abang tertawa?" Tanya Reina tak senang.


"Teorimu aneh! Masa iya kau keracunan cake-nya Beth padahal baru makan sepotong! Aku saja yang sehari makan lima sampai enam potong tak pernah keracunan!" Ujar Fairel membuat pengakuan.


"Memang kenyataannya begitu!" Sergah Reina seraya bersedekap kesal.


"Abang Iel sendiri, sedang apa disini?"


"Kau juga Beth?" Angga menatap bergantian pada Fairel dan juga Beth.


"Tanganku terbakar!" Fairel sudah menjawab dengan jelas sembari menunjukkan tangannya yang kini dibalut perban, sebelum Beth selesai menjawab.


"Bagaimana bisa terbakar, Bang?" Tanya Reina panik saat melihat tangan sang abang.


"Apa dia juga penyebabnya?" Reina langsung menuding ke arah Beth yang kini merengut.


"Fairel sendiri yang ceroboh!" Sergah Beth membela diri sekaligus rak mau disalahkan.


"Dia memegang oven yang sedang menyala," imbuh Beth lagi yang langsung membuat Fairel merengut.


"Tak perlu kamu jabarkan secara detail juga!"


"Lagipula, kau itu menyimpan benda berbahaya di dalam dapur!"


"Masih bagus hanya tanganku yang besar ini yang tak sengaja memegangnya. Kalau yang terbakar tanganmu yang kecil itu bagaimana?"


"Bagaimana? Bagaimana?" Cerocos Fairel panjang kali lebar yang langsung membuat Beth dan Reina sama-sama diam. Gelak tawa justru pecah dari Angga yang sejak tadi menyimak perdebatan tiga orang di depannya tersebut.


"Abang perhatian sekali pada Beth!" Celetuk Angga yang tiba-tiba malah berhadiah pukulan di tangan dari Reina.


"Apa? Apa salahku?" Tanya Angga bingung.


"Masih bertanya?" Reina terlihat geram.


"Aku akan pulang saja," ucap Beth kemudian yang hendak keluar dari ruang UGD namun dicegah oleh Fairel.


"Tanggung jawabmu belum selesai! Kau masih harus mengantarku pulang, mengganti perban dan merawat lukaku!" Ucap Fairel selanjutnya mengingatkan Beth seperti yang tadi dikatakan oleh perawat.


"Kenapa harus aku? Kau bisa--"


"Mom bisa melakukannya, Bang! Tak perlulah menyuruh tukang kue itu!" Celetuk Reina ikut angkat suara sebelum kemudian adik Fairel itu terlihat mual dan hendak muntah.

__ADS_1


"Kau hamil, Rei?" Tanya Fairel kemudian sembari tangannya masih memegang tangan Beth dan menahannya agar tak keluar dari ruangan.


"Tidak tahu!" Reina kembali mual.


"Masih dilakukan tes--"


"Saudari Reina!" Angga belum selesai menjawab saat perawat sudah masuk dan menghampiri bed perawatan Reina.


"Bagaimana hasilnya, Suster?" Tanya Angga tak sabar.


"Negatif. Pasien tidak hamil," jelas perawat.


"Tapi kalau mau lebih jelas bisa USG--"


"Tidak usah, Suster! Saya juga baru saja mendapat tamu bulanan pagi tadu," sela Reina cepat.


"Kenapa tidak bilang?" Angga berbisik-bisik pada sang istri.


"Tapi tekanan darahnya rendah dan HB-nya juga rendah. Kemungkinan pasien pingsan karena hal tersebut," ujar perawat lagi.


"Dokter akan datang sebentar lagi untuk memeriksa." Imbuh perawat lagi sebelum pamit keluar.


"Berarti kau tidak keracunan kue dari tokoku, kan, Rei?" Ujar Beth yang kembali angkat bicara.


Reina tak menjawab ataupun menanggapi dan wanita itu hanya membuang wajahnya.


"Aku tidak tahu kenapa kau seolah benci padaku."


"Jika perkaranya hanya karena salah paham waktu itu, aku luruskan sekali lagi kalau aku dan Abang Angga itu tak pernah berpacaran apalagi menjadi selingkuhan. Kami memang berteman dari kecil karena Mama dan Tante Sita juga adalah teman baik!"


"Lalu perihal perkataanmu kemarin kalau aku tak pantas untuk Iel...." Beth menatap sejenak pada Fairel yang bersiap buka suara. Namun Beth mendahului dengan cepat.


"Aku dan Iel juga tak ada hubungan apapun kecuali hubungan antara pembeli dan penjual kue. Kami tak pernah berpacaran!" Ucap Beth lagi dengan nada tegas.


"Kau bisa tanyakan langsung pada Fairel!" Imbuh Beth lagi seraya menyentak pegangan tangan Fairel.


"Aku tidak tahu kalau kau masih cemburu pada Beth perihal salah paham waktu itu, Rei! Aku pikir semuanya sudah clear..." Angga menatap tak percaya pada Reina.


Pun dengan Fairel yang kini sudah menghampiri adiknya tersebut.


"Aku tak cemburu! Aku hanya tidak suka saja pada tukang kue itu--"


"Tidak sukanya kenapa?" Sergah Fairel menyela.


"Iya pokoknya tidak suka! Dia itu tak pantas untuk Abang Iel!"


"Reina sangat tahu kalau Abang Iel masih merasa patah hati karena Rossie yang lebih memilih Keano ketimbang Abang ."


"Tapi bukan berarti juga, Abang harus mendekati gadis tukang kue itu sebagai pelarian!"


"Masih banyak gadis di luaran sana yang lebih pantas untuk Abang Iel!" Ujar Reina panjang lebar yang langsung berhadiah delikan dari Fairel.


"Tidak usah ikut campur dan sok tahu dengan perasaanku!" Ketus Fairel sebelum kemudian pria itu keluar dari ruang UGD lalu mengejar Beth yang tadi sudah terlebih dahulu keluar.


"Beth!" Panggil Fairel saat Beth sudah menyetop taksi dan bersiap pergi.


"Beth, tunggu!" Seru Fairel seraya berlari untuk menghampiri Beth. Namun terlambat, karena Beth sudah dengan cepat naik taksi, lalu meninggalkan rumah sakit.


"Brengsek!!" Umpat Fairel frustasi.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2