
"Mau Mom kupaskan lagi mangganya?" Tawar Mom Yumi, setelah Beth menghabiskan sepiring mangga matang yang tadi dibawakan oleh mertuanya tersebut.
"Beth sudah kenyang, Mom! Nanti lagi saja makannya," tolak Beth halus yang langsung membuat Mom Yumi mengangguk. Disaat bersamaan, ponsel Beth mendadak berdering karena ada panggilan masuk.
"Iel?" Gumam Beth setelah membaca nama kontak yang tertera di layar ponselnya. Fairel memang sudah pergi ke kantor beberapa jam yang lalu, setelah sedikit diseret oleh Dad Liam. Sepertinya suami Beth itu juga ingin ikut-ikutan bedrest, namun tentu saja tak bisa!
"Halo!" Sambut Beth setelah mengangkat telepon dari Fairel.
"Hai, Sayang! Kau merindukanku? Aku masih ada satu meeting setrlah ini tapi setelah itu aku akan langsung ke rumah sakit dan mengobati segala kerinduanmu padamu!"
Beth sampai mengerjapkan matanya beberapa kali, saat mendengar cerocosan panjang kali lebar Fairel dari ujung telepon. Siapa memangnya yang merindukan pria itu? Percaya diri sekali!
"Beth sayang! Istriku yang paling manis!"
"Hmmm!" Jawab Beth sedikit malas.
"Kau sedang apa?"
"Baru selesai makan mangga," jawab Beth lagi.
"Oh. Mangga muda, ya? Sisakan untukku, ya!"
"Mangga matang!" Sergah Beth cepat.
"Kenapa bukan mangga muda saja?"
"Tidak mau! Mangga muda rasanya asam dan aku tidak suka!" Jawab Beth tegas.
"Tapi aku suka! Dan rasa mangga muda manis, Beth! Asal makannya sambil lihatin wajah kamu."
"Gombal!" Sahut Beth cdpat yang wajahnya mendadak berssmu merah. Gombalan Fairel receh sekali padahal, tapi tetap saja sukses membuat Beth tersipu.
"Iel! Kau sedang apa? Meeting akan segera dimulai!" Tiba-tiba terdengar suara seseorang entah Ryan entah Dad Liam.
"Sebentar, Dad--"
"Sudah! Cepat tutup teleponnya, Iel!" Perintah Beth kemudian dengan nada tegas pada Fairel.
"Aku meeting tak lama dan aku akan segera ke sana setelah selesai! Oke!"
"Iya, iya!" Jawab Beth kembali dengan nada malas.
"Bye, Sayangku! Mmmmmuahh!"
"Hmmm--"
"Balas Mmmmmuahh juga dan jangan hanya berdehem begitu, Beth!"
"Ada Mom," bisik Beth beralasan.
"Lalu kenapa? Malu? Kiss bye pada suami sendiri masa iya malu!"
"Ck!" Beth langsung berdecak.
"Cepat, Beth! Aku harus meeting!"
__ADS_1
"Iya meeting sana!" Jawab Beth cepat.
"Kiss bye dulu, Beth! Agar aku tak--" kalimat Fairel mendadak terpotong.
"Agar kau tak kenapa?" Tanya Beth yang mendadak jadi penasaran dengan apa yang terjadi pada suaminya itu sekarang.
"Brengsek! Kenapa aku mual-mual lagi?"
Tuut tuut!
Telepon dari Fairel sudah terputus begitu saja sebelum Beth sempat berkomentar. Beth akhirnya hanya geleng-geleng kepala.
"Terlalu bucin. Makanya mual-mual," gumam Beth kemudian seraya menyimpan ponselnya lagi.
"Ngomong-ngomong, Mama dan papa kamu kapan pulang, Beth?" Tanya Mom Yumi membuka obrolan.
"Kurang tahu, Mom. Sepertinya--" Kalimat Beth belum selesai saat pintu kamar perawatan tiba-tiba sudah menjeblak terbuka. Ada Mama Tere yang kini berdiri di depan pintu kamar Beth.
Lah!
Kenapa Mama Tere bisa tahu kalau Beth dirawat?
"Mama?" Gumam Beth akhirnya bersamaan dengan Abang Timmy dan Papa Will yang turut menampakkan dir mereka. Sementara Mama Tere langsung menghampiri bed perawatan dan memeluk Beth dengan erat.
Jelas sudah siapa yang memberitahu Mama Tere kalau Beth sedang dirawat. Abang Timmy!
"Kau baik-baik saja, kan? Tidak ada luka serius? Kandunganmu bagaimana?" Cecar Mama Tere kemudian sembari memindai kondisi Beth dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mama kandung Beth itu terlihat cemas sekali.
"Beth baik-baik saja, Ma!" Jawab Beth menenangkan Mama Tere, sembari menatap kesal ke arah sang abang yabg sekarang pura-pura tak tahu apa-apa. Dasar!
"Kandungan kamu? Kata Timmy kamu hamil?" Cecar Mama Tere lagi kali ini sembari memegang perut Beth.
Kenapa harus ember dan mengacaukan rencana Beth untuk memberikan kejutan pada Mama dan Papa, sih?
Menyebalkan!
"Kandungan Beth juga baik-baik saja, Bu Tere! Beth hanya perlu bedrest kata dokter." Mom Yumi yang akhirnya menjawab pertanyaan Mama Tere tadi, karena Beth madih brrkutat dengan gerutuannya pada Abang Timmy. Meskipun Beth hanya bisa menggerutu dalam hati. yapi nanti jika ada kesempatan, Beth pasti akan mengomeli abangnya tersebut!
"Syukurlah kalau begitu!"
"Seharusnya kau tidak ceroboh dan pecicilan lagi!" Omel Mama Tere kemudian yang tentu saja langsung membuat Beth merengut. Kemarin itu Beth lari-lari kan karena dikejar oleh Fairel. Jadi yang bersalah disini adalah Fairel dan bukan Beth!
"Beth!" Tegur Mama Tere lagi.
"Eh! Iya, Ma! Tadinya Beth kan juga tidak tahu kalau Beth sudah hamil," tukas Beth kemudian kembali beralasan. Beth lalu melemparkan tatapan kesal lagi pada Abang Timmy yang malah menggeleng-geleng tak jelas. Ternyata Abang Beth itu benar-benar tak peka!
Dan sekarang Abang Timmy malah pergi ke sofa di sudut ruangan, seolah sedang menghindari Beth. Dasar!!
"Jadi, tadi baru pulang atau bagaimana, Bu Tere?" Tanya Mom Yumi kemudian membuka obrolan bersama Mama Tere.
"Iya, baru pulang, Bu! Dan Timmy langsung memberitahu kalau Beth sedang dirawat. Jadi kami langsung kesini," cerita Mama Tere.
"Kami benar-benar khawatir," sambung Mama Tere lagi sembari mengusap kepala Beth.
"Beth baik-baik saja, Ma! Tak perlu khawatir berlebihan!" Tukas Beth dengan bibir yang sudah mengerucut.
__ADS_1
"Lain kali hati-hati dan jangan ceroboh lagi!" Nasehat Mama Tere kemudian pada sang putri.
"Iya, Ma! Iya!"
"Beth akan hati-hati dan tidak main kejar-kejaran--" Beth buru-buru membungkam mulutnya sendiri.
"Main kejar-kejaran? Jadi kau jatuh terpeleset karena main kejar-kejaran?" Cecar Mama Tere seraya menatap tajam pada Beth.
"Bukan, Ma!" Sanggah Beth cepat. Mama Tere tentu saja langsung geleng-geleng kepala dan Mom Yumi hanya tertawa kecil.
"Iel yang mulai, Ma! Dia mengejar-ngejar Beth. Makanya Beth lari," cicit Beth yang akhirnya membuay pengakuan.
"Beth!!" Geram Mama Tere sembari mencubit gemas pipi Beth yang langsung merengut.
"Itu yang terakhir dan Beth tak akan mengulanginya, Ma!" Janji Beth akhirnya pada Mama Tere sembari mengangkat satu tangannya.
"Sebaiknya memang begitu!"
"Nanti Mom akan mengomeli Fairel sekaligus menasehati agar ia tak melakukan hal-hal konyoo lagi," timpal Mom Yumi yang sudah m engusap lembut kepala Beth.
Mom Yumi dan Mama Tere kemudian ganti mengobrol hal lain, dan Beth yang sedikit bosan menyimak, kembali mengarahkan tatapan tajamnya ke arah Abang Timmy yang sepertinya sedang mengobrol bersama Papa Will.
Eh, tapi sepertinya sudah selesai . Abang Beth itu kini malah bangkit dari sofa dan menghampiri Beth.
"Ada apa?" Abangb Timmy sedikit berbisik pada Beth yang langsung menghela nafas dan memutar bola mata.
"Abang mengacaukan semuanya!" Dengkus Beth yang balik berbisik pada Abang Timmy.
"Maksudnya?" Abang Timmy tampak mengernyit bingung.
"Beth tadinya mau menbuat kejutan pada Mama dan Papa mengenai kehamilan ini! Toh besok Beth juga sudah bisa pulang. Tapi malah Abang mengatakannya duluan!" Decak Beth yang malah membuat Abanb Timmy mengul*m senyum.
Dasar!
Sudah salah, masih bisa tersenyum!
"Gagal deh rencana Beth!" Dengkus Beth lagi.
"Abang benar-benar tak tahu, Beth! Abang minta maaf, ya!" Abang Timmy tiba-tiba sudah memeluk Beth lalu mencium kening Beth juga.
Hah! Kalau Fairel tahu bisa perang dunia ini!
"Ish! Nanti kalau Iel tahu, bakal mencak-mencak, Bang!" Beth langsung cepat-cepat melepaskan pelukan Abang Timmy, sebelum Fairel muncul. Suami Beth itu kadang bisa tiba-tiba muncul tanpa aba-aba, tanpa tanda-tanda.
"Iya, makanya mumpung suamimu tak ada, kita berpelukan dulu sampai puas," seloroh AbanbAbang Timmy yang langsung membuat Beth kembali memutar bola mata.
Bisa-bisanya!
"Abang peluk-peluk dan cium Kak Yvone sana! Sudah punya istri juga! Masih saja usil pada Beth!" gerutu Beth yang langsung membuat Mama Tere menghentikan obrolannya bersama Mom Yumi. Mama Tere lalu langsung melontarkan pertanyaan pada Timmy yang membuat Beth lumayan kaget.
Abang Timmy belum membawa Mama dan Papa menjenguk Kak Yvone?
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.