Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 39-Alasan Reksa Sebenarnya


__ADS_3

“Saya pun bisa membuat nama Anda menjadi buruk dengan fakta bahwa Anda adalah selebgram pemaksa! Apalagi mulut saya ini lemes banget, macam emak-emak rumpi yang lagi ngumpul beli sayur.” Seseorang masuk ke dalam ruang kerja Reksa sembari berucap demikian. Melainkan seorang Celine Aurora Rodiya yang berencana untuk mengejutkan suaminya. Ia berjalan masuk setelah sempat menguping di depan pintu yang sedikit ia buka, tetapi justru mendapati Ailen berada di dalam.


Sebelum datang ke ruang kerja Reksa, sebenarnya Celine lebih dulu bertemu dengan Keira yang baru saja keluar untuk makan siang. Keira mengaku bahwa ada meeting dadakan yang membuatnya terlambat beristirahat. Melalui Keira juga, Celine mengetahui bahwa Ailen ada di tempat Reksa dan mencari informasi tentangnya belakangan ini.


“Hai, Celine! Tumben? Ah, mau ke Reksa? Hati-hati ada Alien di sana. Orang yang belakangan ini mencari tahu tentang kamu, sepertinya dia suka sama Reksa. Ah, maaf ya, jam makan siangku sempit banget, Cel, gara-gara meeting dadakan. Takut maagku kumat, Cel. Ah, kita sambung nanti, ya. Pokoknya hati-hati!” kata Keira begitu terburu-buru beberapa saat yang lalu agar Celine berhati-hati, sebab bisa saja Ailen tengah menggoda Reksa.


Beruntungnya, Celine yang berencana mengejutkan Reksa berpikir untuk memanfaatkan waktu sempit demi mengganti baju dan memperbaiki riasannya. Kedatangan Kenny yang ternyata bersedia mengantarkan bekal makanan ke kantor, telah memberikan kelonggaran bagi Celine untuk mampir ke apartemen Reksa. Kesal sebenarnya, saat sudah mempersiapkan diri, ia justru mendapati wanita lain di ruang kerja sang suami. Namun, bukan Celine namanya jika langsung kalah dan berakhir menangis di pojokan.


“Celine!” Reksa bangkit dan tersenyum lebar mendapati kedatangan sang istri. Kemudian, ia berjalan menghampiri Celine tanpa memedulikan keberadaan Ailen. ”Kenapa kamu enggak ngomong dulu kalau mau datang? Untung saja, aku belum keluar.”


Celine melirik Ailen dengan sinis, bahkan sampai memberikan cibiran menggunakan lidahnya. Sesaat setelah itu, ia menatap Reksa lalu berkata, “Iya, Sayang. Tadi aku buru-buru habis dari kantor buat datang kemari, jadi aku lupa kasih kabar terlebih dahulu.”


“Sa-sayang ...?” Reksa terkesiap dan cukup heran.


“Sssttt ... ikuti saja.”


“Oh ... ha-ha, iya, Sayang. Ha-ha-ha. Ah!” Reksa lantas berbalik dan menatap Ailen yang juga sudah menatap kebersamaannya bersama Celine. “Maaf, Nona Ailen, istri saya tiba-tiba datang. Jadi, maaf sekali, saya benar-benar tidak bisa menerima penawaran dari Anda.”


Celine memberikan cibiran lagi pada Ailen, sementara Reksa berangsur memutar badan. “Ayo, Sayang,” ucapnya ketika Reksa benar-benar sudah kembali menatapnya. “Ngomong-ngomong kita mau makan di mana? Aku bawa bekal buat kamu, Sa, yang bikin Ibu,” bisiknya setelah itu.


“Taman perusahaan, Sayang.”


“Sudah enggak perlu sayang-sayangan, bikin geli ...!”


“Iya, Sayang.”


“Hmm ....”


Detik berikutnya, sepasang suami-istri tersebut bergegas untuk keluar dari ruangan dengan rencana hendak menuju taman perusahaan. Dan Ailen di tempatnya masih terpaku. Sementara kegeraman karena dirinya diabaikan, sudah benar-benar nyaris meliputi hatinya saat ini. Hari yang buruk! Saat ia pikir bisa membawa Reksa untuk makan siang bersama dan menimbulkan skandal, Celine justru datang tanpa diundang.


Di sebuah taman kecil samping kantor, Reksa mengajak Celine menghampiri tempat duduk yang sebenarnya sedang ditempati oleh tiga orang karyawati. Namun, Reksa tidak peduli sama sekali. Dirinyalah yang memiliki perusahaan, bahkan termasuk kursi tersebut.


”Pergi kalian dari sana, tempat itu milik saya!” seru Reksa pada tiga orang karyawatinya.


Celine melongo, bingung. Detik berikutnya, ia berkata, “Jangan seperti itu, Reksa. Kan ada tempat lain yang masih kosong?”

__ADS_1


”Cuma di sana yang adem.”


“Tapi, kan sudah ditempati orang.”


“Perusahaan ini milikku, jadi kursi itu juga milikku.”


“Cih!” Celine menggeleng-gelangkan kepala. “Di mana-mana sama saja!”


Sebuah senyuman menarik kedua sudut bibir Reksa, sementara matanya sibuk menatap sang istri. “Lihat! Mereka pergi, 'kan. Ya siapa sih yang enggak takut sama aku, aku kan monster di mata mereka, Cel.”


Saat kata 'monster' terucap, Celine dapat melihat perubahan ekspresi di wajah Reksa. Sebuah raut masam yang sekilas singgah di paras tampan suaminya tersebut. Membuat Celine lantas teringat pada ucapan Sanny—ibu mertuanya—mengenai Reksa yang kesepian karena tidak pandai dalam bergaul. Mungkin baru Celine yang dapat berbaur dengan pimpinan Gold Pandega Innovation tersebut, ketika orang lain justru merasa ketakutan.


Setibanya di kursi taman pilihan Reksa, keduanya lantas duduk saling berdampingan. Demi menghemat waktu, Celine segera membuka bekal makanan yang disiapkan oleh ibunya. Beberapa masakan rumahan yang Celine ketahui dapat menggugah selera makan Reksa, pasca ia sendiri yang memasakkannya belakangan ini.


“Hasil masakan aku sama Ibu nyaris sama kok, Sa. Soalnya kan beliau guruku,” ucap Celine sembari menyerahkan salah satu kotak yang sudah ia isi nasi dan lauk serta sayur pada suaminya tersebut. ”Malahan, punya Ibu jauh lebih enak.”


”Apa pun itu, aku enggak pilih-pilih kalau makanan. Terlebih, ibuku sering memasak makanan rumahan,” ucap Reksa.


Celine menghela napas. Tidak langsung memulai santap siangnya, ia justru bertanya, “Apakah wanita itu yang bernama Alien?”


“Aaa ... bodo! Cantik ya aslinya? Kayaknya suka sama kamu lho, cieee ... ada yang suka.”


“Enggak cantik, dan aku enggak bangga disukai olehnya.”


“Cantik kok!” ucap Celine. “Sexy lagi, seperti yang kamu bilang.”


“Kamu lebih cantik dan sexy.”


”Halah! Kamu enggak pernah konsisten kalau bilang aku cantik, suka berubah-ubah. Apalagi sexy, sexy apanya coba?”


Reksa menelan makanannya, kemudian menjawab, “Perut buncit kamu sexy, Cel.”


”A-apa? Re-reksa, iiih! Sedikit doang, enggak sampai meleber-leber juga!” Celine yang sudah berwajah merah, segera mencubit pinggang Reksa tanpa peduli suaminya itu masih sibuk menelan makanan.


“Aduduuuh!” Cepat, Reksa menyingkirkan tangan Celine. “Sakit tahu! Lagian kenapa sih bertanya soal dia? Cemburu?”

__ADS_1


”En-enggak!” tukas Celine, berusaha menutupi kekesalannya pasca bertemu dengan Ailen. ”Aku cuma penasaran saja, apalagi kata Keira, belakangan ini dia mencari informasi tentang istri kamu, alias aku sendiri. Terus ... kenapa kamu selalu marah kalau aku kerja sama Danu, sementara ada cewek hot yang lagi mengincar kamu, hah?! Kok enggak berkaca dulu?!”


Reksa menyudahi aktivitasnya untuk beberapa saat. Ia meletakkan kotak nasinya di bagian samping tubuhnya tepat di kursi tersebut. Ia mengambil satu sendok nasi serta lauk dari tempat makan Celine, kemudian menyuapi istrinya itu tanpa mengatakan apa pun.


Mendapatkan perlakuan manis secara mendadak sebenarnya membuat Celine cukup heran dan tercengang. Namun, meski begitu ia tetap membuka rahangnya dan lantas melahap suapan dari sendok di tangan Reksa. Sementara sikap Reksa yang jauh dari sifat buruk tersebut lantas menarik perhatian para karyawan yang masih berada di sekitar taman, mereka berbisik satu sama lain karena merasa sangat heran, termasuk Ailen—sang selebgram—yang tengah menyelidiki kegiatan Reksa dan Celine.


Tentu saja geram serta cemburu semakin membuat Ailen merasa tidak sanggup untuk bertahan di tempatnya, lalu memutuskan untuk pergi sembari merutuki sosok Celine—sang perusak rencananya.


“Makan dulu, jangan ngomong mulu. Kamu datang ke sini sudah sesiang ini, nanti baliknya pasti terlambat. Belum lagi kalau macet,” ucap Reksa seraya memberikan suapan ketiga untuk istrinya. “Nanti aku antar, kalau terlambat aku bisa meminta maaf sama bos kamu.”


”Biar sajalah, Sa. Lagian aku tadi habis marah-marah sama si Culun itu. Terus keluar ruangan sepuluh menit sebelum jam istirahat tiba. Habisnya bagaimana lagi, dia kasih pekerjaan enggak masuk akal ke aku,” kisah Celine.


“Dia masih menyebalkan? Apa perlu aku akuisisi perusahaannya?”


“Ya jangan!” tukas Celine. “Kamu lagi, punya karakter sangat keras. Bisa langsung resign para rekanku, kalau kamu yang memimpin.”


Reksa tertawa kecil. “Ya, aku kan memang monster. Herannya, kenapa kamu justru enggak pernah takut sama aku?”


“Enggak tahu. Mungkin ini sebabnua kenapa aku yang jadi istri kamu, coba kalau orang lain, bisa stres dia, terus memilih mati.”


”Hahaha ... enggak begitu juga, Cel. Belum ada kasus orang bunuh diri gara-gara aku.”


Celine mengiyakan dengan cara menganggukkan kepala. ”Tapi, ada satu orang yang saat ini sangat frustrasi karena kamu, Sa. Katty, ya kalau enggak salah namanya Katty. Sudahlah, Reksa, jangan siksa dia terus. Kasihan, siapa tahu dia punya kehidupan menyedihkan. Lagian kan nama kamu enggak mungkin tercoreng dan rusak parah, hanya karena kata-kata dia.”


“Keira yang mengatakannya?” Reksa meletakkan sendok makan Celine, lalu menghela napas. ”Memang benar aku sedang memberinya hukuman, tapi Keira sepertinya salah paham. Aku melakukan hal itu bukan karena Katty membicarakan diriku, tapi ... karena dia menjelek-jelekkan namamu yang bahkan belum pernah dia temui sama sekali.”


“A-aku?” Celine mengusap tengkuknya saat merasa malu. “I-iya sih. Keira bilang kemarin, tapi dia memang enggak tahu kalau kamu melakukan itu demi aku. Tapi, beneran karena aku?”


Reksa mengangguk. ”Iya, Cel. Dan kamu benar, bahwa belakangan ini Ailen mencari tahu tentang kamu, dari Katty. Sementara kamu tetap istriku, Cel, mau bagaimanapun masa lalu dan keadaan kita sebelumnya. Kalau nama kamu jadi buruk, namaku juga bisa buruk. Rumor besar, termasuk rumor palsu tentangku, awalnya juga berasal dari gosip kecil. Kalau enggak segera ditangani, maka akan fatal jadinya. Makanya, aku berpikir bahwa orang seperti Katty itu harus dibuat sekapok mungkin, biar penyakitnya enggak kambuh lagi.”


Celine manggut-manggut. Kali ini Reksa memberikan penjelasan yang mudah untuk ia cerna. Hal yang membuat jantung Celine berdebar kini tidak hanya aksi manis Reksa dalam menyuapinya, tetapi alasan Reksa menyiksa Katty adalah karena demi menjaga nama baiknya.


Lantas, mereka melanjutkan santap siang dan kini secara masing-masing. Waktu memang terlalu sempit, membuat Celine tidak bisa bersantai lebih lama. Apalagi ia baru saja menggertak atasannya, akan fatal jadinya, jika ia datang terlambat seperti sebelumnya.


***

__ADS_1


__ADS_2