Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 89-Manisnya


__ADS_3

Minggu berikutnya, Reksa dan Celine sudah kembali dari Bali ke apartemen mereka yang berada di Jakarta. Semua pekerjaan yang perlu Reksa jalani pun sudah selesai. Tidak ada yang berbeda selain suasana yang kembali seperti semula. Hanya saja, kini ada cinta di antara keduanya. Mereka bukan lagi pasangan tidak jelas yang tak peduli tentang perasaan, tetapi mereka sudah menjadi sebenar-benarnya suami-istri yang saling mencintai.


Kalau boleh, secepatnya di antara Reksa dan Celine juga sudah menginginkan seorang bayi. Terutama Celine yang sempat dibuat gelisah oleh ulah Ailen, mendadak berpikir jika memiliki buah hati akan membuat ikatan pernikahannya dengan Reksa semakin kuat. Dan sejak saat membuat keputusan tersebut, Celine mulai rajin mencari informasi tentang program kehamilan, bahkan parenting.


“Kamu enggak perlu gelisah atau takut, Cel,” ucap Reksa sembari duduk di tepi ranjang, sementara istrinya tampak tengkurap sembari mencari pengetahuan tentang kehamilan melalui ponsel.


Celine menutup halaman internet, kemudian berangsur membangkitkan dirinya. Lantas, ia duduk di samping Reksa dengan keadaan tubuh yang masih sepenuhnya di atas ranjang tersebut. “Ya. Tapi, kan aku juga harus belajar. Kamu kan tahu, Reksa, otak aku lemot banget kalau mencerna materi. Makanya aku mulai sejak saat ini, biar nanti kalau tujuan kita sudah terkabul, aku enggak pusing-pusing banget.”


“Kan aku bisa sewa baby sitter biar kalau sudah punya anak, kamunya juga ada yang bantu jaga anak kita.”


Celine menggeleng pelan. “Maunya sih, kalau sudah punya anak, jaga anaknya aku sendiri saja. Biar aku jadi lebih fokus sama perkembangannya, pengin juga menikmati masa-masa jadi ibu dengan segala kerepotan. Aku sering dengar cerita dari teman yang katanya luar biasa banget jadi seorang ibu. Dan aku juga ingin begitu, tapi, juga ada kemungkinan di mana kondisi mengatakan bahwa aku harus memakai baby sitter saja. Kan biasanya rencana enggak berakhir dengan baik.”


“Iya, iya, aku paham. Kamu tenang saja, apa pun keputusanmu nanti aku bakal manut kok. Yang paling penting kamu enggak menyiksa diri.”


“Duh, duh!” kata Celine sembari menepuk pelan bahu Reksa, sementara dirinya tampak tersenyum menggemaskan. “Kamu baik banget sih jadi suami? Padahal istri kamu tuh enggak jelas banget. Mana plinplan lagi, bahlkan aku sempat minder gara-gara kebodohanku ini.”


“Apa sih, Cel?” sahut Reksa lalu menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang. Ia duduk bersila dan berhadapan dengan istrinya. “Aku kan pintar, jadi buat apa kamu juga ikut pintar. Aku sombong, kamunya baik hati. Aku kaya, kamu ... enggak terlalu kaya. Jadi, ya, saling melengkapi begitu.”


“Cih!” Celine mendengkus.”Bilang saja kamu kaya terus aku miskin!”


Reksa tak menjawab melainkan tertawa cukup lebar. Di sisi lain, Celine kembali mendengkus, tetapi tidak ada satu pun rasa tersinggung. Karena pada dasarnya semua ucapan Reksa ada benarnya. Jadi, untuk apa berkilah, apalagi marah-marah?


Dan hari ini, Reksa sedang libur. Selain lelah, hari pun berada di penghujung minggu. Meski misalnya ia kembali dari Bali hari senin, ia tetap akan mengambil cuti. Itulah kegiatan yang Reksa lakukan sehabis melakukan perjalanan bisnis. Ia membutuhkan waktu istirahat setidaknya satu hari sebelum kembali memimpin perusahaannya. Lagi pula, pekerjaan di kantor akan berjalan dengan lancar, jika kondisi tubuh dan otaknya dalam keadaan prima. Akan semakin prima saat sudah ada istri yang seolah mampu meningkatkan imun dan energi positif bagi pria itu.


“Katanya ibuku mau datang ke sini hari ini, mumpung aku libur juga,” ungkap Reksa mengenai rencana ibunya yang ia ketahui satu hari sebelum berada di Jakarta.

__ADS_1


Dahi Celine mengernyit, lantas ia bertanya, “Iyakah? Kok enggak kita saja yang ke sana? Lagi pula kita ini lebih muda lho, Sa, dan jarang ke sana. Malah kamunya pun seringnya datang ke rumah orang tuaku.”


“Ayahku sering bermain golf, datang ke pameran lukisan, kalau enggak yang ngopi, terus juga kadang mampir ke kedai orang tua kamu. Sementara ibuku kan salah satu anggota geng sosialita, Cel. Sudah tua sih memang, tapi jiwa mudanya masih berkobar. Sering arisan, ngomongin tas branded. Apalagi ibuku punya online shop sendiri. Beliau lebih sibuk, Cel. Makanya aku jarang bawa kamu pulang, selain karena sibuk, dipastikan kedua orang tuaku juga sibuk. Memang begitu sejak aku masih kecil, apalagi ayahku yang dulu lebih sibuk dari aku, waktu perusahaan masih sedang masa merintis.”


“Duuuh ... suami aku kurang kasih sayang ya, sini-sini aku sayang dulu ....” Celine meraih tubuh sang suami dan lantas memberikan kehangatan.


Lelaki mana yang tidak luluh, pun pada Reksa yang mendadak patuh. Kalau mengingat masa kecil hingga remaja, Reksa memang benar-benar kurang kasih sayang, selain hanya dari ibunya. Namun, meskipun dididik oleh wanita yang lembut, tetap saja sikap keras dan angkuh dari sang ayah tidak pernah luntur dari dulu sampai saat ini. Hanya saja ... kehadiran Celine mengubah beberapa hal dalam hidup Reksa. Hitam putih terhempas oleh segala jenis warna pelangi, jauh lebih indah dan tentunya sangat berarti.


Sewaktu mereka hendak saling berkecupan, bel pintu tiba-tiba terdengar. Reksa menghela napas dan cukup kecewa. Namun, Celine justru tersenyum-senyum sendiri. Detik berikutnya, Reksa lantas turun dari ranjang itu, hendak menuju keberadaan pintu dan menyambut sang tamu yang kemungkinan besar adalah sang ibu.


“Ah!” ucap Reksa tiba-tiba, dan belum sampai ke pintu keluar bagian kamar, langkahnya justru terhenti. Detik berikutnya, ia berangsur memutar badan. Langkahnya berbalik, kembali tertuju sang istri.


Dahi Celine berkerut, matanya pun melebar. “Kok balik? Ada apa?” tanyanya.


Cup! Reksa tidak menjawab ucapan Celine, melainkan langsung menaruh sebuah kecup manis di bibir istrinya itu. “Semua yang sudah terencana harus berhasil!” katanya. Maksudnya soal kecupan yang sempat gagal karena bel pintu yang berbunyi.


Reksa mengulas senyuman. “Ada ... um ... cinta di si-ni.” Ia menaruh telapak tangannya di bagian dadanya.


“Hahaha! Gombal!” Celine justru tertawa. “Ya sudah sono! Kasihan tamunya, Woi!” ucapnya tegas.


“Halah! Baru saja berkata lembut, sudah bar-bar lagi!”


“Biarin!”


“Memangnya, kamu tuh kurang jelas, Cel!”

__ADS_1


“Tapi, kamu suka, ‘kan?!”


“Suka banget!”


“Sama, aku juga!”


“Benar nih?”


“Menurut kamu?!”


“Benar dong!”


Celine menghela napas. “Ya sudah sono ih, Sayang! Siapa tahu itu Ibu!”


“Iya, iya. Mm ... love ....”


“Love apa?”


Wajah Reksa memerah. “Nggak!”


“Love you too, Babe.”


“Eh?! Babe? Hoeeek!”


“Alaaah!”

__ADS_1


Reksa pun bergegas untuk melanjutkan rencananya. Kalau terlalu lama berbicara dengan Celine, bisa-bisa sang tamu yang kemungkinan besar adalah ibunya pergi tanpa diminta masuk terlebih dahulu. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini Reksa benar-benar tidak bisa jauh dari jangkauan istrinya. Meski terkadang masih kerap berbeda pendapat, bahkan bertengkar kecil, kerinduannya terhadap Celine seolah terus bertambah, dan ia tidak mau berpisah.


***


__ADS_2