Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 10-Kalau Kamu Kenapa-napa, Bagaimana?


__ADS_3

Meskipun sudah memberikan hukuman pada Reksa, agar pria itu mau belajar mencintainya, tetap saja hati Celine masih merasa tidak baik-baik saja. Kejadian tadi malam ibarat cobaan yang sangat membuatnya tersiksa. Kini, yang bisa ia lakukan hanyalah diam dan menyesal.


Setelah menimang-nimang, akhirnya Celine memutuskan untuk menghubungi Keira. Waktu Jakarta sepertinya sudah sampai di pertengahan hari dan pasti Keira sedang menyantap makan siang. Sebelum merealisasikan rencananya tersebut, Celine mengirimkan sebuah pesan terlebih dahulu untuk memastikan apakah Keira bisa dihubungi.


Hanya berselang satu menit, Keira memberikan balasan.


Keira: Enggak, Cel. Hari ini aku makan siang di luar. Rekan-rekanku memilih di kantin, biasa tanggal tua. Mereka mau hemat, tapi aku enggak. Lagi ngidam burger nih. Ada apa? Kangen, yah?


Celine tersenyum tipis. Baru setelah itu, ia bergegas untuk menghubungi Keira via suara. Ia tidak membalas pesan berikut pertanyaan dari Keira.


Benar saja, tak butuh waktu lama, Keira langsung menerima telepon dari Celine. Suasana di tempat Keira berada, terdengar damai dan tidak asing. Hanya alunan musik melankolis yang menjadi backsound panggilan tersebut. Celine tahu di mana Keira sekarang. Sebuah kafe yang kerap menjadi janji temu dan makan siang untuknya dan sahabatnya itu. Kafe biasa yang menyajikan belasan menu lezat dan mengenyangkan perut, terutama burger kesukaan Keira.


Ah ... membayangkannya saja, Celine merasa lapar. Seandainya, ia belum menikah dan tidak terbang ke Moskow, Rusia, mungkin saat ini ia tengah berada di sisi Keira sembari menyantap burger dan segelas es kopi yang mantap. Namun, sayang takdir membawanya masuk ke dalam sebuah pernikahan yang sejatinya hanyalah sebuah keterpaksaan. Bahkan, ia sampai terserat pada acara bulan madu yang tidak semanis madu. Fatalnya, Celine sendiri yang menyetujui perjalanan itu.


“Ada apa, Cel? Kangen aku, ya?” tanya Keira, sebagai kata sapa pertama yang ia tujukan pada sahabat sekaligus istri dari atasannya.


Celine tetap mengangguk, meski ia tahu Keira tidak dapat melihat bagaimanapun ia bersikap. ”Benar, Ra. Aku kangen kamu, kangen kafe, kangen burger dan es kopi. Lalu, ayah, ibu, si rese' Kenny. Semuanya!” jawabnya antusias.


“Danurdara? Kamu kangen dia juga enggak nih?”


“Boleh, asal bukan si Bos Culun!” sahut Celine. “Dia kawan pulangku, si Lamban yang enggak pernah menyatakan perasaan, meskipun memang ada. Hahaha.”


“Dia bukannya enggak mau, Cel. Dia hanya ingin membebaskanmu, sampai kamu dan aku bisa keliling dunia,” ralat Keira. “Ah ... sebenarnya aku kemarin bertemu dengannya. Dia suram banget, Cel, kayak enggak ada semangat. Merasa frustrasi, gara-gara kamu menikah dengan pria lain.”


“Alah! Kalau aku sudah pergi, baru menyesal. Biar saja, Ra. Lagian lamban sih. Masa iya, aku yang menyatakan cinta duluan. Enggak banget, Ra! Aku butuh cowok gentle, macho, dan terumata pemberani. Mungkin Danu bisa cepat move on, Ra. Dia juga bisa dapat cewek yang lebih baik daripada aku.”


Keira menghela napas. “Aku pikir kamu yang akan menyesal setelah aku mengatakan apa yang Danu pikirkan, Cel. Tapi, Celine memang tetap Celine, ya. Enggak kendor dengan hal seperti itu. Tapi, Cel, aku rasa Danu enggak semudah itu move on dari kamu. Kamu sudah benar-benar menarik perhatiannya, Cel! Dia kerap tersenyum setiap kali membahas kamu. Manis banget cara dia mengungkapkan kekagumannya sama kamu.”


Celine mendesis lelah. Keira tak pernah berubah. Tipikal emak comblang yang tidak akan menyerah, sebelum dua manusia yang menjadi targetnya sudah menjadi satu. Terlebih lagi, saat Celine justru masuk ke dalam neraka dunia, dengan cara hidup bersama atasan angkuh dan killer menurut Keira. Celine pastikan, Keira akan terus membujuknya untuk berpisah dengan Reksa, lalu menerima cinta dari Danu.

__ADS_1


Namun, lelucon Keira tidak akan mungkin bisa Celine pertimbangkan lagi. Selain sudah memiliki tujuan penting terhadap diri Reksa, ia juga sudah kehilangan kesucian. Danu atau mungkin pria lajang lain, hanya akan apes jika mendapatkan wanita yang sudah tidak gadis lagi seperti Celine.


“Sudahlah, Ra, aku menghubungi kamu bukan untuk membahas Danu. Lagi pula, mau didorong sekeras apa pun sama kamu atau orang lain, aku tetap enggak akan berpisah dengan Reksa. Sekalipun enggak ada cinta di dalam pernikahan kami, bagiku yang namanya perceraian adalah sebuah aib yang enggak bisa aku ambil. Mau hidup seperti neraka seumur hidup, rasanya pun tak apa. Asalkan orang tua kami tetap baik-baik saja,” ucap Celine sejelas-jelasnya.


Keira terdengar menghela napas. Dan memang benar, Keira sedang kesal. Ia sudah mengupayakan agar Danu bersedia membujuk Celine agar terlepas dari jerat pernikahan, tetapi Celine justru menguatkan tekatnya untuk bertahan di dalam rumah tangga yang serba tidak baik-baik saja.


“Jadi, ada apa?!” Ketus, Keira bertanya. Sebal masih saja melingkupi hatinya. Ia yang khawatir, bahkan sangat ketar-ketir, tetapi Celine seolah tutup mata dan tutup telinga.


“Umm ....” Bibir Celine mengerucut. Hatinya mendadak diselimuti rasa bimbang. Perihal kejadian tadi malam, haruskah ia katakan pada Keira? Ataukah lebih baik tidak usah? Ia benar-benar membutuhkan pelampiasan untuk membagi keluh kesahnya. Dan hanya Keira yang selama ini mampu menjadi telinga untuknya, bukan Rodian, bukan pula Kenny—si adik super menyebalkan—atau bahkan Deswita—ibunya yang kalau mengomel bisa menghabiskan waktu 24 jam.


“Ada apa, Cel?!” Keira mengulangi pertanyaan dengan suara lebih lantang.


Celine terkesiap. “Umm ... Ra?”


“Ya! Kenapa sih?”


“Celine!” Tiba-tiba saja, suara berat dan menggelegar terdengar bersamaan dengan bunyi pintu yang didobrak.


“Reksa?!” Celine yang terkejut langsung bangkit. Sementara, ponselnya terjatuh di atas ranjangnya.


”Reksa? Hah! Jangan-jangan ...?” Di belahan dunia sebelah timur, Keira ikut terkesiap. Suara Reksa yang terdengar menggelegar membuatnya berspekulasi bahwa Celine tengah terlibat permasalahan pelik. “Cel? Celine? Halo! Celine?! Kamu enggak apa-apa, 'kan? Celine?! Jawab dong!"


Mendengar suara asing dari ponsel Celine, Reksa segera mengambil langkah cepat. Ia merampas benda genggam tersebut tanpa meminta izin sama sekali. Dilihatnya nomor yang memiliki nama kontak ‘Keira’ masih terhubung via suara.


“Berisik sekali!” ucap Reksa dan tak berselang lama, ia mematikan panggilan tersebut.


Celine mengerjapkan matanya dan hatinya masih tidak mengerti. Mengapa Reksa tiba-tiba datang? Pintu? Astaga! Tampaknya, Celine lupa mengunci pintu kamar hotel tersebut. Benar-benar ceroboh. Setelah merusak sebuah patung dan membuat Reksa mengeluarkan banyak dana untuk ganti rugi, bisa-bisanya Celine kembali bertindak tidak hati-hati.


“Kamu pikir ini kampung? Kamu pikir ini rumah kecilmu yang bau itu?!” Reksa mulai mengomel dan bisa dipastikan, sebentar lagi hinaan lebih tajam akan keluar secara lancar dari mulut panasnya.

__ADS_1


Celine memutar bola matanya. Jengah. Dari dulu, ia sangat membenci sebuah omelan. Kalau ibunya marah-marah saja, ia langsung mencari earphone dan mendengarkan musik, atau mungkin kabur ke apartemen Keira lalu hangout mencari makan dan shopping-shopping kecil untuk memuaskan hasrat petualangannya. Namun, semenjak menjadi istri Reksa, Celine tidak memiliki akses untuk melakukan semua kegiatan itu, terlebih lagi ia sedang berada di negeri asing.


“Kalau mau tidur, mau makan, mau jungkir balik, atau mau apa pun, pastikan pintu kamu tetap tertutup, Cel! Kita enggak pernah tahu, keberadaan orang-orang jahat. Bisa saja mereka ada di sekitar sini dan diam-diam menargetkanmu!” lanjut Reksa.


“Aku pandai bela diri,” jawab Celine ringan, cenderung acuh tak acuh.


Reksa mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. “Aku tahu, aku sendiri juga bisa. Tapi, yang namanya orang tidur pasti bisa lengah, 'kan?! Kalau kamu enggak bisa melawan pas orang jahat itu menyerang, bagaimana? Sesusah apa sih tutup pintu doang?! Ceroboh ya ceroboh, tapi, ya jangan bodoh! Kalau kamu kenapa-napa, bagaimana?!”


“Cih.” Celine tersenyum tipis. “Kamu sedang mengkhawatirkan aku, yaaa?! Jadi, setuju nih sama permintaan aku barusan? Kamu mau, 'kan, belajar mencintai aku?”


“Jangan bicara sembarangan! Aku enggak akan pernah mau! Dan lagi, kamu sudah pernah membuatku rugi. Pertama, di apartemen, apa kamu sudsh lupa barang apa yang kamu rusak? Dua, kamu memecahkan ornamen hotel. Ketiga, tiba-tiba menghilang tanpa pamit. Dan sekarang, pintu enggak—”


“Aaaa!” Celine menutup kedua telinganya. “Berisik, berisik, berisik! Sudah kayak ibuku saja, banyak ngomelnya!”


”Apa?!”


“Pokoknya, kalau enggak mau belajar mencintai aku, kamu harus kembalikan tanda daraku, titik! Kalau enggak mau dua-duanya, aku sumpahin hidung kamu makin lebar bukan hanya kayak gua, tapi juga lubang pembuangan isi perut!”


“Astaga ....”


Reksa benar-benar nyaris kehilangan akal. Celine sukses membuatnya kerap naik pitam. Ada saja ucapan aneh bin unik, ada saja tindakan tengil ditambahi mata bulat yang mendelik-delik, dan belum lama ini wanita itu memberikan permintaan super aneh yang membuat Reksa harus bersabar sepuluh kali lipat.


”Aku sudah meminta maaf, dan rasanya sudah cukup! Ingat posisimu, Cel! Kamu bukan siapa-siapa dibandingkan denganku. Lagi pula, tadi malam aku enggak terlalu menikmatimu, jadi untuk apa minta pertanggungjawaban yang enggak masuk akal?! Aku bisa memberikan kompensasi berupa uang, atau bahkan gedung. Oh ... atau buat saja hutangmu padaku perihal ganti rugi itu lunas. Impas, 'kan?!” tegas Reksa.


Celine menggeleng. “Enggak mau! Enggak mau pokoknya!” Detik berikutnya, ia menangis histeris.


Reksa memejamkan matanya. Bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Meski ucapannya terdengar sadis, sebenarnya relung hatinya merasa sangat bersalah. Seandainya, tadi malam ia tidak menenggak wiski dalam jumlah banyak, mungkin kesalahan itu tidak akan pernah terjadi. Ingin melampiaskan semua kesalahan pada Celine yang jelas-jelas sudah membantunya mengubah posisi tidur, juga tidak baik. Penyesalan Reksa yang lain adalah saat ia lupa meminta kunci kamar hotelnya yang salah satunya masih berada di tangan istrinya tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2