Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 6-Celine, Si Trouble Maker


__ADS_3

Sepertinya kesialan masih enggan untuk pergi dari sisi seorang Celine Aurora Rodiya. Baru menikmati malam pertama di kota Moskow, lagi-lagi ia terlibat dalam suatu permasalahan. Namun kali ini, bukan karena masalah yang bersumber dari orang lain, melainkan dari dirinya sendiri. Setelah ketiduran kurang lebih tiga jam, Celine yang terbangun di pukul sembilan malam waktu setempat sempat berinisiatif untuk keluar dari kamarnya. Ia berjalan menjelajahi setiap bagian hotel tersebut yang mampu dijamah oleh pasang matanya, dengan ditemani musik aliran rock milik seorang penyanyi kenamaan dari Amerika Serikat.


Namun sayang, pada saat berada di lobi hotel, Celine lupa akan segalanya ketika musik yang ia dengarkan menggunakan bantuan earphone sampai pada lirik yang sangat ia sukai. Sebagai wanita yang kerap tidak tahu malu, Celine begitu berani untuk menari mengikuti irama tanpa sekalipun memedulikan tatapan meremehkan dari orang lain. Lagi pula, mereka bukan orang-orang yang ia kenal jadi untuk apa dipedulikan, begitu pikirnya.


Langkah serta semua tindakannya mendadak terhenti, ketika ia tidak sengaja menabrak sebuah ornamen berbentuk wajah manusia yang terbuat dari keramik, hingga benda tersebut pecah. Yang mana setelah itu, Celine langsung dihadang oleh dua orang staf hotel, mereka lantas meminta ganti rugi padanya. Celine yang panik tidak punya pilihan lain, selain meminta bantuan pada Reksa—suaminya sendiri. Kenyataan kedua yang membuat Celine semakin mati kutu adalah tuntutan pihak hotel mengenai ganti rugi. Dengan sangat berat hati, Reksa mengeluarkan banyak uangnya demi menebus kesalahan Celine.


Kini, tibalah saatnya kesialan selanjutnya harus dihadapi oleh Celine dengan segala ketabahan. Ia hanya mampu tertunduk pasrah, bersiap untuk menerima segala konsekuensi dari suaminya sendiri. Asalkan bukan sebuah ‘perceraian’, Celine masih sanggup untuk melaksanakan hukuman yang akan Reksa berikan.


“Maaf ....” Lirih, Celine berucap dan masih tidak berani menatap garangnya wajah Reksa saat ini. “Tadi enggak sengaja sama sekali, Sa.”


Reksa menggertakkan giginya. Mungkin kalau Celine bukan seorang wanita bertubuh kurus, ia sudah memberikan sebuah pukulan pada wajah istrinya itu. Reksa hanya tidak mengerti, tentang bagaimana bisa seorang wanita yang kelihatan lemah justru mampu membuat masalah. Ah, seharusnya ia tahu sejak awal Celine memang sangat aneh. Selain norak, Celine juga tengil dan ceroboh, tipikal wanita bar-bar yang sebenarnya tidak pantas untuk dijadikan sebagai seorang istri.


“Aku tahu kamu sangat norak dan kampungan, bahkan mungkin lebih rendah daripada itu, Cel! Tapi, bukan berarti aku bisa memahami kesalahan yang barusan kamu buat. Kamu pikir biaya untuk ganti rugi itu sedikit? Ornamen itu bukan permen lima ratus perak, Cel! Tapi, barang puluhan juta yang enggak bisa kamu miliki!” tegas Reksa dengan wajah garang dan tatapan mata yang seolah menampilkan gumpalan api amarah.


“Maaf.” Kembali Celine mengatakan satu kata yang mewakili rasa penyesalannya. Kali ini, ia mencoba memberanikan diri untuk menatap wajah Reksa, sementara kedua telapak tangannya saling menempel membentuk gerakan permohonan ampun.


Melihat wajah Celine yang mendadak berekspresi memelas dan cenderung lebih imut daripada biasanya, mata Reksa reflek mengerjap-ngerjap. Pria itu menelan saliva tanpa tahu apa yang dirasakan oleh hatinya sendiri.


“Ka-kamu harus ganti rugi padaku, Cel!” tegas Reksa sempat terbata-bata dan entah karena apa. “Cari uang itu susah, tahu! Kamu kan sudah pernah menyangkal bahwa dirimu dan keluargamu enggak ada niat untuk mengincar hartaku, jadi buktikan sekarang. Uang yang aku keluarkan untuk ulahmu tadi akan aku anggap sebagai hutang yang perlu kamu bayar.”

__ADS_1


Celine menghela napas, sementara tubuhnya berangsur melesu. Ia sendiri tidak tahu sebanyak apa uang yang Reksa keluarkan untuknya. Reksa hanya mengomel tanpa mau menyebut nominal secara pasti. Namun meski resah, Celine tetap setuju. Ia mengangguk, lalu berkata, “Baik, Pak Reksa, saya akan ganti rugi nantinya. Tapi, sabar ya, Bapak, saya hanya orang miskin dan sekarang saya enggak punya pekerjaan, dikarenakan harus menikah dengan Bapak.”


“Bapak lagi? Astaga bocah ini ....” Reksa mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku bukan bapakmu!”


Sungguh, Reksa tidak menyukai jika dirinya disebut sebagai bapak-bapak. Di kantor, ia biasa dipanggil tuan muda dan herannya, Celine enggan untuk memakai sebutan itu untuk menyebut namanya. Yang ada, Celine tidak lagi segan untuk memanggil Reksa dengan sebatas nama, tanpa embel-embel kehormatan.


“Maafkan saya, Reksa,” sahut Celine meralat panggilannya terhadap Reksa yang terus saja mencari-cari kesalahannya. “Ah! Maafkan aku, Sayang.”


“Sayang? Kamu semakin bikin aku mual, Cel!”


“Aaa!” Celine yang tidak tahan langsung berteriak sembari mengacak rambutnya sendiri. “Bapak enggak mau, sayang juga enggak mau. Kamu maunya bagaimana sih, Sa?! Rempong amat jadi laki! Aaargh!”


Tak berselang lama, Celine bangkit dari duduknya. Gejolak emosi di dalam sanubarinya tampaknya sudah enggan untuk diajak bekerja sama. Sejak tadi, Reksa terus mengatainya dengan berbagai macam hinaan, selain itu terus menyebutnya sebagai penyebab rasa mual, padahal ia sudah sering meminta maaf. Namun, tetap saja, Reksa enggan untuk menerima segala penyesalannya.


“Sudah ya, marahnya. Nanti aku ganti kok uangnya,” ucap Celine, kemudian ia mengerlingkan sebelah matanya pada Reksa. Sebuah senyum pun langsung terulas. Ia benar-benar wanita jahat yang tidak memedulikan debaran jantung milik Reksa saat ini, padahal pria itu mengira ia hendak memberikan sebuah kecupan.


“Menyingkirlah!” tegas Reksa sembari memberikan dorongan pada tubuh Celine yang masih membungkuk tepat di hadapannya. “Napasmu sangat bau!”


“Hah?” Celine tercengang. Detik berikutnya, ia memeriksa napasnya sendiri menggunakan bantuan salah satu telapak tangannya. “Enggak kok! Bau mint, karena tadi aku makan permen karet lima ratusan.”

__ADS_1


“Tetap saja bau dan bikin aku mual!”


Mata Celine memicing tajam. “Mual melulu deh! Jangan-jangan kamu hamil?! Dari tadi mual-mual terus, memangnya aku kotoran apa?”


“Kamu lebih rendah daripada kotoran, Cel! Dan lagi, mana ada cowok bisa hamil?! Selain rendahan, sepertinya kamu juga sangat bodoh, juga sangat ceroboh. Biang onar, trouble maker, dan paling fatalnya kamu sangat nor—“


“Diam, Reksa! Kalau masih berani mengataiku lagi, aku cium beneran kamu nanti! Biar semakin mual itu perutmu!”


“Nggak sudi!”


“Cih, belum merasakan bagaimana enaknya dikecup aku, sudah bilang nggak sudi. Lihat saja, nanti sekalinya merasakan, pasti kamu mau terus, Reksa!”


Reksa tergelak meremehkan. “Jangan pernah bermimpi, Cel! Boro-boro mau melakukan hal semacam itu denganmu, melihat wajahmu saja bikin aku—“


“Bikin aku mual lagi, begitu?! Benar-benar aku kecup lho nanti!” Celine menyahut, sementara tubuhnya sibuk mendekat pada Reksa. Yang mana tindakannya tersebut, lagi-lagi membuat Reksa tersudut di atas tempat duduk. “Cih! Ternyata tua doang, tapi otaknya masih macam anak SMA. Benar-benar enggak dewasa.”


“Apa katamu?! Berani-beraninya ....”


Celine tidak lagi memedulikan ucapan Reksa dan memutuskan untuk segera kembali ke dalam kamarnya sendiri. Ia sangat berterima kasih atas bantuan yang Reksa berikan, tetapi sungguh, ia tidak mau membuat Reksa menjadi pemenang. Daripada terus dibuat naik darah, lebih baik berlalu setelah memberikan perkataan menohok yang membuat Reksa harus mati langkah. Lagi pula, malam memang sudah kian larut.

__ADS_1


Celine tetap berjanji akan menebus kesalahannya dan mengembalikan semua biaya yang Reksa keluarkan untuknya. Reksa benar, sebagai seseorang yang tidak berniat mengincar harta, Celine memang harus memberikan pembuktian. Insiden beberapa saat lalu sepertinya adalah cara yang Tuhan berikan untuk Celine, agar Celine bisa membuat Reksa tak lagi mengecamnya sebagai wanita mata duitan.


***


__ADS_2