Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 100-Bodo Amat!


__ADS_3

Keira tidak mengerti mengapa pria di hadapannya saat ini justru semakin bertingkah keterlaluan. Danu. Pria itu malah lebih kerap memberikan perhatian padanya, tetapi alih-alih merasa senang karena pria yang sempat ia sukai, perlahan memberikan lampu hijau, hatinya justru merasa agak terganggu. Mungkinkah perasaan Keira pada Danu memang sudah hilang sepenuhnya? Atau karena Keira takut jika perasaan itu kembali datang dan justru lebih besar daripada dulu?


Entah.


Yang pasti Keira adalah seseorang yang memiliki tekad sangat kuat. Kalau sudah berkata untuk sesuatu, maka ia akan mewujudkan sesuatu itu. Misalnya saja untuk tidak memperbesar rasa sukanya terhadap Danu, dan akhirnya mulai berhasil. Meski setiap weekend bersama Danu, hati Keira tidak meletup-letup layaknya dulu. Sejak awal ia sudah membulatkan tekad untuk melupakan Danu. Doktrin yang ia berikan terhadap dirinya kali ini, adalah berhubungan spesial dengan Danu tidak akan pernah berhasil. Hanya saja jika Danu terus datang, bisa saja tekad Keira yang nyaris berhasil itu kembali berantakan.


“Ra, ini makanan buat kamu. Maaf, ya, makan-makan sudah ganggu. Aku cuma khawatir kalau kamu sampai lupa makan,” ucap Danu sembari menyerahkan susunan box berisi makanan yang berasal dari restoran milik keluarganya.


Keira menatap makanan itu, hanya sekilas saja. Lalu, ia beralih menatap Danu. “Kenapa? Maksudku buat apa kamu datang ke sini malam-malam begini, terus kasih makanan, Nu? Apa kamu kepikiran waktu mood aku hancur gara-gara kedatangan ayah aku?” tanyanya setelah itu.


“Ah!” Danu mengusap tengkuk bagian belakangnya. “Jujur, iya. Kamu kelihatan kacau banget waktu itu. Kemarin, sebenarnya aku mau datang, tapi malah ada urusan dadakan. Jadi, buat menepati janji aku sendiri, aku datang malam ini.”


“Iya, terima kasih. Tapi, kenapa kamu begitu peduli sama aku? Aku kan sudah pernah bilang, duluu bangeeet! Aku bilang kamu jangan suka kasih perhatian sama cewek, terutama aku.”


“Ra? Kok membahas itu lagi?”


Keira menghela napas, lalu berusaha menepis segala kecurigaan serta rasa tidak nyaman yang menerpa dirinya. Mungkin karena masih kepikiran soal ayahnya, sekaligus ucapan Celine, sehingga ia merasa sangat sensitif hari ini.


“Terima kasih buat makanannya, Nu,” ucap Keira sesaat setelah meraih makanan yang Danu berikan. “Maafkan aku, aku lagi sensitif banget. Sorry juga nih, enggak bisa ajak kamu masuk. Selain lagi sensitif, aku risih kalau ada cowok masuk ke dalam rumahku, apalagi aku tinggal sendirian.


Danu menghela napas lega. Detik berikutnya, ia mengulas senyuman. “Iya, Ra. Aku mengerti kok, lagian aku cuma mau kasih itu doang, lalu pulang.”


“Terima kasih, Danurdara.”

__ADS_1


“Umm ... ya sudah, aku balik ya. Jangan lupa dimakan. By the way, jangan tidur malam-malam. Besok kamu masih kerja, 'kan? Jaga kondisi kamu, Ra.”


Keira menganggukkan kepala. “Sekali lagi terima kasih, Danu.”


“Iya, Keira, sama-sama.”


“Kamu pulangnya juga hati-hati ya.”


“Siap! Ya sudah aku pulang dulu ya. Bye. Kalau ada apa-apa kamu telepon aku saja, aku siap bantu kok pasti.”


“Iya, Danu.”


Danu tersenyum. Setelah akhirnya, ia benar-benar pergi dari hadapan Keira. Memang tidak ada niat apa pun, selain hanya mengantarkan makan malam untuk wanita itu. Dan semakin lama mengenal Keira, Danu merasa bahwa wanita yang tampak kuat itu sebenarnya rapuh. Keira tidak seperti Celine. Kehidupan Keira yang sepi sudah membuktikan bahwa Keira adalah sosok yang kuat. Namun, rasa sepi itu juga yang membuat Keira rapuh. Danu merasa bahwa dirinya harus bisa melindungi wanita tersebut.


Melainkan Kenny yang langsung menyembunyikan wajahnya dari Danu, sesaat setelah pria itu berjalan menuju arah elevator. Kenny juga melihat bagaimana Danu tersenyum serta menyerahkan sesuatu pada Keira, tanpa mendengar apa pun yang mereka katakan.


Selepas Danu masuk ke dalam elevator, Kenny baru berdiri dengan posisi biasa dan normal. Ia menunduk sembari menarik napas dalam. Tak ia sangka, ternyata Keira masih berhubungan dengan Danu. Wajar sih, lagi pula sejak dirinya belum sedekat itu dengan Keira, Danu-lah lebih awal menjadi teman Keira. Hanya saja, ... mengapa senyum Danu pada Keira tampak berbeda? Bukankah, Danu pernah menyukai Celine? Masa iya, tiba-tiba Danu berubah arah dan beralih menyukai Keira? Bukankah ... rasanya tetap aneh?


“Bodo amatlah! Enggak penting juga, lagian Keira juga enggak bakalan mau, 'kan, sama cowok yang pernah menyukai sahabatnya?” ucap Danu lalu menepis semua rasa penasaran yang menurutnya tidak terlalu penting.


Kenny berjalan menyusuri koridor dari gedung apartemen itu. Ia tak lagi memedulikan keberadaan Danu barusan. Yang ingin ia temui adalah Keira. Karena lagi-lagi, ibunya menitipkan sebesek makanan untuk wanita pujaannya itu.


Setibanya di depan pintu kediaman Keira, Kenny menghentikan langkahnya. Ia menghela napas cukup dalam. Detik berikutnya, ia mengulur tangan ke atas bagian depan, dan berakhir menekan bel tamu di unit kediaman itu. Jujur saja hati Kenny gugup, tetapi juga senang dalam waktu yang bersamaan.

__ADS_1


“Ya?” Beberapa detik kemudian, muncullah Keira dari balik pintu yang baru dibuka. “Eh, Kenny. Hai, selamat malam, Ken. Ada apa nih?”


Kenny tersenyum. “Umm ... ada makanan, enggak, maksudku mau makan bareng di taman lagi?" tawarnya dan seketika berubah pikiran.


Sejenak, Keira tertegun dan hanya diam. Pikirannya menerawang, membayangkan keberadaan Danu barusan.


“Ra? Mau enggak? Ibu kirim makanan lagi nih buat kamu. Dia kan Ibu kamu juga, biasa ada pesanan catering buanyak banget. Nah, Ibu siapin yang khusus buat kamu. Tenang saja, bukan makanan sisa kok, serius!” ulang Kenny dengan penjelasan baru.


Keira menelan saliva, sembari mencermati wajah manis milik Kenny. Ia menghela napas setelahnya, lalu berkata, “Oke! Aku juga punya makanan, jadi bisa tukeran nih. Umm, jujur, Danu yang kasih, barusan. Dia kan juga juragan seafood. Nah, kamu mau enggak kalau kita makan makanan dari Danu?”


“Kenapa enggak? Yang penting kan makanan enak.”


“Waaaah!”


“Mm? Kenapa wah? Ada yang salah, Ra?”


Keira menggeleng. ”Enggak kok. Ya sudah, ayo makan. Di taman ya, jangan di dalam tempatku. Risih.”


“Iya, Ra, siaaap!”


Keira yang sejujurnya agak tidak enak hati, karena akan menyantap makanan dari seorang pria dengan pria lain, justru tetap menyetujui keinginan Kenny. Keira hanya tidak ingin mengabaikan kedatangan cowok super seru yang bisa menaikkan imun di dalam tubuhnya. Apalagi Kenny adalah adik Celine yang pastinya memiliki jalan kehidupan yang serupa.


***

__ADS_1


__ADS_2