
Hari ke-31, Moskow, Rusia. Reksa yang tadi malam menginap di kamar Celine, kini sudah terjaga. Ia tengah menatap wajah damai sang istri yang masih terlelap. Hari memang masih belum terlalu terang, oleh sebab itu, Reksa tidak berniat membangunkan Celine sebelum sang mentari benar-benar sudah muncul.
“Aku tidur dengannya lagi? Sepertinya aku memang sudah sangat-sangat gila,” lirih Reksa yang baru menyadari bahwa dirinya telah kehilangan akal. Ia ingat tentang bagaimana menggemaskannya wajah Celine yang sampai membuatnya lupa daratan. “Maafkan aku, Cel. Lagi-lagi aku merampas kehormatanmu.”
Namun, meskipun baru saja mengatakan sebuah pertentangan, kali ini tidak rasa penyesalan sama sekali di hati Reksa. Ia tetap menyadari bahwa dirinya sendiri yang menginginkan Celine, bukan wanita itu. Meskipun kerap mengatakan tidak akan pernah mengulangi tindakan yang sama, tetapi buktinya kejantanannya masih normal dan berjalan di jalur yang benar.
“Bisa-bisanya wanita sekonyol dirimu yang kerap bertindak ceroboh, bahkan sampai terjatuh setiap kali berlarian, justru memiliki wajah setenang ini saat tidur? Wajah yang jauh lebih anggun, daripada ketika masih terjaga. Kenapa kamu memiliki segudang kejutan yang sering bikin aku terheran-heran, Cel? Ini baru satu bulan pasca pernikahan kita digelar, kalau bertahun-tahun, kejutan apa lagi yang akan kamu tunjukkan?” ucap Reksa tanpa melepaskan pandangan matanya pada raut wajah istrinya tersebut.
Sebuah senyum lantas menarik kedua sudut bibir Reksa. Ia mengakui jika kehadiran Celine memang sudah memberikan warna tersendiri di dalam hidupnya. Ia tahu ia belum mencintai Celine. Bahkan, sempat merencanakan tentang sebuah perceraian, tetapi lambat-laun hatinya mulai terbuka untuk menerima keberadaan wanita yang jauh lebih muda darinya itu.
Semua orang, terutama para staf di kantornya, mungkin termasuk Keira, pasti tahu se-berapa menyebalkannya sosok Reksa. Manusia super ribet dan arogan. Ia bukan pimpinan sembarangan yang bisa langsung menerima usulan. Banyak proses panjang dan terutama pengujian, baru setelah itu Reksa akan mempertimbangkan.
Setelah semua stafnya kerepotan, Reksa yang memang kurang ajar bisa secara tiba-tiba tidak menyetujui ide mereka, lalu menggunakan idenya sendiri. Dan hal tersebut yang kerap membuat orang lain sengit padanya. Mereka memilih untuk ambil arah lain, jika tidak sengaja melihatnya muncul dari arah yang seharusnya mereka lewati. Sebab bukan hanya soal ide, saat melihat orang lain tidak rapi, Reksa bisa memberikan komentar panjang-lebar, bahkan menohok dan menyakitkan.
__ADS_1
Sisi Reksa yang lain, ia memiliki sifat yang cukup manja. Sejak kecil, ia tidak pernah terlepas dari tangan ibunya. Semua serba ibu dan ibu, sementara ayahnya sibuk bekerja. Tipikal wanita yang ia sukai sebenarnya tidak hanya berkelas, tetapi juga sepintar dan secerdas Sanny—ibunya tersebut. Namun, ... kenyataan lain justru terjadi, di mana ia harus menikah dengan seorang wanita tengil dan ceroboh yang sangat tergila-gila dengan perjalanan.
“Sepertinya kamu akan menang, Cel. Tak mungkin aku teruskan rencanaku untuk bercerai denganmu, jika aku sudah tidur denganmu sebanyak dua kali. Tapi, jangan salah paham, Cel. Aku hanya seorang pria normal, bukan belok seperti rumor yang beredar. Mau bagaimanapun, hasratku bisa datang kapan saja. Terlebih, kamu sudah sah untuk aku jamah. Sungguh, aku enggak mencintaimu, Cel,” gumam Reksa.
“Mmm ....” Celine tampak bergerak. Mungkin tak lama kemudian, ia akan membuka mata.
Benar saja, Celine mulai terjaga. Seketika itu juga, Reksa menutup matanya untuk berpura-pura bahwa ia masih tidur nyenyak. Sementara, Celine terdengar menghela napas. Wanita muda itu menatap langit-langit kamar sesaat setelah memperjelas pandangannya.
Helaan napas kedua Celine lakukan. Ada sesuatu yang cukup membuatnya gusar. Dan perlahan, ia menoleh menatap Reksa yang masih terpejam. Oh, bisa-bisanya pria itu tidur nyenyak setelah sempat mengatakan tidak akan mengulangi hal yang sama, tetapi justru kebablasan membuat Celine lagi-lagi merasakan sebuah kehangatan.
Celine menghela napas, lalu tersenyum. “Tapi, tetap saja. Meskipun selalu menyebalkan, kamu memang sangat sigap menjagaku selama di sini. Bahkan, kamu terus mengikuti setiap kakiku melangkah. Lelah ya? Mm ... terima kasih, Tuan Muda. Walaupun pernikahan kita bikin kamu terluka, kamu malah tetap bersabar sama semua ulahku.”
“Sabarlah sedikit lagi, nanti setelah aku lunasi hutangku padamu. Lalu, uangku sudah terkumpul, aku benar-benar akan pergi keliling dunia bersama Keira. Aku enggak mau bercerai, Reksa, demi orang tua kita. Tapi, kalau soal impian, aku tetap akan mewujudkannya. Nanti pas aku pergi, kamu bakalan lebih bebas kok. Dan setelah itu, terserah kamu. Aku juga enggak yakin, kamu bisa suka sama aku. Mm, aku selalu yakin pada semua ambisiku, tapi kalau soal kamu. Entahlah,” tambah Celine.
__ADS_1
Wanita itu menghela napas, lalu bergegas untuk bangun. Ia berusaha meraih setiap helai pakaiannya yang berantakan di bawah sana. Sesaat setelah memakai busana, Celine turun dari ranjang.
“Kopi di pagi hari kayaknya enak,” ucap Celine. Dan tak lama kemudian, ia menghilang di balik pintu kamar.
Sepeninggalan Celine, Reksa mengambil sikap duduk. Ia meringis dan menatap ke segala arah depan dengan bola mata bergerak-gerak tak beraturan. “Cih, bisa-bisanya dia enggak mau cerai, tapi masih punya rencana buat pergi? Katanya mau bikin aku jatuh cinta, tapi kenapa mendadak pesimis begitu, hah?!”
“Apa karena pria itu? Si Danu itu? Memangnya sehebat apa sih dia, sampai membuat Celine langsung keblinger? Ais! Yang benar saja deh! Jadi, orang kok enggak konsisten? Lagian, kan, aku bisa kasih dia banyak uang buat keliling dunia. Soal hutang juga sudah aku anggap lunas. Kenapa dia masih kepikiran sih?!” Dan lagi, kenapa harus terpengaruh sama Danu itu sih?!” gerutu Reksa uring-uringan sendiri.
“Enggak, ini bukan karena aku nggak rela Celine pergi. Ini hanya ... ha-hanya karena aku enggak mau tertandingi sama cecunguk miskin seperti si Danu-danu itu!” klarifikasi Reksa pada dirinya sendiri yang merasa tidak terima pada perasaan anehnya terhadap Celine.
Reksa mencengkeram kepalanya sendiri sembari mengeram kesal. Detik berikutnya, ia bergegas untuk memunguti semua pakaian tidurnya. Ia mengenakan busana tersebut. Lalu, masih bersama rasa jengkel, ia keluar dari kamar Celine dan berencana kembali ke kamarnya yang jauh lebih mewah.
“Danu, Danu, Danu, Danu, Danu!” Reksa merapalkan nama Danu, bahkan sampai dirinya menyelinap ke dalam sebuah elevator.
__ADS_1
***