
Celine yang belum lama ini mendapatkan telepon dari suaminya, segera mengambil sikap. Ia yang takut akan sesuatu buruk terjadi di dalam kantornya, lantas memutuskan untuk pergi ke tempatnya bekerja selama beberapa tahun tersebut. Entah kapan ia menceritakan perihal sikap buruk sang bos pada Reksa, bahkan seingatnya tidak pernah sama sekali. Namun, memikirkan tentang hal itu tampaknya sudah tidak berguna lagi, sebab Reksa sudah memiliki rencana yang berpotensi menimbulkan sebuah bencana.
Dengan menggunakan ojek, karena biasanya pengendara sepeda motor bisa lebih cepat sampai dalam keadaan jalan yang macet, Celine menuju ke keberadaan kantornya itu. Ia berharap Reksa tidak memperbesar masalah yang notabene berasal dari rasa mindernya saja. Pun pada harapan agar ia sampai di tempat tersebut secepatnya dan dapat menahan lengan suaminya.
***
Semua orang di kantor kecil tersebut lantas tertegun dengan kedatangan seorang pesohor papan atas. Siapa lagi kalau bukan Reksa Wirya Pandega yang merupakan pimpinan utama PT Gold Pandega Innovation, sebuah perusahaan kosmetik besar yang memiliki brand bernama ‘Golden Rose’. Kedatangan Reksa membuat semua karyawan, khususnya para wanita begitu terpesona. Ya, kecuali yang terjadi pada Danurdara dan Safrudin.
Tentu saja, Danu tidak senang dengan kedatangan Reksa yang menurutnya benar-benar tidak sopan. Tidak peduli tentang identitas Reksa, Danu tetap menilai bahwa suami dari wanita pujaannya itu tidak memiliki hak untuk memasuki tempat kerja orang lain secara sembarangan. Apalagi, Reksa bukanlah pelanggan atau orang yang memakai jasa akuntansi di kantornya tersebut.
Berbeda dengan Danu yang tampak geram, Safrudin justru memiliki perasaan yang lain. Sejak Reksa tampak di depan matanya, detik itu juga tubuhnya menggigil. Ia pikir Reksa tidak akan mengurusi masalah-masalah kecil yang tidak penting, sehingga di hari kemarin ia tidak lagi sungkan untuk mengatakan alasan kebenciannya terhadap Celine. Namun, lihat sekarang, setelah Celine memutuskan untuk tidak datang ke kantor, justru Reksa-lah yang muncul di hadapannya dan pria itu tampak sangat berbahaya.
“Jadi, seperti ini tampak dalam kantor kumuh tempat Celine bekerja?” Reksa menatap ke segala penjuru ruangan. “Kotor, berbedu, berantakan, dan menjijikkan.”
Terdengar gemeletuk dari dalam rahang Danu, saat kata-kata Reksa sukses menusuk inti terpenting di dalam hatinya. “Untuk apa Anda datang kemari, Reksa Wirya Pandega? Anda bukan klien kami, dan Anda sudah berani menghina privasi tempat kerja kami,” ucapnya setelah itu.
“Mm ....” Reksa berangsur menatap Danu, setelah itu tersenyum sinis. “Ingin menyampaikan surat pengunduran diri atas nama Celine Aurora Rodiya. Saya suaminya, Tuan Danu. Tidak masalah, bukan, jika saya yang menyerahkannya?”
__ADS_1
Danu menelan saliva dan agak terkejut. Celine mengundurkan diri? Benarkah hal itu sudah menjadi keputusan Celine, setelah hari ini tidak masuk bekerja? Ataukah hanya keputusan sepihak dari Reksa saja? Tidak, tidak boleh. Bahkan, Danu belum menyampaikan permintaan maafnya dengan baik. Dan jika Celine mendadak keluar, ia terancam tidak bisa bertemu dengan wanita itu lagi. Sebab, ia yakin Reksa tidak akan pernah memberikan izin untuknya bertemu dengan Celine.
“Tu-tuan Reksa,” ucap Safrudin dengan lidah gemetar. Sementara karyawan-karyawannya sudah sibuk berbisik mempertanyakan apakah Celine benar-benar akan keluar. “Nona Celine, be-belum mengatakan apa pun pada saya soal itu. Mm, be-begini saja, kita diskusikan terlebih dahulu soal itu, sebab beliau juga masih memiliki kontrak kerja dengan kami.”
“Nona Celine?” Oh, sungguh, Reksa ingin meludahi pria paruh baya yang agak botak dan memiliki penampilan culun seperti yang sering dikatakan oleh Celine selama ini. “Apakah Anda memang memanggil istri saya dengan sebutan nona? Oh ... tunggu, dia sudah menikah dengan saya. Dia sudah menjadi nyonya pemilik Golden Rose, bukan hanya sekadar nona biasa. Dia bisa membeli perusahaan ini semudah mengedipkan mata. Hebat, bukan? Dia bahkan bisa meringkus penghinanya dalam waktu cepat. Apalagi hanya bapak-bapak tua seperti Anda, yang hidupnya enggak lama lagi! Masalah kontrak tenang saja, saya bisa membayar biaya penalti untuk Anda!”
Safrudin merundukkan badannya berkali-kali. Ia benar-benar takut Reksa akan meringkus perusahaannya, ia khawatir Reksa akan memberikan permasalahan besar yang akan sulit ia atasi. “Maaf, maafkan kami atas keteledoran kami, Tuan Reksa. Maaf karena sudah membuat Anda tidak nyaman. Ka-kami akan memperlakukan Nyonya Celine dengan baik setelah ini.”
“Kami? Hahaha.” Reksa tergelak. “Yang saya dengar, hanya Anda dan satu pria lancang lain yang membuat hati istri saya terluka. Jadi, beberapa karyawan lain tentu saja tidak terlibat dalam kesalahan Anda. Jangan menggunakan kata ‘kami’ hanya demi melindungi nama Anda, Bos Culun!”
“Reksa!” Tegas, Danu menyebut nama Reksa. Merasa tidak senang, ia berniat untuk mengusir pria itu dengan segera. “Lebih baik Anda segera menyerahkan surat pengunduran diri itu dan lekas pergi dari sini. Jangan bersikap lancang dengan membuat tempat kerja orang lain menjadi tidak nyaman! Saya bisa memanggil petugas—“
Danu menyingkirkan tangan Reksa dengan gerakan kasar. “Justru Anda yang harus berterima kasih, saat saya terus berusaha menyenangkan hati istri Anda, yang tidak Anda inginkan sama sekali.”
“Jangan sok tahu, Tuan Danurdara. Tidak saya inginkan? Dari mana Anda tahu tentang hal itu, dan berusaha merampas Celine dari sisi saya? Tahukah Anda tentang hal ini?” Reksa semakin menekan Danu dengan tatapannya. “Tentang kebodohan Anda sendiri yang memilih menyimpan perasaan itu untuk Celine selama beberapa tahun? Lalu, berusaha merebutnya lagi ketika dia sudah menjadi istri dari pria lain? Anda hanyalah hama yang bisa merusak kehidupan rumah tangga orang lain!”
Yulia, Romeo, serta rekan-rekannya yang lain begitu terkesiap. Bagaimana bisa Danu yang selalu baik memiliki rencana licik seperti itu? Bagaimana mungkin Danu yang penuh perhatian justru menginginkan istri dari orang lain, bahkan sudah di tahap ingin merebutnya? Astaga! Kabar ini sangat tidak disangka-sangka. Yang mereka tahu, Danu selalu bersikap baik, tidak hanya pada Celine, tetapi juga semua orang. Bantuan Danu untuk Celine hanya mereka anggap sebagai bantuan dari seorang rekan pada rekan lain yang sering kesulitan.
__ADS_1
“Dan tahukah Anda,” kata Danu. “Jika hidup Celine semakin menderita ketika bersama Anda, Reksa? Tidak ada salahnya saya berusaha merebutnya, menyelamatkannya dari sosok sebengis Anda! Dia bisa jauh lebih bahagia bersama saya, daripada monster seperti Anda.”
“Anda terlalu miskin untuk membahagiakannya!” tukas Reksa.
“Celine tidak bahagia hanya dengan harta banyak, sementara pernikahannya tidak bahagia.”
“Kami bahagia, sangat bahagia. Jangan berspekulasi sendiri, Tuan Danu. Anda ini lancang sekali!“
Danu tersenyum sinis. “Benarkah begitu? Bahagia di dalam pernikahan terpaksa itu? Kalian hanya dijodohkan, bu—“
“Kami berdua bahagia kok. Sangat bahagia!” Seseorang lantas masuk ke dalam ruangan dan langsung menyambar ucapan Danu yang belum selesai. Melainkan seorang Celine Aurora Rodiya dengan penampilan kasual; celana jeans pendek, kaos biasa, rambut terikat asal, dan sandal rumah membalut tubuhnya
.
“Celine!” seru Yulia diiringi tatapan tertegun dari rekannya yang lain.
Celine lantas menatap Yulia dengan ekspresi malu, mengingat penampilan dirinya saat ini. Apa mau dikata, ia tidak punya waktu berias, karena khawatir Reksa membuat masalah serius, menusuk kepala setengah botak milik Safrudin dengan paku misalnya.
__ADS_1
***