
“Sayang?”
“Sayang juga? Hihihi.”
Reksa lalu Celine, saling memanggil dengan sebutan baru untuk satu sama lain, setelah membuat kesepakatan beberapa jam yang lalu. Mereka tampak manis, apalagi tingkah mereka semakin romantis. Saling kecup, bilang rindu, memberikan pujian, dan sedikit nuansa manja. Bagaimana sepasang pangantin baru, benar-benar baru sampai rasanya dunia milik berdua, yang lain cuma ngontrak!
“Sayang?” ucap Celine lagi, lalu menyentil pinggang sang suami.
“Iya, Sayang,” jawab Reksa lebih lembut, suatu sikap yang begitu kontras jika dibandingkan dengan karakter biasanya. Tak berselang lama, ia pun memberikan balasan atas aksi sentil Celine dengan cara mencubit kedua pipi istrinya itu. “Kamu cantik.”
“Mm! Aku memang cantik, tahu!”
“Cantiknya cuma buat aku, 'kan?”
“Oh! Tentu saja dong buat si Sayang ehehehe.”
Celine bertingkah malu-malu kucing, layaknya anak remaja yang baru mendapatkan kecupan pertama. Wajahnya yang kerap memasang ekspresi menyebalkan kini justru begitu kemayu. Orang lain akan menyangka jika dirinya sudah gila, menggelikan, atau bahkan lebay, tetapi karena ditunjukkan pada Reksa, yang ada Celine justru mendapatkan banyak pujian.
“Aih!” Gemas, Reksa langsung memberikan belasan kecupan di pipi Celine dengan kedua lengan yang sudah mendekap pinggang Celine. Dan aksinya mendapatkan respons girang dari sang istri.
Sementara, latar keberadaan mereka berdua saat ini adalah sebuah private beach yang tak ada siapa pun di sana. Pantai indah yang Reksa sewa demi untuk bermesraan dengan istrinya. Ia bahkan rela pindah hotel hanya demi mendapatkan fasilitas itu. Rasanya akan sayang jika ia tidak memberikan hadiah wisata terbaik ketika ada Celine di sisinya dan keindahan Bali yang ia kunjungi.
“Mm!” Tiba-tiba Celine terpekik. “Kamu enggak kerja lagi, Sa?”
”Sa?!” Reksa mengernyitkan dahi dan merasa tidak senang. “Enggak!”
Celine tertawa kecil. “Jujur saja, aku geli tahu! Hahaha. Sayang? Enakan Sa, Reksa, begitu!”
“Baru juga beberapa jam bikin kesepakatan manggil begitu, kok sudah menyerah?” Sungguh, Reksa benar-benar tidak senang. Lihat saja, wajahnya yang tampak mendadak muram bagaikan ekspresi anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
“Kok ngambek sih? Jangan dong, Suaaayang!”
__ADS_1
”Suayang, suayang, mbahmu!”
“Ih!” Celine cemberut. “Jangan marah ya, Sayang.”
”Hmm ....”
Reksa si pria nyaris tua ini kalau sudah murung biasanya akan berlangsung belasan menit. Sama sih seperti Celine, hanya saja Celine sering lupa kalau sudah diajak bicara. Namun, Reksa tidak seperti itu. Takutnya jika pria sampai menyimpan dendam! Walau pemikiran ini cukup berlebihan, rasanya tidak masalah jika Celine memasang kewaspadaan. Terlebih, ia baru mendapatkan cinta sepenuhnya dari suaminya itu, jadi ia tidak boleh merusak semuanya!
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Celine mengambil inisiatif. Ia memajukan tubuh dan duduk di antara kaki Reksa yang melebar. Detik berikutnya, ia memberikan sebuah kecupan tepat di bibir suaminya itu.
Tentu saja Reksa tak berkutik. Ia memang sempat terkesiap, tetapi tidak dengan sekarang. Ia memperdalam keromantisan itu, lebih dan lebih lagi dalam waktu yang hampir satu menit lamanya. Setelah puas, ia melepaskan wajah Celine.
“Kamu sedang merayuku, ya?!" Tegas, Reksa mempertanyakan motif di balik sikap Celine barusan.
Celine mengangguk, lalu mengerlingkan mata. ”Kamu masuk ke goda rayuku ya?!” tanyanya tak kalah tegas, tetapi meskipun begitu, wajahnya justru berekspresi genit. ”Duh, suamiku tampan sekali!” lanjutnya lagi sembari mencubit pipi Reksa yang sebenarnya lumayan tirus.
“Kamu mengakui ketampananku sakarang, Cel? Bagaimana dengan hidungku?”
“Kata siapa aku orang Indonesia asli?”
“Eh?” Celine mengernyitkan dahinya, cukup terkejut. “Jadi, ada keturunan?”
Reksa mengangguk. ”Ada sedikit. Kata Ayah ada anggota keluarga di garis keturunan kami yang berasal dari Turki. Tapi, aku enggak tahu yang mana dan generasi ke berapa sebelum kami. Intinya satu garis keturunan sama aku dan Ayah.”
“Waaah! Pantas saja! Ayah Mertua juga ganteng banget, gila! Aku sampai menganga, pas masih SMP dan Ayah Mertua mampir ke kedai Ayah sebelum keluarga kita benar-benar hilang kontak. Habisnya ganteng banget! Bahkan sudah memasuki usia tua pun, beliau masih ganteng!”
“Ya, ya, ya!”
Celine mencubit pucuk hidung sang suami. “Jangan cemburu sama ayah sendiri, Suayang!”
“Enggaklah! Aku juga masih waras kali, Cel. Asal kamunya jangan gelap mata juga!”
__ADS_1
“Ya, enggaklah, Sa! Memangnya aku cewek apaan coba?!”
“Cewek tengil dan kurang beres!”
Alih-alih merasa tersinggung, Celine justru tertawa keras. Sebab kenyataannya memang begitu. Semua orang pasti tahu bagaimana karakter dirinya yang se-tidak jelas itu. Meski begitu, Celine merasa bahwa dirinya jauh lebih beruntung daripada wanita-wanita elegan yang kerap menjaga sikap. Bagaimana tidak, kini ia menjadi istri seorang konglomerat, bahkan sukses membuat suaminya itu tergila-gila. Hidupnya jauh lebih baik, setelah sebelumnya pernah diremehkan orang, terutama Safrudin yang begitu berani merendahkannya serta memberikan tudukan tak sesuai fakta. Celine berharap, semoga kebahagiaan itu berlangsung sangat lama dan selama-lamanya.
***
Berbeda dengan Celine dan Reksa yang sudah lebih bahagia, Keira justru murung. Setelah memutuskan untuk kembali ke hotel dan berpisah dengan Kenny, ia dihadapkan dengan sebuah pesan dari pria yang ia cinta.
Danu: Ra, tolong angkat teleponku. Aku cuma mah bicara sebentar. Aku sudah berkali-kali mampir ke sekitar apartemen kamu, tapi kamu enggak pernah tampak. Please, Ra, jangan begini. Kita bicara, ya? Please ....
Keira yang salah. Benar, ia menyalahkan dirinya sendiri. Menyesal soal keputusannya untuk menyatakan cinta tanpa pikir panjang, lalu mengabaikan Danu selama berminggu-minggu. Lelah, jujur saja. Ada perasaan mengganjal yang sukar ia jelaskan. Namun, untuk berbicara dengan Danu lagi, Keira pun tak siap.
Keira adalah tipikal wanita yang sangat setia. Berbeda dengan Celine yang cenderung lebih mudah putus, hubungan Keira dengan beberapa mantannya terbilang lama dan awet. Bahkan, mantan kekasihnya tidak lebih dari empat orang. Selain itu, setiap kali merasakan cinta, Keira pasti akan kesulitan menghapus perasaan itu begitu saja.
Hanya saja! Mengapa Danu begitu keras kepala, di saat Keira sedang berjuang untuk melupakan perasaannya? Lagi pula, apa pun keputusan Danu tetap tidak akan berakhir baik untuk Keira.
Panggilan masuk berikutnya terjadi lagi, membuat ponsel Keira begitu bising. Keira menelan saliva sembari menatap benda yang tergeletak di atas ranjang milik hotel tersebut.
Keira yang merasa sangat jengah, akhirnya membuat keputusan. Ia menerima panggilan dari Danu, lalu meletakkan ponselnya di sisi telinga kanan.
“Halo! Halo, Keira!” sapu Danu terdengar panik.
Keira menelan saliva lagi. “Ya, ini Keira,” jawabnya.
“Syukurlah kamu benar-benar mau angkat, Ra. Aku—”
”Danu! Please, jangan hubungi aku lagi!” sahur Keira cepat.
“Apa?”
__ADS_1
***