
Hari demi hari telah berlalu. Hubungan Keira dengan Danu pun kian erat, dalam hal pertemanan. Keira tidak lagi memedulikan perasaannya. Entah mengapa. Sejak memfokuskan diri pada pekerjaan, termasuk juga meyakini bahwa Danu tidak boleh ia kencani bagaimanapun situasinya, ia mulai terbiasa. Rasa suka yang pernah ada, memang masih ada, tetapi Keira tidak tahu apa itu masih cinta atau sekadar kesukaan menjadi sahabat saja.
Lalu, Kenny? Pada akhirnya pria itu menjadi teman gibah Keira mengenai Celine yang masih kerap bodoh setiap mengambil tindakan. Oh iya, berbicara soal Celine, Keira ingat jika sahabatnya itu saat ini sudah mendapatkan pekerjaan baru. Di biro perjalanan katanya, menjadi salah satu staf penting yang langsung menangani konsep honeymoon. Asyik sekali sepertinya, kalau boleh, Keira ingin bekerja seperti itu saja. Sayang, ia hidup seorang diri, masa depannya harus diperhatikan, jadi perusahaan Reksa masih menjadi tumpuan hidupnya sampai saat ini.
“Ra, mau cari kopi dulu?” tanya Danu yang sejak tadi pagi menjadi teman jogging bagi Keira.
Sementara, latar keberadaannya dengan wanita itu adalah sebuah taman yang sering digunakan berolahraga. Ya, taman yang menjadi tempat makan malam bersama bagi Keira dan Kenny.
Keira menggeleng. “Enggak, Nu. Lagi mau sembuh dari kafein. Lambungku bisa kram kalau kopi terus,” jawabnya.
“Masih naik asam lambungnya?”
“Enggak sih. Tapi, aku mau lebih berhati-hati saja. Biasalah namanya hidup sendiri, apa-apa harus sendiri. Dulu kan masih ada Celine yang bisa dimintai tolong, sekarang ada juga, tapi ya nggak mungkin aku minta tolong sama dia lagi.”
__ADS_1
Danu menghela napas, dan berangsur mengajak Keira untuk duduk di bangku taman yang kosong. Sembari melangkah, ia berkata, “Kamu kan bisa minta bantuan dari aku, Ra. Lagian aku juga banyak waktu luang kok. Ya sih, sudah diangkat di kantor manajemen restoran ayahku, tapi sama saja, masih banyak luangnya.”
“Tuh! Tuh! Mulai lagi deh kasih perhatiannya, aku enggak maulah, Nu. Stop juga kayak begitu, aku kan sudah bilang sama kamu kalau stop sok perhatian, kalau masih mau berteman sama aku."
Danu tertawa kecil. “Maaf, maaf. Lagian, ini kan sudah karakterku, Ra, susah lho mengubahnya.”
Keira mengambil sikap duduk. Sebuah handuk kecil yang tersampir di lehernya, ia gunakan untuk menyeka keringat. Dahaga yang sejak tadi juga menyerang, membuat Keira tidak pikir panjang untuk menyesap air mineral di botol bening dengan merek terkenal.
“Enggak boleh kayak gitu, enggak cuma sama aku doang. Tapi, cewek lain juga. Nanti kasihan mereka kayak di-PHP-in. Lagian kamu ini kok tiap mau olahraga datangnya ke sini sih? Sudah dua bulan kamu rutin banget tiap weekend ke sini. Memangnya enggak ada tempat fitnes apa? Terus teman-teman cowok kamu ke mana?” selidik Keira yang sudah tidak tahan mengenai rasa penasarannya. “Aku rasa kamu tipikal orang yang pandai bergaul deh, enggak kayak bosku tuh, hih! Ampun!”
Mungkin Keira yang telah jujur dan sering memperingatkan berhasil membantu Danu dalam melupakan masa lalu perihal kasih tak sampai. Banyak terima kasih yang tentunya Danu berikan pada wanita cantik dengan gaya kece dan elegan, meskipun menyukai perjalanan dan petualangan. Sepertinya Keira memang sosok wanita yang pandai menempatkan diri. Dan hal tersebut cukup membuat Keira memiliki daya tarik tersendiri.
”Mm ... kalau di sini saja gratis, kenapa harus ke tempat fitness yang bayar? Lagian kalau olahraga ramai begini, rasanya lebih semangat saja.” Danu memberikan jawaban sembari menatap para pengunjung taman yang juga berbaju training. Mereka tampak melakukan olahraga baik ringan, maupun berat. “Soal teman-teman, ada jugalah. Datang kalau malam, nonton bola, motogp, kalau enggak ya main game. Cuma sebagian besar temanku sudah pada menikah, jadi, enggak setiap hari datang. Apalagi katanya istri itu selalu ngomel kalau suaminya keluar main, meskipun sebentar. Menikah itu ... ribet ya?”
__ADS_1
Keira tersenyum tipis. “Iya. Melihatnya sih ribet, mendengarnya juga. Banyak rekan-rekan kerja aku yang mengeluh soal suami yang enggak peka, soal mertua julid, masalah ekonomi, susah punya keturunan dan jadi bahan nyinyiran, dan sampai soal anak mereka yang sudah punya anak. Tapi, namanya hidup pasti semua orang akan berada di tahap itu, Nu. Enggak mungkin kita monoton dan jalan di tempat terus, Danu. Misal kita hidup selama 100 tahun, pasti akan sangat kesepian kalau kita enggak menikah. Apalagi hidup cuma satu kali, rasanya sayang saja kalau kita enggak merasakan setiap fase kehidupan.”
”Betul sih. Kalau kamu? Mm, sudah ada rencana buat menikah?” selidik Danu penasaran.
Keira menghela napas, lalu menatap angkasa yang cerah. ”Entah. Baru mau umur 25 tahun sih, impianku juga belum terwujud, eh yang diajak bermimpi malah sudah menikah duluan. Apalagi sekarang lagi enggak dekat sama siapa-siapa. Belum ada rencana, tapi pandangan buat hal itu tentu saja sudah ada. Eh! Aku lagi kosong, maksudku jomblo bukan karena masih suka sama kamu lho, Nu! Jangan salah paham, atau bahkan sampai merasa terbebani. Aku cuma ... mm, entah, belum dapat cowok yang pas buat enggak cuma pacaran, tapi menikah.”
“Oh ... gitu, ya.”
Danu kembali tersenyum kecut. Namun, entah mengapa ia merasa agak kecewa. Di sisi lain, ia cukup tercengang dengan penuturan Keira yang sudah memiliki pandangan menikah. Padahal, wanita itu memiliki kesan sebagai wanita karier yang akan terus berkarier sampai usia 35 tahun. Namun, ternyata tidak, di usia yang baru menginjak 25 tahun, Keira sudah memikirkan soal pernikahan.
Memang seperti itulah sosok Keira belakangan ini, pasca ditinggal menikah oleh sang sahabat. Sejak saat itu, ia memang kerap kesepian, dua teman lelakinya menjadi kawan, terutama Kenny yang belum lama ini diterima di sebuah perusahaan menjadi supervisor. Hanya saja, kesepian Keira belum juga sirna dan menikah mungkin satu-satunya jalan keluar atas rasa sunyi itu. Sayangnya, meski banyak yang menyukainya, apalagi di kantor, Keira belum kunjung menemukan pria yang tepat.
“Keira?” Seorang pria mendadak menghampiri keberadaan Danu dan Keira, sembari menyebut nama wanita itu.
__ADS_1
Keira reflek mendongak, hendak memastikan siapa yang tiba-tiba datang. Matanya semakin terbuka lebar, saat mengetahui siapa pria tersebut. Mengapa setelah sekian lama, dirinya baru datang sekarang?
***