
Pukul empat subuh, Celine sudah membuka matanya. Itu bukan karena keinginannya sendiri, tetapi sang ibu yang terus membuat ponselnya berdering sejak jam tiga tadi. Belasan pesan masuk juga bermunculan, yang berisikan satu kalimat serupa. Deswita meminta Celine agar bangun tidur lebih awal dan lekas memasakkan sarapan pagi untuk Reksa.
Kini, karena pesan itu serta semua telepon masuk dari ibunya, Celine sudah berdiri di depan sebuah kompor listrik modern yang tidak pernah ia lihat secara langsung. Ia sudah siap hendak menaklukkan semua bahan-bahan makanan yang tadi malam dibawakan oleh ibunya. Entahlah, bisa dianggap sebagai ibu pengertiaan atau justru menyebalkan, Deswita memang sangat rempong selain cerewet.
Namun, begitulah adanya, bak seorang cenayang, Deswita tahu bahwa kulkas milik Reksa pasti kosong alias tak ada bahan makanan apa pun. Dan memang benar, Celine sudah memeriksanya beberapa menit yang lalu. Tak ada apa pun di dalam lemari pendingin itu, selain minuman-minuman berenergi dan juga air mineral.
“Masak sih gampang! Tapi, ini cara pakai kompornya bagaimana, woe?! Aku bisa menyalakan api dengan dua batang katu, tapi aku enggak bisa kalau kompornya terlalu modern seperti ini!” keluh Celine yang cukup mumet setelah menatap kompor tanpa tungku dan memiliki beberapa tombol itu. “Haruskah aku membangunkan Reksa?”
Celine menggeleng-gelengkan kepalanya. “Enggak, enggak! Aku masih kesal sama dia. Yang ada subuh mendamaikan sekaligus mengesalkan ini, justru akan menjadi waktu pertengkaran bagi kami.”
“Lagian ya, Cel! Kamu kenapa kampungan banget, sih?! Astaga!” rutuk Celine pada dirinya sendiri. “Ah, siaaal. Di internet ada enggak ya caranya?”
Celine tidak menunggu lama. Diraihnya ponsel yang belum pernah ia ganti selama tiga tahun ini, dari dalam kantong celana tidurnya. Dicarinya cara menggunakan kompor listrik modern di bagian kaca pembesar pada lama internet. Dan karena lelah, ia segera mengambil sikap jongkok tanpa memedulikan siapa dirinya sekarang. Sungguh, Celine memang tidak pernah memikirkan identitasnya yang sudah menjadi istri dari seorang CEO ternama. Ia masih kerap bertindak layaknya Celine biasanya, tata kramanya pun mungkin terbilang nol besar.
“Banyak banget yang harus aku pelajari? Gila! Mataku langsung remang-remang begini!” keluh Celine yang mendadak pusing melihat deretan huruf yang tertera di dalam sebuah artikel. “Ah biarlah! Kayak enggak pernah melihat banyak tulisan saja kamu, Cel! Lihat saja, nanti kalau sudah masuk kerja, pasti si Bos kasih bertumpuk-tumpuk pekerjaan!”
Celine tidak punya pilihan lain. Ia yang tidak pernah menyukai acara baca-membaca, akhirnya terpaksa mempelajari setiap paragraf dan penjelasan dari artikel tersebut. Meski terlihat sangat tidak menyukai tentang belajar, sebenarnya Celine sangat mahir dalam hal berbahasa Inggris. Kalau bukan karena impiannya untuk berkeliling dunia, mungkin ia tidak akan pernah menekuni keahlian tersebut. Jadi, beberapa istilah bahasa Inggris yang tertera di artikel itu, tidak membuat Celine merasa kesulitan.
“Okeee!” pekik Celine. “Mari kita coba.”
Setelah merasa cukup dalam pencarian informasi tentang kompor listrik modern yang Celine ketahui menggunakan fasilitas infrared, ia pun segera mempraktekkannya. Ia tertawa puas sendirian bak anak kecil yang berhasil mendapatkan hadiah besar, saat jemarinya sukses menyalakan kompor tersebut tanpa kesulitan.
Kegiatan Celine berlanjut pada pengolahan bahan makanan, mulai dari memotong, mencuci, hingga memasak dan menjadikannya sebagai hidangan siap santap. Kalau urusan masak, keahlian Celine dalam bidang ini terbilang lumayan. Tentu saja, sebab ibunya yang super bawel biasanya memaksanya untuk membantu di dapur.
Belum lagi, ketika ia mengikuti penjelajahan di gunung-gunung saat masih sekolah, yang mengharuskan Celine wajib memiliki kemampuan untuk mengolah makanan apa pun. Dan saat ia berkemah bersama Keira, ia jarang sekali membeli makanan siap saji, tetapi membawa kompor portable lalu memasak sayur-mayur segar yang ia beli.
Pukul lima pagi, Reksa baru membuka matanya. Aroma harum yang menguar ke dalam kamarnya memang cukup menggugah selera, dan lantas membuat CEO tampan berhidung mancung tersebut langsung tersadar.
__ADS_1
Reksa mengernyitkan dahi, lalu bergumam, “Siapa yang memasak?”
Seingatnya, ia sudah mengembalikan seorang pelayan ke rumah orang tuanya, dengan maksud agar ia bisa menyiksa Celine. Ya, setelah pernikahan digelar Reksa memang memiliki pemikiran sejahat itu. Ia berencana untuk membuat Celine tak betah di rumahnya, dengan cara memperlakukan istrinya itu seperti seorang pembantu rumah tangga.
“Apa Ibu mengirim pelayan itu lagi? Kenapa enggak bilang-bilang sama aku?” lanjut Reksa bertanya-tanya.
Tak puas hanya menerka, akhirnya Reksa memutuskan untuk bangkit dari posisinya. Ia menurunkan kedua kakinya, kemudian bergegas untuk keluar dari kamarnya tersebut. Langkahnya berlanjut menuju sumber aroma, alias dapur di apartemennya sendiri.
“Celine ...?” Reksa membuka matanya lebar-lebar. Ia agak syok mendapati Celine yang tampak asyik menyiapkan beberapa hidangan di meja makan. Selanjutnya, Reksa memeriksa tempat itu dengan lebih seksama, hendak memastikan adakah orang lain di sana. “Dia masak sendiri?”
“Celine?” ucap Reksa lagi sembari melanjutkan laju kakinya untuk menghampiri keberadaan istrinya tersebut. ”Kamu masak semuanya sendiri? Kamu bisa masak?”
Celine menatap Reksa secara sekilas dan kembali berfokus pada sup sosis yang belum selesai ia tuangkan ke dalam mangkuk besar. “Iya, masakanku dijamin enak! Tadi malam kan Ibu kasih bahan makanan buat kita. Dan sejak jam tiga pagi, ponselku dibuat berisik oleh Ibu, biar aku bangun terus masak buat kamu. Oh iya, karena Ibu tahu kamu ini siapa, jadi Ibu sengaja cari bahan-bahannya di swalayan yang mahal itu lho. Bukan di pasar kok, jadi tenang saja,” jelasnya.
“Soal makanan aku enggak pilih-pilih kok,” sahut Reksa.
“Masa?!”
Celine menghadap Reksa, lalu melipat kedua tangannya sembari berkata, “Enggaklah, Sa! Soal wanita saja kamu pilih-pilih sampai enggak menikah di usia yang nyaris 40 tahun, dan sampai ada rumor aneh tentang kamu. Masa iya makanan yang langsung masuk ke dalam perut kamu, enggak dipilih dulu? Lagian uang kamu kan buuaaanyak, kamu bisa memilih makanan super muahal dan higienis!”
“Makanan dan wanita itu dua hal yang berbeda, Celine. Kalau wanita itu memang harus dilihat dari bibit, bebet, dan bobotnya. Kalau masalah makanan, asal enak, ya boleh saja!”
“Halah! Sok bibit, bebet, bobot, pada akhirnya kamu tetap menikah sama cewek macam aku, 'kan, Sa! Nasib kamu buruk banget ya? Hahaha.”
Reksa mendengkus kesal. “Kok kamu ngomongnya begitu sih, Cel? Kamu masih sakit hati sama aku?”
“Enggak tuh! Biasa saja. Lagian yang aku bilang juga beneran, 'kan? Aku ini cuma cewek udik dan miskin. Bibit, bebet, dan bobotnya enggak ada sama sekali. Selain itu, aku kan cuma diincar keluargamu untuk menikah denganmu, agar rumor belok mengenai dirimu bisa mereda. Biar saham perusahaan kalian tetap stabil, 'kan?”
__ADS_1
Entah apa yang terjadi pada Celine sebenarnya. Wanita muda itu mengaku tidak lagi sakit hati, tetapi mengapa sikapnya se-demikian sengit? Semua ucapan Celine sejak tadi pun terdengar seperti sebuah sindirian. Reksa masih tidak mengerti sama sekali. Ia pikir permasalahannya dengan Celine sudah berakhir di malam terakhir ketika masih berada di Rusia.
Apa dia cuma minta dicium ya? Pikir Reksa menerka-nerka.
Dengan serba salah, Reksa berjalan lebih mendekati istrinya. Ia merasa cukup malu dalam melakukan hal ini, tetapi apa boleh buat. Sepertinya Celine benar-benar menginginkan sebuah kecupan selamat pagi.
Reksa menangkap lengan Celine sebelum istrinya itu menyibukkan diri dengan hal lain. Diapitnya pipi Celine menggunakan kedua telapak tangannya yang kekar. Setelah itu, Reksa membubuhkan kecupan manis tepat di dahi kemudian bibir Celine.
Celine mengernyitkan dahi. “Apaan sih?!” Alih-alih merasa terkesan, Celine justru menunjukkan sebuah pertentangan.
Mata Reksa mengerjap detik itu juga. “Hah? Kamu enggak menginginkannya?”
”Menginginkan apa, Reksa?”
“Kecupan selamat pagi?”
Celine tergelak mendengarnya. Ucapan Reksa masih sangat aneh untuk terdengar di telinganya. “Enggaklah. Lagian, kenapa kamu yang biasanya sombongnya setinggi langit ke tujuh belas, tiba-tiba sok romantis begini sih?”
“Si-siapa yang romantis?! Aku? Hahaha! Enggak mungkin, Cel. Kekanak-kanakan sekali,” sangkal Reksa. “Lagian kenapa kamu bersikap seperti itu, coba? Bikin orang serba salah dan menerka-nerka enggak jelas.”
“Memangnya aku kenapa? Orang aku biasa saja kok! Kamunya saja kali yang berlebihan.”
”Kata-katamu seperti sindiran terus. Padahal, aku pikir pertikaian dan permasalahan di antara kita sudah selesai. Rencana kamu buat aku juga sudah mulai berhasil, 'kan?”
“Belum, belum berhasil, Sa! Ada hal yang belum kamu katakan sama aku! Eh iya, kamu kan memang enggak suka hal-hal kekanak-kanakan, walaupun kamu sendiri kadang masih kayak anak-anak. Umur saja yang tua, tapi sifatnya enggak!”
Reksa menghela napas. “Terserah kamu saja-lah, Cel! Aku yang lebih kaya dan terhormat ini sudah rela meminta maaf padamu, tapi tampaknya kamu masih merasa sakit hati sama aku.”
__ADS_1
Sesaat setelah menyerahkan semua urusan pada Celine, Reksa berlalu. Ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Apalagi diam-diam ia merasa tergiur pads aroma makanan hasil masakan Celine. Dan daripada memperpanjang pertengkaran, lebih baik ia segera mandi lalu menyantap hidangan rumahan yang langsung dibuat oleh istrinya tersebut.
***