Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 98-Kekecewaan


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu, tepatnya ketika meeting bersama para dewan sudah selesai, Reksa bergegas dengan cepat untuk bisa segera pulang. Kata ibunya, Celine hari ini sudah kembali dari pulau terkait. Yang artinya Reksa akan segera bertemu dengan istrinya tersebut.


Sungguh, rasa rindu sudah tidak terbendung lagi. Reksa merasa dalam satu minggu ini hidupnya nyaris hampa, meskipun Celine masih kerap meneleponnya entah via suara atau videocall. Namun, ketika mendapati ranjang kosong tanpa sosok istrinya, hati Reksa terenyak ngilu, merasa kosong, dan dirinya bingung sendirian.


Langkah Reksa tiba-tiba terhenti saat bertemu dengan seorang karyawan berpakaian kusam.


”Hei, kamu!” seru Reksa sampai membuat karyawan itu tersentak. “Kemari!”


Karyawan itu menelan saliva, jari-jemarinya tampak gemetaran. Lantas, ia mendekati Reksa dengan terpaksa. “Y-ya, Tuan Reksa? Selamat sore, Tuan. Ada masalah apa, ya?”


“Kenapa kamu belum pulang? Dan kenapa baju kamu kusam sekali? Apa istri kamu adalah wanita yang pemalas? Sampai tidak bisa mengurus keperluan suami dengan baik?” tanya Reksa bertubi-tubi.


“I-itu, saya memiliki lemburan, Tuan. Dan, um ... saya belum menikah.”


“Apa?! Belum menikah? Usia kamu berapa memangnya? Kok belum menikah?”


“A-anu, baru 25 tahun, Tuan.”


“Astaga. Wajah kamu kelihatan lebih tua dari wajahku. Menikahlah, biar lebih terurua. Tapi, kalau tidak ada wanita yang mau sama kamu, setidaknya urus dirimu dengan baik. Agar tidak bikin muak orang-orang yang melihatmu. Pasalnya, sebagai pekerja kantor elite, penampilanmu benar-benar kumal. Bahkan, yang kerjanya di kantor-kantor kecil pun, sepertinya lebih kelihatan rapi dan bersih. Untung saja, hatiku sedang dalam keadaan baik, kalau saja dalam keadaan buruk, aku bisa memecatmu detik ini juga.”


Glup! Sang karyawan menelan saliva. Resah dan takut. Padahal ia baru bekerja selama beberapa minggu, tetapi sudah digertak seperti itu dan langsung oleh sang pemilik perusahaan. Sepertinya rumor mengenai Reksa yang killer memang benar. Ia sudah membuktikannya sendiri.

__ADS_1


Beruntung, Reksa langsung pergi dari hadapan karyawan itu. Yang artinya sang karyawan bisa menghela napas lebih lega, lalu kembali ke dalam ruang kerja, meskipun dengan membawa sedikit beban pikiran. Sementara Reksa sudah berhasil menuju mobilnya. Ia melaju kendaraan itu tak lama setelah melesakkan diri ke dalamnya.


“Aduh! Malah macet! Bagaimana sih? Jam segini selalu saja macet! Kapan Jakarta bebas macet coba?” keluh Reksa.


Setidaknya, butuh waktu antara lima belas sampai dua puluh menit bagi Reksa untuk sampai di kediamannya. Jalan raya yang macet dan padat, membuatnya agak terlambat dari perkiraan waktu yang sudah ditentukan. Dengan kata lain, mau tidak mau Reksa harus menahan kerinduannya terhadap Celine lebih lama lagi. Ia sering mengumpat dan merasa sangat kesal karena keadaan jalan yang padat itu.


Namun, setelah mengarungi perjalanan yang macet, akhirnya Reksa bisa menghela napas lega. Ia telah sampai dan Celine sudah menunggunya di dalam apartemen. Ia pikir Celine hendak memberinya kejutan, sebab istrinya itu tidak mengatakan apa pun soal kepulangan. Oleh sebab itu, Reksa akan bertindak seolah-olah tidak tahu kalau istrinya sudah tiba di Jakarta sejak beberapa saat yang lalu.


Namun, sayang, keinginannya untuk disambut dengan meriah oleh Celine harus lenyap, pasca mendapati apartemennya justru kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan istrinya, hanya sebuah koper yang belum lama ini Celine bawa serta menuju pulau terkait.


“Dia sudah pulang, terus ke mana ...?! Kopernya sudah ada, tapi orangnya ke mana?!” ucap Reksa.


Karena sudah terlanjur kecewa, Reksa tidak berniat untuk menghubungi Celine. Biarlah istrinya itu pulang sendiri. Dan saatnya nanti tiba, lihat saja, Reksa akan memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi. Tak hanya itu, mungkin ia akan memberikan hukuman untuk Celine dengan cara yang semestinya.


***


“Duh! Mampus nih! Niatnya mau bikin kejutan, aku malah terkejut sendiri sama waktu yang sudah hampir beranjak malam. Memang ya, namanya cewek enggak jelas macam aku, ada saja ulahnya,” gerutu Celine sembari terus berjalan lalu menyelinap ke dalam elevator.


Lupa diri dan lupa waktu memang kerap Celine lakukan sejak saat dirinya masih sekolah, apalagi jika sudah bersama dengan Keira. Ia sudah sering kena omel ibunya, karena setiap keluar rumah, masuk rumahnya lagi nyaris jam sepuluh malam. Deswita—ibu Celine—sendiri paling tidak menyukai anak perempuan bermain hingga larut malam. Namun, meski sudah sering diperingatkan, Celine jarang sekali jeranya.


Dan kini, yang akan mengomelinya bukan sang ibu lagi, melainkan suaminya sendiri. Entah apa yang akan Reksa katakan padanya nanti. Akan fatal jadinya, jika Reksa mendadak menjadi dirinya yang dulu. Si super menyebalkan dan angkuhnya luar biasa.

__ADS_1


“Ah, enggak, enggak,” kata Celine sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dia kan cinta banget sama aku, jadi, enggak mungkin kayak dulu lagi, 'kan?"


Setelah selesai dalam bergumam, Celine melangkah keluar dari elevator yang pintunya sudah terbuka. Ia mengambil langkah kembali, dengan jantung berdegup dan hati yang cemas.


Eh, tunggu! Pikir Celine seiring dengan gerakan kakinya yang terhenti. Benar juga, Reksa belum tahu bahwa dirinya sudah kembali dari pulau lain yang sempat ia kunjungi untuk keperluan pekerjaan. Jadi, sekalinya pulang terlambat, Reksa tidak akan marah, bukan?


Benar! Celine tersenyum lebar, merasa puas pada ingatannya tersebut. Agak sia-sia, ia merasa cemas sendirian sejak tadi. Begitulah jika memiliki daya pikir yang lemot dan kerap lupa.


Setibanya di hadapan pintu apartemennya, Celine mulai mengarahkan jari untuk mengetik kata sandi dari alat keluar masuk tersebut. Bibirnya bersenandung, merasa lebih senang setelah mengingat bahwa Reksa belum mengetahui kepulangannya.


Lalu ....


“Astaga!” pekik Celine saat bertemu sesosok pria yang sangat familier baginya. Tentu saja, Reksa yang sudah berdiri tegak sembari menatapnya dengan tajam, tangan kekar yang bersedekap, paras garang dan menakutkan.


“Re-reksa?” Celine mengucapkan nama suaminya dengan terbata-bata.


“Dari mana saja kamu? Baru pulang dari kota lain kok malah keluyuran? Enggak bilang-bilang lagi!” tanya Reksa ketus masih dengan sikap super menakutkan.


“I-itu ... a-aku. Mm, kok kamu tahu?”


Reksa terdiam, selain hanya menghela napas. Tampaknya ia benar-benar marah dan kecewa. Melihat wajah suaminya yang begitu masam, Celine mulai bergidik. Entah dari mana Reksa mengetahui kepulangannya. Sejauh ini, hanya Keira yang tahu, sebab sebelumnya Celine ingin mendeteksi keberadaan Reksa melalui sahabatnya itu. Namun, karena akal yang kurang waras miliknya mulai aktif, kejutan yang sudah terencana berujung mala petaka. Mungkin!

__ADS_1


Mampus aku, ketakutanku malah terjadi, batin Celine. Lantas, apa yang akan Reksa lakukan padanya? Dan apa yang akan Celine lakukan demi meredam kemarahan suaminya?


***


__ADS_2