
"Usap!" Titah Fairel pada Beth yang kini sudah berada di atasnya.
Suara deburan dari ombak yang enabrak batu karang, mengiringi adegan mesra Fairel yang kini berbaring di atas hammoc bersama dengan Beth yang bearda dinatas Fairel. Dan tentu saja ini semua bukanlah mimpi, karena baru kemarin malam Fairel dan Beth tiba di pulau ini untuk menikmati honeymoon mereka yang sudah satu bulan tertunda.
Tertunda karena Fairel dan Beth sibuk menyiapkan acara resepsi pernikahan mereka yang mewah nan megah!
"Kau yakin ini kuat dan kita tak akan jatuh, Iel?" Tanya Beth ragu, karena berat tubuhnya ditambah berat tubuh Fairel yang sepertinya melebihi berat maksimal yang bisa ditopang oleh hammock. Lagipula, bukankah ini hammock ukuran single yang seharusnya hanya dipakai satu orang saja.
"Aman, Beth! Tak usah cemas dan cepat usap wajahku!" Perintah Fairel sekali lagi yang langsung menbuat Beth berdecak..
"Biar apa juga diusap-usap begini?" Tanya Beth terheran-heran.
"Karena aku pernah bermimpi, aku sedang honeymoon bersamamu di pantai ini juga. Lalu kau tengkurap di atasku sembari mengusap wajahku seperti ini!"
"Iya, seperti ini!" Cerita Fairel yang langsung membuat Beth mengernyit penasaran.
"Kapan kau mimpi seperti itu?" Tanya Beth kemudian yang sudah benar-benar penasaran.
"Saat aku berlibur sendiri. Tapi sialnya waktu itu yang mengusap-usap wajahku malah Gavin menyebalkan!" Ungkap Fairel lagi yang langsung membuat Beth tergelak.
"Aku jadi curiga kau ada something bersama Gavin," seloroh Beth kemudian yang langsung membuat Fairel mendelik horor pada istrinya tersebut.
"Tidak mungkin! Aku pria normal, Beth! Kalau aku menyimpang, mana mungkin aku menikahimu, lalu menusuk milikmu setiap malam?" Tukas Fairel blak-blakan yang langsung membuat Beth berdecak.
Beth lalu lanjut mengusap-usap wajah Fairel sambil sesekali memciuminya, saat tiba-tiba terjadi satu hal yang sejak tadi Beth khawatirkan.
Bruuk! Gubraaaak!
Hanya dalam hitungan detik, tali hammock tiba-tiba putus dan membuat Beth serta Fairel jatuh terjerembab ke atas pasir.
"Auuuuwwwww!!" Fairel yang jatuh dan tertimpa tubuh Beth langsung mengaduh penuh drama.
"Kan aku sudah bilang tadi kalau hammock-nya tidak kuat!" Gerutu Beth seraya memukul-mukul dada Fairel.
"Aduuh, Beth! Aku sudah kau timpa, masih saja kau pukuli," rengek Fairel dengan ekspresi lebay kekanakan.
"Biar saja!"
"Kau yang membuat kita berdua jatuh!" Ujar Beth yang masih lanjut memukuli dada Fairel.
"Ck!" Fairel akhirnya berddcak, lalu mendekap erat tubuh Beth.
"Mau ap--" Pertanyaan Beth belum selesai, saat tiba-tiba Fairel sudah mengajak Beth berguling ke samping.
"Ieeel!!" Jerit Beth bersamaan dengan posisi wanita itu yang kinj sudah berada di bawah Fairel.
"Hahahaha! Kau tak bisa kemana-mana sekarang!" Fairel mengerling nakal pada Beth sembari menaikturunkan alisnya.
"Kau mau apa memangnya?" Beth meronta dan berusaha melepaskan diri dari kungkungan Fairel. Namun gagal.
"Masih bertanya mau apa? Tentu saja mau mengajakmu bercinta." Fairel berbisik di telinga Beth, sebelum kemudian menggigut cuping telinga istrinya tersebut.
"Jangan gila! Kita ada di tempat terbuka!" Beth refleks mendorong dada Fairel yang baru saja memaparkan ide gilanya.
Benar-benar gila memang suami Beth ini!
"Justru itu! Kita kan belum pernah bercinta di alam terbuka, Beth! Diatas pasir bersama hembusan angin pantai dan ombak yang berdebur--"
"Sinting! Bagaimana nanti kalau pasirnya ikut masuk? Bisa-bisa anuku menghasilkan mutiara nanti!" Cerocos Beth yang langsung membuat Fairel tertawa terbahak-bahak.
"Kelakarmu lucu sekali, Beth!" Faire akhirnya menyingkir dari atas Beth dan pria itu masih terus terbahak.
__ADS_1
"Aduuhh! Aku sampai sakit perut!" Gelak Fairel seraya memegangi perutnya. Sementara Beth yabg akhirnya lepas dari kungkungan Fairel, langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Fairel yang tetap tergelak.
"Dasar sinting!" Gerutu Beth sembari berjalan ke arah resort tanpa pamit pada Fairel.
"Lucu sekali, Beth!" Ujar Fairel lagi yang akhirnya berhenti tertawa. Fairel kemudian mengedarkan pandangannya karena Beth yang mendadak sudah meninggalkannya begitu saja.
"Beth!" Seru Fairel saat melihat Beth yang sudah berjalan ke arah resort.
"Beth! Tunggu aku!" Fairel bangkit dengan cepat, lalu pria itu segera berlari menyusul Beth ke arah resort.
"Beth! Bethany!" Seru Fairel yang tak berhenti memanggil-manggil nama Beth. Hingga akhirnya Fairel berhasil menyusul Beth yang memang sengaja menghentikan langkahnya di undakan yang menuju ke resort.
"Kenapa meninggalkanku?" Protes Fairel dengan nafas ngos-ngosan sembari memegangi lutut Beth yang kini duduk di undakan.
"Salah sendiri tertawa sampai terbahak-bahak!" Cibir Beth.
"Kelakaranmu tadi lucu sekali! Tentang anumu yang menghasilkan mutiara gara-gara kemasukan pasir pantai," ujar Fairel yang kembali tertawa.
"Ck!" Beth langsung berdecak dan membenarkan topi pantainya.
"Ayo masuk dan berendam!" Ajak Beth kemudian pada Fairel yang masih saja tertawa.
"Berendam?" Kedua mata Fairel langsung berbinar.
"Iya! Lalu nanti kembali ke pantai untuk melihat sunset," ujar Beth yang langsung membuat Fairel bangkit berdiri penuh semangat.
"Siap! Nanti kita neligat sunset sambik berpelukan di atas hammock lagi, ya!" Fairel mengajukan syarat.
"Tapi cari yang ukuran hammocknya besar dan jangan yang kecil seperti tadi," pesan Beth yang sudah ikut bangkit dari duduknya. Fairel langsung bergerak cepat untuk merangkul istrinya tersebut.
"Siap!!" Nanti kita juga akan berkemah di pantai--"
"Romantis, kan?" Fairel sudah menaikturunkan alisnya ke arah Beth.
"Ya! Tapi aku tak mau melakukannya! Lebih baik tidur di kamar saja, toh tetap bisa melihat langit malam lewat skylight!" Ujar Beth yang langsung membuat Fairel terkekeh.
"Baiklah, kita akan tidur dan bercinta di kamar malam ini, Istriku!"
"I love you!"
"I love you too!" Jawab Beth sembari membenamkan kepalanya di dekapan Fairel. Pasangan suami istri itu lalu berjalan ke arah kamar mereka yang pemandangannya langsung mengarah ke laut lepas.
****
"Seratus, seratus satu, seratus dua," Beth terus menghitung sembari jarinya menunjuk ke langit di mana bintang-bintang tampak bertaburan. Langit malam ini mdmang benar-benar cerah, mejbuat Fairel dan Beth yang masih saling berpelukan di atas hammock ebggan untuk beranjak.
"Sudah dapat berapa jadinya?" Tanya Fairel yang sejak tadi tak berhenti menciumi puncak kepala Beth.
"Seratus lima puluh!"
"Kau?" Beth mendongak dan menatap pada wajah Fairel yang semakin tampan saja menurutnya. Perasaan aneh apa ini? Beth jatuh cinta pada suaminya sendiri?
"Sudah ratusan!" Jawab Fairel sembari tersenyum, lalu mencium kening Beth.
"I love you, Beth!" Ucap Fairel lagi entah sudah yang keberapa hari ini.
Entahlah, Beth juga malas menghitung lagi. Satu hal yang jelas hati Beth akan langsung berbunga-bunga bila mendebgar Fairel mengucapkan kalimat tersebut.
"I love you too, Iel!" Balad Beth sebelum kemudian Fairel mencecap bibir Beth.
"Bibir manis favoritku!" Gumam Fairel kemudian sembari mengusap bibir Beth memakai jemarinya.
__ADS_1
"Lanjut menghitung bintangnya?" Tanya Beth kemudian dan Fairel langsung mengangguk. Beth lalh menatapada hamparan bintang di angkasa yang ssmakin terlihat indah dengan hadirnya bulan sabit malam ini.
Alam pun ikut bahagia dengan kebahagiaan yang Beth rasakan malam ini!
"Seratus lima puluh!" Fairel bergumam sembari mencium puncak kepala Beth lagi.
"Seratus lima puluh satu, seratus lima puluh dua, seratus lima puluh tiga...."
"Ngomong-ngomong, aku boleh minta hadiah ulang tahunku sekarang?" Beth kembali mendongak dan menatap wajah sang suami yang masih mendekapnya.
"Boleh! Kau mau apa?" Tanya Fairel to the point.
"Sebuah rumah...." Beth menatap penuh cinta pada Fairel.
"Rumah? Kau tidak betah di rumah Mom?" Tanya Fairel seraya mengernyit.
"Aku belum selesai!" Tukas Beth cepat.
"Oh, baiklah! Kau mau rumah apa?" Tanya Fairel lagi.
"Rumah di tepi pantai untuk hari tua kita!"
"Seperti rumah Tante Vale, dan di depannya adalah toko kue Sweety Cake!" Ungkap Beth yang langsung membuat Fairel menghela nafas, tersenyum, lalu geleng-geleng kepala. Benar-benar ekspresi yang membuat Beth bingung.
"Kenapa? Permintaanku berlebihan, ya?" Tanya Beth cemas.
"Iya, berlebihan jika kau mintanya sekarang, karena a,u masih harus bekerja di Halley Development, Beth! Aku belum bisa pensiun!" Ucap Fairel tegas.
"Tapi aku mintanya kan untuk masa tua. Aku mknta dari sdkarang maksudnya agar kau--"
"Maksudku kita berdua bisa menabung dulu," Beth mengoreksi kalimatnya dan Fairel langsung mengangguk paham.
"Untuk nanti masa tua?"
"Iya!"
"Kita bisa mencicilnya pelan-pelan," imbuh Beth lagi.
"Aku saja yang mencicilnya karena ini akan menjadi hadiahku untukmu," tukas Fairel yang langsung membuat Beth tersenyum lebar.
"Tapi kau harus berjanji satu hal, Beth!" Pinta Fairel kemudian yang langsung membuat Beth mengernyit.
"Berjanji apa?"
"Tetaplah berada disisiku apapun yang terjadi dan bagaimanapun keadaanku."
"Aku benar-benar ingin menghabiskan sisa usiaku dan menua bersamamu," pinta Fairel yang langsung membuat Beth mengangguk-angguk.
"Aku akan selalu berada di sisimu, Iel!"
"Sampai kita menua bersama," janji Beth yang langsung membuat Fairel mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Beth. Fairel juga mencium puncak kepala Beth berulang-ulang sembari membisikkan kata-kata cinta.
"Ayo masuk!" Ajak Fairel kemudian saat angin pantai mulai terasa menusuk tulang. Beth hanya mengangguk dan wanita itu langsung membenamkan wajahnya di dekapan Fairel, saat suaminya tersebut mendekapnya hingga ke kamar mereka di dalam resort.
.
,
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1