Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 79-Hati Tak Tega


__ADS_3

Sementara itu, Keira yang baru sampai di gedung apartemennya setelah melalui perjalanan udara, dibuat terkejut oleh kehadiran seorang pria. Melainkan Danurdara yang tampak berdiri tegak di dekat pintu masuk apartemen tersebut.


“Keira?” Akhirnya, pria itu tersadar atas kedatangan Keira yang menenteng sebuah koper serta tas jinjing berwarna putih susu. “Keira? Kamu—”


“Kamu mau ngapain di sini, Nu?” sahut Keira cepat.


“Ah ... i-itu, aku, aku mau minta maaf sama kamu.”


Keira menghela napas. “Bukankah sudah aku maafkan? Dan mau sampai kapan kamu terus-terusan meminta maaf? Dan lagi, bukannya aku pernah bilang soal kita jangan bertemu lagi? Apa kamu mau mempermalukan aku di sini?”


“Ja-jangan salah paham, Ra! Aku hanya—”


“Mau tahu kabar Celine? Oh, dia baik-baik saja. Dia sudah bahagia, jadi kamu enggak perlu khawatir lagi.”


“Bukan! Bukan, sungguh, bukan itu. Aku enggak mau cari tahu soal Celine, tapi soal kamu, Keira!”


“Apa?!” Mata Keira melebar. Namun, alih-alih merasa senang, perasaannya justru semakin kesal. “Ohh, aku tahu kamu pasti kesepian, 'kan? Kamu bingung juga, 'kan? Atau kamu cuma butuh pelampiasan? Kamu pikir aku mau jadi hal-hal itu lagi buat kamu?! Enggak, Danu! Aku mau kamu menjauh! Itu saja kok! Apa susahnya sih? Lagian, kalau kamu kayak gini terus, jujur saja aku malah jadi membenci kamu!”


Danu terdiam, lalu menunduk pasrah. Apa yang diucapkan Keira sebenarnya salah. Ia datang bukan untuk mencari pelampiasan, atau sebatas membutuhkan Keira di saat kesepian. Entah, tetapi ia sangat ingin bertemu saja. Mungkin agar janggalan di dalam hatinya segera pergi. Apalagi selama ini, Keira selalu berada di sisinya saat dirinya berada di titik terburuk. Ia tidak mau menjauh dari wanita itu, ingin bersama menjalani hari seperti sebelumnya.


Namun, Danu membuat kesalahan lagi dan lagi. Keira ingin menjauh. Sementara dirinya sangat egois, begitu gencar untuk bertemu dengan wanita itu lagi, tanpa mau memedulikan sedikit pun kesulitan yang dihadapi oleh Keira saat ini. Danu memang bodoh, lamban, dan kurang memahami perasaan seseorang.


Bahkan, kala masih menyukai Celine saja, Dany melakukan apa pun demi membantu Celine, tetapi tindakannya justru mengarah pada sebuah penghinaan. Danu telah melukai hati Celine secara tidak langsung, dan bodohnya ia tidak menyadari akan hal itu. Lalu, setelah mengalami keadaan tersebut, mengapa dirinya masih ingin membuat hati seorang wanita lain merasa terluka?

__ADS_1


“Maaf, aku pamit dulu kalau begitu, Ra,” ucap Danu ketika sudah membulatkan tekat untuk benar-benar pergi. Detik berikutnya, ia berjalan dan melewati Keira begitu saja.


Melihat Danu yang sangat lemah dan muram tersebut, hati Keira menjadi terenyak. Apa aku sudah keterlaluan? Pikirnya. Ia pun berangsur merasa bersalah. Lantas, Keira memutar badan lalu menatap kepergian Danu.


“Dasar bodoh! Danu bodoh!” teriak Keira menyebut sekaligus mengatai pria yang ia sukai tersebut. “Danu bodoh!”


Danu menghentikan langkah secara reflek ketika mendengar ucapan Keira barusan. Ia tercenung dalam beberapa saat, setelah akhirnya memutuskan untuk menghadap Keira lagi. Wanita itu masih berada di tempat yang sama, ketika sedang berbicara dengannya. Wajah cantik Keira tampak menunjukkan gurat kemarahan.


”Maaf ....” Lirih Danu berkata dan ia yakin Keira tidak dapat mendengarnya.


Danu pikir Keira akan pergi setelah puas melampiaskan kekesalan dengan meneriakinya. Namun, Keira justru melajukan sepasang kaki indahnya lurus menuju keberadaan Danu. Sesaat, Danu keheranan bahkan sampai mengernyitkan dahinya. Lantas, ia mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi, misalnya saja sebuah tamparan akan Keira daratkan di pipinya.


Beberapa detik kemudian, akhirnya Keira sampai di hadapan Danu. Ketegangan pun langsung menyerang tubuh pria bernama lengkap Danurdara Angkasa tersebut. Danu sampai menutup matanya, ketika masih memikirkan tentang kemungkinan Keira akan memberikan sebuah tamparan.


“Dasar bodoh! Cowok lamban, enggak peka!” ucap Keira berapi-api. Namun, di detik berikutnya seluruh amarah itu lantas pergi. “Seenggaknya traktir aku kopi kek, kalau sudah sampai sini. Aku nggak tahu kamu tahu bahwa aku pulang hari ini, tapi kamu sudah berniat buat ngobrol sama aku, 'kan?”


“Kamu memang bodoh ya?”


“Mm, aku memang bodoh, Ra.”


“Dasar!” Keira menghela napas. “Traktir aku makan atau kopi kek, biar jetlagku bisa cepat hilang.”


“Be-beneran kamu mau?”

__ADS_1


Keira mengangguk. “Aku juga kesepian kayak kamu. Jadi, kupikir kita bisa kayak dulu lagi. Aku bisa kok mengatasi perasaanku ke kamu, asal kamu enggak membahas soal Celine terus. Kurasa, enggak ada gunanya kalau aku terus-terusan emosional. Malah kayak beban.”


“Maafkan aku, Ra.”


“Jangan katakan maaf lagi, Danu! Kamu cuma bikin aku jadi kayak orang jahat, kan yang jahat itu kamu! Ya sudah, ayolah!”


Danu yang akhirnya mendapatkan keinginannya untuk kembali akrab dengan Keira, berangsur mengikuti langkah Keira. Tak lupa ia membawakan koper wanita itu untuk diletakkan di dalam apartemen terlebih dahulu. Lalu, soal Keira. Entah, mungkin kekuatan cinta memang jauh lebih besar daripada kekesalan. Melihat Danu yang tampak lesu, hati Keira langsung goyah. Ia merasa sangat bodoh untuk saat ini, tetapi di sisi lain, terlalu emosional juga tidak benar.


***


“Iya, dia sudah sampai di apartemen kali. Enggak ... nggak ada masalah kok. Setelah cerita sama kamu, nih hati sudah merasa plong, Cel,” ucap Kenny pada Celine melalui sambungan telepon.


“Pokoknya kamu jangan melakukan apa pun dulu pada Keira ya, Ken!” Celine mewanti-wanti.


Kenny mengangguk mantap, tak peduli lawan bicaranya sedang jauh di Pulau Bali “Mm, ... tenang saja, aku bisa menahan kok. Lagian, enggak mungkin ketemu dia lagi di waktu-waktu dekat ini. Aku mau mengurus persiapanku buat cari kerja, jadi kupikir aku bakalan sibuk banget dan langsung lupa sama dia.


“Bagus! Aku cuma enggak mau kalian jadi saling berjauhan. Ya sudah kalau begitu, salam buat Ayah dan Ibu, ya! Aku enggak tahu sampai kapan di sini, mau pulang duluan, belum boleh sama Reksa, Ken.”


“iya, nanti aku kasih salam buat Ayah dan Ibu.” Lantas, Kenny mematikan panggilan tersebut.


Kenny berangsur menyandarkan punggungnya pada dinding yang berada di belakang ranjang di mana ia duduk sekarang, dan melemparkan ponselnya secara asal. Matanya menatap ke depan, tetapi pikirannya menerawang. Ada sesak yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata. Sebab setelah kembali ke rumah, alih-alih melupakan Keira atau lebih lega seperti yang ia katakan pada Celine, hatinya justru merindukan wanita pujaannya itu.


Kalau tahu dampaknya akan sebesar ini, mungkin Kenny akan menolak penawaran dari Celine sejak awal. Namun, gilanya hanya demi mewujudkan keinginan untuk bermain bersama Keira, ia justru terjebak dalam perasaan yang terlarang. Ya, terlarang karena Keira hanya menganggapnya sebagai pria muda yang wajib memanggil kakak pada wanita itu. Terlarang karena kenyataannya Keira tidak pernah melihatnya sebagai calon pasangan masa depan.

__ADS_1


Kenny menghela napas lalu bergumam, “Semoga saja aku memang bisa melupakan dia.”


***


__ADS_2