
"Apa tidak bisa libur dulu satu hari, Bang?" Tanya Beth yang kini bersedekap di ambang pintu kamar kost-an Timmy. Gadis itu masih keberatan dengan keputusan sang abang yang akan tetap berangkat kerja malam ini, meskipun tangan dan kakinya masih babak belur.
"Abang sudah libur tiga kali bulan ini, Beth! Tidak bisa libur lagi," jawab Timmy beralasan dan keras kepala.
"Ck!" Beth hanya mampu berdecak.
"Kau disini saja dan Abang akan membawa motormu--"
"Dengan kaki Abang yang pincang itu?" Sergah Beth dengan suara yang sudah meninggi.
"Abang bisa, kok!" Tukas Timmy tetap keras kepala.
"Beth antar!"
"Tapi--"
"Pokoknya Beth antar atau Abang tidak usah bekerja!" Tegas Beth yang langsung membuat Timmy berdecak.
"Lagipula ini belum terlalu malam dan jaraknya juga dekat," sambung Beth lagi sembari melihat jam yang melingkar di tangannya. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam sekarang.
"Tapi nanti langsung pulang dan jangan kelayapan!" Pesan Timmy tegas.
"Iya, Bang!"
"Mama pasti marah jika tahu kau keluar malam-malam begini," tukas Timmy lagi sedikit bergumam.
"Dan mama akan lebih marah saat tahu abang mengalami kecelakaan tapi tak memberitahu mama dan papa," timpal Beth yang langsung membuat Timmy kembali berdecak.
Tadi Beth memang sudah menelepon Mama Tere untuk minta izin menginap di kost-an Abang Timmy malam ini. Tentu saja Abang Timmy turut bicara pada Mama Tere yang sudah curiga. Tapi tetap saja baik Beth maupun Timmy sama sekali tak menyinggung perihal kecelakaan yang dialami oleh Timmy.
"Pakai jaket kalau mau mengantar!" Timmy melemparkan sebuah hoodie pada Beth yang langsung mengendus aroma hoodie Timmy yang sedikit berbeda dari aroma parfum yang biasa Abang Beth itu gunakan.
"Kok baunya seperti parfum cewek, Bang?"
"Ini hoodie siapa?" Tanya Beth penuh selidik.
"Hoodie aku!" Jawab Timmy cepat.
"Tapi sepertinya pernah dipakai seseorang," terka Beth seraya menaik turunkan alisnya.
"Sok tahu!" Kelit Timmy yang langsung mengacak rambut Beth.
"Apa cewek yang di kost-an Abang waktu itu?" Tanya Beth lagi kepo.
"Itu pacarnya Abang, ya? Kenalin, dong!" Cerocos Beth kemudian yang langsung ditanggapi Timmy dengan raut wajah lesu.
"Bukan pacar!" Sanggah Timmy yang malah lebih mirip orang patah hati.
Aneh!
"Ayo berangkat dan berhenti bawel!" Ajak Timmy kemudian seraya merangkul Beth keluar dari kost-an. Kakak beradik itu masih bersenda gurau hingga motor melaju meninggalkan kost Timmy dan menuju ke sebuah kelab malam, dimana Timmy bekerja sebagai bartender.
__ADS_1
****
Fairel yang masih meneguk minumannya, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, hingga kemudian tatapannya tak sengaja tertumbuk ke arah Rossie yang sedang menyandarkan kepalanya di pundak Keano di sudut ruangan.
Fairel langsung mendengus dan buru-buru membuang pandangannya ke arah lain. Pria itu juga langsung menenggak sisa minuman di gelasnya hingga tandas, hanya dalam satu tegukan.
"Brengsek!" Umpat Fairel yang tetap saja hatinya merasa dongkol. Padahal Fairel sudah move on!
Fairel mengendurkan dasi yang melingkar di lehernya, sebelum kemudian pria itu menutuskan untuk pergi dari acara menjemukan ini saja.
Toh Beth juga sepertinya tak datang! Sejak tadi Fairel belum melihat tukang kue menyebalkan itu padahal Fairel ingin membuatnya terkena serangan jantung dengan menunjukkan foto-foto perselingkuhan Reandra.
"Pasti sedang berduaan dengan Reandra! Atau jangan-jangan sudah check in berdua di hotel?" Gumam Fairel yang mendadak hatinya terasa semakin dongkol saat membayangkan Beth yang diajak Reandra check in ke hotel.
"Kenapa gadis itu bisa bodoh sekali!" Geram Fairel kemudian yang sudah masuk ke dalam mobil. Fairel mengendurkan dasinya sekali lagi.
"Aku tak percaya, ada gadis sebodoh Beth itu di dunia!" Cerocos Fairel lagi seraya menyalakan mesin mobilnya. Tak butuh waktu lama, mobil Fairel sudah melaju meninggalkan kediaman Halley yang masih meriah dengan acara pertunangan Reina dan Angga malam ini.
****
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam lebih, dan Fairel masih terus melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan. Fairel juga tak tahu ia akan kemana.
Sebenarnya Fairel lapar juga, tapi ia merasa malas jika harus mampir ke kafe atau resto.
Fairel menghentikan mobilnya di persimpangan lampu merah, saat kedua netranya melohat sebuah papan penunjuk restoran cepat saji yang berhadapan dengan sebuah kelab malam yang belum terlalu ramai.
"Aku akan pesan makanan disana saja, lalu mampir di tempat seberangnya itu untuk minum," Fairel bergumam pada dirinya sendiri.
"Lalu aku akan pulang dalam keadaan mabuk dan Dad akan langsung membunuhku," ujar Fairel lagi seraya terkekeh sendiri.
Gila karena patah hati!
"Move on, Iel! Move on--"
Beep beep!
Suara klakson mobil dari arah belakang nyaris membuat jantung Fairel meloncat keluar.
"Sialan! Apa dia pikir aku buta dan tak melihat lampu yang sudah berwarna hijau?" Fairel menggerutu sendiri sebelum lanjut menginjak pedal gas. Pria itu segera melewati persimpangan, lalu membelokkan mobilnya ke restoran cepat saji yang tadi ia lihat.
"Haish! Antri!" Dengkus Fairel saat mendapati antrian panjang di bagian drive thru. Mau turun dan makan di tempat Fairel juga malas.
Kepalang tanggung, Fairel akhirnya tetap masuk ke dalam antrean, sembari pria itu membuka kaca jendela mobilnya dan mengamati keadaan sekitar.
Fairel terus mengedarkan pandangannya ke segala arah yang bisa ia jangkau, sebelum kemudian tatapan Fairel tertumbuk pada sebuah motor matic usang yang amat sangat ia kenal.
Motor itu sedang berhenti di depan kelab malam yang berseberangan dengan resto cepat saji tempat Fairel mengantre.
"Bukankah itu Beth? Sedang apa dia disana malam-malam? Mau open BO?" Fairel tak menunggu lagi dan pria itu segera keluar dari antrean, lalu mencari U turn untuk berpindah ke sisi jalan tempat Beth berada tadi.
"Jangan bilang kalau Reandra yang membawa Beth ke tempat sialan itu malam-malam! Benar-benar Beth bodoh kalau hal itu benar!" Fairel terus saja bercerocos sembari mengemudikan mobilnya untuk menghampiri Beth.
__ADS_1
Dari kejauhan, Fairel bisa melihat Beth beserta motornya yang masih berada di depan kelab malam. Fairel memilih untuk memarkirkan mobilnya sedikit jauh. Lalu pria itu segera turun dari mobil, dan setengah berlari menghampirinya Beth yang sudah hendak pergi.
"Beth!" Panggil Fairel sedikit berseru.
Beth langsung terlihat bingung dan celingukan saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang.
"Kau sedang apa disini, hah? Kencan dengan pacarmu yang brengsek dan buaya itu?" Cecar Fairel kemudian dengan nafas sedikit ngos-ngosan, yang langsung membuat Beth berekspresi bingung.
"Pak Iel bertanya padaku?" Beth balik bertanya pada Fairel yang kini berkacak pinggang dan berusaha mengatur nafasnya.
"Ya! Memangnya ada Beth lain disini selain kau?" Jawab Fairel ketus.
"Bukan urusan Pak Iel!" Ujar Beth tak kalah ketus. Gadis itu sudah menyalakan mesin motir dan hendak pergi, namun Fairel dengan cepat menahan motor Beth dari bagian depan.
"Reandra yang mengajakmu kesini?" Tanya Fairel lagi.
"Sudah aku bilang, bukan urusan Pak Iel!"
"Dan satu lagi! Reandra itu bukan pria brengsek! Jadi stop mengatakan yang buruk-buruk tentang Reandra!" Beth sudah ganti menuding dan menggertak pada Fairel.
"Aku berkata apa adanya dan bukan menuduh!"
"Dan aku punya bukti!" Ucal Fairel berapi-api sembari mengeluarkan ponselnya. Fairel langsung memutar video percakapannya versama Reandra serta menunjukkan foto-fotonya Reandra yang tengah merangkul seorang gadis di dalam airport.
Raut wajah Beth seketika langsung berubah saat Fairel menunjukkan semua bukti kebrengsekan Reandra tersebut.
"Mustahil!" Gumam Beth yang rupanya masih tak percaya.
"Pak Iel pasti mengeditnya! Itu bahkan bukan suara Reandra!" Beth terus menyangkal, meskipun raut wajah gadis itu mengatakan sebaliknya.
"Kenapa aku harus repot-repot mengedit apalagi membuat video palsu? Pacarmu itu memang pria brengsek dan playboy yang kerap bergonta-ganti cewek.
"Kau saja yang bodoh dan gampang dibodohi," tukas Fairel yang lebih mirip nada mencibir.
"Tapi itu tidak mungkin--" Beth merebut paksa ponsel Fairel lalu memutar lagi video percakapan tadi. Dan foto-foto Reandra bersama seorang gadis tadi juga Beth zoom berkali-kali.
"Tidak mungkin!"
"Masih tidak percaya, hah?" Fairel sudah mencondongkan tubuhnya ke arah Beth yang kini hampir menangis.
Disaat bersamaan, tiba-tiba terdengar gertakan dari seseorang yang berdiri di balik punggung Fairel.
"Kau apakan Beth, hah?"
Fairel baru saja menoleh, dan dalam waktu sepersekian detik, tiba-tiba bogem mentah sudah mendarat di wajah Fairel, tepat di bagian mata hingga kemudian membuat Fairel terjengkang ke belakang.
Bugh!
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.