
"Hari ini hasil pemeriksaan Timmy keluar, kan?" Tanya Beth setelah gadis itu menyelesaikannya sarapannya.
"Ya!"
"Tapi aku ada janji penting satu jam lagi," ujar Yvone seraya melihat arlojinya.
"Tapi nanti kau kesini lagi, kan, Yv?" Tanya Beth lagi memastikan.
"Ya! Aku akan kesini lagi." Yvone menatap sejenak ke arah Timmy yang sepertinya masih nyenyak.
"Aku tidak tahu Abang Timmy terjaga sampai jam berapa dinihari tadi."
"Aku sudah ngantuk sekali setelah menyuapinya tengah malam tadi, jadi aku tidur duluan," ungkap Beth saat menyadari tatapan Yvone pada Abang Timmy. Terlihat berbeda. Apa Yvone ada something pada Abang Beth itu?
"Yasudah, tak perlu dibangunkan dulu," tukas Yvone yang akhirnya berhenti menatap pada Abang Timmy. Yvone lalu mengambil tasnya dan hendak bersiap pergi.
"Yv, apa ada kedai kopi dekat sini?" Tanya Beth kemudian pada Yvone.
"Di kantin bawah sepertinya ada kopi. Mau aku belikan?" Tawar Yvone yang langsung membuat Beth bangkit dari duduknya.
"Aku ikut ke bawah saja! Toh Abang Timmy juga masih tidur nyenyak," ujar Beth yang sedikit jenuh berada di dalam kamar perawatan sang abang.
"Baiklah, kalau begitu!" Yvone menghampiri bed perawatan Timmy, lalu mendekatkan alat panggil ke sebelah bantal pria itu, agar nanti saat Timmy bangun dan butuh sesuatu, ia bisa langsung memanggil perawat.
"Kau sepertinya perhatian sekali pada Abang Timmy," Celetuk Beth yang langsung membuat Yvone menatap bingung ke arahnya.
"Perhatian bagaimana? Timmy kan abangmu dan kau teman baikku. Jadi Timmy temanku juga!" Tukas Yvone seraya mengendikkan bahu.
"Toh Abangmu juga sudah punya pacar, kan?" Sambung Yvone lagi sebelum kemudian gadis itu membungkam mulutnya sendiri dengan cepat.
Lah!
"Kau tahu kalau Abang Timmy sudah punya pacar?" Tanya Beth menatap penuh selidik pada Yvone.
"Atau kau pernah melihat pacar Abang Timmy, Yv?" Cecar Beth lagi.
"Itu...." Yvone menggaruk tengkuknya sendiri dan terlihat salah tingkah.
"Itu apa?" Beth semakin menyelidik.
"Aku tak sengaja melihat saja!"
"Waktu itu aku sedang hang out bersama temanku ke sebuah kelab malam dan aku tak tahu kalau abangmu kerja di kelab itu."
"Lalu aku melihat abangmu mengobrol bersama seorang wanita dan mereka terlihat akrab, lalu pulang bersama." Yvone bercerita panjang lebar seraya mengendikkan kedua bahunya.
"Pulang ke kost-an abang Timmy?" Tanya Beth menerka-nerka.
"Aku tidak tahu! Aku tak membuntuti," jawab Yvone kembali mengendikkan bahu.
"Tapi kau melihat wajah wanita itu, kan? Pacarnya abang Timmy?" Cecar Beth lagi penuh selidik.
"Sedikit," jawab Yvone meringis.
"Namanya Kath kalau tidak salah," ucap Beth lagi.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Yvone penasaran.
"Abang Timmy menyebutnya berulang-ulang!"
"Tadinya aku pikir mungkin Abang Timmy ke kota ini juga untuk menemui Kath atau entahlah..." Beth sedikit menerawang dan mulai menerka-nerka.
"Jadi maksudmu pacarnya Timmy tinggal di kota ini?" Tanya Yvone kemudian.
"Mungkin! Aku juga tidak tahu!" Gantian Beth yang mengendikkan bahu.
"Kau kan yang pernah melihat wajahnya! Barangkali lau lebih tahu atau pernah melihat Kath?" Ujar Beth kemudian menatap penuh harap pada Yvone.
__ADS_1
Kalau Beth tahu Kath dimana, setidaknya Beth bisa minta Kath untuk menemui Abang Timmy atau menjelaskan hubungan apa yang sebenarnya mereka jalin. Karena sikap abang Timmy semakin aneh saja belakangan ini.
Mulai dari mabuk tak jelas, lalu babak belur di kota orang!
Hhhh! Beth benar-benar tak habis pikir!
"Aku tidak tahu," ujar Yvone seraya menggelengkan kepalanya.
Beth akhirnya hanya bisa menghela nafas putus asa. Kemana lagi Beth harus mencari Kath.
"Tadi katanya mau beli kopi, Beth! Jadi?" Tanya Yvone kemudian mengingatkan Beth yang langsung menepuk keningnya sendiri.
"Oh, iya!"
"Ayo!" Ajak Beth kemudian seraya merangkul Yvone. Dua gadis itu lalu keluar dari kamar perawatan Timmy dan segera menuju ke kantin rumah sakit.
****
"Kan! Tidak antri!" Ujar Yvone setelah ia dan Beth turun dari taksi. Tadi mereka memang pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli kopi. Namun ternyata stok kopi sedang kosong. Jadilah Yvone mengusulkan agar mereka pergi ke salah satu gerai kopi yang sebenarnya tak terlalu jauh dari rumah sakit. Namun untuk lebih mempercepat waktu, dua gadis itu memutuskan naik taksi saja.
"Hanya beli kopi, lalu aku akan langsung kembali ke rumah sakit dan kau bisa langsung--"
"Beth!" Panggilan seseorang yang berjalan ke arah Beth dan Yvone, membuat Beth tak jadi menyelesaikan kalimatnya.
Bukankah itu Rossie? Sedang apa dia di kota ini?
Ya ampun!
"Kau disini juga? Sedang apa dan bersama siapa?" Tanya Rossie yang sudah menghampiri Beth.
"Bersama temanku," jawab Beth seraya menunjuk ke arah Yvone.
"Teman? Atau pacarnya Abang Timmy jangan-jangan!" Tebak Rossie sok tahu.
"Bukan!" Jawab Beth dan Yvone berbarengan.
Sedetik kemudian, seorang wanita ikut menghampiri Rossie, Beth, dan juga Yvone.
"Sebentar! Aku bertemu temanku ini. Yang kemarin membuat wedding cake-nya Abang Angga!" Cerita Rossie yang kemudian memperkenalkan Beth pada wanita asing tadi.
"Namanya Beth," ujar Rossie.
"Oh, jadi dia? Wedding cake-nya cantik!" Puji wanita yang kata Rossie bernama Kath tersebut. Kath rupanya adalah sepupu Rossie, dan wanita itu tinggal di kota D. Jadi sebenarnya Rossie sedang mengunjungi Om dan Tantenya di kota D sekarang.
Tapi ngomong-ngomong, kok nama sepupu Rossie sama dengan nama gadis yang kerap disebut oleh Abang Timmy, ya?tapi mustahil kalau Kath-nya Abang Timmy adalah sepupu Rossie ini, kan?
Ah, tidak mungkin!
Yang punya nama Kath kan banyak! Jadi mungkin kebetulan saja.
"Jadi kau disini ada pekerjaan atau liburan, Beth?" Tanya Rossie kemudian pada Beth.
"Aku.... liburan!"
"Iya, kan, Yv!" Beth menyenggol pundak Yvone yang entah mengapa sikapnya mendadak jadi aneh sejak sepupu Rossie tadi bergabung bersama mereka. Yvone seperti sedang menutupi wajahnya. Padahal tak ada yang salah dengan penampilan Yvone.
"Iya!" Ujar Yvone yang hanya menjawab singkat kalimat Beth. Gadis itu kembali memalingkan wajahnya dan mengarahkan tatapannya ke arah lain.
Aneh!
"Itu temanmu, Beth?" Tanya Kath kemudian pada Beth seraya mengendikkan dagunya ke arah Yvone.
"Iya! Dia yang mengajakku liburan ke sini," ujar Beth seraya tersenyum.
"Wajahmu terlihat tak asing! Apa kita pernah bertemu?" Tanya Kath kemudian pada Yvone yang tampak salah tingkah.
"Hah? Entahlah, aku tak ingat!" Jawab Yvone tergagap.
__ADS_1
"Ah, iya!"
"Kau yang malam itu tak sengaja aku tabrak, kan? Di acara perusahaan!" Tukas Kath tiba-tiba yang langsung membuat Yvone tertawa aneh.
"Benarkah? Aku sedikit lupa," ujar Yvone seraya menggaruk tengkuknya yang tertutup syal.
"Acara dimana, Kath?" Gantian Rossie yang bertanya pada Kath.
"Saat aku menemani Uncle Rob! Di malam saat Marv melamarku," cerita Kath dengan mata berbinar. Wanita itu bahkan juga memamerkan cincin yang melingkar dibjari manisnya.
"Jadi, kau sudah dilamar?" Tanya Yvone kemudian setelah Kath memamerkan cincinnya. Cara Yvone bertanya sedikit aneh.
"Ya! Dia akan menikah sebelum aku." Bukan Kath, namun Rossie yang menjawab seraya berseloroh.
"Tidak, tidak! Kau dan Keano silahkan menikah duluan! Aku dan Marv belakangan saja!" Tukas Kath seraya tergelak. Dua gadis itu terus saja tergelak bersama, sementara Beth hanya diam sembari berpikir keras.
Bukankah saat di rumah sakit tadi, Yvone sempat mengatakan kalau ia pernah melihat wajah Kath pacarnya Abang Timmy?
Beth lalu kembali menatap pada Yvone yang hanya berekspresi datar sembari melemparkan tatapannya pada Kath yang masih tergelak bersama Rossie. Tatapan Yvone terlihat aneh. Jangan-jangan....
"Aunty menelepon!" Ucapan Rossie akhirnya menghentikan tawa dua gadis di hadapan Beth tersebut.
"Ayo pulang kalau begitu!" Ajak Kath kemudian.
"Oh, ya, Yv! Perihal gaunmu yang waktu itu--"
"Sudah aku laundry dan tak ada masalah apa-apa!" Jawab Yvone cepat sembari tersenyum pada Kath. Senyum terpaksa tampaknya karena senyuman Yvone yang biasanya tak seperti itu. Beth tentu saja tahu!
"Syukurlah kalau begitu! Aku minta maaf sekali lagi," ucap Kath lagi.
"No problem!" Jawab Yvone cepat sebelum kemudian Kath dan Rossie berlalu meninggalkan gerai kopi.
"Kau tadi jadi pesan kopi tidak, Beth!" Teguran Yvone langsung membuyarkan lamunan Beth.
"Iya!" Jawab Beth yang akhirnya berjalan ke meja pemesanan. Sembari menungyu kopi pesanannya, Beth kembali mencecar Yvone yang tadi sikapnya aneh.
"Yv!"
"Ya!" Yvone menatap ke arah Beth.
"Kau kan pernah melihat wajah Kath, pacarnya Abang Timmy. Apa itu adalah Kath yang tadi?" Tanya Beth penuh selidik yang tak langsung dijawab oleh Yvone. Sahabat Beth itu diam untuk beberapa saat sebelum kemudian ia menggeleng.
"Sepertinya bukan," jawab Yvone lirih.
"Yakin?" Tanya Beth lagi karena ekspresi wajah Yvone menunjukkan sesuatu yang mencurigakan.
"Aku tidak ta--" jawaban Yvone belum selesai, saat ponsel gadis itu mendadak berdering.
"Aku angkat telepon dulu," pamit Yvone seraya menjauh dari Beth yang masih menunggu kopi pesanannya jadi.
Tak berselang lama, Yvone sudah menghampiri Beth lagi.
"Aku harus pergi sekarang, Beth!" Ujar Yvone kemudian seraya mengangsurkan beberapa lembar uang pada Beth.
"Tidak usah! Aku bawa uang sendiri," tolak Beth cepat.
"Bawa saja!
"Aku juga mungkin kembali agak sore nanti. Bye!" Pamit Yvone kemudian seraya berlalu dan keluar dari kedai kopi.
Beth yang masih berada di dalam kedai kopi hanya bersedekap seraya bergumam,
"Sikap Yvone aneh sekali!"
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.