
Reksa berjalan ke sana-kemari dengan gelisah di dalam kamar hotelnya sendiri. Perbincangan via telepon antara Celine dan pria bernama Danu masih saja menjadi beban pikirannya. Bukan karena cemburu, sungguh! Pikir Reksa. Namun, karena sangat penasaran. Apalagi panggilan tersebut merupakan panggilan lintas negara, ada jeda waktu yang cukup lama, tetapi mereka masih tetap melakukannya.
“Keputusan? Butuh uang? Telepon lagi kalau belum tidur? Ahaha, kamu bisa saja Danu? Cih! Menggelikan sekali!” gerutu Reksa yang mengingat-ingat apa saja perkataan Celine sore tadi.
“Tunggu! Telepon? Berarti kalau cowok itu belum tidur, mereka sedang berbincang via telepon lagi?” Mata Reksa membulat, gerak kakinya pun turut terhenti. “Ahaha, kenapa juga aku harus kepikiran? Lagian bukan urusanku. Lebih baik tidur saja, daripada harus memikirkan dua manusia yang sedang dimabuk asmara.”
Reksa sudah memutuskan! Ia harus lekas tidur agar esok bisa bangun lebih awal. Ada tempat terakhir yang perlu ia kunjungi bersama Celine. Sebuah pertokoan yang menjual pernak-pernik khas kota Moskow. Oleh sebab itu, ia harus segera beristirahat, daripada memikirkan Celine dan Danu. Dua sejoli yang sepertinya saling menyukai. Apalagi, Celine pernah membahas soal pria itu beberapa minggu yang lalu.
Dengan sekuat tenaga, Reksa mencoba memejamkan mata, berharap agar dirinya langsung lelap di dalam mimpi indah bersama bidadari sempurna. Namun, sayang sekali. Usaha Reksa harus berujung sia-sia. Alih-alih sang bidadari, wajah Celine-lah yang muncul di pikirannya, di mana telinganya pun masih mendengungkan percakapan Celine dan Danu sore tadi.
“Astaga! Apa yang terjadi padaku?!” Geram, Reksa mempertanyakan kondisi dirinya. Sementara, dirinya sudah bangkit dari posisi sebelumnya. “Aku memang harus cari tahu, bukan apa-apa! Hanya untuk memastikan bahwa wanita itu enggak akan bikin aku malu lagi! Mau bagaimanapun dia tetap memiliki posisi sebagai istriku.”
Setelah membuat keputusan berbeda, Reksa langsung bergerak. Ia bergegas untuk turun dari ranjangnya. Tanpa mengganti baju tidurnya, ia berencana untuk berangkat ke kamar Celine yang berada jauh di bawah sana.
***
Celine masih rebahan. Sang ponsel berada di tangannya, sementara sebuah video tampak di layar benda tersebut. Wajah Deswita dan Rodian sering terlihat secara bergiliran. Kedua orang tua Celine tersebut baru saja menutup kedai, tepat di jam 12 tengah malam waktu Jakarta. Mereka mengaku bahwa hari ini kedai sangat sepi, tak seperti biasanya yang ramai akan pengunjung para pekerja pabrik maupun karyawan dari tempat lain.
“Kalau memang sepi seharusnya Ayah dan Ibu tutup lebih awal dong, bukannya malah semakin dipanjangin waktu jualannya,” ucap Celine memberikan saran. “Mana Kenny enggak bantuin lagi. Bagaimana kalau kalian berdua sakit, coba?”
“Aduuuh, anak gadis Ayah tampaknya sudah menjadi wanita dewasa, sampai bisa memberikan nasehat sama orang tua. Enggak apa-apa, Nak, lagian kan biasanya yang pulang sif dua masih ramai. Siapa tahu banyak yang beli. Dan benar kok, Ayah dapat untungnya. Biasanya kan kita cuma buka sampai jam sembilan,” jelas Rodian.
Deswita ambil giliran, sambil berkata, ”Di mana Nak Reksa, Cel? Kamu layani dengan baik, 'kan? Kamu masakin yang enak-enak, 'kan, pas di sana? Jangan dianggurin, Cel. Kamu kan seorang istri, usahakan tawari dulu ya, sebelum dia minta bertempur!”
__ADS_1
“Apaan sih, Bu? Lagian, masa iya di hotel elite aku disuruh masak? Enggak ada cabai inul, Bu, enggak ada jengki atau petai. Tempe saja, aku enggak nemu kok!” Celine berdecap sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kita boleh miskin, Bu, tapi ya jangan norak-norak banget kenapa? Di sini kan banyak makanan mewah! Terus, apa itu tempur? Celine enggak ngerti apa yang Ibu maksud.”
“Halah, Cel, Cel! Kamu kan sudah dewasa, sudah jadi istri. Masa masih enggak ngerti? Pakai ngatain Ibu norak lagi, sendirinya juga norak begitu,” balas Deswita. “Tempur itu cuma kiasan, Cel, lawan kata dari bikin dede! Namanya bulan madu, ya harus ada hasilnya dong kalau pulang nanti, kami sudah ingin punya cucu lho, Celine!”
“Hus! Ibu jangan bicara seperti itu!” Rodian mencoba memperingati istrinya.
“Ya enggak apa-apa dong, Ayah. Biar Celine dan Nak Reksa semakin rajin bergulatnya. Terus cepat-cepat punya dede, deh!”
Celine tersedak ludahnya sendiri. “Ais! Jangan ngaco deh, Bu! Ayaaah! Sudah ya, Ibu semakin enggak jelas!”
Klik! Celine mematikan panggilan video tersebut, kemudian menghela napas dalam. Ibunya selalu saja membuatnya pening. Kalau tidak mengomel, ya berbicara tidak penting. Lagi pula, cucu? Mana mungkin. Reksa saja belum sanggup ia taklukkan. Dan lagi, ia sendiri belum sanggup melupakan malam pertamanya bersama Reksa yang sudah merenggut kesuciaannya.
“Celine?!” Tiba-tiba saja, Reksa muncul dan membuka pintu kamar Celine. “Kebiasaan enggak dikunci!” omelnya setelah itu. “Sudah berapa kali aku bilang sama kamu, hah?! Kenapa bandel banget sih?!”
“Hanya demi bertatap muka dengan cowok itu, kamu sampai melupakan keamanan dirimu kamu, Cel?!” Reksa melangkah dengan ekspresi wajah yang menunjukkan gurat amarah. ”Sepenting apa sih dia buat kamu, sampai harus membuatmu lupa segalanya, hah?!”
Ih, dia kenapa sih? Baru datang, sudah ngomel-ngomel. Lalu, menuduh enggak jelas. Lagian cowok yang mana coba? Celine bertanya-tanya, karena Reksa membuatnya kebingungan.
“Kamu kenapa sih, Sa? Datang marah-marah dan menuduh enggak jelas begitu?” selidik Celine.
“Siapa yang marah-marah?! Aku enggak marah?!” Meskipun menyangkal, suara Reksa masih saja tegas dan menggelegar. “Aku hanya ....” Ucapannya terhenti, sementara matanya langsung mengerjap-ngerjap.
“Hanya apa? Sudah jelas-jelas marah begitu kok? Karena apa? Pintu enggak aku kunci lagi? Kalau iya, kenapa bawa-bawa cowok? Cowok yang mana sih, Reksa?”
__ADS_1
“Memangnya siapa lagi kalau bukan si pemujamu itu, Cel? Aku kan hanya mengingatkan agar kamu tetap hati-hati, meskipun mendesak sekalipun. Kalau kamu sampai kenapa-napa aku yang bakal rugi, secara mental maupun materi. Aku bakal dimarahi oleh kedua orang tuamu.”
Celine terkekeh. ”Danu maksud kamu? Astaga! Panggilan video tadi dari ayah dan ibuku yang baru tutup kedai. Mereka sengaja buka hingga tengah malam sambil menunggu karyawan pabrik sif malam pulang. Maklum, sejak pagi kedai Ayah sangat sepi, ya sudah penjualannya dioper ke malam harinya. Bukan Danu kok, tenang saja, kamu enggak perlu secemburu itu!”
“A-apa?! Cemburu? Hahaha enggak sama sekali! Jangan pernah salah paham, Celine!”
“Sudahlah enggak perlu menyangkal lagi, Sa. Aku sudah ketularan kepintaran Keira, jadi saat ini aku sudah cukup pintar buat menganalisa sikap kamu barusan. Umm ... sini duduk. Aku beli es kopi dua gelas, rencana mau buat besok. Eh, suamiku tersayang lagi datang, jadi bagi dua saja sama kamu ya, Sayang?”
“Enggak sudi!”
“Hmm ... ya sudah. Lebih baik balik saja ke kamarmu, aku masih ada urusan lain!”
“U-urusan lain?”
“Tentu saja, aku kan tadi sudah berjanji mau menelepon Da—”
“Okeee! Bagi dua, sambil streaming nonton film. Bagaimana?” sahut Reksa cepat.
Celine menimpali, ”Okeee!”
Usaha Celine untuk membuat Reksa tetap bertahan di kamarnya berhasil. Ia segera bergegas mengambil es kopi yang tersimpan di dalam frezer. Kemudian, ia menyajikan minuman dingin tersebut untuk Reksa sekaligus dirinya. Malam ini memang cukup hangat. Daripada menyantap minuman panas, lebih baik yang dingin-dingin sambil bergadang menonton film bersama suami.
Benar juga, Reksa enggak suka ya kalau aku sedang ada komunikasi sama Danu? Batin Celine menerka-nerka.
__ADS_1
***