Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 94-Keira Galau


__ADS_3

Keira menangis di dalam kamar, dengan isak yang terdengar cukup memilukan. Sekian tahun selalu bersabar, pada akhirnya kepedihan itu tiba-tiba tidak bisa ia tahan. Kenyataannya menjadi anak yang diabaikan, memanglah sangat menyebalkan. Bukan keinginannya untuk berbuat durhaka pada orang tua satu-satunya, tetapi orang tua yang durhaka pada anak juga masih banyak, bukan?


Ayah. Keira ingin memanggil namanya. Keira merindukan ayah, ingin bersama layaknya dulu. Meskipun tidak harus dipangku, tidak dikecup, atau mungkin tidak dipeluk, tentu saja bukan masalah besar baginya. Keira hanya menginginkan sedikit perhatian. Bukan sekadar menanyakan kabar, melainkan juga kasih sayang. Keira ingin menjadi putri seperti putri-putri yang lain, seperti Celine misalnya. Rodian begitu memperhatikan Celine, berusaha membuat Celine bahagia tanpa memberikan beban untuk putrinya tersebut.


Namun, Anwar—ayah kandung Keira—tidak melakukan semua itu sejak menikah dengan wanita baru. Memang benar, Dwi alias istri baru Anwar bukanlah ibu tiri yang jahat. Dwi juga lembut, tetapi yang membuat Keira kecewa adalah saat Dwi tidak membujuk Anwar untuk lebih memperhatikannya. Benar-benar disayangkan, bukan? Sebagai sosok baru dengan tipikal selembut itu, Dwi justru tidak berusaha menyikapi sikap suaminya terhadap putri dari suaminya itu sendiri.


“Apa susahnya coba menyayangi aku? Kan aku juga enggak bakalan minta uang lagi. Lagian kan waktu sekolah, aku banyak mendapatkan beasiswa. Ayah enggak banyak keluar uang kok! Tapi, kok aku diperlakukan seperti ini? Datang-datang cuma minta bantuan! Padahal berapa abad dia enggak datang?! Kalau dari dulu-dulu enggak mengabaikan aku, mungkin aku enggak bakalan terluka kayak begini.Dan uang itu akan aku berikan secara ikhlas!” ucap Keira di sela-sela isak tangisnya.


Keinginannya memang terdengar sepele, bahkan sudah termasuk haknya sebagai seorang anak untuk meminta kasih sayang dan perhatian orang tuanya. Namun, bagi Anwar tugas mulia itu mengapa justru tampak sulit sekali? Apa karena Rita tidak ingin berbagi ayah? Atau Dwi yang diam-diam takut jika Anwar kurang memperhatikan Rita, karena terlalu berfokus pada Keira?


Ah, entah. Tidak ada dugaan yang menurut Keira sangat pas untuk dijadikan sebagai sebuah jawaban atas segala pertanyaan yang tersemat di benaknya. Yang ada, ia justru menerka-nerka dengan segala sesuatu yang tidak perlu dan belum tentu benar. Jatuhnya bisa fitnah. Dan Keira akan mendapatkan dampak jika benar, apa yang ia duga adalah opini belaka.


Malam yang biasanya memang sepi dan seram, kini semakin bertambah sunyi. Meskipun ada suara di televisi yang dihidupkan, suara jam dinding yang berdetak, hingga bunyi AC yang mengembuskan angin super dingin, tetap saja hati Keira merasa hampa. Ia tidak merasa lebih baik, meskipun tengah menyendiri di apartemennya yang sepi. Kalau saja Celine masih bebas seperti sebelum menikah, mungkin Keira sudah mengajak sahabatnya itu untuk jalan-jalan dan menghabiskan beberapa uangnya. Nonton bioskop, wisata kuliner kecil-kecilan, shopping, lalu berakhir di tempat karaoke untuk menghilangkan stres.

__ADS_1


Sayangnya, Keira tidak bisa lagi melakukan itu dengan Celine tanpa izin dari Reksa. Kalau ia tetap nekad, tidak hanya Celine yang kena omel, tetapi Keira juga terancam kehilangan pekerjaan. Memang ada dua pria yang menjadi kawan bincangnya belakangan ini, melainkan Danu dan Kenny. Namun, keduanya ada pria yang sebenarnya tidak boleh terlibat dengannya terlalu lama.


Pasalnya, sosok Danu adalah sosok yang pernah Keira sukai, dan detik ini ia tidak lagi memedulikan perasaan itu, sampai terbiasa menjadi sebatas teman, tetapi rasanya tetap canggung jika berjalan-jalan berduaan. Lalu, Kenny? Keira pun tahu bahwa pria yang lebih muda nyaris dua tahun darinya itu, adalah pria manis yang menyukai dirinya. Tidak mungkin Keira meminta bantuan Kenny untuk menemaninya.


Keira akui, sosok yang lebih banyak berbincang dengannya melalui sebuah aplikasi pesan adalah Kenny. Pria itu nyaris setiap malam mengirimi pesan untuk Keira, meski sekadar menanyakan soal pekerjaan yang terkadang masih membuatnya kesulitan. Maklum saja, karyawan baru. Lalu, pertanyaan seputar pekerjaan, berakhir menjadi perbincangan gibah yang membicarakan Celine sebagai fokus utama.


Dan ... sosok itupun kembali hadir, melainkan Kenny yang sudah membuat ponsel Keira bergetar.


Keira menghela napas sesaat setelah membaca pesan dari pria itu. Dan perlahan, muncul senyum yang mampu menepis raut masam dan sendu di wajahnya. Kenny kentara sekali sedang mencari perhatian darinya. Dan sebenarnya Keira pun tahu serta sudah peka. Memang betul, bahwa Kenny masih perlu beradaptasi sebagai karyawan baru. Namun, kalau setiap hari bertanya, bukankah tindakan Kenny bisa dikatakan sebagai modus belaka?


“Dia ini ... lucu,” gumam Keira sembari mengusap sisa-sisa air matanya.


Keira: Kamu kenapa tanya mulu sih, Ken? Memangnya waktu kuliah kamu belajar apa saja sih? Dan lagi, memangnya kamu enggak punya pelatih di kantormu?

__ADS_1


Keira tertawa kecil, setelah mengetik sebuah pesan balasan untuk Kenny. Biar saja, biar pria manis itu langsung gagap dan salah tingkah. Lumayan, 'kan, bisa menjadi bahan hiburan bagi Keira yang sedang gundah?


Tak berselang lama, pesan balasan dari Kenny kembali masuk di ponsel Keira. Membuat Keira langsung bergerak cepat untuk mengambil benda pintar yang sempat ia letakkan di atas nakas tersebut. Ibu jarinya menekan pesan yang sebenarnya sudah tertera di papan pemberitahuan.


Kenny: Yaelah, Ra. Sewot banget ya? Aku kan masih pemula, masih butuh tutor, baik di dalam kantor maupun di luar kantor. Pasalnya, aku kan adiknya Celine, jadi otak aku juga enggak jauh beda dengan otaknya, tahu! Hahaha. Aku butuh latihan dari kamu, supaya aku enggak dibenci sama atasanku, seperti yang terjadi pada Celine waktu itu lho, Ra. Jadi, jangan pelit-pelit kenapa? Kalau pelit nanti lubang hidung kamu jadi sempit!


“Pft, hahaha.” Keira tergelak, mood-nya mendadak naik. Seolah tidak ada kesedihan sama sekali yang sempat menghampiri dirinya. “Kok malah bawa-bawa Celine? Lagian aku juga tahu kalau kamu anak pintar kali, Ken! Duh, dia ternyata seru juga.”


Ketika hendak mengetik pesan balasan, Keira dikejutkan oleh panggilan masuk. Beruntung bukan dari ayahnya yang menyebalkan, melainkan dari ... ya, masih dari Kenny. Keira yang ingin mood-nya terus meningkat, memutuskan untuk menerima panggilan masuk tersebut dengan cepat. Iya, sih, jatuhnya seperti wanita jahat karena telah bersikap yang berpotensi membuat pria itu banyak berharap. Namun, perlahan Keira mulai berpikir, jika pendekatan Kenny membuatnya berkesan, maka ia pun bisa mempertimbangkan untuk menerima perasaan pria itu. Untuk progres ke depan, Keira akan lebih memikirkannya lagi.


Namanya jodoh, siapa yang tahu. Tak peduli soal umur, kalau bisa dicinta rasanya tidak apa-apa. Yang paling penting pihak si pria bisa menjadi pendamping hidup yang bertanggung jawab.


***

__ADS_1


__ADS_2