Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 78-Kejengahan Celine


__ADS_3

Suara gemercik air yang terdengar membuat Celine terpaksa membuka matanya. Sementara sang suami sudah tidak ada di sampingnya lagi, mungkin suaminya itu memang sedang membersihkan diri. Pagi sudah kembali tiba rupanya, cukup menyebalkan sih, serasa waktu berlalu begitu cepat. Padahal, hari ini Celine masih ingin tiduran.


Bunyi ponsel yang terdengar dalam sesaat, membuat Celine lantas menoleh ke tempat di mana benda itu berada. Nakas sebelah kanan yang berdekatan dengan bagian tempat tidur Reksa, dan sepertinya ponsel pria itu yang tengah menimbulkan suara. Sesaat Celine ragu, cukup penasaran, tetapi tidak berani merusak privasi suaminya sendiri. Namun, kejadian pertama kalinya ia membuka ponsel Reksa dan mendapati pesan dari Ailen membuat hatinya kembali dirundung kegelisahan.


Akhirnya, setelah memantapkan niat untuk menyelidiki siapa saja yang mengirim pesan pada Reksa, Celine langsung bergerak. Ia bangkit lalu beralih menuju tempat tidur Reksa. Detik berikutnya, ia meraih ponsel tersebut dari atas nakas, lalu menghela napas untuk mempersiapkan hati pada segala kemungkinan yang terjadi.


Nomor Tak Dikenal: Tuan Reksa, saya benar-benar mencintai Anda. Sungguh, saya ikhlas jika dijadikan sebagai istri kedua.


Nomor Tak Dikenal: Tuan Reksa, selamat pagi. Kita akan bertemu, ‘kan, pagi ini. Luangkan waktu Anda untuk berbicara dengan saya, sebab saya bisa gila kalau seperti ini terus. Saya mohon, Tuan.


“Uhh ... dia lagi?” Celine langsung merasa sesak di bagian dadanya, dan ubun-ubunnya terasa mendidih sesaat setelah membaca kedua pesan, yang salah satu pesan dikirim sejak tadi malam. Sepertinya Reksa tidak menyentuh ponselnya lagi sejak memutuskan untuk tidur.


Benar, bukan, apa yang ia katakan pada Reksa tadi malam? Bahwa cinta itu enggak pandang bulu. Kalau sudah cinta, seseorang tidak keberatan jika mencintai sosok yang sudah memiliki pasangan. Gila sih! Mengapa Ailen belum juga menyerah? Mengapa wanita yang memiliki tingkat kepopuleran tidak main-main itu justru menyukai suami orang? Oh, Celine sangat geram. Banyak sekali sumpah serapah dan kata-kata umpatan yang sudah ia ucapkan.


Paling fatalnya adalah Reksa! Celine benar-benar tidak mengerti bagaimana Reksa berpikir selama ini, selama Ailen mulai bertindak tidak jelas dan sangat sembarangan. Mengapa Reksa tidak memblokir nomor wanita itu? Tidak, tidak, soal nomor ponsel Reksa yang selaku CEO sekaligus pemilik perusahaan saja bisa bocor ke wanita itu. Sejak pertama berpikir sampai saat ini, mengapa Reksa tidak memberikan penjelasan mengenai hal tersebut sama sekali?


“Aku selalu bersikap terbuka, aku mengatakan semuanya dengan jujur. Bahkan soal Danu yang suka sama aku saja, aku katakan padanya, tapi kenapa dia seolah-olah menutupi kehadiran Ailen selama ini?” gumam Celine bertanya-tanya. “Dan mengapa aku justru mendengar segala tingkah polah Ailen dari Keira, daripada dari suamiku sendiri? Sebuah ucapan yang mengatakan bahwa aku berharga untuknya, atau dia sudah menjadi milikku, rasanya hanya akan sia-sia jika dia tidak berkata jujur.”


Celine menghela napas, lalu bergumam lagi, “Lalu, kalau aku meminta penjelasan, pasti jawabannya tetap seperti itu. Ini bukan aku yang berlebihan, ‘kan? Apalagi si Ular sudah membahas soal istri kedua! Yang benar saja, Woi! Sialan! Berasa dibohongi banget gue!”


“Cel? Ada apa?” Tiba-tiba suara Reksa terdengar dan membuat Celine tersentak.

__ADS_1


Beruntung, Celine sudah menghapus kedua pesan itu dan meletakkan ponsel Reksa seperti semula. Ia juga sempat menghafal nomor ponsel Ailen, untuk melakukan sesuatu. Lantas, ia menggelengkan kepala, lalu menjawab, “Enggak apa-apa.”


“Hmm? Kok wajah kamu kayaknya lagi—“


“Sudah aku bilang, enggak apa-apa!” potong Celine cepat.


Reksa begitu terkesiap, lalu merasa heran. Sepertinya kata ‘enggak apa-apa’ memiliki maksud bahwa istrinya memang kenapa-napa. Namun, entah apa yang terjadi pada istrinya itu di pagi hari seperti ini. Seingat Reksa, Celine masih dalam keadaan baik-baik saja tadi malam.


Kalau saja tidak ada jadwal mendesak pagi ini, mungkin Reksa sudah mengajak istrinya itu untuk berjalan-jalan. Namun, apa daya, mencoba meminta penjelasan mengenai masalah apa yang membuat Celine kesal, Reksa sudah tidak sempat. Bahkan, pagi ini kemungkinan besar ia akan melewatkan jadwal sarapan.


“Reksa!” seru Celine diiringi langkahnya yang begitu cepat. “Aku membutuhkan black card-mu,” lanjutnya ketika sudah berada di hadapan Reksa, sementara salah satu tangannya menjulur ke depan.


Dahi Reksa mengernyit. “Black card? Tumben? Buat apa?”


“Enggak apa-apa sih. Nggak masalah, aku malah senang. Tapi, kenapa tiba-tiba?”


“Mau jadi wanita sosialita!”


Reksa menghela napas, lalu bergegas menuju tempat di mana pakaiannya berada. “Katakan padaku, ada apa?”


“Mau belanja, brand-brand terkenal. Enggak boleh, ya? Ya sudah!”

__ADS_1


“Iya boleh, Cel. Boleh saja, aku carikan orang buat temani kamu ya? Keira kan hari ini mau balik ke Bali.”


“Boleh, aku berharap seseorang yang bekerja di perusahaanmu dan seseorang yang mengenal brand-brand terkenal.”


Sembari mengancingkan pakaian, Reksa tersenyum. “Nanti aku hubungi sekretarisku untuk mengantarkanmu. Tapi, setelah itu, katakan padaku apa yang terjadi padamu ya?”


“Gampang! Aku juga berharap kamu memberikan penjelasan, Sa. Dan lagi, kalau ada sesuatu yang berubah, berarti itu ulahku.”


“Memangnya kamu mau bikin ulah apa?”


Celine tidak menjawab dan memutuskan untuk beranjak menghampiri Reksa, lantas membantu suaminya itu untuk bersiap-siap, sebab jujur saja, ia tidak tega membiarkan suaminya sibuk sendirian. Walaupun sangat kesal, tetapi kewajibannya sebagai seorang istri tidak boleh dilupakan.


***


Ailen sudah cantik di pagi hari ini, setelah tadi malam dibuat risau oleh seseorang yang kurang ajar. Ia nyaris dilecehkan oleh salah satu petinggi hotel. Beruntung, salah satu anggota tim dari perusahaan Reksa menemuinya untuk membahas agenda pagi ini. Sehingga, petinggi mata keranjang tersebut langsung kabur dan tak banyak berbuat banyak. Setelah itu, Ailen memutuskan untuk pindah hotel. Ia curiga orang tersebut sudah mengincarnya sejak lama.


Awalnya, Ailen pikir kedatangan seorang petinggi hotel yang mengenalnya adalah untuk menawarkan sebuah kerja sama. Namun, ternyata ada maksud buruk di belakang. Sementara ingin menggugat tentu saja Ailen tidak sanggup. Orang itu sangat berpengaruh dan ia hanya akan kalah, apalagi tanpa memiliki bukti sedikit pun. Anggota tim dari perusahaan Reksa tidak cukup kuat untuk dijadikan sebagai saksi.


Itu sebabnya, dalam keterpurukan yang terjadi tadi malam, Ailen langsung mengirimkan pesan pada Reksa. Kejadian itu membuat Ailen semakin yakin bahwa tidak ada laki-laki lain yang sebaik seperti Reksa. Keangkuhan Reksa tidak mengurangi fakta jika pria itu adalah tipikal pria yang bisa menjaga mata. Hal tersebut membuat Ailen benar-benar tidak sanggup melepaskan keinginannya untuk dapat memiliki Reksa Wirya Pandega.


“Aku benar-benar mencintainya, dan kurasa enggak bakalan ada pria sebaik dia. Semua pria selain dirinya, benar-benar jahat! Tak masalah jika aku hanya jadi istri kedua, sama sekali enggak masalah. Asal aku bersamanya, dan kupikir dia bisa menjagaku, seperti dia begitu menjaga sang istri,” gumam Ailen.

__ADS_1


***


__ADS_2