
"Disini?" Tanya Fairel memastikan, seraya pria itu menatap pada gedung yang menjulang di hadapannya.
Ya, itu adalah salah satu gedung apartemen elite yang ada di kota ini. Fairel bisa saja membeli salah satu unit dari apartemen tersebut. Tapi Beth pasti tak akan mau menempatinya karena istri Fairel itu sudah mengatakan kalau ia ingin sebuah rumah di dekat pantai dan bukan sebuah unit apartemen mewah.
"Iya alamatnya memang disini! Aku akan naik dan kau--"
"Ck! Aku ikut naik bersamamu, Beth!" Ucap Fairel tegas sembari melepaskan helm dari kepalanya. Beth akhirnya tak berkomentar apa-apa lagi dan membiarkan Fairel mengantarnya ke lantai atas, tempat unit apartemen customer Beth berada.
Setelah bertanya pada security sekaligus meminta izin untuk naik, Beth dan Fairel akhirnya masuk ke dalam lift dan segera menuju ke lantai tujuan.
"Kau mau aku belikan unit apartemen mewah?" Tawar Fairel yang langsung dijawab Beth dengan gelengan kepala.
"Kan aku sudah bilang kalau aku minta rumah saja di tepi pantai, " tukas Beth dengan nada tegas. Tak berselang lama, lift akhirnya tiba di lantai tujuan. Beth memeriksa satu persatu nomor di pintu agar tak salah ketuk. Dan tepat saat Beth menemukan unit apartemen yang ia cari, ponsel Fairel tiba-tiba berdering nyaring.
"Sial! Dad menelepon!" Ujar Fairel setelah membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
"Kau angkat sana!" Perintah Beth cepat.
"Customer-mu perempuan atau laki-laki!" Fairel malah bertanya pada Beth dan tak kunjung mengangkat telepon Dad Liam.
Masih saja cemburuan!
"Nyonya Dennison. Dia perempuan," gumam Beth setelah membaca nama yang tertera di atas kotak kue.
"Baiklah! Aku angkat telepon dulu!" Oamit Fairel sembari sedikit menjauh. Beth kemudian segera menekan bel di samping pintu.
Ting tong!
Beth menatap ke arah Fairel yang masih menelepon, sembari menunggu pintu di buka. Namun pintu tak kunjung dibuka, jadi Beth menekan bel sekali lagi.
Ting tong!
Selesai menekan bel kedua, pintu akhirnya dibuka dari dalam. Beth segera mengulas senyum dan versiap menyap sang tuan rumah sekaligus customernya.
"Selamat siang--" Beth tak menyelesaikan sapaannya, saat ia melihat wanita yang baru saja membuka pintu dan kini berdiri sembari menatapnya dengan tatapan tak bersahabat.
Sial! Kenapa wanita ini yang membuka pintu dan menjadi customer Beth?
Ingatan Beth langsung melayang ke saat dimana wanjta bernama Kath inj datang ke tokonya untuk membeli kue. Lalu ia melihat abang Timmy yang mengambil pesanana.
Ah, ternyata wanita inimemang sdngaja enesan kue agar abang Timmy yang mengantar, lalu ia bisa merayu abang Beth itu lagi.
__ADS_1
Benar-benar licik!
Tapi syukurlah Tuhan tak memberikan ia jalan. Toh nyatanya Kak Yvone mendadak sakit tadi dan abang Timmy jadi batal mengirim pesanan wanita licik ini.
"Pesanan atas nama Nyonya Dennison?" Tanya Beth kemudian dengan nada sinis.
"Ini pesanan anda, Nyonya Dennison!" Ucap Beth lagi sedikit ketus. Tentu saja Beth ketus karena wanita di depannya inj benar-benar tak tahu diri!
"Apa kau berharap kalau yang akan mengantar pesananmu adalah Abang Timmy?" Sinis Beth kemudian yang langsung membuat wanita bernama Kath itu membisu. Skakmat!
"Asal kau tahu, Kath! Abang Timmy sekarang sudah menikah dan sudah bahagia bersama istrinya. Jadi kau tak perlu lagi mengganggunya!" Ujar Beth lagi memberitahu Kath agar wanjta inj tahu diru dan berhenti mengejar serta mengganggu abang Timmy. Beth sangat yakin kalah abang Timmy akan hidup bahagia bersama Kak Yvone ke depannya. Jadi sudah seharusnya wanita tak tahu diri bernama Kath inj menyingkir dan pergi jauh dari kehidupan Abang Timmy!
Dan jika abang Timmy tak sanggup menyingkirkannya, maka Beth yangbakan melakukannya!
"Lagipula, bukankah dulu kau sendiri yang memilih pria lain dan menolak cinta Abang Timmy? Jadi tak perlu lagi mengganggu Abang Timmy!" Ucap Beth sekali lagi memperingatkan Kath yang kini tampak shock.
Atau mungkin dia menyesal karena dulu menolak cinta abang Timmy, lalu sekarang dia ingin mendekati dan mendapatkan abang Timmy kembali? Serakah!
"Sekali lagi aku peringatkan untuk tak mengganggu Abang Timmy lagi!"
"Selamat siang, Nyonya Kath Dennison!" Pungkas Beth seraya berlalu pergi dan menghampiri Fairel yang juga sudah selesai menelepon.
"Sudah, Beth?" Tanya Fairel sembari memindai wajah Beth yang terlihat kesal.
"Kau kenapa?" Tanya Fairel yang langsung merengkuh kedua pundak Beth, sembari mereka menunggu lift.
"Tidak kenapa-kenapa!" Jawab Beth cepat.
"Tapi wajahmu tampak seperti orang kesal dan marah. Apa customermu tadi adalah musuh bebuyutan?" Tebak Fairel sok tahu bersamaana dengan pintu lift yang akhirnya terbuka.
"Musuh bebuyutan? Aku bahkan tak punya musuh bebuyutan!" Sanggah Beth cepat.
"Hmmmm, lalu kau kenapa?" Tanya Fairel yang masih penasaran.
"Iya pokoknya tidak kenapa-kenapa! Ayo pulang!" Ajak Beth kemudian dengan nada bicara yang sudah naik tujuh oktaf. Fairel hanya mengendikkan bahu dan akhirnya tak bertanya lagi.
"Ngomong-ngomong, tadi Dad memintaku menghadiri acara perusahaan malam ini. Kau mau datang bersamaku, kan?" Ujar Fairel kemudian meminta kesanggupan Beth yang kini tampak menghela nafas panjang.
"Ya! Bukankah itu tugasku untuk selalu mendampingimu ke acara-acara perusahaan," jawab Beth yang langsung membuat Fairel mengulas senyum, lalu mengungkung tubuh Beth ke sisi lift, lalu tersenyum nakal.
"Iel, ada CCTV!" Beth memperingatkan sang suami sebelum terjadi hal memalukan. Syukurlah lift juga sudah sampai di lantai bawah sebelum Fairel sempat mencium Beth.
__ADS_1
"Ck! Belum juga ciuman," decak Fairel kesal yang hanya membuat Beth terkekeh. Pasangan suami istri tersebut lalu bergandengan tangan dan keluar dari lift.
"Ngomong-ngomong, kita tadi belum makan siang, Beth!" Tukas Fairel sembari memegangi perutnya yang kini keroncongan.
"Baiklah, kita makan siang dulu sebelum kembali ke toko--"
"Aku harus segera ke kantor setelah makan siang! Kau ikut aku ke kantor, ya!" Sergah Fairel memotong kalimay Beth.
"Tidak bisa! Aku masih harus mengurus beberapa hal di toko!" Sergag Beth beralasan. Beth sudah memakai helmnya karena kini ia dan Fairel sudah tiba di tempat parkir.
"Ck!"
"Nanti aku naik taksi saja ke toko--" sopur taksinya laki-laki? Aku tak akan membiarkanmu berduaan dengan supir taksi laki-laki di dalam taksi!" Sergah Fairel yang benar-benar membuat Beth ingin garuk-garuk aspal.
"Aku yang naik motor saja ke toko kalau begitu dan kau naik taksi!" Beth akhirnya memberikan jalan tengah.
"Nanti kau mampir-mampir--"
"Ke kantor Reandra Halley yang overprotective terhadap isrrinya!" Beth menyela sekaligus melanjutkan kalimat Fairel.
"Ish! Kenapa bawa-bawa nama itu?" Rengut Fairel yang langsung membuat Beth terkekeh.
"Kan memang itu namamu, Fairel Reandra Halley!" Beth mengerling genit pada Fairel.
"Fairel R Halley! Tak usah sebut nama lengkap!" Ujar Fairel bersungut-sungut.
"Nama bagus-bagus kok disingkat!" Cibir Beth yang kembali terkekeh.
"Biar saja! Ayo cari makan!" Ajak Fairel kemudian seraya memberikan kode pada Beth agar naik ke atas motor.
"Ke B&D Resto?" Cetus Beth yang langsung membuat Fairel merengut dan menggeleng.
"Ke Rainer's Resto sajalah!" Putus Fairel akhirnya seraya melajukan motor Abang Timmy menuju ke Rainer's Resto.
.
.
.
Cerita Abang Timmy, Kak Yvone, dan Kath ada di "Sebatas Teman Ranjang"
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.