
Danu kembali bertemu dengan Keira di sebuah taman dekat dengan apartemen wanita itu, tepatnya di pagi hari weekend ini. Tentu saja ia masih mencari kabar tentang Celine yang sudah satu minggu lebih resign dari kantor Safrudin. Sebelum mengucapkan kata maafnya dengan baik, perasaan Danu memang belum berhasil mendapatkan sebuah ketenangan.
“Kamu habis jogging, Ra?” tanya Danu pada Keira yang memakai setelan baju olahraga modis.
Keira mengangguk. “Iya, Nu, kan hari minggu. Aku lagi dapat libur, lumayan buat olahraga kecil,” jawabnya.
“Kamu rajin banget ya kayaknya?”
“Aku memang rajin, Danu, bahkan aku sampai bangga sama kerajinanku.” Keira tertawa kecil setelah mencoba mencairkan suasana.
“Kelihatan kok dari wajah kamu yang cerah.”
“... dan cantik, bukan?”
“Ah? Hahaha.” Danu tertawa. “Benar, kamu cantik, Ra.”
Keira merengut. “Tapi, kenapa pakai tertawa segala jawabnya? Kayak enggak ikhlas banget kamu, Nu!”
“Bukan begitu. Cuma ... kamu nyaris sama seperti Celine, memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi.”
“Hmm, Celine lagi.”
Keira tidak senang. Tentu bukan karena ia iri, hanya saja ia menganggap Danu semakin bodoh dan terlihat tak berniat melupakan Celine yang sudah menjadi istri orang. Selain itu, ia sebal, setiap kali bertemu dengannya, Danu tak membahas hal lain saja dan terus terpaku pada Celine.
Setelah belakangan ini terus bertemu, sebenarnya Keira mulai menyadari bawa perasaannya pada pria di hadapannya itu benar-benar rasa suka. Namun, sebisa mungkin ia menahan diri, mengingat penderitaan Danu pasca berbuat kesalahan yang tidak disengaja masih saja melekat pada diri pria itu. Lagi pula, Keira tidak akan senang menyatakan cinta duluan, terlebih pada seseorang yang memiliki cinta untuk orang lain. Ya, setidaknya untuk sekarang, asal perasaan itu tidak tumbuh semakin besar.
“Ra, aku keluar dari kantor.” Danu mengungkapkan langkah yang ia ambil di hari sabtu kemarin. “Sudah enggak ada alasan aku ada di sana. Dulu, aku hanya bekerja karena ingin mandiri, enggak mau membebani kedua orang tuaku. Aku sempat mau keluar, tapi Celine tiba-tiba datang. Dia yang enggak ngerti sama sekali, bikin aku gemas sendiri dan akhirnya aku memutuskan buat mengajarinya. Melihat tingkahnya yang unik, serta cara dia bergaul, serta pandai mengakrabkan diri, perasaan lain justru timbul.”
__ADS_1
Hati Keira terenyak, meskipun cerita itu sudah sering ia dengar. Sebesar itulah perasaan Danu pada Celine. Menurut pengakuan itu, Keira menyadari bahwa Danu menyimpan perasaan selama bertahun-tahun. Sakit pastinya, tetapi apa boleh buat, Danu terlalu lamban, meskipun sangat ramah dan penuh perhatian. Dan lama-lama Keira muak.
“Kenapa kamu harus selalu memikirkan semua itu, Danurdara? Enggak bisakah kamu lekas move on? Lupakan Celine dan cari yang baru!” tegas Keira. “Wanita di dunia ini bukan cuma Celine saja. Biarkan Celine bahagia sama suaminya. Jangan membuat dia terbebani sama perasaanmu itu.”
“Bukan begitu, Ra. Sungguh, aku enggak ada maksud bikin dia terbebani.”
“Kalau memang enggak, ya sudah lupakan dia! Dan stop bahas dia, setiap kali bertemu sama aku!”
Sepertinya keputusan yang sempat Keira ambil mengenai menahan perasaannya sendiri tidak akan ia tepati secepat ini. Danu membuatnya kesal, marah, dan muak. Sungguh! Seperti yang ia pikirkan tadi, Danu seolah tidak memiliki keinginan untuk melupakan Celine. Hal itu akan semakin memperburuk keadaan, jika tidak diatasi secepat mungkin.
“Ais ....” Keira menggigit bibir bagian bawahnya, menunduk, lalu berkata, “Aku suka sama kamu, Danu. Dan aku muak setiap mendengar kamu membahas wanita lain secara terus-terusan. Tak bisakah kamu mencoba melihatku? Ah ... sial!”
“Apa?” Mata Danu reflek membelalak detik itu juga. Ia melihat Keira yang tertunduk dan mengumpat beberapa kali. “Maksud kamu apa, Ra?”
“Kamu terlalu perhatian sama aku, setiap kali kita bertemu seperti ini. Kamu kerap menyentuh wajahku yang ternoda busa kopi, kamu mengusap tanganku yang enggak sengaja terantuk meja, dan kamu selalu menahan tubuhku ketika aku nyaris jatuh karena tersandung. Dan semua sikapmu itu bikin jantungku terus berdebar-debar. Aku kesakitan setiap kali kamu membahas kecintaanmu terhadap sahabatku sendiri! Aku enggak butuh balasan cinta darimu, Danurdara, yang aku butuhkan hanyalah kamu lekas move on. Biarkan Celine hidup bahagia bersama suaminya. Lalu, jangan pernah mengajakku bertemu lagi hanya untuk mencari kabar tentangnya!”
Keira yang sudah merasa muak lantas pergi dari hadapan Danu. Ia meninggalkan bangku taman itu, setelah menekankan agar Danu tidak lagi mengajaknya bertemu. Sudah cukup semuanya, dan Keira tidak mau perasaan cintanya pada Danu semakin bertambah besar.
“Uh ... aku memang bodoh!” ucap Danu pada dirinya sendiri.
***
Kenny tengah duduk bersama Celine yang kembali datang ke rumah Rodian. Sesuai permintaan dua ibu-ibu julid, Celine datang di hari libur ini dengan membawa Reksa. Sementara, suaminya itu tampak dikerubungi oleh beberapa tetangga, termasuk Rodian dan Deswita selaku kedua mertua.
Celine membiarkan Reksa, tak peduli tentang perasaan kesal yang didera oleh suaminya tersebut. Biar saja, biar sekali-kali Reksa hidup bersosial. Reksa harus diajari tentang keramahtamahan, serta indahnya hidup bertetangga.
“Reksa panas dingin tuh, Cel,” ucap Kenny sembari melirik wajah tegang Reksa yang masih sering dihujani banyak pertanyaan. “Banyak ibu-ibu yang minta koneksi pekerjaan. Enggak kasihan apa sama dia?”
__ADS_1
Celine tertawa kecil. “Enggak. Sekalian saja, biar dia belajar mengenal orang, Ken,” jawabnya enteng.
“Hmm ... hidup dia kan beda sama kita, Cel. Bisa trauma dia nanti, terus enggak mau ke sini lagi.”
“Enggak mungkinlah, Ken.”
“Jahat banget sih, Cel! Ajak pulang gih, bisa pingsan dia nanti. Tuh!” kata Kenny sembari menunjuk seorang wanita paruh baya yang minta berfoto dengan Reksa. “Gila, dia kan bukan artis. Terus tadi kenapa kamu pakai panggil Tante Juri sih, Cel? Kan jadi pada berani datang kemari. Padahal selama ini, enggak ada yang berani tuh!”
“Aku enggak mau dituduh ngumpetin suami lagi, Ken. Sudahlah, Ken. Reksa sudah tua kali! Dia bukan anak kecil lagi!” Celine menghela napas, lalu menatap Kenny. “Soal penawaranku itu bagaimana? Mau, ‘kan, kamu ikut ke Bali, buat teman jalan Keira? Soalnya kalau Reksa sudah tahu aku ke sana, aku pasti bakalan sama dia. Kasihan Keira. Ini sudah satu minggu lho, sejak aku menawarkan hal itu.”
Kenny terdiam bingung. Sebenarnya ia memiliki ketakutan untuk naik pesawat. Melihat berita-berita pesawat jatuh, ia kerap merinding dan berjanji tidak akan mencobanya. Namun, penawaran Celine justru sangat menggiurkan. Jarang sekali ia bisa memiliki waktu hanya bersama Keira. Walaupun tidak berniat menyatakan perasaannya, Kenny tetap bermimpi ingin bersama Keira, meski hanya sehari saja, dan setelah mimpi itu terkabul, ia berjanji akan menghapus perasaannya terhadap wanita itu.
“Ken! Jawab dong!” seru Celine.
Kenny menelan saliva. “Aku takut naik pesawat,” jawabnya lirih.
“Ih! Norak banget, sih! Gayanya saja macam preman pasar, tapi penakut kayak begitu! Lagian ya, Ken, kecelakaan pesawat itu kan jarang terjadi. Asal berdo’a pasti enggak bakalan ada apa-apa. Terus cuaca bulan-bulan ini enggak ekstrim kok. Ikut saja-lah! Aku dan Keira punya misi nih, bantu kamilah, Ken! Ada cewek ular yang lagi mencoba menggoda Reksa, dan dia bakal ikut ke Bali. Kata Keira cewek itu semakin keterlaluan lho, Ken. Kamu mau kalau kakak iparmu tiba-tiba dijebak olehnya kayak di tv-tv itu? Bali lho! Bayangkan saja!”
“Kan kamu bisa ikut Reksa langsung, Cel!”
“No, no.” Celine menggelengkan kepalanya. “Aku enggak mau ganggu agenda dia, lagian aku pengin kasih kejutan buat dia. Jadi, aku dan Keira bakalan pisah nantinya. Makanya, aku ajak kamu.”
“Hmm ....” Kenny berpikir keras. Membayangkan Keira yang berjalan-jalan sendiri, jika Celine sudah bersama Reksa. Kasihan, Keira pasti sangat kesepian. “Oke ... oke! Aku ikut!”
“Nah, begitu dong! Adikku tersayang!”
Kenny mengusap tengkuknya, salah tingkah. Namun tak berselang lama, ia justru mengulas senyuman manisnya secara diam-diam. Impiannya untuk menghabiskan waktu bersama Keira, minimal satu hari, sebentar lagi akan terkabul. Dan setidaknya setelah itu, Kenny tidak merasa penasaran lagi. Ia akan berusaha melepaskan Keira yang tidak mungkin mau membalas perasaannya, sebab ia tahu bahwa selama ini Keira hanya menganggapnya sebagai seorang adik.
__ADS_1
***