
"Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Aku hanya tak sengaja melihat Timmy yang sudah terkapar di trotoar jalan, jadi aku membawanya ke rumah sakit."
"Sampai sekarang Timmy belum sadar. Bisakah kau atau orang tuamu datang kemari?"
"Posisiku dan Timmy sekarang di kota D, Beth! Cepatlah kesini!"
"Nona!" Teguran dari supir taksi yang Beth tumpangi, langsung membuyarkan lamunan gadis tersebut.
"Sudah sampai di rumah sakit, Nona!" Ucap supir taksi lagi yang langsung membuat Beth menoleh ke arah bangunan besar bernuansa hijau di hadapannya.
"Iya, Pak! I--ini ongkosnya!" Beth segera mengangsurkan uang untuk membayar ongkos taksi sebelum gadis itu turun. Beth lalu bergegas masuk ke dalam rumah sakit untuk menanyakan letak kamar perawatan Abang Timmy.
Ya, setelah hampir dua hari ini Beth tudak tahu keberadaan Abang Timmy, tadi pagi Yvone tiba-tiba mengirimkan foto Abang Timmy yang sedang terbaring di ruang UGD.
Kata Yvone, ia menemukan Abang Timmy yang tergeletak di trotoar jalan di kota D dengan kondisi babak belur. Beth juga tidak tahu kenapa Abang Timmy pergi ke kota D, setelah pria itu menghilang dari kost-an dua hari lalu. Mereka bahkan tak punya saudara di kota ini! Lalu apa tujuan Abang Timmy berada di kota ini?
Menemui seseorang?
Menemui temannya?
Atau menemui siapa?
Ting!
Suara nyaring dari ponsel yang Beth genggam, kembali menyentak lamunan gadis itu. Segera Beth membuka pesan yang rupanya dari Yvone.
[Sudah dimana?] -Yvone-
Beth langsung mengetikkan pesan balasan pada Yvone.
[Aku sudah di depan rumah sakit.] -Beth-
[Baiklah, aku jemput ke bawah dan kau tunggu di lobi utama saja dekat lift] -Yvone-
Beth langsung mengedarkan pandangannya dan mencari pintu masuk utama yang menuju ke lobi. Sesuai perintah Yvone, Beth menunggu di dekat lift. Dan benar saja, tak berselang lama, Yvone sudah keluar dari lift lalu langsung menghampiri Beth.
"Abang Timmy dimana , Yv?" Tanya Beth cemas.
"sudah dipindah ke kamar perawatan," jawab Yvone.
"Ngomong-ngomong, kau kesini bersama siapa?" Yvone ganti bertanya pada Beth seraya mencari seseorang yang mungkin bersama Beth.
"Aku sendiri."
"Mama dan Papa juga tidak tahu menahu tentang ini," jawab Beth yang kini hatinya benar-benar kalut.
"Kau tidak memberitahu kedua orang tuamu?" Yvone menatap tak percaya pada Beth.
"Aku bingung!"
"Dan aku juga tak mau Papa dan Mama cemas nanti."
"Papa juga baru sembuh dari sakit kemarin," tukas Beth yang langsung membuat Yvone menghela nafas. Yvone lalu mengusap punggung Beth dan memeluknya.
"Apa cedera Abang Timmy parah?" Tanya Beth yang sudah lebih tenang.
"Masih menunggu hasil tes keluar," jelas Yvone.
"Ayo ke kamarnya," ajak Yvone kemudian seraya mengajak Beth masuk ke dalam lift. Dua gadus itu hanya saking diam hingga lift tina di lantai tiga, tempat kamar perawatan Timmy berada.
Tepat di kamar nomor tiga, Yvone berhenti lalu membuka pintunya.
"Baru beberapa jam yang lalu Timmy dipindahkan kemari," cerita Yvone sambil kembali menutup pintu. Sementara Beth sudah langsung menghampiri Timmy yang masih terlelap.
"Dia memang belum bangun sejak kau temukan?" Tanya Beth lagi pada Yvone yang sudah ikut menghampiri bed perawatan Timmy.
"Dia sudah bangun tadi sebelum dilakukan CT scan," jelas Yvone.
"Lalu dia tidur lagi setelah diberikan obat oleh dokter," imbuh Yvone lagi.
"Dia mengatakan sesuatu tentang alasannya berada di kota ini?" Tanya Beth lagi dan Yvone langsung menggeleng.
"Dia hanya bertanya kenapa dia bisa ada di rumah sakit dan setelah aku jelaskan kronologi saat aku menemukannya, dia langsung diam dan tak bicara apa-apa lagi."
"Memangnya kenapa dia di kota ini, Beth? Apa kalian punya saudara--"
__ADS_1
"Kami tidak punya siapa-siapa di kota ini!" Sergah Beth cepat.
"Mungkin Timmy menemui temannya." Yvone mulai menerka-nerka.
"Aku juga tidak tahu," ujar Beth lirih seraya menggenggam tangan Abang Timmy yang masih lelap dalam tidurnya.
****
"Beth!" Mama Tere yang sudah pulang dari toko, memanggil sembari mengetuk pintu kamar sang putri.
Hari sudah beranjak malam, dan rumah gelap gulita saat Mama Tere dan Papa Will pulang. Apa mungkin Beth tertidur dan lupa menyalakan lampu rumah dan lampu teras?
"Beth!" Panggil Mama Tere lagi sambil tangannya membuka knop pintu kamar Beth yang rupanya tak terkunci.
"Beth!" Mama Tere menyalakan lampu kamar Beth yang gelap, dan kamar terlihat kosong. Beth tidak ada di kamar!
"Beth tidur, Ma?" Tanya Papa Will yang sudah ikut menyusul masuk ke kamar sang putri.
"Dia tidak ada di kamar. Apa motornya tidak ada--"
"Motor Beth ada di garasi," jawab Papa Will cepat.
"Lalu Beth kemana?" Mama Tere langsung keluar dari kamar Beth dan memeriksa semua ruangan dibrumah sembari memanggil-manggil nama sang putri.
"Beth!"
"Bethany!"
"Coba Mama telepon ke ponselnya," ujar Papa Will memberikan ide.
Mama Tere tak menunggu lagibdan wanita paruh baya tersebut segera mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomor Beth.
"Halo, Ma!"
"Beth, kau dimana?" Tanya Mama Tere to the point.
"Beth--"
"Beth sedang bersama Yvone, Ma!"
"Iya, tadi Beth sudah baikan setelah minum obat, lalu Yvone mengajak Beth jalan-jalan."
"Jalan-jalan kemana? Mau pulang jam berapa? Apa ada Reandra juga?" Cecar Mama Tere yang mendadak ingat pada Reandra yang oernah Beth akui debagai pacar dan kata Beth juga Reandra adalah sepupu Yvone, entah benar entah tidak.
"Tidak ada Reandra, Ma! Beth hanya bersama Yvone!"
"Mama mau bicara dengan Yvone kalau begitu!" Pinta Mama Tere tegas.
"Hah!"
"Berikan ponselmu pada Yvone sekarang!" Perintah Mama Tere lagi.
"I--iya, Ma!" Terdengar bisik-bisik Beth pada Yvone yang tak terlalu jelas, sebelum kemudian suara Beth sudah berubah menjadi suara Yvone.
"Halo, Aunty! Selamat malam!"
"Yvone? Kamu Yvone?" Tanya Mama Tere memastikan.
"Iya, Aunty! Ini Yvone. Kebetulan tadi Yvone mengajak Beth keluar karena katanya Beth suntuk di rumah--"
"Keluar kemana? Sekarang kalian dimana?" Cecar Mama Tere lagi.
"Kami di--"
"Dimana, Yv?" Sergah Mama Tere tak sabar.
"Kami di apartemen, Aunty! Beth katanya mau menginap--"
"Iya, Ma! Beth mau menginap di apartemen Yvone dulu karena besok Yvone akan mengajak Beth pergi ke kota D!"
Mama Tere sontak mengernyit dengan kalimat yang diucapkan sang putri. Ke kota D?
"Mau apa ke kota D, Beth?" Tanya Mama Tere tak senang.
"Menemani Yvone, Ma!"
__ADS_1
"Kata Yvone dia ada urusan bisnis--"
"Iya, urusan bisnis dan sekalian liburan, Aunty! Yvone berencana mengajak Beth karena katanya Beth belum pernah ke kota D."
"Lagipula, Yvone juga pergi sendiri. Jadi kalau Beth ikut,Yvone tak akan kesepian."
"Boleh, kan, Aunty?"
"Tidak boleh!" Jawab Mama Tere yang langsung tegas melarang.
"Ma!"
"Kau pulang sekarang, dan tak usah menginap, Beth! Papa akan menjemputmu!" Ucap Mama Tere sekali lagi semakin tegas.
"Beth tidak bisa pulang sekarang, Ma!"
"Papa dan Mama akan menjemputmu! Berikan lokasimu sekarang!"
"Tidak bisa--"
Uhuk-uhuk! Uhuk-uhuk!
Tiba-tiba terdengar suara batuk dari ujung telepon yang langsung membuat Mama Tere mengernyit.
"Beth, itu siapa yang batuk?" Tanya Mama Tere penuh selidik.
"Bukan siapa-siapa, Ma! Nanti Beth telepon lagi, Bye!"
"Beth!"
Tuut! tuut!
Telepon sudah terputus dan sepertinya sengaja diputuskan sepihak oleh Beth. Mama Tere berusaha menelepon nomor sang putri lagi namun malah tidak aktif.
"Beth!!" Geram Mama Tere yang kini merasa marah.
"Bagaimana? Beth jadinya dimana, Ma?" Tanya Papa Will yang baru keluar dari dapur.
"Mama juga tidak tahu! Katanya dia sedang bersama Yvone dan tak pulang malam ini--"
"Tak pulang bagaimana?" Sergah Papa Will bingung.
"Dia mau menginap di apartemen Yvone," ujar Mama Tere sembari menggeram marah.
"Ya sudah biarkan saja," tukas Papa Will tiba-tiba yang tentu saja langsung membuat Mama Tere mengernyit tak paham.pada sang suami.
"Kok biarkan saja, Pa? Nanti kalau terjadi sesuatu pada Beth bagaimana?" Mama Tere ganti menatap geram pada sang suami.
"Tidak akan terjadi apa-apa!"
"Beth bukan anak kecil dan dia pasti sudah paham mana yang baik dan tidak baik untuknya, Ma!" Papa Will sudah merengkuh kedua pundak Mama Tere sekarang.
"Kita harus percaya pada Beth, Ma!" Ucap Papa Will lagi yang masih membuat Mama Tere merengut.
"Papa akan menghubungi Tinggi dan minta dia mengawasi Beth kalau Mama masih cemas," cetus Papa Will kemudian seraya mengambil ponsel Mama Tere.
"Timmy pasti bekerja malam ini dan dia belum tentu mau, Pa!" Tukas Mama Tere mengingatkan sang suami. Namun Papa Will masih tetap mencoba untuk menghubungi Timmy.
"Nomor Timmy juga tak aktif,", lapor Papa Will kemudian pada Mama Tere.
"Ck! Kakak beradik sama saja! Kompak sekali mematikan ponsel!" Gerutu Mama Tere yang malah membuat Papa Will terkekeh.
"Mungkin mereka sengaja agar kita bisa berduaan malam ini," tukas Papa Will kemudian yang malah sudah melingkarkan lengannya di pinggang mama Tere.
"Papa, apa, sih!" Wajah Mama Tere langsung tersipu dan memerah. Wanita paruh baya itu juga sedikit menggeliat, sembari berusaha melepaskan dekapan Papa Will.
"Papa akan mengunci pintu depan dulu, Ma!" Seru Papa Will pada Mama Tere yang sudah menghilang ke dalam kamar.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1