
Reksa baru selesai melakukan salah satu pekerjaannya di Bali, pada hari ini. Setelah meminta Ali—sekretaris pribadinya—beristirahat di kamar bagian lain, kini Reksa hanya sendiri sembari menyesap kopi hitam di dalam kamarnya. View di luar jendela sangat indah, melainkan panorama pantai yang terhias semburat jingga.
Reksa membayangkan perjalanannya kali ini, seandainya ada Celine di sisinya. Celine mungkin sudah keluar dari kamar dan berlarian di pinggir pantai private yang akan Reksa sewa secara khusus. Pasti Celine sudah terjatuh lebih lima kali karena asyik berlari, dan Reksa akan menjadi tim tertawa.
Sayang, sampai saat ini tiba, Celine tidak pernah setuju untuk ikut dengan Reksa. Alasan Celine masih sama, khawatir jika ditinggal sendirian. Sebenarnya, Reksa agak tidak percaya. Ketika di Moskow saja, Celine tidak takut untuk mengunjungi Kremlin tanpa dirinya. Lalu, sekedar Bali yang kerap wanita itu kunjungi, justru terkesan segan dan akhirnya benar-benar tidak mau. Entah.
Reksa berharap Celine berubah pikiran dan lantas menyusulnya. Namun, mengingat keunikan sifat Celine yang super tidak peka dan agak plinplan tersebut, Reksa merasa bahwa harapannya hanya akan berakhir sia-sia. Celine tidak akan datang, pikirnya. Mungkin saat ini, istrinya itu sedang membantu Rodian dan Deswita di kedai.
“Hmm ... coba video call,” gumam Reksa.
Setelah membuat keputusan, akhirnya pria tampan berhidung mancung itu meraih ponselnya yang berada di atas meja, bersebelahan dengan cangkir yang masih berisi separuh dari porsi kopi sebenarnya. Sebuah nomor bertuliskan nama Celine segera Reksa temukan, selanjutnya ia melakukan panggilan video pada nomor tersebut.
Namun, Reksa harus dibuat mendengkus kesal saat panggilan video yang ia lakukan sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Ke mana Celine? Di mana istrinya itu sekarang? Apakah benar-benar sedang membantu kedua orang tua di kedai?
“Ck, dia benar-benar enggak menggubrisku? Telepon enggak, kasih pesan juga enggak, terus pas mau ditelepon via video juga enggak angkat!” Dahi Reksa berkerut setelah dirinya menyelesaikan sejumlah kalimat. “Dia lagi enggak aneh-aneh, 'kan? Lagi enggak ketemu sama Danu lagi, 'kan?”
“Tunggu! Tapi, kalau Danu tahu aku sedang enggak ada, terus mencoba bertemu dengan Celine, bagaimana?! Astaga! Enggak boleh!” Reksa tercekat dengan dugaannya sendiri, yang sejujurnya sangat berlebihan. Namun, namanya cemburu, kecurigaan semacam itu pasti bisa muncul kapan saja. Terlebih, Danurdara yang sangat ia benci tersebut begitu tergila-gila pada istrinya. Fatal jadinya, jika diam-diam ada pertemuan di antara Celine dan Danurdara.
Reksa menghela napas. Karena sel-sel kegelisahan masih sangat aktif, akhirnya Reksa memilih untuk bangkit dari duduknya. Dengan sepasang netra yang bergerak-gerak tidak beraturan, pria itu berjalan tanpa arah yang jelas.
“Celine! Awas saja kalau kamu benar-benar ketemu Danu! Aku akan membuat kamu hamil! Biar cowok itu tahu kalau kamu sudah enggak bisa direbut lagi dariku! Sungguh!” ucap Reksa tegas dan begitu mantap. Memang benar, selama tiga bulan pernikahan, dirinya dan Celine belum memikirkan tentang anak.
Bahkan, setiap kali melewati malam yang hangat, Reksa dan Celine sepakat untuk menundanya terlebih dahulu. Tentunya bukan tanpa sebab. Pernikahan antara mereka berkaitan dengan perjodohan dadakan. Dan hal tersebut membuat mereka ingin mengenal lebih dalam. Terlebih, saat Celine belum memahami perasaannya sendiri, di saat Reksa sudah mulai mengakui bahwa dirinya telah mencintai istrinya tersebut.
Lalu, tiba-tiba ponsel Reksa yang masih berada di atas meja mengeluarkan bunyi getar. Cepat, Reksa melangkah untuk kembali menuju bekas keberadaannya bersama secangkir kopi. Ia meraih benda pintar tersebut dan lantas memastikan siapa yang tengah menghubunginya.
Mata Reksa langsung berbinar dan napasnya mulai beraturan. Pasalnya, wanita yang sudah menjadi istri sahnya telah meneleponnya kembali, meskipun hanya via suara. Tak apa. Mungkin Celine memang sangat sibuk, asal kesibukan Celine tidak berkaitan dengan Danu.
__ADS_1
“Halo, Cel? Kamu di mana? Dengan siapa? Lagi berbuat apa?” tanya Reksa bertubi-tubi.
“Lagi nyanyi? Kok enggak pakai nada?” sahut Celine dari kejauhan, yang sebenarnya sangat dekat dengan suaminya. Hanya hotelnya saja yang berbeda.
“Aku serius, Cel! Sejak tadi pagi kenapa enggak hubungi aku sama sekali?”
Terdengar suara tawa Celine. Sementara, setelah itu, Celine berkata, “Kenapa memangnya? Kangen yaaa?!”
“Bukan begitu. Ah ...!” Reksa menelan saliva, saat tebakan Celine sangat benar. “I-iya kangen! Kamu ke mana saja?! Jawab dong! Jangan malah tanya balik mulu!”
“Ya ampun! Sabar, Pak Reksa! Aku di ... di rumah kok. Lagi sibuk! Lagian kan baru dua hari, Reksa, kenapa sudah kangen?”
Reksa menggertakkan gigi. “Oh, jadi kamu enggak kangen?”
“Enggak hahaha.”
“Eh?!” Celine mendengkus. “Kok mengumpat sih? Hmm ... iya, iya, aku kangen kok. Pengin ketemu.”
Mata Reksa mengerjap dan jantungnya dibuat berdebar. Mungkin karena saat ini adalah momen pertama Celine mengatakan kerinduan padanya.
“Mm ... nyusul ya, Cel? Aku atur tiketnya. Aku bisa minta tolong sama ibuku. Atau kamu mau beli sendiri?” bujuk Reksa lagi. “Sekalian jalan berdua di sini.”
Di sana, Celine tersenyum. “Enggaklah. Aku enggak mau ganggu pekerjaan kamu.”
”Enggak kok, nggak akan, Cel.”
“Selain karena aku bakal sendirian di sana, kamu pun bisa mempercepat pekerjaanmu demi bisa menemani aku dan secara otomatis kerjaan kamu jadi terganggu, Reksa. Sabar saja-lah, enggak bakalan lama ini.”
__ADS_1
Reksa menghela napas. “Tiga bulan lebih aku sama kamu enggak pisah, kecuali pas kita lagi kerja doang. Rasanya ada yang aneh, kalau sendiri begini.”
“Enggak apa-apalah. Sekali-sekali merasakan syahdunya rasa rindu.”
“Tetap enggak enak, Cel! Bingung mau ngapain, biasanya kan ada yang dimainin haha. Lagian, ada hal yang ingin aku lakukan berdua sama kamu. Di sini. Buat merayakan tiga bulanan pernikahan kita.”
“Iiiih! Baru geh tiga bulan! Masa sudah dirayakan? Lebay deh, Sa!”
Reksa memutar matanya. “Memangnya kenapa? Aku punya banyak uang, merayakan hari jadi satu minggu pun bukan masalah buat aku!”
“Halah! Mulai deh mulai sombongnya! Kurang-kurangin ih sombongnya. Enggak baik, tahu!”
“Hmm ... iya, iya. Lagian bukan sombong kali, Cel, tapi faktanya memang begitu!”
“Hilih! Cari pembenaran saja!”
“Memang benar, Cel. Makanya sini, biar aku bisa membuktikannya secara langsung di depan mata—”
Bel pintu kamar yang terdengar lantas membuat ucapan Reksa terpotong begitu saja. Dengan membawa ponselnya yang masih terhubung dengan Celine, Reksa berjalan ke arah pintu tersebut. Ia pikir Ali yang datang, mengingat waktu mulai beranjak malam, akan ada agenda makan malam dengan salah satu relasi. Mungkin itulah yang hendak Ali sampaikan.
Namun ... dugaan Reksa salah besar! Saat ia membuka pintu tersebut, sosok sexy yang menyebalkan justru tampak di depan matanya. Melainkan Ailen yang entah bagaimana bisa datang ke kamar hotel di mana Reksa menginap.
“Tuan Reksa, selamat sore,” sapa Ailen.
Reksa bungkam, tetapi wajahnya tampak marah besar. Ailen terlalu lancang, seperti seorang stalker yang menyebalkan. Sementara itu, Celine yang masih belum mematikan panggilan begitu terperanjat saat mendengar suara centil milik Ailen.
“Alien?! Sa? Kenapa dia ada di situ?!” Geram Celine bertanya pada suaminya.
__ADS_1
***